Thursday, September 03, 2009

Kerajaan Islam di Nusantara (bagian 1)



Samudera Pasai
Pada tahun 1128M di pantai timur Sumatra bagian utara terdapat Kesultanan Pasai yang dipimpin oleh laksamana laut Nazimuddin al Kamil dari dinasti Fathimiah di Mesir. Dinasti itu mendirikan Kesultanan Pasai dengan tujuan untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di pantai timur Sumatra. Untuk mencapai tujuan itu dinasti Fathimiah mengerahkan armadanya untuk merebut kota pelabuhan Kambayat di Gujarat, membuka kota pelabuhan Pasai, dan merebut daerah penghasil lada Kampar Kanan dan Kampar Kiri di Minangkabau. Sejak saat itu kota Pasai dijadikan pelabuhan utama pengekspor lada sedangkan Gujarat dijadikan pusat perdagangan lada yang dikirim dari Kampar Kanan dan Kiri melalui Pasai.
Dinasti Fathimiah didirikan oleh Ubaid Ibn Abdillah pada tahun 976M dan bertahan hingga 1168M karena dimusnahkan oleh tentara Salahudin yang menganut Islam mazhab Syafi’i. Dengan musnahnya dinasti Fathimiah di Mesir, maka Kesulatanan Pasai terputus hubungan dengan Mesir, namun masih tetap berdiri. Pada tahun 1168M Kesultanan Pasai dipimpin oleh laksamana Kafrawi al Kamil. Laksamana Johan Jani dari pulau We, seorang peranakan India-Persi, berhasil merebut kekuasaan atas Pasai dari tangan laksamana Kafrawi al Kamil pada tahun 1204M. Kesultanan Pasai bertambah lama bertambah kuat, dan merupakan negara maritim yang paling kuat di Nusantara.
Namun demikian, dinasti baru di Mesir, yaitu Dinasti Mamluk yang menganut agama Islam mazhab Syafi’i tidak menghendaki kelanjutan Kesultanan Pasai yang masih menganut aliran Syi’ah. Maka dari itu pada tahun 1284M dinasti ini mengirim Syaikh Ismail ke pantai timur Sumatra bersama Fakir Muhammad, seorang ulama yang pernah menetap di pantai barat India, untuk menghilangkan pengaruh Syi’ah dan sekaligus mengambil alih kekuasaan dari penguasa pelabuhan Pasai.
Di Pasai mereka bertemu dengan Marah Silu seorang anggota militer Pasai dengan nama Iskandar Malik. Syaikh Ismail berhasil membujuk Marah Silu untuk memeluk Islam Syafi’i. Pengikut Marah Silu yang bernama Seri Kaya dan Bawa Kaya, ikut masuk mazhab Syafi’I dan berganti nama Sidi Ali Chiatudin dan Sidi Ali Hasanudin. Dengan bantuan dinasti Mamaluk di Mesir, Marah Silu dinobatkan menjadi sultan di Samudera dengan gelar Malikul Saleh. Kerajaan Samudera merupakan negara tandingan Kesultanan Pasai dan Perlak yang masih menganut Syi’ah. Kerajaan itu terletak di muara sungai Pasai di pantai timur Sumatra menghadap selat Malaka. Pada tahun 1285M Kerajaan Samudera ini kemudian merebut Kesultanan Pasai yang beraliran Syi’ah dan menjadi kesultanan baru bernama Kesultanan Samudera Pasai.
Sultan Malikul Saleh ditabalkan oleh Syaikh Ismail menjadi sultan negara Samudra Pasai atas nama Syarif Makah, yang menyingkir dari Baghdad ke Mesir sejak tahun 1258M, akibat serangan tentara Mongol. Penobatan Marah Silu oleh Syaikh Ismail menjadi sultan pertama Samudera Pasai didasarkan atas pertimbangan bahwa dinasti Mamluk membutuhkan orang asli (pribumi) yang kuat yang menganut aliran syafi’i, sehingga dapat membasmi aliran syi’ah yang merajalela di pantai timur Sumatra. Selain itu Marah Silu dianggap mampu merebut monopoli perdagangan lada dari tangan para pedagang Gujarat, Arab dan Persia yang beraliran Syi’ah. Dengan munculnya Kesultanan Samudera Pasai, Kesultanan Perlak banyak mengalami kemunduran.
Samudera Pasai menjadi pelabuhan utama di pantai timur Sumatra bagian utara. Malikul Saleh kawin dengan putri Perlak Gangga Sari, keturunan sultan Aladdin Muhammad Amin bin Abdul Kadi. Dari putri ini Malikul Saleh mempunyai dua orang putra yaitu Muhammad dan Abdullah. Sultan Malikul Saleh wafat pada tahun 1297M dan digantikan oleh putra sulungnya Muhammad dengan gelar Sultan Malikut Thahir. Putra kedua Malikul Saleh, Abdullah akhirnya menyeberang ke aliran syi’ah dan mendirikan Kesultanan Aru Barumun dengan gelar Malikul Mansur. Sultan Malikul Thahir memerintah sampai tahun 1326M kemudian digantikan oleh Sultan Ahmad Bahian Syah Malikul Thahir.
Pada masa pemerintahan Malikul Saleh, negara Samudera Pasai mendapat kunjungan pengarang Marco Polo dalam perjalanannya dari Cina menuju Persia pada tahun 1292M. Sedangkan pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Bahian Syah Malikul Thahir, Samudera Pasai dikunjungi Ibnu Batutah dari Afrika Utara dalam perjalanannya ke Cina padavtahun 1345-1346M. Sultan Ahmad Bahian Syah Malikul Thahir wafat pada tahun 1349M. Sebagai penggantinya diangkat Sultan Zainul Abidin Bahian Syah. Putri dari Sultan Zainul Abidin ini kemudian kawin dengan Raja Parameswara yang mendirikan Kesultanan Malaka pada tahun 1404M. Akibat perkawinan itu, raja Parameswara memeluk agama Islam mazhab Syafi’i dan Malaka menjadi pusat agama di seluruh pantai barat dan timur Malaya.
Nama lengkap Kerajaan Samudera Pasai adalah Samudera Aca Pasai, artinya “kerajaan Samudera yang baik dengan ibu kota Pasai.” Pada saat ini ibu kota Pasai itu sudah tidak ada lagi, letaknya kira-kira di sekitar daerah Blang Me. Adapun nama Samudera itulah yang dijadikan nama Sumatra sebagaimana yang kita kenal saat ini. Penyebutan itu dilakukan oleh orang-orang Portugis. Sebelumnya namanya adalah Pulau Perca. Musafir-musafir Tionghoa biasa menyebutnya Chinchou artinya “Pulau Mas”, seperti kita ketahui dari tulisan-tulisan I’Tsing. Raja Kertanegara menyebutnya Swarnabhumi yang artinya juga “Pulau Mas”.
Malaka
Malaka didirikan oleh Parameswara, seorang raja pelarian dari Tumasik (Singapura) pada 1402 karena takut akan serangan balasan raja Pahang dengan niat membalas dendam atas kematian saudaranya yang dibunuh oleh Parameswara. Dalam pelariannya, Parameswara menyingkir ke Muar, kemudian bersembunyi di Malaka yang pada waktu itu masih sebuah desa kecil di pantai barat Semenanjung, dan menjadi sarang perompak, bajak laut, dan nelayan. Di Malaka itulah dalam waktu singkat Parameswara dapat menjadi tokoh yang paling berkuasa.
