
Para Pedagang Negeri Sebrang
Sebelum kedatangan bangsa Barat, kegiatan perdagangan di wilayah kepulauan Nusantara telah berkembang menjadi wilayah perdagangan internasional. Jalur perniagaan melalui darat dimulai dari Cina (Tiongkok) melalui Asia Tengah, Turkestan sampai ke Laut Tengah. Jalur ini juga berhubungan dengan jalan-jalan kafilah dari India. Jalur ini terkenal dengan sebutan “Jalur Sutera” (Silk road). Sejauh ini, jalur perdagangan lewat darat inilah yang merupakan jalur paling tua, yang menghubungkan Cina dengan Eropa.
Adapun jalan perniagaan melalui jalur laut juga dimulai dari Cina melalui Laut Cina, melalui Selat Malaka, Calicut (India), lalu ke Teluk Persia, melalui Syam (Suriah) sampai ke Laut Tengah; atau melalui Laut Merah sampai ke Mesir lalu menuju Laut Tengah. Pada waktu itu komoditi ekspor dari wilayah Nusantara yang sampai di pasaran India dan kekaisaran Romawi (Byzantium) antara lain: rempah¬rempah, kayu wangi, kapur barus, dan kemenyan.
Jaringan perdagangan itu pula akhhirnya membawa datangnya pedagang negeri sebrang ke wilayah Nusantara. Berdasarkan fakta sejarah, kaum pedagang negeri seberang itu kemudian menjadi pendorong utama lahirnya keaneka-ragaman agama dan kultur di dalam negeri Indonesia yang kala itu masih dikenal dengan Nusantara. Dengan melalui jalur sutra, para pedagang dari India, Tiongkok, Portugal, Arab, Belanda, dan berbagai negeri lainnya datang ke wilayah Nusantara. Mereka tidak hanya membawa komoditas perdagangan, lebih jauh itu mereka juga memberikan pengaruh budaya dan agama kepada masyarakat Nusantara.
Kondisi Nusantara yang sangat terbuka itu memungkinkan terjadinya keragaman pengaruh budaya yang berkembang pada masyarakatnya. Berbagai macam pengaruh budaya itu datang secara bergantian, dominasi demi dominasi digilir secara teratur. Animisme dan Dinamisme diganti oleh agama Hindu, lalu datang pengaruh Buddha, dan baru kemudian disusul oleh pengaruh agama Islam. Datangnya bangsa Eropa pada abad-abad selanjutnya juga membawa agama Kristen (baik Katolik maupun Protestan) ke wilayah Nusantara. Bahkan konon kabarnya ekspansi dagang bangsa Eropa ke wilayah lain dilandasi semangat untuk menyebarkan agama mereka selain mendapatkan peruntungan dagang.
Agama Hindu diperkirakan mulai masuk ke wilayah Nusantara pada abad pertama dan kedua masehi. Kemudian datang agama Buddha yang mulai melampaui pengaruh agama Hindu pada abad keenam hingga kedelapan masehi. Pada abad ke 7 hingga ke 13 M agama Buddha telah berkembang sebagai agama kerajaan, ditandai dengan lahirnya Kerajaan Buddha Sriwijaya di daerah Palembang saat ini. Kerajaan Buddha ini adalah salah satu kerajaan terbesar yang pernah lahir di wilayah Nusantara bagian barat, kekuasaanya hingga mencapai Hainan dan Taiwan. Pada abad ke 11 M Sriwijaya diperkirakan telah dapat menundukkan dominasi Mataram Hindu di Jawa. Salah satu monumen penting peninggalan Buddha di Indonesia adalah Borobudur yang dibangun pada abad ke 8 M atas prakarsa dinasti Syailendra.
Pada abad ke 13 M Srwijaya secara perlahan telah mengalami kemunduran, dan secara bersamaan dominasi agama Buddha pun mulai menyurut. Pada abad berikutnya kekuasaan Sriwijaya seolah beralih kepada Kerajaan Hindu Majapahit yang berpusat di Jawa bagian timur. Pada abad ke 14 M Majapahit mempunyai seorang negarawan besar, yaitu Mahapatih Gajah Mada. Kala itu kekuasaan Majapahit telah meliputi seluruh wilayah Nusantara, dari Sumatra (bahkan Tumasik atau Singapura) hingga Papua, dari Sumba hingga Mindano. Kekuasaan Majapahit akhirnya menyurut pada abad ke 15 M, seiring dengan menguatnya pengaruh Islam yang kemudian melahirkan Kerajaan Islam Demak.
Agama Islam diperkirakan telah masuk ke Indonesia pada abad ke-13M dengan bukti ditemukannya batu nisan raja Islam pertama di Pasai bertuliskan tahun 1297 M. Namun demikian banyak pendapat ahli yang menyatakan bahwa Islam telah masuk ke wilayah Nusantara jauh sebelum itu. Jaringan pedagang muslim dari Gujarat, India pada abad-abad awal masehi sesungguhnya telah singgah dan menyebarkan Islam di wilayah pantai barat Sumatera dan kemudian berkembang ke timur pulau Jawa.
Kristen Katolik dibawa masuk ke Indonesia oleh bangsa Portugis, khususnya di pulau Flores dan Timor. Sedangkan Kristen Protestan pertama kali diperkenalkan oleh bangsa Belanda pada abad ke-16 M dengan pengaruh ajaran Calvinis dan Lutheran. Wilayah penganut animisme di wilayah Indonesia bagian Timur, dan bagian lain, merupakan tujuan utama orang-orang Belanda, termasuk Maluku, Nusa Tenggara, Papua dan Kalimantan. Kemudian, Kristen menyebar melalui pelabuhan pantai Borneo, kaum misionaris pun tiba di Toraja, Sulawesi. Wilayah Sumatera juga menjadi target para misionaris ketika itu, khususnya adalah orang-orang Batak, dimana banyak saat ini yang menjadi pemeluk Protestan. Sebelum mengetahui lebih mendalam tentang ajaran agama-agama tersebut, baiknya kita ketahui lebih dahulu tentang sejarah terbentuknya agama-agama itu hingga masuk dan menyebar ke wilayah Nusantara.
Agama Hindu
Agama Hindu disebut juga agama Brahma, agama Weda atau agama Dharma. Penyebutan nama Hindu disesuaikan dengan perkembangannya sejak semula di daerah Sapta Sindhu, yaitu tujuh daerah penting di sekitar sungai Indus di India utara. Dari sanalah kemudian agama ini menyebar ke seluruh dunia hingga ke Indonesia. Pengaruh agama ini cukup kentara pada agama-agama lain, seperti agama Buddha (Mahayana), agama Lama (Tibet), dan agama Konghucu (Cina), terutama dalam hal pematungan dewa-dewa.