Pada tahun 1403 seluruh Cina dikuasai oleh Kaisar Yung-lo dari dinasti Ming. Sejak Yung-lo berkuasa ia mulai menentramkan keadaan, memulihkan kesejahteraan rakyat, dan hubungan diplomasi Cina dengan negara-negara lain. Dalam kaitannya dengan politik diplomasi ini sang kaisar Yung-lo mengirimkan suatu ekspedisi ke Asia Tenggara dan Asia Barat guna menjalin kerjasama perdagangan yang ia harapkan mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Pada tahun 1403 ekspedisi pertama dari Cina berlayar menuju Jawa dan Kalikut dengan dipimpin oleh laksamana Yin Ching.
Rombongan ekspedisi dari Cina itu kemudian singgah di Malaka. Dengan cerdik Parameswara menggunakan kesempatan itu untuk menemui Yin Ching dan memintanya menyampaikan permohonan kepada Kaisar Cina agar diakui sebagai penguasa Malaka. Laksamana itu menyanggupi, karena permintaan itu sesuai dengan tujuan ekspedisinya, yaitu memperluas jaringan kerjasama dalam perdagangan dengan negeri di luar Cina. Pengakuan itu sangat berarti bagi Parameswara, karena Malaka akan mendapatkan perlindungan dari Cina jika suatu saat diserang oleh tentara Siam. Untuk memperoleh pengakuan dan perlindungan dari Cina itu, Parameswara mempersembahkan bunga emas sebanyak 40 tahil (1 tahil = 37.8 gram) kepada laksamana Yin Ching. Tentu saja persembahan itu sangat menyenangkan bagi Yin Ching mengingat kondisi ekonomi kekaisaran Cina pada saat itu.
Pada tahun 1405 Parameswara secara langsung mengirim utusannya ke istana Kaisar Cina untuk secara resmi dan langsung meminta pengakuan dan perlindungan dari Kaisar Yung-lo. Akirnya sebagai tanda bahwa Kaisar Yung-lo memberikan pengakuan resmi kepada Paramesawara sebagai penguasa Malaka, ia menganugerahi utusan itu dengan sebuah cap, pakaian dari kain sutra dan payung kuning. Namun demikian pengakuan itu tidak mampu menutup keinginan Siam untuk menyerang Malaka. Pada tahun 1409 tentara Siam menyerbu Malaka, tapi untungnya pada tahun itu pula ekspedisi Kaisar Cina kembali datang ke Asia Tenggara. Ekspedisi itu dipimpin oleh laksamana Cheng Ho alias Sam Po Bo dengan ditemani oleh seorang Islam sebagai juru bahasanya bernama Ma Huan.
Pada tahun 1409 itu Cheng Ho singgah di Malaka, dan memberikan tanda kepada Siam bahwa Malaka benar-benar sahabat kekaisaran Cina. Maka barang siapa memusuhi Malaka, maka akan mendapat serangan dari armada Cina. Untuk memperkuat tanda itu, Cheng Ho menghadiahkan kepada Parameswara genteng berwarna kuning untuk mengatap istana kerajaan Malaka. Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1411 Parameswara mengadakan kunjungan balasan ke istana kekaisaran Cina bersama 540 pengiringnya. Kunjungan itu disambut meriah oleh kaisar dan benar-benar mempererat hubungan Malaka dengan Cina. Sejak saat itu tentara Siam tidak berani lagi menginjakkan kakinya di Malaka.
Karena persahabatannya dengan Cina, kedudukan Parameswara semakin kuat. Ia terus membangun Malaka menjadi sebuah pusat perdagangan yang kaya raya. Letak Malaka sangat strategis. Setiap pedagang yang berlayar dari Laut Cina Selatan setelah belok kea rah kanan dapat dengan tenang singgah di Malaka. Parameswara menjamin keselamatan dan keamanan semua pedagang yang singgah di Malaka. Pelayaran niaga pada waktu itu sangat bergantung pada angina laut. Biasanya para pedagang akan menunggu beberapa lama datangnya angin baik yang akan membawa singgah beberapa kapal dagang dari Cina, India, wilayah Nusantara lainnya yang sarat muatan barang dagang, terutama rempah-rempah dari wilayah timur Nusantara.

Setelah Parameswara memeluk agama Islam mazhab Syafi’i, berkat bujukan putri dari Pasai, ia mengubah namanya menjadi Megat Iskandar Syah. Sejak saat itu banyak rakyat Malaka yang ikut memeluk agama Islam. Dengan demikian Malaka menjadi Kesultanan Islam dan kerajaan Islam pertama di Malaya. Perubahan status itu ternyata membawa pengaruh yang besar bagi Malaka, sejak tahun 1414 para pedagang Islam mulai bergeser ke arah Malaka dan mulai meninggalkan pelabuhan-pelabuhan di pantai timur Sumatra. Oleh karena itu diperkirakan pada akhir abad ke 15 Malaka telah mempunyai kedudukan sebagai pusat perdagangan di Asia pada umumnya, dan di Nusantara khususnya.
Parameswara adalah raja Malaka yang berjasa dalam menyejahterakan rakyat Malaka, karena usahanya dalam membangun kota pelabuhan Malaka. Dan ia adalah sultan pertama di Malaya yang memeluk ajaran Islam Syafi,i karena pernikahannya dengan putri Pasai itu. Pada tahun 1424 Parameswara atau Sultan Megat Iskandar Syah meninggal dunia dan digantikan oleh putranya yang bernama Muhammad Syah. Sultan baru ini kemudian mengambil nama gelar Sri Maharaja, hal ini adalah untuk pertama kali seorang sultan Islam di Malaya mengambil gelar sri maharaja. Pemakaian gelar itu berdasarkan pengakuan yang diberikan kepadanya sebagai keturunan rajakula Sailendra di Sriwijaya, keturunan Balaputradewa. Sri Maharaja memerintah Malaka selama dua puluh tahun yaitu hingga tahun 1444.
Selain dua raja itu, pada masa selanjutnya Malaka dipimpin oleh beberapa raja berikut ; Sri Parameswara Dewa Syah (1444 – 1446), Muzaffar Syah atau Raja Kassim (1446 – 1459), Mansur Syah (1459 – 1477), Alaudin Ri’ayat Syah (1477 – 1488) dan Mahmud Syah (1488 – 1528). Puncak kejayaan Malaka terjadi pada masa pemeritahan Ri’ayat Syah. Dibawah pemerintahan raja itu Malaka berhasil menyatukan semua kerajaan yang ada di Selat Malaka, Negara-negara pantai timur Sumatra juga tunduk kepada Malaka, pelabuhan –pelabuhan mereka sepi dari pedagang, karena semua perdagangan berpusat di Malaka. Sedangkan masa suram Malaka akan terjadi pada pemerintahan selanjutnya yaitu Mahmud Syah, karena pada 1511 kota pelabuhan ini harus tunduk di bawah kekuasaan Portugis.
Penduduk asli Malaka adalah bangsa melayu yang mayoritas hidup sebagai nelayan. Sebagaimana digambarkan oleh Tome Pires pedagang-pedagang Malaka berasal dari Kairo, Mekka, Aden, Abesinia, Kiliwa, Malindi, Ormus, Parsi, Turki, Armenia, Gujarat, Goa, Malabar, Keling, Orisa, Sailan, Bengali, Arakan, Pegu, dan Kedah, yang semuanya dari arah barat wilayah Nusantara. Sedang dari arah utara Nusantara datanglah para pedagang Siam, Pahang, Patani, Kamboja, Campa, dan Cina. Selain itu ada juga beberapa pedagang yang datang dari wilayah Nusantara, seperti Tanjungpura, Lawe, Bangka, Lingga, Maluku, Banda, Bima, Timor, Madura, Jawa, Sunda, Palembang, Jambi, Indragiri, Kampar, Minangkabau, Siak, Aru, Batak, Pasai dan Pedir.
Semua pedagang-pedagang itu bertemu di kota pelabuhan Malaka dan untuk beberapa waktu atau selamanya menetap di wilayah Malaka. Golongan pedagang dari Nusantara dan Cina tinggal di sebelah selatan sungai Malaka, yaitu daerah Hilir. Sedangkan pedagang dari wilayah barat tingal di sebelah utara sungai, yaitu daerah Upih. Setiap bangsa diberi lokasi tersendiri untuk membangun kediaman, yang disebut sebagai fondachi oleh bangsa Portugis. Kelompok itu ada di bawah kekuasaan seorang syahbandar, seorang tokoh pemimpin yang ditunjuk dari kelompoknya. Setiap fondachi ada di luar yuridiksi Kerajaan Malaka, syahbandar lah yang mempunyai kekuasaan serta mewakili kelompok dalam hubungannya keluar.
Di Malaka, selain bangsawan dan pegawai tinggi, juga terdapat pedagang kaya raya yang memiliki tiga atau empat kapal dagang. Pedagang-pedagang ini terdiri dari baik pedagang Nusantara maupun pedagang asing seperti pedagang Gujarat, Jawa, Parsi, Arab, dan Bengala. Namun demikian para penguasa Malaka dengan kekuasaan feodalnya sangat membatasi hak-hak pedagang itu. Misalnya terdapat aturan bahwa sepeninggal para pedagang itu hak milik mereka dapat disita penguasa, dan anak perempuan mereka dapat dijadikan gundik.
Berdasarkan hirarki kerajaan, raja membawahi seorang patih yang biasa disebut Paduka Raja di Malaka. Dia membawahi semua pejabat tinggi kerajaan, dari bendahara, bupati, dan seterusnya. Bendahara kerajaan memegang pimpinan tertinggi pengadilan, selain juga berkuasa atas urusan pajak kerajaan dan mempunyai wewenang menjatuhkan hukuman mati atas persetujuan laksamana dan tumenggung, sepengetahuan raja. Laksamana memimpin angkatan laut dan menguasai semua kapal, perahu jung, serta semua yang ada di lautan bagian wilayah kekuasaannya. Laksamana adalah pengawal raja, dan semua pejabat tinggi ada di bawah perintahnya. Kedudukannya adalah sejajar dengan Bendahara.
Tumenggung adalah kepala pemerintahan kota dan bertangung jawab untuk menjaga keamanan dan ketertiban kota. Sebelum diserahkan kepada Bendahara para terdakwa diurus oleh Tumenggung, selain ia juga harus mengurus pajak dan barang dagangan. Jabatan Tumenggung ini hanya diduduki oleh orang-orang terpandang saja. Sementara itu di Malaka juga terdapat jabatan Syahbandar yang bertugas menerima kapten kapal atau perahu jung yang singgah di Malaka. Syahbandar itu kemudian mengantarkannya ke hadapan Bendahara, membagi gudang masing-masing, mengatur barang-barangnya, tempat tinggalnya dan lain sebagaiya. Pada masa kejayaan Malaka, di sana terdapat Syahbandar berbangsa Gujarat, Bengala, Pegu, Cina, dan Campa. Selain itu juga ada Syahbandar yang diangkat dari pedagang Pasai, Jawa, Maluku, Banda, Palembang, Tanjungpura, Lawe. Setiap pedagang yang datang ke Malaka berurusan dengan Syahbandar dan bangsanya masing-masing.
Selain beberapa golongan bangsa dan jabatan penguasa tersebut, di Malaka juga terdapat sekelompok kecil golongan bangsawan yang berasal dari Lingga, Brunai, Pahang, dan Malaka sendiri. Mereka sangat disegani. Dalam tradisi Malaka, jika salah seorang diantara mereka dinobatkan sebagai ksatria kerajaan maka ia harus bersumpah setia serta menerima suatu lambing berupa kepingan logam yang dipakainya pada tangan kanannya. Para ksatria ini harus memiliki ketrampilan berperang, maka biasanya mereka enggan untuk ikut dalam kegiatan perdagangan. Untuk menopang gaya hidupnya yang mewah dan feodal, terutama para bangsawan Melayu, mempunyai daerah eksploitasi masing-masing. Mereka mengambil keuntungan dari para petani yang tinggal di wilayah kekuasaannya yang harus memenuhi kepentingan para bangsawan.
Aceh
Selain Pasai dan Pidie, Tome Pires menyebutkan adanya kekuatan ketiga yang masih berusia muda, yaitu o Regno dachei atau Kerajaan Aceh. Asal muasal kerajaan ini menurut Denys Lombard, masih sangat terselubung kabut kerahasiaan. Ia berpendapat bahwa kerajaan itu tidaklah terbentuk pada masa yang sudah sangat lama, tapi pendapat ini tidak dapat dipastikan, mengingat tabir sejarah pada beberapa dasawarsa sebelum kedatangan Portugis bisa dikatakan masih gelap.
Ada beberapa keterangan yang dapat dihimpun terkait dengan tabir gelap sejarah Aceh ini, meski kebanyakan bersifat dongeng yang sulit untuk dijelaskan lebih lanjut. Menurut John Davis bangsa Aceh menganggap diri mereka dalah keturunan dari Imael dan Hagar (Ismail dan Hajar). Kemudian tiga abad kemudian Snouck Hurgronje seorang Indolog termasyhur mengatakan telah mendengar cerita dari Teungku Kutakarang, seorang ulama dan hulubalang Aceh (meninggal Nopember 1895), bahwa bangsa Aceh adalah keturunan dari percampuran Arab, Parsi, dan Turki.
Menurut Hikayat Aceh yang berasal dari cerita turun-temurun yang beredar di Sumatra, mengkisahkan bahwa kerajaan Aceh terbentuk dari pembauran pemukiman raja-raja dari wilayah Makota Alam dan Dar ul-Kamal yang keduanya hanya terpisah oleh sungai. Kedua permukiman ini bergabung dengan cara mengawinkan anak-anak mereka, hingga kemudian Raja Makota Alam akhirnya memerintah seorang diri atas Aceh Dar us-Salam.
Bagaimanapun asal kerajaan Aceh, pada abad ke 16 Aceh akan muncul sebagai kerajaan Islam yang cukup disegani di kawasan Samudra Hindia. Penaklukan Goa lalu Malaka oleh Portugis pada awal abad itu telah mengacaukan lalu lintasenaklukan Goa lalu Malaka oleh Portugis pada awal abad itu telah mengacaukan lalu lintas perdagangan antar samudra. Banyak pedagang dari luar Nusantara yang dirugikan oleh dominasi Portugis, terutama pedagang Islam. Mereka yang berniaga antara Malabar dan Aden mulai tergusur oleh Portugis. Akibatnya lalu lintas perdagangan lada menjadi semakin terhambat.