Agama Hindu tidak mempunyai seorang nabi, meski diduga agama itu berasal dari ajaran seorang atau beberapa nabi yang terkumpul menjadi satu sejak lebih dari seribu tahun yang lalu dan dikenal dengan sebutan kaum Brahmana atau golongan pendeta. Ada suatu pendapat yang mengatakan bahwa kata Brahman atau Brahmana berasal dari akar kata Abraham (nabi Ibrahim), sehingga kaum Brahmana juga disebut sebagai kaum pengikut nabi Ibrahim. Pendapat ini adalah salah satu teori yang ingin mengaitkan antara agama Hindu dengan ajaran agama Ibrahim. Terlebih lagi ketika mengetahui bahwa dalam ajaran Weda, kitab suci agama Hindu juga terdapat ajaran tentang ke-Esa-an Tuhan.
Teori yang lebih jelas tentang Hindu menyatakan bahwa agama ini merupakan percampuran antara kepercayaan dan agama yang dibawa bangsa Aria, yang masuk ke India dari sela Kaibar (Iran) kira-kira tahun 2000-1000 sebelum Masehi, dengan kepercayaan bangsa Dravida, bangsa asli India, hingga menjadi bangsa dan agama Hindu seperti saat ini. Bangsa Aria mewariskan kitab Weda bagi agama Hindu, sedangkan bangsa Dravida mewariskan ajaran penghormatan kepada penjelmaan roh, dewa, dan hantu-hantu. Sejak zaman dahulu bangsa Dravida telah mempunyai dewa-dewa alam seperti: Surya, dewa matahari; Soma, dewa bulan; Agni, dewa api; Wayu, dewa angin; Waruna, dewa langit, dan lain-lain dengan jumlah yang banyak sekali. Tetapi dewa yang terpenting adalah Trimurti, yaitu Brahma, Wisynu dan Syiwa. Brahma adalah dewa pencipta segalanya yang ada di alam semesta ini, Wisynu adalah penjaga dan pemelihara dari apa yang ada di semesta itu, sementara Syiwa adalah perusak.
Bangsa Hindu yang terlahir dari percampuran dua bangsa itu terbagi dalam empat kasta, yaitu Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra. Bangsa Aria, sebagai bangsa pemenang dalam percampuran itu menempatkan dirinya dalam tiga kasta tertinggi.
Sedangkan bangsa Dravida dimasukkan dalam kasta terendah yaitu Sudra. Menurut pembagiannya, kasta Brahmana terdiri dari golongan pendeta, Ksatria ialah golongan bangsawan dan prajurit, Waisya adalah golongan pedagang dan tuan tanah. Sedang kasta Sudra adalah golongan petani, pekerja kasar dan budak. Di luar keempat kasta itu terdapat suatu kelompok masyarakat yang berjumlah besar yaitu kasta Paria, golongan orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap (gelandangan) yang tidak termasuk dalam perhitungan pergaulan hidup sehari-hari.
Pada zaman dahulu perbedaan antara kasta-kasta tersebut sangat dipegang teguh oleh umat Hindu. Diantara mereka terdapat batas pemisah yang kukuh antara satu sama lain. Mereka tidak dapat bergaul antar kasta secara bebas dalam kehidupan sehari-hari. Bila dilanggar maka mendapatkan hukuman yang berat, bahkan hukuman mati. Dalam struktur kasta itu, tentunya kaum Brahmana yang mendapatkan kekuasaan penting dalam masyarakat Hindu, karena merekalah yang dapat membaca kitab-kitab ajaran Hindu, memimpin peribadatan, dan membaca mantra-mantra. Kaum Brahmana ini pulalah yang kelak sampai ke wilayah nusantara bersama para bangsawan dan pengusaha yang melakukan perniagaan di wilayah nusantara.
Agama Hindu yang kemudian juga berkembang sebagai kebudayaan Hindu datang di wilayah nusantara (Indonesia) pada abad pertama Masehi. Dalam konteks sejarah Indonesia, pengaruh agama Hindu bergulir secara bergantian dengan agama Budha yang datang setelahnya dan bahkan kedua agama itu akhirnya membaur satu sama lain. Agama ini kemudian melahirkan aliran Chiva-Budha dan membentuk sejumlah kerajaan Hindu-Budha seperti Kerajaan Kutai dan Mataram. Candi Prambanan adalah kuil Hindu yang dibangun atas perintah dinasti Sanjaya yang menganut Hindu sebagai agama resmi.
Agama Hindu dapat dikatakan mulai menemukan ekspresi politiknya secara penuh dengan berdirinya Kerajaan Hindu Majapahit di Jawa bagian timur. Seperti dikatakan sebelumnya, kerajaan ini bertahan hingga abad ke 15 M, ketika kerajaan Islam mulai berkembang dan menggeser kedudukan agama Hindu-Buddha. Keruntuhan Majapahit pada abad ke 15 M itu adalah tanda dari pergeseran pengaruh Hindu kepada Islam di Nusantara. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa agama Hindu bersama dengan agama Budha bertahan pengaruhnya selama 15 abad penuh di Nusantara.
Hindu di Indonesia berbeda dengan Hindu lainnya di dunia. Sebagai contoh, Hindu di Indonesia, secara formal ditunjuk sebagai agama Hindu Dharma, tidak menerapkan sistem kasta. Contoh lain adalah, bahwa Epos keagamaan Hindu Mahabharata (Pertempuran Besar Keturunan Bharata) dan Ramayana (Perjalanan Rama), menjadi tradisi penting para pengikut Hindu di Indonesia, yang dinyatakan dalam bentuk wayang dan pertunjukan tari. Aliran Hindu juga telah terbentuk dengan cara yang berbeda di pulau Jawa, sehingga lebih dipengaruhi oleh agama Islam, yang dikenal sebagai Islam Sinkretis, Islam Abangan atau Islam Kejawen. Fenomena ini menunjukkan bahwa pengaruh Hindu cukup mengakar kuat dalam tradisi bangsa Indonesia, khususnya Jawa, sehingga terjadi sinkretisme semacam itu.
Demikian halnya dengan ajaran Hindu di pulau Bali, agama Hindu Bali adalah campuran dari ajaran Hindu, Budha dan adat asli dari suku bangsa Bali. Mereka mengenal banyak dewa-dewa, dan dewa yang tertinggi mereka namakan Hyang Titah, Sang Hyang Widdhi atau Sang Hyang Widhiwasa. Hindu Bali juga mengenal adanya pembagian kasta dalam masyarakatnya, meskipun kasta Paria golongan terendah yang terdapat dalam ajaran Hindu India tidak digunakan oleh Hindu Bali.