Para pedagang perantara (lada) yang mayoritas muslim itu dahulu merasa betah singgah di Malaka, kota pelabuhan di bawah naungan kesultanan Islam yang menjamin keselamatan mereka. Tapi akhirnya harus mencari alternative persinggahan lain sejak kota pelabuhan itu dikuasai oleh Portugis. Pedagang-pedagang itu tak mau lagi untuk membuang sauh di pintu benteng-benteng yang dibangun Portugis yang menamai benteng-benteng itu dengan nama Kristen yang indah-indah. Para pedagang itu lebih memilih untuk singgah di pelabuhan-pelabuhan Sumatra.
Melihat perkembangan ini seorang raja Aceh mencoba untuk menggabungkan beberapa dari pelabuhan dagang di bawah kekuasaannya agar dapat mengawasi lalu lintas perdagangan di sana. Mengenai raja Aceh ini Tome Pires mengisahkan bahwa Aceh adalah negeri pertama di wilayah pantai Sumatra yang menghadap selat dan dipimpin oleh seorang raja beragama Islam yang gagah perkasa diantara tetangganya. Dalam peperangannya melawan Pidir, raja itu mampu menimbulkan banyak kerusakan pada pihak musuh. Oleh karena itu banyak wilayah yang takluk kepada Aceh. Wilayah seperti Lambry (sekarang disebut Lamreh), Tanah Biar, dan pulau-pulau Gamispola (pulau Weh dan sekitarnya) tunduk kepada Aceh. Agaknya raja Islam itu mempunyai 30 sampai 40 perahu lancara untuk mengarungi lautan, selain juga hidup dari hasil padi tanah Aceh.
Raja yang dikisahkan oleh Tome Pires itu kemungkinan besar adalah raja Ali Mughayat Syah yang dikisahkan dalam kronik-kronik Aceh. Kapan raja itu naik tahta belum diketahui pasti, tapi nisan makamnya ditemukan dengan tanggal wafat 7 Agustus 1530. Beberapa sumber Portugis juga menyebutkan kemenangan-kemenangan yang diperoleh oleh Ali Mughayat Syah. Disebutkan ia telah menaklukkan Deli, Daya, lalu Pidir dan Pasai (1524). Pada Mei 1521 ia juga berhasil mengalahkan armada Portugis yang dipimpin oleh Jorge de Brito di laut lepas. Raja Ali Mughayat Syah inilah yang dianggap sebagai pendiri kekuasaan Aceh yang sesungguhnya.
Ali Mughayat Syah digantikan oleh anak sulungnya yaitu Salahudin (Salah ad-Din). Ia menyerang Malaka pada tahun 1537, tetapi tidak berhasil. Sekitar tahun 1539 Salahudin digantikan oleh saudaranya yaitu Alaudin Ri’ayat Syah al Kahhar, anak bungsu dari Ali Mughayat Syah. Raja muda inilah yang semakin mengukuhkan kekuasaan kesultanan Aceh di bagian utara Sumatra. Mendez Pinto yang singgah di Sumatra pada tahun 1539 menyebut adanya perang antara orang Batak di pedalaman dan balatentara Aceh yang katanya mempunyai lascar-laskar orang Turki, Kambay dan Malabar.
Di bawah kepemimpinan Alaudin, Aceh menyerang Malaka dua kali yaitu pada tahun 1547 dan 1568, kemudian ia menaklukkan Aru pada tahun 1564. Pada tahun 1562 ada perutusan Aceh yang sampai di Istambul dengan tugas meminta meriam kepada Sultan Turki. Sewaktu wafat pada 28 September 1571 Alaudin meninggalkan beberapa anak dan cucu yang kemudian saling berselisih secara terbuka. Alaudin digantikan oleh Ali Ri’ayat Syah yang juga mencoba dua kali merebut Malaka yaitu pada tahun 1573 dan 1575.
Ali Ri’ayat kemudian wafat pada tahun 1579 dan dimulailah kemelut keluarga kerajaan, hingga hanya dalam waktu beberapa bulan saja ada berturut-turut tiga sultan yang menjadi raja Aceh (diantaranya seorang anak berumur 4 tahun, Sultan Muda). Sultan terakhir, Zainal Abidin, mati terbunuh lalu tahta kerajaan diduduki oleh raja dari luar dinasti, yaitu Alaudin dari Perak. Pada satu sisi peristiwa ini adalah suatu kemunduran, tapi pada sisi lain hal itu menunjukkan betapa cakrawala Aceh yang dahulu masih terbatas, telah melebar.
Alaudin, raja Aceh dari Perak itu yang juga dinamakan Mansur Syah pada Agustus 1582 mepersenjatai sebuah armada untuk menyerang Johor. Dan sekitar tahun 1586 di tengah persiapannya untuk menyerang Malaka dengan 300 kapal, ia dibunuh oleh jenderalnya yang bernama Mora Ratisa. Hikayat Aceh tidak banyak bercerita tentang ini, kecuali naik tahtanya Ali Ri’ayat Syah yang juga dinamakan Raja Buyung yang disebut sebagai putra Munawar Syah raja Indrapura, raja vassal tawanan Aceh. Apakah Mora Ratisa dan Ali Ri’ayat Syah adalah orang yang sama, tidak banyak diketahui kecuali batu nisan makam Ali Ri’ayat Syah ditemukan dengan tanggal wafat 28 Juni 1589. Selain itu menurut J.H. van Linschoten yang melintasi perairan Nusantara pada tahun 1587-1588 menuliskan bahwa pada waktu itu Aceh sangat mengganggu perdagangan Portugis karena berhasil menguasai sendiri Selat Malaka.
Setelah meninggalnya Ali Ri’ayat Syah atau Raja Buyung, tahta kerajaan Aceh ditawarkan kepada seorang tua dari Aceh, seorang nelayan menurut John Davis, meski ada pula yang mengatakan bahwa ia seorang bangsawan. Setelah beberapa kali menolak akhirnya si kakek menerimanya dan mengambil nama resmi Alaudin Ri’ayat Syah Sayyid al Mukammil. Pemerintahan raja tua ini berlangsung selama 15 tahun, yaitu hingga tahun 1604 bersamaan waktunya dengan kedatangan bangsa Belanda dan Inggris di laut-laut selatan. Kelak dari raja tua inilah terlahir seorang cucu yang akan menjadi raja besar, yaitu Sultan Iskandar Muda yang membawa Aceh pada masa kejayaannya di awal abad ke 17.
Demak
Letak Demak sangat menguntungkan baik untuk perdagangan maupun untuk pertanian. Pada zaman dahulu wilayah Demak terletak di tepi selat di antara pegunungan Muria dan Jawa. Sebelumnya selat itu rupanya selat itu agak lebar dan dapat dilayari dengan baik sehingga kapal dagang dari Semarang dapat mengambil jalan pintas itu untuk berlayar ke Rembang. Tapi sejak abad ke 17 selat itu tidak lagi dapat dilayari setiap saat.
Pada abad ke 16 Demak telah menjadi gudang padi dari daerah pertanian di tepian selat tersebut. Konon, sebelumnya kota Juwana merupakan gudang padi bagi wilayah itu sebagaimana Demak. Tapi sejak 1513 Juwana dihancurkan dan dikosongkan oleh Gusti Patih, panglima besar kerajaan Majapahit yang bukan Islam. Setelah jatuhnya Juwana, Demak menjadi penguasa tunggal di wilayah selatan pegunungan Muria.
Jepara terletak di sebelah barat pegunungan yang dahulu adalah pulau (Muria). Jepara mempunyai pelabuhan yang aman yang (semula) dilindungi oleh tiga pulau kecil. Letak pelabuhan Jepara sangat menguntungkan bagi kapal-kapal dagang yang lebih besar, yang berlayar lewat pantai utara Jawa menuju Maluku dan kembali ke barat. Pada abad ke 17 ketika jalan pelayaran pintas di sebelah selatan pegunungan ini tidak lagi dapat dilayari dengan perahu besar karena telah menjadi dangkal oleh endapan Lumpur, maka Jepara menjadi pelabuhan Demak.
Yang menjadi penghubung antara Demak dan daerah pedalaman di Jawa bagian tengah adalah sungai Serang yang bermuara di Laut Jawa antara Demak dan Jepara. Pada abad ke 18 sungai itu masih dapat dilayari oleh perahu-perahu dagang berukuran kecil. Anak-anak sungai Serang bersumber di pegunungan Kapur Tengah. Di selatan pegunungan tersebut terletak daerah-daerah tua Jawa bagian tengah, yaitu Pengging dan Pajang.
Pendiri kerajaan Demak adalah Raden Patah, seorang putra raja Majapahit dari istri Cina yang dihadiahkan kepada raja Palembang. Kerajaan Islam pertama di Jawa ini berdiri dari tahun 1475 dan bertahan hingga 1550. Adanya unsur Cina dalam berdirinya Demak ini diperkuat oleh Tome Pires, Berita-Berita abad ke 17 dan tradisi Jawa Barat menginformasikan bahwa terdapat keturunan Cina yang telah memeluk Islam berasal dari Gresik. Sebelum mendirikan kerajaan Demak, keturunan Cina tersebut telah menjadi patih Majapahit. Menegaskan unsur Cina dalam dinasti Demak, beberapa berita abad ke 17 dan Hikayat Jawa Barat juga mengatakan bahwa asal-usul dinasti Demak itu berasal dari Cina. Mereka telah memeluk Islam ketika menetap di Demak dan menjadi patih yang terhormat di Demak.
Dalam naskah cerita dan babad tanah Jawa, raja Demak kedua sebagai pengganti Raden Patah yang wafat pada 1518 adalah Pangeran Sabrang Lor atau disebut juga Pate Unus (Sultan Yunus). Nama Sabrang Lor itu ternyata merujuk kepada daerah di seberang utara tempat asal kakeknya, yaitu Kalimantan barat daya. Atau mungkin juga merujuk kepada Jepara tempat ia berkuasa sebagai Pate sebagaimana diberitakan orang-orang Portugis. Selain itu Sabrang Lor juga sering dikaitkan dengan ekspansi yang dilakukannya ke wilayah seberang laut di utara (lor) yaitu Palembang (Sumangsang) atau mungkin juga serangan armada Demak yang dipimpinnya terhadap Malaka, yang terletak di seberang utara (lor) selat, pada 1512-1513 yang sedang dikuasai oleh Portugis.
Serangan Demak terhadap Malaka tersebut memang mengalami kegagalan dan berakhir dengan hancurnya armada laut Demak. Armada laut itu adalah gabungan armada laut Palembang dan pelabuhan-pelabuhan Jawa yang dihimpun oleh Pate Unus. Dikisahkan oleh Tome Pires, dari puluhan kapal yang tergabung dalam armada laut itu hanya kembali 10 kapal jung dan 10 kapal barang. Pada waktu itu Pate Unus memerintahkan supaya sebuah kapal perang jung besar berlapis baja, yang sebenarnya dapat diselamatkannya, sengaja didamparkan di pantai Jepara, sebagai kenang-kenangan akan perang yang dilancarkannya.
Menurut Tome Pires, yang muncul sebagai raja kedua Demak adalah Pate Rodim (Patih Rodin) junior atau orang-orang Portugis menyebutnya Pate Unus. Konon Pate Unus ini mempunyai armada laut yang terdiri dari 40 kapal Jung yang ia himpun dari semua daerah taklukannya. Ia mengatakan bahwa kakek Pate Unus berasal dari Kalimantan Barat Daya dan terlahir dari kalangan awam. Pada tahun 1470 ia pindah ke Jepara dan berprofesi sebagai pedagang. Dengan melakukan perkawinan dan menghimpun banyak pengikut, kemudian ia dapat memperluas pengaruhnya. Tome Pires, mengatakan bahwa Pate Unus menggantikan ayahnya dalam usia 17 tahun yaitu pada tahun 1507.
Tokoh Pate Unus atau Pangeran Sabarang Lor ini memang banyak menimbulkan perdebatan di kalangan akademisi. Terlepas dari semua keterangan yang disampaikan oleh Tome Pires diatas, keterangan yang cukup akurat tentang figur Pate Unus yang juga disebut Pangeran Sabrang Lor adalah putra pertama Raden Patah, yang tinggal di Jepara, tapi kemudian menggantikan ayahnya sebagai sultan Demak pada 1518. Ia berkuasa hingga tahun 1521, karena meninggal dengan sebab paru-paru yang membengkak yang mungkin akibat dari tusukan keris (benda tajam). Pate Unus ini tidak mempunyai keturunan, maka adiknya yang bernama Sultan Trenggana menggantikannya sebagai sultan Demak.
Menurut Serat Kandha raja Demak ketiga adalah Tranggana atau Trenggana. Ia adalah saudara sultan sebelum dia yaitu Pangeran Sabrang Lor, kedua-duanya adalah putra penguasa pertama yaitu Raden Patah. Pangeran Trenggana ini kemudian dikisahkan gugur pada 1546 dalam ekspedisinya ke Panarukan, ujung timur Jawa. Trenggana diperkirakan memerintah Demak pada tahun 1504 atau 1518 hingga 1546. Dalam rentang itu wilayah kekuasaan Demak terus diperluas ke barat dan ke timur, selain juga Masjid Demak dikokohkan kembali sebagai simbol kekuasaan Islam.
Berkaitan dengan Trenggana ini Tome Pires menyebutnya sebagai Pate Rodin junior yang ia prediksi lahir pada tahun 1483. Tome Pires sendiri berada di Jawa pada waktu yang sama dengan masa kekuasaan Trenggana juga menyatakan bahwa ia tak begitu terkesan dengan raja Demak ketiga itu. Menurutnya raja itu terlalu menyibukkan diri untuk berfoya-foya dan mengabaikan urusan Negara. Armada laut Demak yang sebelumnya berkekuatan 40 kapal Jung pada masa Trenggana hanya tinggal 10 kapal Jung saja. Namun demikian Tome Pires tidak mengikuti pemerintahan Trenggana secara utuh, sehingga ia tak dapat memberi kesimpulan yang meyakinkan tentang seluruh periode pemerintahan Trenggana.
Berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Tome PIres, justru pada masa pemerintahan Sultan Trenggana-lah Demak sangat ambisius melancarkan serangkaian aksi militer, mengalahkan semua pelabuhan independent di bagian utara Jawa dan menghancurkan hampir semua kerajaan Hindu di pulau Jawa.
Demak banyak melakukan ekspansi Untuk menghadang masuknya pengaruh Portugis yang ingin membangun basis kekuatan di wlilayah barat Jawa, setelah menguasai Malaka, Demak mulai melakukan ekspansi ke wilayah Jawa bagian barat. Ekspansi tersebut dimulai dengan suatu ekspedisi yang dipimpin oleh Syeh Nurullah yang kemudian dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Ekspedisi ini kemudian berhasil melahirkan kerajaan Cirebon dan Banten. Bersamaan dengan itu terjadilah proses Islamisasi daerah-daerah yang dikuasai oleh Demak.