Agama Buddha
Agama Buddha dilahirkan oleh seorang suci bernama Siddharta Gautama (566-486 SM), putra Raja Suddodana dari Kerajaan Sakya atau juga dikenal Kerajaan Kapilawastu, di lereng pegunungan Himalaya, Nepal. Siddharta telah ditinggal oleh ibunya, Ratu Maya, yang wafat ketika ia masih bayi. Dalam kisahnya, diketahui bahwa Siddharta, yang telah diramal akan menjadi pendeta besar, sejak muda tidak tertarik dengan kehidupan istana yang serba gemerlap dan penuh kesenangan hidup. Ia lebih menyukai kehidupan di luar istana yang lebih bersahaja dan bahkan jauh dari kesenangan. Oleh karena itu Sidharta bersama saisnya, Chandra, kerap mencari kesempatan untuk pergi menyendiri ke luar kota, jauh dari istana raja.
Dalam perjalanannya ke luar kota itulah, jauh dari istana raja, Sidharta memperoleh beberapa pengalaman spiritual yang memberikan pencerahan bagi pikiran dan batinnya. Penglihatannya atas seorang tua renta yang papa, orang-orang yang menderita kesakitan karena suatu penyakit, orang mati, dan orang tertimpa kesedihan karena kematian itu sangat membekas dalam diri Siddharta. Hingga kemudian dalam suatu perjalanan Siddharta bersama Chandra melihat seorang pertapa yang tampaknya sungguh-sungguh menguasai dirinya, sambil tertunduk ke bawah dan mengenakan jubah. Chandra pun menjelaskan kepada Siddharta bahwa pertapa itu adalah seorang yang mampu melepaskan dirinya dari segala keinginan hidup di dunia, dan memusatkan batinnya untuk melakukan samadhi (bertapa) melepaskan diri dari kejahatan dunia.
Berdasarkan pengalaman itu, Siddharta sangat tertekan batinnya, terus memikirkan apa yang telah ia saksikan. Ia kemudian memutuskan untuk mengabdikan dirinya dalam membantu umat manusia yang akan menghadapi sulitnya masa tua, sakit, mati, dan samadhi. Setelah kelahiran putranya, yang bernama Rahula, Siddharta pergi meninggalkan istana kerajaan. Ia meninggalkan pesan untuk ayahnya kepada Chandra, agar baginda raja merawat Rahul putranya agar kelak dapat menggantikan beliau sebagai raja bangsa Sakya.
Sejak saat itu Siddharta mulai mengembara, berguru dari satu tempat pertapaan menuju ke tempat pertapaan yang lainnya. Banyak pelajaran hidup yang ia ambil dari para pendeta yang ada di petapaan itu. Hingga kemudian ketika mencapai usia 30-an tahun, Siddharta telah menemukan jalan kebenaran-nya sendiri, ia memutuskan untuk tidak lagi berguru pada pendeta-pendeta di pertapaan dan terus melakukan pengembaraan. Dikisahkan pada suatu hari Siddharta tiba di suatu tempat dengan panas yang sangat terik. Lalu ia mulai berteduh di bawah pohon yang disebut pohon bodhi di suatu tempat yang kemudian bernama Bodh Gaya. Ia merasa nyaman dan tentram di bawah naungan pohon itu, sehingga memutuskan untuk terus bersamadhi di bawahnya sampai mendapatkan pencerahan. Setelah mengalami berbagai macam godaan yang berusaha membuyarkan kekhusyu’an samadhinya, akhirnya Siddharta memperoleh pencerahan dari Tuhan. ia mendapat bisikan wahyu untuk mengajarkan perbuatan baik kepada umat manusia. Dan sejak saat itu, ia telah menjadi Buddha artinya yang disinari atau yang mengetahui segalanya. Peristiwa ini terjadi pada tahun 531 SM dalam usia 35 tahun. Tokoh utama agama Buddha itu akhirnya wafat pada tahun 486 SM di Kusinagara dalam usia 80 tahun.
Sejak awal agama Buddha ini banyak menarik perhatian kalangan masyarakat bawah, yaitu golongan Waisya, Sudra dan Paria, karena Buddha datang dengan menghapuskan kepercayaan adanya kasta-kasta dalam masyarakat. Dalam ajaran Buddha semua manusia adalah sama. Hal semacam ini juga terjadi dalam sejarah perkembangan agama Buddha di nusantara, agama Buddha dengan cepat dapat mendesak dominasi agama Hindu dalam masyarakat. Masyarakat nusantara yang cenderung bersifat egaliter tidak mau terbagi-bagi dalam kasta banyak yang berpaling ke agama Buddha. Setelah berkembang pesat di India, akhirnya agama Buddha justru banyak mendapatkan pemeluk di luar India. Pada saat ini agama Buddha terus berkembang dan telah menjadi agama penting di Sailan, Tibet, Cina, Jepang, Burma, Thailand dan Kamboja.
Di Indonesia, agama Buddha adalah agama tertua kedua setelah Hindu. Agama ini masuk ke wilayah Nusantara secara bertahap sekitar abad ke 6, 7, dan 8 M. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, sejarah perkembangan agama Budha di Indonesia berhubungan erat dengan perkembangan agama Hindu. Dominasi pengaruh kedua agama itu sebagai agama resmi kerajaan, bergilir secara bergantian. Kerajaan Srwijaya, di Sumatra bagian selatan adalah salah satu kerajaan terbesar yang pernah menguasai perairan Nusantara dan pada saat itu menjadi salah satu pusat perkembangan agama Buddha di Asia. Kerajaan Buddha ini adalah salah satu kerajaan terbesar yang pernah lahir di wilayah Nusantara bagian barat, kekuasaanya hingga mencapai Hainan dan Taiwan. Pada abad ke 11 M Sriwijaya diperkirakan telah dapat menundukkan dominasi Mataram Hindu di Jawa. Salah satu monumen penting peninggalan Buddha di Indonesia adalah Borobudur yang dibangun pada abad ke 8 M atas prakarsa dinasti Syailendra.
Agama Islam
Agama Islam diajarkan dan disebarkan oleh nabi Muhammad yang dilahirkan pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 52 sebelum Hijrah atau bertepatan dengan 20 April tahun 571 masehi. Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muthalib, sedang ibunya bernama Siti Amimah binti Wahab. Keduanya dari keluarga Quraisy, yakni golongan bangsawan Mekah, keturunan langsung dari nabi Ismail, putra sulung Nabi Ibrahim. Ketika Muhammad masih berusia 7 bulan dalam kandungan, Abdullah wafat dan menyusul kemudian ibunya juga wafat saat usianya baru berumur 6 tahun. Sejak saat itu hingga umur 8 tahun Muhammad diasuh oleh sang kakek Abdul Muthalib, yang ketika itu menjadi walikota Mekah. Sepeninggal kakeknya, Muhammad diasuh oleh pamannya Abu Thalib hingga dewasa dan menikah pada umur 25 tahun dengan Siti Khadijah, istri pertamanya.
Muhammad sejak kecil hingga dewasa telah terkenal sebagai seorang yang cerdas, jujur sangat dipercaya, dan sopan tingkah lakunya, sehingga masyarakat menjulukinya dengan sebutan Al Amin. Pada umur 40 tahun Muhammad menerima wahyu kenabiannya ketika ia menyendiri di Gua Hira, dekat puncak Jabal Nur. Mulanya penyebaran Islam dilakukan oleh nabi Muhammad secara diam-diam. Setelah datangnya perintah dari Tuhan, disiarkanlah Islam secara terang-terangan. Sejak saat itu Muhammad mendapatkan tentangan yang keras dari para pemuka qabilah di Makah. Mereka menganggap Islam yang dibawa oleh Muhammad membahayakan kepercayaan dan adat mereka yang telah berlangsung turun-temurun dari nenek moyang.
Tentangan dan ancaman terhadap Muhammad semakin terasa membahayakan ketika istrinya Siti Khadijah dan pamannya Abu Thalib wafat. Tidak ada lagi dua orang yang setia mendukung dan melindungi perjuangan dakwah Islam yang dilakukan Muhammad. Khadijah dan Abu Thalib adalah dua orang yang cukup disegani di kalangan Quraisy. Sehingga setelah keduanya telah tiada, mereka semakin sewenang-wenang dalam menentang perjuangan nabi Muhammad.
Makkah dewasa ini, dengan Ka'bah sebagai pusat peribadatan umat Islam
Karena ancaman dan tentangan itu semakin membahayakan, akhirnya setelah 10 tahun berusaha mengembangkan agama Islam di Makah, pada 16 Juli 622 M nabi Muhammad bersama para pengikutnya yang hanya berjumlah sedikit mulai berhijrah ke Madinah. Di tempat yang baru itu Muhammad menemukan pengikut yang lebih besar. Seluruh penduduk Madinah bersimpati kepada nabi dan ajaran Islam yang dibawanya. Penduduk Madinah yang kemudian dikenal dengan kaum Anshor itu kemdian bersama dengan kaum Muhajirin, pengikut setia nabi yang berhijrah dari Makah, bersama-sama membantu Muhammad dalam menyebarkan agama Islam. Dari Madinah, nabi Muhammad semakin aktif menyiarkan agama Islam ke seluruh jazirah Arab. Setelah berlangsung selama kurang lebih 13 tahun di Madinah dan Islam telah menyebar merata ke seluruh jazirah Arab dan sekitarnya, nabi Muhammad wafat pada 12 Rabiul Awal 11 Hijriyah bertepatan dengan 8 Juli 632 M.
Setelah wafatnya nabi Muhammad pemerintahan Islam di Madinah diteruskan oleh para pengikut setia nabi yang dikenal dengan sebutan sahabat. Ada empat sahabat yang menggantikan kepemimpinan nabi Muhammad secara bergantian. Pemimpin atau Imam kaum muslimin sepeninggal nabi disebut dengan Khalifah. Keempat Khalifah ini adalah Abu Bakar (632-634M), Umar bin Khattab (634-644M), Usman bin Affan (644-655M), dan Ali bin Abi Thalib (656-661M). Keempat khalifah itu dikenal dengan Khalifah Rasyidin.
Setelah periode Khalifah Rasyidin, kepemimpinan umat Islam berganti dari tangan ke tangan dengan pemimpinnya yang juga disebut "khalifah" atau terkadang "amirul mukminin", "sultan", dan sebagainya. Pada periode ini khalifah tidak lagi ditentukan berdasarkan orang yang terbaik di kalangan umat Islam, melainkan secara turun-temurun dalam satu dinasti (bahasa Arab: bani) sehingga banyak yang menyamakannya dengan kerajaan; misalnya kekhalifahan Bani Umayyah, Bani Abbasiyyah, hingga Bani Utsmaniyyah.
Besarnya kekuasaan kekhalifahan Islam telah menjadikannya salah satu kekuatan politik yang terkuat dan terbesar di dunia pada saat itu. Timbulnya tempat tempat pembelajaran ilmu-ilmu agama, filsafat, sains, dan tata bahasa Arab di berbagai wilayah dunia Islam telah mewujudkan satu kontinuitas kebudayaan Islam yang agung. Banyak ahli-ahli ilmu pengetahuan bermunculan dari berbagai negeri-negeri Islam, terutamanya pada zaman keemasan Islam sekitar abad ke-7 sampai abad ke-13 masehi.
Luasnya wilayah penyebaran agama Islam dan terpecahnya kekuasaan kekhalifahan yang sudah dimulai sejak abad ke-8, menyebabkan munculnya berbagai otoritas-otoritas kekuasaan terpisah yang berbentuk "kesultanan"; misalnya Kesultanan Safawi, Kesultanan Turki Seljuk, Kesultanan Mughal, Kesultanan Samudera Pasai dan Kesultanan Malaka, yang telah menjadi kesultanan-kesultanan yang memiliki kekuasaan yang kuat dan terkenal di dunia. Meskipun memiliki kekuasaan terpisah, kesultanan-kesultanan tersebut secara nominal masih menghormati dan menganggap diri mereka bagian dari kekhalifahan Islam.
Pada kurun ke-18 dan ke-19 M, banyak kawasan-kawasan Islam jatuh ke tangan penjajah Eropa. Kesultanan Utsmaniyyah (Kerajaan Ottoman) yang secara nominal dianggap sebagai kekhalifahan Islam terakhir, akhirnya tumbang selepas Perang Dunia I. Kerajaan ottoman pada saat itu dipimpin oleh Sultan Muhammad V. Karena dianggap kurang tegas oleh kaum pemuda Turki yang di pimpin oleh mustafa kemal pasha atau kemal attaturk, sistem kerajaan dirombak dan diganti menjadi republik.