Menurut cerita daerah Banyumas dan Bagelen, Jawa bagian tengah, masuk lingkungan pengaruh Demak setelah Senapati Mangkubumi masuk Islam, dan beberapa penguasanya dapat ditundukkan oleh tentara Demak. Di Jawa bagian tengah ini sebagain punggawa Majapahit mengungsi dan membangun sebuah kerajaan Hindu baru yang dinamakan Pengging. Tapi sejarah Pengging ini hanya berlangsung singkat, karena pada tahun 1530 pasukan Demak berhasil memusnahkannya.
Selain ekspansi ke wilayah Pasundan di barat, Demak juga berusaha menundukkan hegemoni Majapahit di pedalaman Jawa bagian timur. Persaingan antar kedua kerajaan itu adalah persaingan antara dua kekuatan lama dan kekuatan baru. Majapahit adalah kekuatan lama yang dibantu oleh vasal-vasalnya dari Klungkung, Pengging, dan Terung. Sementara itu Demak adalah kekuatan baru, barisan Islam yang terdiri dari para ulama Kudus, imam masjid Demak di bawah pimpinan Pangeran Ngudung. Menurut sejarah Banten, konrontasi antara Demak melawan sisa-sisa kekuasaan Majapahit berlangsung selama beberapa tahun. Baru pada tahun 1527 Majapahit dapat ditaklukkan dan raja Majapahit terakhir, Brawijaya, menghilang.
Pada tahun yang sama (1527) kota pelabuhan Tuban berhasil ditaklukan oleh Demak. Tuban adalah salah satu negara vasal Majapahit yang penguasanya sudah lama masuk Islam. Setelah itu secara berturut-turut Demak menundukkan Wirasari (1528), Gegelang (Madiun) pada tahun 1529, Mendangkung (Mdang Kamulan atau Blora) ditundukkan pada tahun 1530. Kemudian Surabaya ditundukkan pada tahun 1531, Pasuruan pada 1535, Lamongan, Blitar, Wirasaba, ketiganya pada tahun 1541 dan 1542. Gunung Penanggungan sebagai benteng para elite religius Hindu Jawa juga ditundukkan pada tahun 1543, Mamenang (Kediri) pada tahun 1549, Sengguruh (Malang) pada tahun 1545.
Sementara itu Panarukan dan Blambangan di ujung timur Jawa juga mulai berusaha ditaklukkan. Pada saat itu Blambangan adalah kerajaan Hindu terakhir yang masih tersisa di Jawa. Ada yang mengatakan bahwa Blambangan berhasil ditaklukkan Demak pada 1546, sementara sumber yang lain mengatakan bahwa pada tahun itu Demak gagal menaklukkan Panarukan, karena Sultan Trenggana gugur dalam pertempuran.
Usaha untuk menaklukkan Panarukan dan Blambangan ini adalah usaha yang cukup menyita tenaga Demak. Awalnya Demak mengalami kegagalan dalam menaklukkan Panarukan melalui serangan militer. Kekalahan pertama itu digunakan oleh Trenggana untuk melakukan cara lain dengan meng-Islamkan populasi mereka, membuat persekutuan dengan para bangsawan yang mau menerima Islam, dan mulai menempatkan beberapa pejabat baru di kota-kota wilayah pengaruh Blambangan. Setelah merasa cukup, Trenggana pada 1546-1547 kembali melakukan ekspansi militer ke Blambangan dengan dibantu oleh pasukan Portugis yang telah direkrut oleh Hasanuddin penguasa Banten. Setelah melakukan pengepungan selama 3 bulan dengan kekuatan 1000 kapal dan 40.000 pasukan, pasukan Demak tak kunjung berhasil menaklukkan Blambangan. Hingga naas, menimpa Trenggana karena lepas kendali ia menghina salah satu punggawanya, dan karena dendam hinaan itu si punggawa menikamnya hingga tewas.
Meskipun Sultan Trenggana wafat tanpa sempat menetapkan Demak sebagai kelanjutan dari kekuasaan Majapahit, penaklukan yang dilakukannya menandai awal penyebaran Islam ke sebagian besar wilayah Jawa, dengan perkecualian beberapa komunitas yang hidup di dataran tinggi dan bagian timur dari pulau Jawa. Sampai penghujung abad ke 16 kerajaan Blambangan adalah kerajaan Hindu yang masih bertahan di Jawa.
Dari ulasan tentang tiga raja Demak diatas, terlepas dari kesimpang-siuran kronologi waktu kekuasaan masing-masing, dapat disimpulkan bahwa Demak dipimpin oleh tiga raja yaitu Raden Patah yang memerintah pada tahun 1475 hingga 1518. Kedua adalah Pate Unus, yang juga berkuasa di Jepara dengan gelar Pangeran Sabrang Lor dan memerintah Demak pada tahun 1518 hingga 1521. Ketiga adalah Tranggana atau Trenggana atau Ki Mas Palembang yang memerintah pada 1521 hingga 1546. Raja ketiga ini adalah raja yang menyatakan dirinya sebagai raja Islam dan sultan yang berdaulat. Ia memperluas wilayah dari timur ke barat, termasuk menghempaskan ibu kota Majapahit untuk terakhir kali pada tahun 1527.
Cirebon
Di wilayah Jawa bagian barat, daerah yang sring disebut dalam legenda Sunda sebagai daerah kekuasaan raja-taja yang dianggap penting ialah Pajajaran dan Galuh. Keraton Pajajaran konon terletak dekat kota Bogor (sekarang). Kota pelabuhan di pantai utara Pajajaran terletak dekat muara Ciliwung, lokasi Jakarta (sekarang). Sebelum zaman Islam tempat itu bernama Sunda Kalapa hingga kemudian diubah menjadi Jayakarta lalu kelak menjadi Batavia dan kemudian menjadi Jakarta hingga saat ini.
Sementara itu daerah Galuh dahulu terletak di sebelah barat dan barat daya kota Cirebon (sekarang). Tidak diketahui dengan tepat tempat tinggal raja-raja Galuh dahulu. Dapat diduga, Indramayu (mungkin dahulu bernama Dermayu) dekat muara Cimanuk, dahulu adalah kota pelabuhan Kerajaan Galuh, kerajaan tua di Sunda. Akibat endapan lumpur, pangkalan lautnya sekarang tidak berarti lagi.
Menurut Sejarah Banten Menurut Tome Pires, ayah dari Pate Rodin (senior) adalah tokoh pertama yang mendirikan pemukiman Islam di wilayah itu. Pada saat itu diketahui bahwa di daerah pesisir Jawa bagian tengah, antara Cirebon dan Demak terdapat kota pelabuhan Losari, Tegal, dan Semarang, ketiganya adalah pengekspor beras. Dalam kondisi seperti itu wajar jika terjadi hubungan kerjasama antara Demak dengan daerah-daerah di sebelah barat Jawa. Jauh sebelumnya telah terjadi kerjasama antara wilayah barat Jawa dengan wilayah timur, yaitu antara pelabuhan Sunda Kelapa dengan pelabuhan Galuh.