Sebagaimana telah dituliskan sebelumnya, masuknya Islam ke wilayah Nusantara tidak dapat diketahui dengan pasti kapan tepatnya peristiwa itu terjadi. Secara umum dapat dikatakan bahwa masuknya Islam di Nusantara adalah suatu proses yang terjadi dalam rentang abad ke 7 sampai abad ke 13. Beberapa Ahli berpendapat bahwa pada abad ke 7, berdasarkan berita Cina dari zaman Tang, diceritakan bahwa pada waktu itu ada orang-orang Ta-Shih yang ditafsirkan sebagai orang Arab dan Persia yang akan melakukan penyerangan terhadap kerajaan Holing dibawah pemerintahan Ratu Sima (674 M). Dalam berita Cina tahun 1178 juga disebutkan bahwa orang-orang Ta-Shih terdapat di dua wilayah, yaitu daerah Kuala Brang, 25 mil dari sungai Trengganu, di wilayah kekuasaan Sriwijaya, dan di suatu tempat di wilayah Selatan Sumatra. Diperkirakan komunitas Arab dan Persia ini terbentuk karena adanya jaringan perdagangan yang berpusat di wilayah Sriwijaya pada saat itu.
Sebagian ahli berpendapat bahwa pada abad ke 13 terdapat arus pedagang muslim ke Nusantara akibat runtuhnya dinasti Abbasiyah oleh Hulagu. Pendapat ini juga diperkuat oleh berita Marcopolo pada tahun 1292, berita Ibnu Batutah abad ke 14 serta nisan-nisan kubur Sutan Malik as Saleh (Samudra Pasai) tahun 1297. Selain itu ada juga dugaan bahwa masuknya Islam ke Indonesia pada abad itu juga disebabkan oleh gelombang kedatangan dan penyebaran ajaran tasawuf di wilayah Nusantara. Ajaran tersebut diduga berasal dari dua wilayah, yaitu Arab dan Benggala (India). Oleh karena itu dalam hal wilayah asal para pedagang muslim, para ahli bersepakat bahwa kemungkinan besar para pedagang itu berasal dari Arab, Persia dan India (Gujarat dan Benggala).
Sebagaimana Hindu dan Buddha, agama Islam juga mengalami sebagai agama resmi kerajaan. Kerajaan Islam pertama di wilayah Nusantara adalah Kerajaan Samudra Pasai, berdiri pada abad ke 13 M seiring dengan pudarnya pengaruh Sriwijaya di wilayah Sumatra. Raja pertama Pasai, adalah Malik as Saleh, raja yang batu nisannya ditemukan bertuliskan tahun 1297 M. Kekuasaan agama Islam sebagai agama kerajaan terus berlangsung hingga kekuasaan Pasai berganti kepada kekuasaan Aceh Darussalam pada abad ke-16 M.
Sementara itu di Jawa, Islam baru menjadi agama resmi kerajaan pada abad ke 15 M dengan berdirinya Kerajaan Demak bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Majapahit. Pada masa kekuasaanya, Demak terus berusaha meng-Islam-kan tanah Jawa. Dominasi kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran yang beragama Hindu mulai digerus oleh pengaruh Islam dengan berdirinya Banten, Cirebon, serta mengubah Sunda Kelapa menjadi Jayakarta pada 1527 M. Sebagaimana Samudra Pasai, kerajaan Islam Demak tidak semegah kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Wilayah kekuasaannya sangat terbatas dan periode berkuasanya pun hanya berlangsung singkat. Namun demikian setelah runtuhnya Demak, kerajaan-kerajaan Islam mulai tersebar di hampir seluruh kepulauan Nusantara, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi hingga Ternate-Tidore dan Sumbawa.
Berbeda dengan ajaran Hindu-Budha yang datang melalui ajaran-ajaran para pendeta agama, Islam datang dengan jalan yang beragam dengan perdagangan sebagai saluran utamanya. Dalam proses perdagangan tersebut, para pedagang muslim mulai tinggal membentuk komunitas muslim di wilayah Nusantara, diantara mereka juga banyak terdapat para mubaligh (pendakwah) agama Islam. Dalam menetap itu, mereka menggunakan bahasa masyarakat lokal, menerima tradisi dan kebiasaan setempat serta melakukan perkawinan dengan perempuan pribumi yang telah mereka Islam-kan.
Melalui perkawinan itu pula, para pedagang muslim ini mampu memasuki setiap lapisan masyarakat, baik umum maupun elite bangsawan. Mereka kemudian berkesempatan untuk mengajak raja-raja, partner dagang mereka, untuk masuk agama Islam. Dan ketika raja-raja itu telah masuk Islam, biasanya rakyat yang menganutnya dan mencontohnya juga ikut memeluk agama Islam.
Selain proses Islamisasi yang berlangsung pada lapisan atas tersebut, Islam juga dengan mudah meresap di lapisan masyarakat umum. Islam dipandang oleh masyarakat umum lebih baik daripada sistem ajaran Hindu, karena tidak mengenal kasta, tidak mengenal perbedaan golongan dalam masyarakat. Daya penarik Islam bagi para pedagang Hindu adalah, bahwa dengan memeluk Islam dan bekerjasama dengan raja-raja Islam, mereka dapat bekerjasama dengan sejajar dan sederajat. Berbeda dalam sistem Hindu, pedagang berada di bawah derajat yang lebih rendah daripada para bangsawan.
Agama Kristen
Agama Kristen sering juga disebut agama nasrani atau agama masehi. Sebutan kristen diambil dari sebutan pembawanya, yaitu Yesus Kristus, sedang sebutan nasrani berasal dari nama kota nazaret yang dalam bahasa arab disebut nashirah, sebuah kota di sebelah utara Palestina. Karena Isa Almasih atau Yesus Kristus lahir di kota tersebut, maka pengikutnya disebut dengan nasrani. Sementara itu masehi tentunya diambil dari kata almasih, gelar yang diikutkan pada nama Isa atau Yesus.
Isa Almasih yang juga disebut dengan Yesus Kristus adalah seorang tokoh atau nabi (dalam pandangan Islam) yang dianggap membawa lahirnya agama Kristen di dunia. Yesus lahir pada tahun 6 Sebelum Masehi dari ibu bernama Maryam (Maria) di Bethlehem, daerah Yerussalem, Palestina. Kisah tentang lahirnya Yesus ini menimbulkan perbedaan pemahaman antara tiga agama samawi, Yahudi, Kristen dan Islam. Karena Maryam atau Maria ketika melahirkan Yesus dalam keadaan belum menikah, maka golongan Yahudi berpendapat bahwa Yesus terlahir dari hasil perzinahan. Sedangkan golongan Kristen menganggap bahwa Yesus adalah penjelmaan Tuhan sebagai manusia yang dilahirkan oleh seorang perawan suci bernama Maria. Sedangkan golongan Islam berpendapat bahwa Isa dilahirkan dari Maryam, perawan suci, atas seizin Tuhan, meski Isa bukanlah penjelmaan Tuhan.
Agama Kristen bermula dari pengajaran Yesus Kristus sebagai tokoh utama agama ini. Yesus lahir di kota Betlehem yang terletak di Palestina sekitar tahun 4-8 SM. Yesus lahir dari rahim seorang wanita perawan bernama Maria (Maryam) yang telah dikandung oleh Roh Kudus. Pada saat itu Palestina adalah jajahan Romawi yang dikepalai oleh wali negeri bernama Pintius Pilatus. Sedang yang berkuasa di Roma adalah Kaisar Augustus.
Yesus menyampaikan ajaran Kristen di tengah-tengah bangsa Yahudi yang tengah tertindas. Ajarannya menyeru agar setiap orang mengasihi sesama, sekalipun kepada musuh. Ajaran Yesus itu sangat menyejukkan bagi orang-orang yang tengah hidup dalam penindasan. Tapi lain halnya dengan bangsa Romawi yang berkuasa saat itu, mereka bersikap keras terhadap penganut agama Kristen. Yesus hanya tiga tahun mempunyai kesempatan untuk menyampaikan ajarannya. Saat itu ia berumur kira-kira 30 tahun. Yesus kemudian difitnah oleh bangsanya sendiri, dijatuhi hukuman mati, disalib di tiang gantungan pada usia 33 tahun dan bangkit dari kubur pada hari yang ketiga setelah kematiannya. Setelah kebangkitannya, Yesus masih tinggal di dunia sekitar empat puluh hari lamanya, sebelum kemudian naik ke surga.
Setelah naiknya Yesus Kristus ke surga, murid-murid Yesus meneruskan penyebaran ajaran Kristen sehingga pengikutnya terus bertambah. Diantara para penganjur agama Kristen yang terkenal itu adalah Paulus dan Petrus. Mereka aktif menyebarkan Kristen ke Suriah, Siprus, Antiochia, juga ke kota Roma, Italia. Semakin lama agama itu semakin berkembang terutama di kalangan rakyat jelata. Pada masa-masa awal penyebarannya, agama Kristen cenderung dianggap sebagai ancaman hingga terus-menerus dikejar dan dianiaya oleh pemerintah Romawi saat itu. Banyak bapa Gereja yang menjadi korban kekejaman kekaisaran Romawi dengan menjadi martir, yaitu rela disiksa maupun dihukum mati demi mempertahankan imannya, salah satu contohnya adalah Ignatius dari Antiokia yang dihukum mati dengan dijadikan makanan singa.
Saat itu, kepercayaan yang berkembang di Romawi adalah paganisme, di mana terdapat konsep ‘balas jasa langsung’. Namun dengan gencarnya para rasul menyebarkan ajaran Kristen, perlahan agama ini mulai berkembang jumlahnya, sehingga pemerintah Romawi semakin terancam oleh keberadaan agama Kristen. Romawi pun berusaha menekan, dan bahkan melarang agama Kristen, karena umat Kristen saat itu tidak mau menyembah Kaisar, dan hal ini menyulitkan kekuasaan Romawi. Selain itu, paganisme dan ramalan-ramalan yang sejak zaman Republik sudah dipakai sebagai alat-alat propaganda dan pembenaran segala tingkah laku penguasa atau alasan kegagalan penguasa, sudah tidak efektif lagi dengan keberadaan agama Kristen. Maka, di masa-masa ini, banyak umat Kristen yang dibunuh sebagai usaha pemerintah Romawi untuk menumpas agama Kristen.
Pada masa inilah, datang masa-masa kegelapan (192-284M), mulai dari Kaisar Commodus hingga Kaisar Diocletianus (284-305M). Pada masa inilah orang-orang masa itu kehilangan kepercayaan terhadap konsep balas jasa langsung yang dianut di Paganisme, sehingga agama Kristen pun semakin diminati. Hingga akhirnya pada tahun 313 M, Kaisar Konstantin melegalkan agama Kristen dan bahkan minta untuk dipermandikan, dan 80 tahun setelahnya, Kaisar Theodosius melarang segala bentuk paganisme dan menetapkan agama Kristen sebagai agama negara. Sebagai agama resmi negara Kekristenan menyebar dengan sangat cepat.
Sejak abad ke 5 M berbagai bangsa menyerbu wilayah kekuasaan Roma, akibatnya runtuhlah kekuasaan Romawi bagian barat. Sementara itu Romawi bagian timur yang dikenal dengan Byzantium selamat dari serangan musuh dan dapat bertahan hingga tahun 1453 M. Pada masa keruntuhan itu Paus di Roma dapat mempertahankan ajaran dan organisasi Gereja Katolik, tetapi hubungannnya dengan ke-uskup-an di Konstantinopel (Romawi bagian barat) terputus. Sementara itu kaum paderi dari Yunani terus menyebarkan Kristen dari Konstantinopel menuju ke Rusia. Karena penyebaran itu raja Kiev akhirnya pada 989 M dipabtis menjadi seorang Kristen.
Pada tahun 1054 M terjadilah suatu perselisihan antara Paus dan ke-uskup-an di dua bagian yaitu kubu Gereja Katolik Roma dan Gereja Katolik Yunani. Sejak saat itu kepemimpinan Paus di Roma tidak lagi diakui oleh kubu Konstantinopel. Di wilayah keuskupan Yunani ini hubungan antara pemerinta dan gereja berjalan baik, kaisar diakui sebagai kepala agama. Sehingga ketika Byzantium jatuh di tangan orang-orang Turki, Tsar Rusia diakui sebagai kepala Gereja Katolik Yunani (Kristen Ortodoks). Sementara itu di wilayah barat, Paus dapat menjaga otoritas gereja dari pengaruh Negara, sehingga kekuasaan raja-raja Charles memberikan daerah yang luas di sekitar Roma kepada Paus.
Pada abad ke-15 M seluruh Eropa telah menjadi Kristen. Kekuasaan kekaisaran Eropa juga merasa turut mengemban amanat suci dalam menyebarkan agama Kristen. Gereja dan biara didirikan dimana-mana bukan hanya sebagai pusat kegiatan agama, tapi juga sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan seni. Tapi kekuasaan Paus itu bukan tanpa tantangan. Karena bebagai kritik dan ketidak puasan atas kekuasaan Paus yang mulai dianggap mencampur adukan antara kuasa agama dan Negara, maka pada abad ke 16 M mulai muncul berbagai aliran dalam Krsten, antara lain Kristen Protestan. Aliran ini dipelopori oleh Martin Luther seorang pendeta dan guru besar di Wittenberg, Jerman. Pada tahun 1517 Martin Luther mengumumkan 95 dalil menentang hal-hal yang dianggap tidak baik dalam kepemimpinan Gereja Katolik. Selain itu muncul pula aliran Calvin yang banyak mempunyai pengikut di Belanda, Inggris, dan Skotlandia. Pada masa pemerintahan Hennry VIII berkembang pula aliran Anglikan di Inggris.
Kristen Katolik di Indonesia
(Umat Katolik Perintis di Indonesia: 645 – 1500M) Agama Katolik untuk pertama kalinya masuk ke Indonesia pada bagian pertama abad ketujuh di Sumatera Utara. Fakta ini ditegaskan kembali oleh (Alm) Prof. Dr. Sucipto Wirjosuprapto. Untuk mengerti fakta ini perlulah penelitian dan rentetan berita dan kesaksian yang tersebar dalam jangka waktu dan tempat yang lebih luas. Berita tersebut dapat dibaca dalam sejarah kuno karangan seorang ahli sejarah Shaykh Abu Salih al-Armini yang menulis buku "Daftar berita-berita tentang Gereja-gereja dan pertapaan dari provinsi Mesir dan tanah-tanah di luarnya". yang memuat berita tentang 707 gereja dan 181 pertapaan Serani yang tersebar di Mesir, Nubia, Abbessinia, Afrika Barat, Spanyol, Arabia, India dan Indonesia.
Dengan terus dilakukan penyelidikan berita dari Abu Salih al-Armini kita dapat mengambil kesimpulan kota Barus yang dahulu disebut Pancur dan saat ini terletak di dalam Keuskupan Sibolga di Sumatera Utara adalah tempat kediaman umat Katolik tertua di Indonesia. Di Barus juga telah berdiri sebuah Gereja dengan nama Gereja Bunda Perawan Murni Maria (Gereja Katolik Indonesia seri 1, diterbitkan oleh KWI)
(Awal mula: abad ke-14 sampai abad ke-18) Dan selanjutnya abad ke-14 dan ke-15 entah sebagai kelanjutan umat di Barus atau bukan ternyata ada kesaksian bahwa abad ke-14 dan ke-15 telah ada umat Katolik di Sumatera Selatan. Kristen Katolik tiba di Indonesia saat kedatangan bangsa Portugis, yang kemudian diikuti bangsa Spanyol yang berdagang rempah-rempah. Banyak orang Portugis yang memiliki tujuan untuk menyebarkan agama Katolik Roma di Indonesia, dimulai dari kepulauan Maluku pada tahun 1534. Antara tahun 1546 dan 1547, pelopor misionaris Kristen, Fransiskus Xaverius, mengunjungi pulau itu dan membaptiskan beberapa ribu penduduk setempat.
Pada abad ke-16, Portugis dan Spanyol mulai memperluas pengaruhnya di Manado & Minahasa, salah satunya adalah menyebarkan agama Kristen Katolik namun hal tersebut tidak bertahan lama sejak VOC berhasil mengusir Spanyol & Portugis dari Sulawesi Utara. VOC pun mulai menguasai Sulawesi Utara, untuk melindungi kedudukannya di Maluku.
Selama masa VOC, banyak praktisi paham Katolik Roma yang jatuh, dalam hal kaitan kebijakan VOC yang mengutuk agama itu. Yang paling tampak adalah di Sulawesi Utara, Flores dan Timor Timur. Lebih dari itu, para imam Katolik Roma telah dikirim ke penjara atau dihukum dan digantikan oleh para imam Protestan dari Belanda. Seorang imam Katolik Roma telah dieksekusi karena merayakan misa kudus di suatu penjara semasa Jan Pieterszoon Coen menjabat sebagai gubernur Hindia Belanda. Pada saat ini umat Katolik tersebar di seluruh Indonesia dan secara mayoritas terdapat di Papua dan Flores.
Kristen Protestan di Indonesia
Kristen Protestan berkembang di Indonesia selama masa kolonial Belanda (VOC), pada sekitar abad ke-16. Kebijakan VOC yang mengutuk paham Katolik dengan sukses berhasil meningkatkan jumlah penganut paham Protestan di Indonesia. Agama ini berkembang dengan sangat pesat di abad ke-20, yang ditandai oleh kedatangan para misionaris dari Eropa ke beberapa wilayah di Indonesia, seperti di wilayah barat Papua dan lebih sedikit di kepulauan Sunda. Pada 1965, ketika terjadi perebutan kekuasaan, orang-orang tidak beragama dianggap sebagai orang-orang yang tidak ber-Tuhan, dan karenanya tidak mendapatkan hak-haknya yang penuh sebagai warganegara. Sebagai hasilnya, gereja Protestan mengalami suatu pertumbuhan anggota, sebagian besar dari mereka merasa gelisah atas cita-cita politik partai Islam.
Protestan membentuk suatu perkumpulan minoritas penting di beberapa wilayah. Sebagai contoh, di pulau Sulawesi, 17% penduduknya adalah Protestan, terutama di Tana Toraja, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara. Sekitar 65% penduduk di Tana Toraja adalah Protestan. dibeberapa wilayah, keseluruhan desa atau kampung memiliki sebutan berbeda terhadap aliran Protestan ini, seperti Adventist atau Bala Keselamatan, tergantung pada keberhasilan aktivitas para misionaris
Di Indonesia, terdapat dua provinsi yang mayoritas penduduknya adalah Protestan, yaitu Papua dan Sulawesi Utara, dengan 60% dan 64% dari jumlah penduduk. Di Papua, ajaran Protestan telah dipraktikkan secara baik oleh penduduk asli. Di Sulawesi Utara, kaum Minahasa yang berpusat di sekeliling Manado, berpindah agama ke Protestan pada sekitar abad ke-19. Saat ini, kebanyakan dari penduduk asli Sulawesi Utara menjalankan beberapa aliran Protestan. Selain itu, para transmigran dari pulau Jawa dan Madura yang beragama Islam juga mulai berdatangan.
Agama Konghucu
Banyak orang berpendapat bahwa ajaran Konghucu bukanlah agama, melainkan sebatas ajaran tentang kesusilaan dan etika dalam kehidupan. Tidak seperti agama lainnya, ajaran Konghucu tidak membicarakan soal ketuhanan secara langsung. Tetapi bagi para penganut Konghucu atau orang-orang yang menganggap bahwa Konghucu adalah agama, mereka menyamakan ajaran Konghucu dengan ajaran Budha. Meski tidak mengajarkan tentang ketuhanan atau ajaran tentang dewa-dewa, tapi kedua ajaran itu tidak mengingkari pengakuan terhadap dewa-dewa dalam agama Hindu dan ketuhanan Syangti yang dianut oleh masyarakat Tionghoa. Bisa diikatakan bahwa Konghucu dan Budha adalah ajaran yang ingin melengkapi ajaran Hindu pada saat itu.
Konghucu yang dalam bahasa latin disebut Confusius dan dalam bahasa Cina disebut dengan Kung Fu Tse berarti Tuan Kung. Dia adalah keturunan bangsawan miskin di propinsi Syantung, lahir pada tahun 551 SM dan wafat pada tahun 479 SM dalam umur 72 tahun. Tidak lama setelah Kung dilahirkan, ayahnya wafat sehingga ibunya harus hidup dalam kemiskinan. Pada usia 19 tahun Kung telah menikah dan mendapatkan dua putri dari pernikahannya itu. Pada usia 22 tahun Kung yang dikenal sangat cerdas, gemar bergaul, dan berminat pada pengetahuan itu, telah berhasil membuka sekolah yang banyak diminati oleh masyarakat, terutama golongan muda.
Karena kecermelangan pemikirannya pada usia 31 tahun Kung diangkat sebagai gubernur propinsi Tyung Tu, dan kemudian diangkat sebagai Menteri Kehakiman oleh kaisar Cina. Setelah kaisar yang mengangkatnya sebagai menteri itu wafat, Kung mengembara bersama tiga orang muridnya yang terkenal, Yen Hwei, Tse Kung, dan Tse Lu. Pada tahun 484 SM dalam umur 67 tahun Kung kembali menetap di kota Lu, mendirikan sekolah dan menyebarkan ajarannya hingga wafat. Ajaran Kung atau Konghucu justru dihidupkan dan disebarkan kembali dua abad setelah kematiannya oleh dua orang guru spiritual yang terkenal pada waktu itu, yaitu Men Tse dan Syun Tse.
Agama Konghucu masuk ke wilayah Nusantara melalui perantara para pedagang Tionghoa dan imigran dari Cina daratan. Diperkirakan pada abad ketiga Masehi, orang Tionghoa tiba di kepulauan Nusantara. Berbeda dengan agama yang lain, Konghucu lebih menitikberatkan pada kepercayaan dan praktik yang individual, lepas daripada kode etik melakukannya, bukannya suatu agama masyarakat yang terorganisir dengan baik, atau jalan hidup atau pergerakan sosial. Di era 1900-an, pemeluk Konghucu membentuk suatu organisasi, disebut Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) di Batavia (sekarang Jakarta).
Setelah kemerdekaan Indonesia di tahun 1945, umat Konghucu di Indonesia terikut oleh beberapa huru-hara politis dan telah digunakan untuk beberapa kepentingan politis. Pada 1965, Soekarno mengeluarkan sebuah keputusan presiden No. 1/Pn.Ps/1965 1/Pn.Ps/1965, di mana agama resmi di Indonesia menjadi enam, termasuklah Konghucu. Pada awal tahun 1961, Asosiasi Khung Chiao Hui Indonesia (PKCHI), suatu organisasi Konghucu, mengumumkan bahwa aliran Konghucu merupakan suatu agama dan Confucius adalah nabi mereka.
Tahun 1967, Soekarno digantikan oleh Soeharto, menandai era Orde Baru. Di bawah pemerintahan Soeharto, perundang-undangan anti Tiongkok telah diberlakukan demi keuntungan dukungan politik dari orang-orang, terutama setelah kejatuhan PKI, yang diklaim telah didukung oleh Tiongkok. Soeharto mengeluarkan instruksi presiden No. 14/1967, mengenai kultur Tionghoa, peribadatan, perayaan Tionghoa, serta menghimbau orang Tionghoa untuk mengubah nama asli mereka. Bagaimanapun, Soeharto mengetahui bagaimana cara mengendalikan Tionghoa Indonesia, masyarakat yang hanya 3% dari populasi penduduk Indonesia, tetapi memiliki pengaruh dominan di sektor perekonomian Indonesia. Di tahun yang sama, Soeharto menyatakan bahwa “Konghucu berhak mendapatkan suatu tempat pantas di dalam negeri” di depan konferensi PKCHI.
Pada tahun 1969, UU No. 5/1969 dikeluarkan, menggantikan keputusan presiden tahun 1967 mengenai enam agama resmi. Namun, hal ini berbeda dalam praktiknya. Pada 1978, Menteri Dalam Negeri mengeluarkan keputusan bahwa hanya ada lima agama resmi, tidak termasuk Konghucu. Pada tanggal 27 Januari 1979, dalam suatu pertemuan kabinet, dengan kuat memutuskan bahwa Konghucu bukanlah suatu agama. Keputusan Menteri Dalam Negeri telah dikeluarkan pada tahun 1990 yang menegaskan bahwa hanya ada lima agama resmi di Indonesia.
Karenanya, status Konghucu di Indonesia pada era Orde Baru tidak pernah jelas. De jure, berlawanan hukum, di lain pihak hukum yang lebih tinggi mengizinkan Konghucu, tetapi hukum yang lebih rendah tidak mengakuinya. De facto, Konghucu tidak diakui oleh pemerintah dan pengikutnya wajib menjadi agama lain (biasanya Kristen atau Buddha) untuk menjaga kewarganegaraan mereka. Praktik ini telah diterapkan di banyak sektor, termasuk dalam kartu tanda penduduk, pendaftaran perkawinan, dan bahkan dalam pendidikan kewarga negaraan di Indonesia yang hanya mengenalkan lima agama resmi. Pada saat itu banyak orang Tionghoa mengaku menganut dua ajaran agama sekaligus, yaitu Budha dan Konghucu, selain karena situasi politik, ajaran keduanya yang tidak mementingkan ketuhanan dan lebih berfokus pada masalah moral etika, memungkinkan hal itu terjadi.
Setelah reformasi Indonesia tahun 1998, ketika kejatuhan Soeharto, Abdurrahman Wahid dipilih menjadi presiden yang keempat. Presiden Wahid mencabut Instruksi Presiden No. 14/1967 dan keputusan Menteri Dalam Negeri tahun 1978. Agama Konghucu kini secara resmi dianggap sebagai agama di Indonesia. Kultur Tionghoa dan semua yang terkait dengan aktivitas Tionghoa kini diizinkan untuk dipraktekkan. Warga Tionghoa Indonesia dan pemeluk Konghucu kini dibebaskan untuk melaksanakan ajaran dan tradisi mereka.
0 komentar:
Post a Comment