Bukti bahwa pada awal abad ke 16 Cirebon telah ramai kegiatan dagangnya dan telah mempunyai hubungan yang baik dengan Malaka adalah keterangan Tome Pires yang menyebutkan nama Pate Kadir Syahbandar koloni Cirebon di Upih Malaka. Pate Kadir adalah Syahbandar terkemuka yang mempunyai hubungan baik dengan raja. Dengan keterangan itu Tome Pires ingin mengatakan bahwa sebelumnya komunitas Islam di Cirebon telah dirintis lama, jauh hari sebelum berdirinya kekuasaan Islam di wilayah itu.
Terlepas dari keterangan itu, sebagaimana banyak dikisahkan pendiri kerajaan Cirebon adalah seorang perintis agama Islam yang sesudah ia meninggal disebut sebagai Sunan Gunung Jati, sesuai dengan nama bukit di dekat Cirebon tokoh itu dimakamkan. Laporan dan kisah pejalanan bangsa Portugis banyak memuat kisah tentang tokoh penyebar Islam itu, yang kemudian berkembang menjadi seorang negarawan dan pendiri kerajaan Cirebon dan Banten. Dalam sejarah Banten, menyebutkan sunan itu bernama Nurullah kemudian terkenal dengan sebutan Syekh Ibnu Molana. Sementara itu penulis Portugis mengenalnya dengan dua nama, yaitu Falatehan atau Tagaril.
Tokoh yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati itu berasal dari Pasai. Ia kemudian berangkat haji ke Mekkah, ketika kerajaan Islam Pasai ditaklukkan oleh Portugis pada tahun 1521. Sepulang dari Mekkah ia tidak kembali lagi ke Pasai, melainkan pergi menuju Jawa, yaitu Demak yang baru beberapa puluh tahun menyatakan diri sebagai kerajaan Islam. Di Demak Nurullah disambut dengan baik oleh Sultan Trenggana penguasa Demak saat itu, bahkan menurut cerita ia diberi hadiah saudara perempuan raja untuk dijadikan istri.
Dengan izin dan bantuan Sultan Tenggana, pada tahun 1524 Nurullah berangkat dari Demak menuju Banten untuk mendirikan jama’ah atau komunitas Islam di wilayah Pajajaran itu. Selanjutnya menurut pemberitaan Portugis, Nurullah yang kemudian menjadi penguasa Banten itu pada 1546 ikut serta dalam serangan Demak ke ujung timur Jawa yaitu Panarukan, suatu serangan yang berakibat pada wafatnya Sultan Trenggana. Maka sesudah melemahnya kekuasaan Demak, akibat wafatnya Sultan, digunakan oleh Nurullah untuk berpindah dari Banten dan menetap di Cirebon dan mengubah kota pelabuhan itu menjadi ibu kota kerajaan yang merdeka dari kekuasaan Demak.
Ketika ia menetap di Cirebon, usia Nurullah yang kemudian menjadi Sunan Gunung Jati telah mencapai 60 tahun. Tak jelas benar hingga saat ini apa alasan tokoh itu untuk berpindah dari Banten menuju Cirebon. Yang jelas sebelum kedatangannya terdapat tanda-tanda pengaruh kebudayaan Majapahit, yang keluarga rajanya diusir oleh orang-orang Islam pada 1526 dari wilayah Cirebon. Juga tidak jelas apakah Sunan Gunung Jati segera sesudah menetap di Cirebon, mulai mendirikan keratin besar. Yang jelas tokoh itu memerintahkan untuk memperluas tenmpat ibadah yang ada, dengan gaya arsitektur yang sama dengan Masjid Suci Demak. Angka tahun yang dipahat pada sebuah batu di bangunan itu membuktikan bahwa masjid raya di Cirebon di bangun pada masa pemerintahan raja pertama yang merdeka di kota itu.
Menurut Sejarah Banten, Nurullah menetap di Banten hingga hingga tahun 1552. Kabarnya ia menyerahkan Cirebon yang sudah lama dikuasainya kepada salah seorang putranya yang hanya dikenal dengan sebutan anumerta Pangeran Pasareyan, sesuai dengan nama desa dimakamkannya. Pangeran itu adalah putra pertama Nurullah yang dikawinkan dengan putri Sultan Trenggana, namun sayang pangeran itu mati muda. Pada tahun 1552 pangeran itu meninggal, sehingga Nurullah mengambil keputusan untuk meninggalkan Banten dan menetap selama-lamanya di Cirebon. Nurullah, raja tua yang mungkin semasa hidupnya telah memakai gelar susuhunan itu akhirnya meninggal dalam usia 80 tahun pada tahun 1570 dan dimakamkan di sebuah bukit bernama Gunung Jati yang konon semula bernama gunung Sembung.
Pengaruh agama yang meluas dari Cirebon ke Sunda ternyata besar sekali. Makam Susuhunan suci dari Gunung Jati merupakan tempat ziarah yang paling ramai dikunjungi orang di Jawa Barat. Penyebaran agama Islam, dan meluasnya bahasa dan kesenian Jawa ke tanah Sunda bagian timur adalah pengaruh Cirebon.
Sunan Gunung Jati kemudian digantikan oleh seorang cicitnya yang hanyan terkenal dengan gelar Pangeran Ratu atau Panembahan Ratu. Tidak banyak diketahui informasi tentang raja ini. Yang jelas diketahui ia telah mengalami kemakmuran Banten sebagai ibu kota pelabuhan dan runtuhnya kerajaan Hindu terakhir di Jawa bagian barat, yaitu Pakuwan Pajajaran. Tidak ada bukti bahwa perajurit Cirebon ikut bertempur dalam penaklukan Pakuwan. Selain itu juga diketahui bahwa raja Cirebon kedua itu mengalami masa kematian Sultan Pajang pada 1586 dan lahirnya Kerajaan Mataram di Jawa bagian tengah sebelah selatan.Dalam hubungannyab dengan Mataram (Islam) ini dikabarkan bahwa Panembahan Senopati raja Mataram pada tahun 1590 membantu para pemimpin agama Cirebon, Pangeran Ratu, untuk mendirikan atau memperkuat tembok yang mengelilingi kotanya. Mungkin pada waaktu itu raja Mataram itu menganggap Cirebon suatu pertahanan militer di bagian barat kerajaannya.
Dapat dipastikan bahwa Pangeran Ratu dari Cirebon, pengganti Sunan Gunung Jati dianugerahi usia panjang sekali. Ia baru meninggal pada tahun 1650. Penggantinya adalah seorang raja yang dikenal sebagai Pangeran Girilaya.
Banten
Berdasarkan pemberitaan bangsa Portugis dapat dikatakan bahwa bangsa barat menganggap Raja Majapahit dan Raja Pajajaran sebagai dua penguasa atas Pulau Jawa. Menurut Tome Pires pelabuhan Hindu, Sunda Kalapa, dekat muara sungai Ciliwung, pada zamannya adalah pelabuhan yang terpenting di wilayah Jawa bagian barat, lebih penting dari Banten dan Cirebon. Sunda Kalapa terletak di sebelah hilir Pakuwan, kota kerajaan raja-raja Pajajaran. Pires menamai tempat ini Dayo, sebagaimana ia menyebut ibu kota kerajaan Majapahit, yang mungkin berasal dari kata Sunda “dayeuh” yang artinya ibu kota. Berdasarkan suatu prasasti pada Batu Tulis, di Bogor, Husein Djajadiningrat menunjukkan adanya kemungkinan bahwa Pakuwan, kota kerajaan Pajajaran didirikan pada tahun 1433-1434.
Pada 1522 Panglima Portugis Henrique Leme mengadakan perjanjian persahabatan dengan raja Hindu Pajajaran yang memakai gelar Samiam (Sang Hyang). Boleh jadi raja Sunda itu bekerjasama dengan maksud untuk mendapat bantuan dalam menghadapi kekuasaan Islam di Jawa bagian tengah yang mulai mengambil alih beberapa wilayah bekas kekuasaan Majapahit. Namun bangsa Portugis tidak dapat mengambil keuntungan dan kesempatan untuk memperkuat kekuatan dagangnya, karena tidak lama kemudian pelabuhan Kalapa itu akan dikuasai oleh orang-orang Islam yang berkuasa di Banten.
Sebagaimana telah dituliskan di atas bahwa usaha Demak untuk mengirimkan Nurullah pada tahun 1524 untuk membuka komunitas muslim di wilayah Banten dapat dianggap sebagai upaya pertama pendirian Kerajaan Banten. Sebelumnya wilayah itu adalah bagian dari kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Sesampai di Banten Nurullah segera berhasil menyingkirkan penguasa Sunda, vassal Pajajaran dengan bantuan pasukan Islam dari Demak. Untuk meng-Islamkan Jawa bagian barat, Nurullah atau Falatehan atau Sunan Gunung Jati itu melakukan ekspedisi lanjutan ke wilayah pedalaman dan pelabuhan-pelabuhan pantai utara Jawa bagian barat, terutama pelabuhan Sunda Kalapa. Terjadi pertempuran sengit untuk memperebutkan pelabuhan Sunda itu, mengingat letaknya tak jauh dari pusat kerajaan Pakuwan (Bogor). Kota pelabuhan ini akhirnya dapat ditaklukkan oleh Banten pada tahun 1527 dan sebagai tanda betapa pentingnya kota itu bagi Islam, nama kota pelabuhan itu diganti menjadi Jayakarta.
Peristiwa penaklukkan ini telah menggagalkan usaha Portugis di bawah pimpinan Henri Leme untuk mengadakan perjanjian dengan raja Sunda yang merupakan kelanjutan dari kerjasama sebelumnya sejak tahun 1522. Setelah takluk di bawah kekuasaan Banten, nama Sunda Kelapa diganti dengan Jayakarta. Sejak saat itu kedudukan pelabuhan Banten semakin penting dalam kegiatan perdagangan, terutama perdagangan lada.
Penguasa Islam Banten dan Jayakarta rupanya tidak berusaha menyerang kota Kerajaan Pakuwan, yang terpotong hubungannya dengan pantai oleh perluasan daerah yang dilakukan oleh penguasa Islam. Nurullah kemudian melanjutkan ekspansinya ke arah Cirebon, kota pelabuhan Cina-Islam yang juga telah menjadi bagian dari kekuasaan Demak. Selama raja Demak, Sultan Tranggana hidup, penguasa Banten dan Cirebon itu memposisikan diri sebagai raja vassal Demak. Baru setelah wafatnya sultan Demak tersebut Nurullah atau Sunan Gunung Jati mulai membebaskan Banten dan Cirebon dari pengaruh Demak.
Menurut Sejarah Banten, Hasanuddin dianggap sebagai pendiri Kerajaan Banten. Meskipun hal ini kemungkinan besar keliru. Hasanuddin adalah putra kedua Nurullah. Pada waktu Sunan Gunung Jati meninggalkan Banten pada tahun 1552 ketika Pangeran Pasareyan, penguasa Cirebon wafat. Nantinya sepennggal Sunan Gunung Jati pada tahun 1570 hubungan antara dua kerajaan bersaudara ini, Banten dan Cirebon menjadi agak renggang.
Pada tahun 1552 itu pula Hasanuddin menikah dengan seorang putri Demak, yaitu putri Sultan Trenggana. Dari pernikahan ini lahirlah dua orang putra yaitu Maulana Yusuf dan Pangeran Jepara. Putra pertama itu direncanakan akan menggantikan Hasanuddin bila saatnya tiba. Putra kedua tersebut diasuh oleh bibi dari pihak ibu yang tidak mempunyai anak, yaitu Ratu Kali Nyamat dan kelak akan menggantikannya sebagai penguasa Jepara, oleh karena itu ia kemudian disebut dengan Pangeran Jepara.
Pada masa kepemimpinan Hasanudin Banten banyak melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah sekitar. Ekspansi itu mencapai wilayah Lampung di Sumatra Selatan yang cukup penting dalam menghasilkan merica. Perdagangan merica itu menjadikan Banten kota pelabuhan yang penting dan disinggahi oleh kapal-kapal dagang Cina, India, dan Eropa. Penguasa kedua Banten ini akhirnya meninggal pada 1570, sama dengan ayahnya, Sunan Gunung Jati, yang juga meninggal pada tahun yang sama. Hasanuddin ini setelah meninggal dikenal dengan nama Pangeran Saba Kingking, sesuai dengan nama desa tempat ia dimakamkan, tidak jauh dari Banten.
Sepeninggal Hasanudin pada tahun 1570, Maulana Yusuf menggantikannya sebagai raja Banten dan meneruskan politik ekspansi kerajaan Banten, terutama ke wilayah Pakuan Pajajaran. Dikisahkan pula bahwa raja Pajajaran bersama keluarganya dikabarkan menghilang setelah keraton mereka dapat diduduki oleh pasukan Banten pada tahun 1579. Ketika Maulana Yusuf meninggal pada tahun 1580, putranya Maulana Mohamad belum cukup dewasa, sehingga mendorong pamannya, yaitu Pangeran Jepara berusaha mendapat pengakuan sebagai penguasa Banten. Beberapa kali angkatan laut Jepara melakukan serangan ke wilayah Banten, tapi gagal. Menurut cerita Pangeran Jepara membatalkan niatnya untuk menguasai Banten ketika ia kehilangan Demang Laksamana Jepara yang tewas dalam pertempuran. Karena kehilangan abdinya yang penting inilah ia membatalkan niatnya untuk menyerang Banten. Selain itu rupanya Maulana Mohamad mendapat dukungan kuat dari para pemimpin agama di Banten.
Pada masa kepemimpinan Maulana Mohamad, Banten meneruskan politik ekspansinya ke Palembang. Dalam poltiknya itu ia didukung antara lain oleh Pangeran Mas, seorang penguasa terakhir Demak yang datang ke Banten sebagai pelarian. Pangeran Mas inilah yang membujuk Maulana Mohamad untuk meluaskan wilayah penyebaran Islam hingga ke Sumatra. Sayangnya, ekspedisi yang dilakukan oleh Maulana Mohamad itu gagal, dan ia sendiri gugur di medan pertempuran dalam tahun 1596, usia raja muda itu baru 25 tahun.
Pengganti Maulana Mohamad adalah seorang anak laki-laki yang baru berumur beberapa bulan. Namanya Abdul Kadir. Karena usianya yang masih dini, untuk sementara Banten diperintah oleh anggota kerajaan yang lebih tua sebagai wali raja yang masih belia. Pergantian wali-wali ini dan sengketa antara pangeran pada babak berikutnya akan membawa Banten pada posisi yang semakin surut. Pada awal abad ke 17 Jayakarta sebagai pelabuhan penting Banten, dapat dikuasai oleh bangsa Belanda.

No comments: