
Dari serangkaian peristiwa terorisme yang hampir berlangsung selama satu dasawarsa (2000-2010) di Indonesia, ada dua nama yang sangat akrab dalam ingatan masyarakat Indonesia, yaitu: Dr. Azahari dan Noordin M. Top, duo teroris negeri jiran yang sempat menjadi hantu teror di Indonesia. Namun demikian, waktu satu dasawarsa itu tentunya adalah jangka waktu yang sangat lama dan cukup menegangkan bagi masyarakat Indonesia yang terus menanti kapan teror akan berakhir, dan kapan jaringan terorisme itu akan terungkap.
Sebagian dari para teroris ini ada yang telah tewas pada saat penangkapan, mati dihukum mati, atau masih dalam penjara dan menanti proses hukuman atas tindakan teror yang mereka lakukan. Berikut ini adalah beberapa kelompok teroris yang pernah membuat kekacauan dan mengacam keamanan masyarakat Indonesia.
Umar al Faruq
Nama ini muncul ke permukaan pada tahun 2002. Saat itu diberitakan bahwa seorang pria bernama Faruq dicokok intel Indonesia di Bogor, 5 Juni 2002. Pria itu dituduh berada di belakang aksi pengeboman sejumlah gereja pada tahun 2000 dan mendalangi upaya pembunuhan Presiden Megawati Soekarnoputri. Intelijen AS menuding Faruq tangan kanan Osama bin Laden dan menjadi tokoh penting Jamaah Islamiyah.
Majalah Time edisi September 2002 menyebut Faruq berkewarganegaraan Kuwait. Tapi, Kuasa Usaha Kedutaan Besar Kuwait di Jakarta mengatakan Faruq berkewarganegaraan Irak dengan nama Mahmud Ahmad Muhammad al-Rasyid, dengan paspor bernomor 0549549. Rasyid masuk Kuwait pada 1985 dan bekerja di negara kaya minyak itu sepuluh tahun. Disebutkan, Rasyid alias Faruq pernah berlatih militer di kamp Al-Qaidah di Khaldan, Afganistan, bersama Abu Zubaidah, tangan kanan Osama Bin Laden, miliarder Arab yang disebut sebagai orang nomor satu di jaringan Al-Qaidah. Faruq juga ditugasi oleh Al-Qaidah ke Moro, Filipina Selatan, membantu Front Pembebasan Islam di sana.
Time juga menyebutkan Faruq memiliki hubungan penting dengan jaringan teror di Indonesia. Ia, misalnya, dikabarkan dekat dengan Abu Bakar Ba’asyir, pemimpin Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Solo. Kata Faruq, dalam laporan Time, Ba’asyir merupakan tokoh kunci Jamaah Islamiyah di Asia Tenggara yang juga merestui pelbagai aksi kekerasan di Indonesia. Sementara itu, Ba’asyir kepada wartawan berkali-kali membantah mengenal Umar al-Faruq.
Umar al Faruq tangan kanan Osama bin Laden
Soal penangkapan Faruq mengundang banyak tanda tanya. Secara resmi ia dituduh bersalah karena menyalahgunakan dokumen imigrasi. Karena itulah ia tidak ditahan di Indonesia, melainkan dikembalikan ke negara asalnya. Akan tetapi menurut sumber berita, petugas imigrasi Jawa Barat mengaku tak tahu-menahu soal penangkapan Faruq. Kemudian Badan Intelijen Negara (BIN) mengakui pihaknya yang menangkap Faruq. Menurut Muchyar Yara (ketika itu Asisten Kepala Bidang Sosial dan Kemasyarakatan BIN), Faruq ditangkap oleh tim yang dipimpin Mayor Andika Perkasa, perwira Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang diperbantukan dalam operasi BIN. Andika adalah menantu Hendropriyono, Kepala BIN saat itu.
Pertanyaan muncul: mengapa BIN yang menangkap? Bukankah hak menangkap tersangka hanya dimiliki oleh polisi? Lalu, mengapa pula BIN menyerahkan kepada AS? Menurut berita para narasumber menemukan fakta bahwa Faruq diterbangkan dari Bandar Udara Halim Perdanakusuma dengan sebuah pesawat khusus. Paspor Faruq bahkan distempel dengan cap kedatangan Malaysia agar terkesan ia dideportasi ke negara itu. Diketahui Faruq diserahkan ke intelejen Amerika Serikat yang kemudian membawanya ke penjara Bagram, Afganistan, penjara yang selama ini dikenal sebagai tempat Amerika menempatkan sejumlah tahanan teroris jaringan Osama bin Laden.
Berita terakhir tentang Umar al-Faruq, ia dikabarkan lolos dari penjara Bagram, Afganistan pada 10 Juli 2005, meskipun berita lolosnya Faruq dari penjara dengan status maximum security yang berada di bawah pengawasan Amerika itu baru tersiar pada 1 November 2005. Bersama dia ikut hengkang tiga tahanan lain, yakni Abdullah Hasimi (warga Suriah), Mahmud al-Kahtai (warga Arab Saudi), dan Muhammad Hassan (warga Libya).
Hambali
Nama aslinya adalah Encep Nurjaman, berasal dari Kampung Pamokolan di pelosok Cianjur, Jawa Barat. Laki-laki yang tenar sebagai Hambali ini terkenal justru karena tuduhan sebagai gembong teroris dunia. Pada Agustus 2003 ia berasil ditangkap oleh aparat intelejen dunia di sebuah apartemen di Thailand. Penangkapan itu diumumkan secara resmi oleh Presiden Amerika Serikat George W. Bush, dan dicermati oleh agen intelijen mancanegara. Ia menjadi buruan dunia yang namanya bertengger di belakang nama Osama bin Laden, pimpinan gerakan Al-Qaidah.
Hambali alias Encep Nurjaman
Sementara itu di kalangan keluarga, mereka mengenal Encep sebagai juru dakwah keliling yang santun, sosok yang bertanggung jawab dan taat beribadah. Anak kedua dari 12 bersaudara ini membantu ekonomi keluarga dengan pergi merantau ke Malaysia pada usia 19 tahun untuk berdagang sambil aktif mengikuti pengajian, terutama yang diadakan oleh mendiang Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir.
Beberapa tahun kemudian, ia pergi berjihad ke Afganistan untuk membantu saudara seiman mengusir rezim yang kafir. Di medan laga itulah putra guru SD ini bertemu dengan saudara seperjuangan dari berbagai penjuru dunia dan menjadi bagian dari jejaring internasional yang punya satu tujuan dan pernah merasa sukses dalam memilih aksi kekerasan. Setelah tiga tahun berjihad di Afganistan, Hambali kembali ke Malaysia dan aktif berceramah di berbagai pengajian.
Dalam ceramahnya, ia dikabarkan kerap menceritakan pertemuan-pertemuannya dengan Osama bin Laden, bahkan diberitakan menjadi anggota Dewan Syura Al-Qaidah yang dipimpin tokoh kelahiran Arab Saudi itu. Selain itu, Hambali diduga menjadi pemimpin operasional Jamaah Islamiyah, organisasi rahasia yang didirikan Abdullah Sungkar dan bercita-cita mendirikan kekhalifahan Islam di Asia Tenggara.
Terlepas dari itu semua seberapa pentingkah perannya dalam berbagai kasus teror di Indonesia atau bahkan di dunia? Hal itu akan terlihat dari jumlah negara yang berkepentingan terhadap pemeriksaan Hambali.
1. Indonesia
Markas Besar Kepolisian RI menduga Hambali terlibat setidaknya dalam 41 aksi peledakan di banyak tempat di Indonesia dalam kurun waktu sejak tahun 2000. Di antaranya adalah 29 aksi pengeboman di Medan, Batam, Jakarta, Pekanbaru, Bandung, Sukabumi, dan Mojokerto pada malam Natal tahun 2000. Ia juga dituduh berada di balik bom Atrium Senen (Jakarta) dan di trotoar depan gedung Kedutaan Besar Filipina di Jakarta. Aksinya yang terbesar adalah dalam kasus Bom di Kuta, Bali, pada 12 Oktober 2002, yang menewaskan 202 orang. Terakhir, Hambali disebut-sebut berada di balik bom yang meledak di lobi Hotel JW Marriott, Jakarta, yang menewaskan 12 orang pada 5 Agustus lalu. Menurut polisi, Hambali diduga mengirim uang sekitar Rp 382 juta untuk biaya pengeboman ini. Mabes Polri sendiri telah menyiapkan tim pemeriksa Hambali, tapi Amerika belum memberi akses untuk itu.
2. Australia
Pemerintah Australia sangat bernafsu menginterogasi Hambali karena keterlibatannya dalam bom di Bali, 12 Oktober 2002. Maklum, dari 202 korban tewas dalam serangan teroris nomor dua terbesar setelah peristiwa World Trade Center di New York itu, 88 di antaranya adalah warga Australia yang tengah melancong ke Kuta.
3. Filipina
Puluhan korban tewas di Manila sekitar tiga tahun lalu membuat Filipina juga ngotot menghukum Hambali. Ia dituduh berada di belakang aksi peledakan bom di stasiun di Manila, yang menewaskan 22 orang pada 30 Desember 2000. Bahkan, menurut laporan intelijen AS, Hambali bertanggung jawab atas serangan bom ke pesawat Philippines Airlines, rencana peledakan 12 pesawat AS, dan usaha pembunuhan Paus Yohanes Paulus II dalam kunjungannya ke Filipina pada tahun 1990-an. Pemerintah Filipina yakin, aksi bom keji di stasiun itu merupakan pembalasan atas penangkapan beberapa anggota Front Pembebasan Islam Moro (MILF) di markas mereka di Filipina Selatan, awal tahun 2000. Fathur Rohman al-Ghozi, warga Indonesia yang dipidana di Filipina tapi melarikan diri, pernah menyebut Hambali sebagai pemimpinnya.
4. Malaysia
Negeri yang menjadi tempat persinggahan para teroris Asia ini menuduh Hambali telah menggunakan dana donasi warga Malaysia untuk membiayai pengeboman di sejumlah tempat dan latihan militer di Afganistan. Harian The Star yang terbit di Malaysia menyebutkan, Hambali pernah menerima 95 ribu ringgit untuk menjalankan Jamaah Islamiyah. Sebagian di antaranya, sebesar 8.000 ringgit, diperoleh dari sumbangan Pertubuhan Al-Ehasan, sebuah organisasi nirlaba Malaysia yang didirikan pada 1998 atas perintah Hambali. Menurut The Star, dana yang dikumpulkan dengan janji untuk membantu umat muslim itu juga dipakai membiayai pengeboman di Manila. Dengan uang itu pula, Jamaah Islamiyah membiayai Zaccharias Moussaoui, warga Prancis yang ditahan AS dengan tuduhan terlibat aksi WTC pada 2001. Malaysia telah menahan sedikitnya 80 tersangka militan Islam, mayoritas diduga anggota Jamaah Islamiyah yang berniat mendirikan negara Islam regional di Asia Tenggara.
5. Singapura
Negeri ini menganggap Hambali berada di balik rencana serangan bom ke berbagai kepentingan Amerika dan Eropa di Singapura. Itu diketahui dari temuan pemerintah Malaysia di tempat yang diduga gudang bahan pembuat bom di sebuah perkebunan kelapa sawit pada Maret lalu. Pemerintah Singapura pada Desember 2001 mengumumkan telah menangkap 31 orang dan memblokir rencana Jamaah Islamiyah menyerang sejumlah aset Amerika dan negara-negara Barat.
6. Amerika Serikat
Negara adidaya inilah yang kini menguasai Hambali di sebuah tempat yang masih dirahasiakan. Sebagai negara korban teror terbesar, Amerika telah menyatakan perang terhadap terorisme di seluruh pelosok dunia. Pada 11 September 2001, empat pesawat komersial Amerika dibajak sekelompok teroris dan ditabrakkan ke menara kembar gedung WTC di New York, gedung Pentagon, dan juga ada yang terjatuh di hutan. Lebih dari 3.000 orang tewas. Amerika menuduh Al-Qaidah, organisasi yang dipimpin bangsawan Arab Saudi, Usamah bin Ladin, berada di balik bom ala kamikaze ini. Amerika menuduh Hambali sebagai jaringan Usamah di Asia. Apalagi, menurut penyelidikan Amerika sendiri, Hambali pernah bertemu dengan Halid al-Midhar dan Nawaf al-Hasmi, dua di antara pembajak pesawat ke WTC itu, di sebuah apartemen di Kuala Lumpur pada Januari 2000.
7. Thailand
Semula, demi kepentingan pariwisata, Thailand menafikan adanya teroris yang bergerak di negara itu. Tapi penangkapan Hambali di sebuah apartemen di Ayutthaya, 80 kilometer dari Bangkok, 11 Agustus 2003 lalu memaksa Negeri Gajah Putih mawas diri. Perdana Menteri Thaksin Shinawatra ataupun polisi setempat yakin, Hambali berada di sana untuk mempersiapkan serangan saat pertemuan ekonomi negara-negara Asia Pasifik (APEC) Oktober mendatang, yang dihadiri Presiden AS George W. Bush.
Dr. Azahari dan Noordin M. Top
Dr. Azahari dan Noordin M. Top minggat dari Malaysia setelah pemerintah Mahathir Mohamad menangkapi kelompok garis keras Kumpulan Mujahidin Malaysia (KMM) pada 2000. Ia lari ke Thailand bersama Ali Gufron, kakak Amrozi dari Tenggulun, Jawa Timur, sebelum akhirnya masuk Indonesia. Nama Azahari pertama kali disebut para tersangka bom Bali I pada 2002, terutama oleh Ali Imron. Apalagi kemudian aparat berhasil mencokok Hambali, Ketua Mantiqi I JI. Akibatnya, saringan JI kocar-kacir, namun justru Azahari dengan duetnya Noor Din M. Top mampu bertahan.
Pasangan ini sungguh solid karena memiliki sejarah panjang sebelumnya. Mereka sama-sama terkait dengan UTM. Azahari sebagai dosen, dan Noordin mahasiswa. Keduanya juga bersamaan bergabung dengan JI dan bareng-bareng belajar paramiliter di Kamp Hudaibiyah, Filipina Selatan. Keduanya adalah anggota Wakalah Johor. Pasangan maut ini kemudian dituding berada di balik serangkaian bom yang mengguncang Tanah Air: bom JW Marriott (Agustus 2003), bom Kuningan (September 2004), dan terakhir bom Bali II (Oktober 2005). Menurut Conboy, duet Malaysia tersebut memang mampu terus melakukan perekrutan tenaga-tenaga baru untuk melakukan aksi bunuh diri.
Dalam berbagai kesempatan, Azahari juga terus menularkan keahliannya dalam meracik bom kepada sel-sel JI yang masih bertahan. Ia dikenal sebagai pengajar yang baik. Menurut Ali Imron, pelaku bom Bali I, Azahari amat sabar dalam memberikan pelajaran membikin alat pencabut nyawa itu. Sementara itu Noordin terkenal dipercaya memiliki kemampuan tinggi dalam merekrut kader baru untuk menjalankan misi terornya.
Dr. Azahari, doktor Bom dari negeri jiran
Lalu siapakah sebenarnya Dr. Azahari? Media menyebutnya sebagai Hantu Bom dari Johor. Tak seorang pun dapat memahami, mengapa Azahari bin Husin bisa berubah menjadi hantu bom paling mengerikan di Asia Tenggara. Sebab, sejak mudanya, kecil sekali petunjuk akan tendensi radikal genius matematika ini. Namun diduga, penyebabnya pasti sangat membekas dalam kehidupan profesor berumur 46 tahun ini, sehingga ia memutuskan bergabung dalam kelompok Islam militan, malang-melintang di Afganistan dan Filipina.
Azahari belajar ke Australia empat tahun pada akhir 1970-an, ketika banyak pelajar Malaysia larut dalam kancah perpolitikan Islam gara-gara terpengaruh Revolusi Islam Iran. Namun tak ada anasir radikal ataupun keagamaan yang diminati Azahari ketika itu. Bahkan, menurut data yang dikumpulkan polisi, Azahari gagal meraih gelar masternya di Adelaide gara-gara terlalu banyak jalan-jalan dan pelesiran. Ia pulang ke Malaysia dan meraih gelar masternya. Pada 1980-an ia terbang ke Reading University di Inggris. Di sini dosennya sangat terkesan lalu membujuk dia menyelesaikan doktoralnya di universitas tersebut. Pada 1990 ia meraih Ph.D. dalam kajian model statistika dengan yudisium cum laude.
Balik ke Malaysia, ia dan istrinya mengajar di Universiti Teknologi Malaysia di Skudai, Negara Bagian Johor. Ia menjadi dosen di fakultas teknik dan ilmu geoinformasi. Ketika itu ia pun masih belum menunjukkan sentimen Islam yang kuat. Aparat intelijen Malaysia menduga, perubahan mulai terjadi sekitar pertengahan 1990-an, ketika ia sering hadir dalam pengajian almarhum Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir. Berbeda dengan hampir semua akar jaringan Jamaah Islamiyah yang rata-rata berasal dari pedesaan dan mendapat pengajaran Islam dari pesantren atau madrasah, Azahari adalah sosok yang lahir dari kelas menengah dan berpendidikan tinggi (akademisi).
Pada sekitar tahun-tahun itu pula istrinya terserang kanker tenggorokan. Sang istri dapat diselamatkan, tapi tak mampu berbicara lagi sehingga harus pensiun mengajar. Semula, polisi mengira, sakitnya sang istri setelah kelahiran anak keduanya itu bisa menjadi katalisator perubahan dalam diri Azahari. Yang terjadi justru sebaliknya. Ia bahkan berangkat ke Afganistan dan ke wilayah selatan Filipina pada akhir 1990-an. Sejak pergi ke Filipina itulah ia seakan terobsesi membuat bom. Pada tahun 1999 lelaki berperawakan tinggi dan putih ini dikenal sebagai instruktur bom di kamp gerilyawan MILF (Moro Islamic Liberation Front) di Mindanao, Filipina Selatan. Dan pada tahun 2000 ia bersama Hambali alias Encep Nurjaman mengikuti kursus bom tingkat lanjut di Kandahar, Afganistan.
Setelah tertangkapnya Hambali, Azahari menjadi buron utama. Apalagi, menurut pejabat CIA, dalam interogasinya Hambali mengaku Azahari sebagai penggantinya. Seorang polisi Indonesia yang terlibat dalam pengejaran Azahari menggambarkan, lelaki itu benar-benar luar biasa dalam urusan merangkai bahan peledak. Dia ahli merakit bom dengan bahan campuran low explosive dan high explosive menjadi bom rakitan yang lebih dahsyat dari bom konvensional. Azahari pun piawai merangkai kombinasi pemicu ledakan sehingga nyaris tak mungkin gagal.
Doktor Azahari bin Husin, buruan paling berbahaya yang bertahun-tahun lolos dari pengejaran, akhirnya tewas dalam silang tembak ketika disergap polisi pada Rabu sore, 9 November 2005, di Perumahan Flamboyan, Jalan Flamboyan Raya Nomor 7, Batu, Jawa Timur. Di sanalah akhirnya petualangan Azahari berakhir, meda massa ramai membicarakannya. Tetapi kesenyapan justru melanda kediamannya di Jalan AU 2C/6 No. 12, Keramat, Kuala Lumpur. Menurut laporan media, rumah itu terkunci rapat, tak kelihatan siapa pun kecuali sebuah mobil sedan Toyota Unser warna hitam. Warga sekitar yang mengenal Azahari tak percaya tetangganya itu seorang gembong teroris.
Detik Terakhir Azahari
9 November 2005
Polisi menangkap Cholili, anak buah Azahari, di daerah Genuk, perbatasan Semarang dan Demak. Cholili membenarkan Azahari ada di Batu. Penggerebekan pun segera dipersiapkan.
14.00 WIB
Polisi mengevakuasi warga setempat.
15.00 WIB
Tim antiteror dari Detasemen 88 Mabes Polri Jakarta mulai mengepung rumah kontrakan Azahari.
16.00 WIB
Azahari dan teman-teman menolak menyerah. Baku tembak diselingi ledakan bom pun tak terhindarkan. Kira-kira setengah jam kemudian, polisi menguasai situasi.
19.30 WIB
Tim penjinak bom dari Kepolisian Daerah Jawa Timur menyisir sekitar rumah kontrakan Azahari, mencari sisa bom yang belum meledak.
21.05 WIB
Kapolri Jenderal Sutanto tiba di tempat kejadian.
22.00 WIB
Sutanto memastikan bahwa satu dari dua korban tewas adalah Azahari
Sebelum petualangannya berakhir sebenarnya gerak lelaki yang dijuluki ”Doktor Bom” itu sudah semakin sulit. Soalnya, aksi bom bunuh diri yang mengakibatkan warga sipil tak berdosa tewas juga dikecam banyak kelompok gerakan di garis mereka. Selama ini kelompok Azahari nyaris tak punya banyak kawan. Biasanya, kelompok Azahari memakai banyak rumah jaringan Jamaah Islamiyah untuk persembunyiannya. Misalnya, setelah bom Bali I, Azahari dan kawan-kawannya masih ”ditolong” para sohibnya dengan alasan solidaritas bekas Jamaah Islamiyah. Rupanya, tidak semuanya setuju dengan cara jihad Azahari. Setelah anggota JI terceraiberai, mencari tempat sembunyi kian sulit.
Spektrum gerakan radikal Islam itu pun beragam. Misalnya, Azahari pernah ditolak oleh Abdullah Sonata, 27 tahun, seorang pendukung gerakan radikal yang sudah ditangkap polisi Juli lalu, gara-gara mengirimkan orang untuk berlatih gerakan bersenjata di Moro Islamic Liberation Front, Filipina Selatan. Sonata tak setuju dengan gaya jihad Azahari dan Noordin yang melakukan aksi serangan bunuh diri di luar daerah konflik.
Dalam pemeriksaan polisi, banyak saksi mengatakan Sonata menolak bekerja sama dengan Noor Din dan Azahari. Inilah yang menyulitkan Azahari bergerak lebih leluasa. Ruang geraknya kian terbatas, sumber daya juga kian sulit. Bahkan sempat berhembus kabar bahwa Azahari dan Noordin akan menghentikan terornya dan menyerahkan diri ke polisi (lebaran tahun 2005), tapi nyatanya hal itu tidak pernah kesampaian. Hingga menjelang saat terakhir petualangannya Azahari praktis hanya didampingi oleh empat pengawalnya yaitu : Arman atau Budi Darmawan, 24 tahun yang tewas tewas bersama Azahari. Ia adalah anak didik Dr Azahari. Kemampuannya dalam meracik bom hanya selapis di bawah gurunya; Achmad Cholili, 27 tahun, kepada warga di Perumahan Flamboyan Indah, Batu, mengaku bernama Yahya Antoni; Anif Solchanudin, 24 tahun, warga Semarang yang pernah memberi perlindungan kepada Nordin dan Dwi Widiyarto, 33 tahun
Setelah Dr Azahari tewas, polisi kini giat memburu Noordin M. Top. Selain disangka sebagai pelaku aksi pengeboman di berbagai wilayah di Indonesia, lelaki muda asal Malaysia ini dipercaya memiliki kemampuan tinggi dalam merekrut kader baru untuk menjalankan ambisinya, menghancurkan semua orang yang dianggapnya sebagai lawan. Dalam periode 205 – 2009 polisi terus menelisik jaringan Noordin ini. Hingga akhirnya perburuan Noordin kembali meningkat setelah dua hotel di kawasan Mega Kuningan dibom pada 17 Juli 2009. Warga negara Malaysia ini diduga terlibat dalam serangan yang menewaskan sembilan orang itu. Polisi menyebar belasan ribu poster Noordin. Pemerintah juga bekerja sama dengan Malaysia buat memantau gerakan Noordin. Detasemen Khusus Anti Teror menggelar operasi di Banyumas, Cilacap, Klaten, Kulonprogo, dan beberapa daerah lain di Jawa Tengah yang diduga menjadi persembunyian buron tersangka teroris nomor satu itu.
Noordin M. Top tabib bom duet maut Dr. Azahari
Siapakah gerangan Noordin M Top ini? ia dapat dikatakan sebagai mahasiswa Dr. Azahari, lulusan Jurusan Teknik Mesin Universiti Teknologi Malaysia (UTM) di Skudai, Johor Malaysia ini saat kuliah mengaji ke Pesantren Luqmanul Hakiem, Ulu Tiram, Johor. Menurut Penasihat Senior International Crisis Group Jakarta, Sidney Jones, sikap radikal Noordin dipengaruhi oleh Hambali yang kini ditahan di Guantanamo. Hambali adalah Ketua Mantiqi I Jamaah Islamiyah yang berpusat di Johor.
Noordin masuk ke Indonesia pada 2002 melalui Riau, setelah Malaysia menangkapi aktivis Kumpulan Mujahidin Malaysia (KMM). Noordin lalu menikahi Rahma, adik Muhammad Rais, saat di Johor. Rais dan Rahma adalah anak Rusdi, warga Rokan Hilir, Riau, yang kemudian hijrah ke Johor. Rais juga santri Luqmanul Hakiem. Rais, 35 tahun, sempat dipenjara karena membawa bahan peledak untuk bom Marriott 2003. Noordin dan Rais sempat membuka bengkel shock breaker mobil di Bukittinggi, Sumatera Barat. Sebelum bom meledak di Bali pada 12 Oktober 2002, perakit bom Dr Azahari bergabung. Polisi memburu Noordin dan Azahari karena terlibat bom Bali. Mereka juga merancang bom Marriott setahun kemudian. Noordin dan Azahari sempat bersembunyi di Bandung. Di sana mereka menyiapkan bom untuk Kedutaan Besar Australia, Oktober 2004. Noordin dan Azahari juga merancang aksi bom Bali, Oktober 2005. Sebulan kemudian Azahari tewas saat disergap polisi di Kota Batu, Jawa Timur, sebulan setelah bom Bali II. Sejak itu Noordin terus berpindah, tapi masih di Jawa, terutama Jawa Tengah.
Dalam aksi teror bom Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton pada 17 Juli 2009 Noordin menggandeng Ibrohim, penata bunga yang bekerja di Hotel Ritz-Carlton. Tidak lama setelah kejadian itu, pada tengah Agustus 2009, media elektronik menyiarkan luas drama penggerebekan sebuah rumah berdinding tembok milik Muhzahri, 70 tahun, di Dusun Beji, Kecamatan Kedu, Temanggung, Jawa Tengah, yang berlangsung selama hampir 18 jam. Noordin dikabarkan tewas di kamar mandi rumah persembunyiannya. Tapi ternyata kabar itu keliru, gembong teroris yang terbunuh itu ternyata bukan Noordin, melainkan Ibrohim.
Petualangan Noordin sendiri berakhir setelah polisi melakukan operasi penangkapan jaringan bom Marriott-Ritz secara serentak di tiga titik: Temanggung, Solo, dan Jatiasih. Pada 17 September 2009 dalam penyergapan mendadak di rumah persembunyiannya di Kepuhsari, Mojosongo, Solo, Jawa Tengah, Noordin akhirnya tewas terbunuh. Setelah beberapa kali lolos dari sergapan, akhirnya tiga hari menjelang Idul Fitri tahun 2009 keberuntungan gembong teroris asal Malaysia itu berakhir.
Dalam penyergapan itu Detasemen Khusus 88 menemukan banyak materi berharga terkait dengan jaringan terorisme di Indonesia. Polisi menemukan dua buah laptop, satu di antaranya ditemukan dalam ransel yang menempel di punggung Noor Din, alat-alat penyelidikan (surveillance), dan kamera video. Di luar itu, masih ada senjata M16, pistol Beretta, dan 200 kilogram bahan peledak. Dari temuan itu tersisa fakta bahwa Noordin tewas dengan meninggalkan anggota jaringan yang masih bergerak aktif.
Sumber di kalangan Jamaah Islamiyah mengungkapkan, masih banyak pembuat bom dan eksekutor bunuh diri yang berkeliaran. Mereka disebut pasukan khos, berjumlah paling tidak seratus orang. Mereka siap dipanggil untuk aksi bom bunuh diri. Noordin mulai aktif "bermain" di Indonesia menjelang aksi peledakan bom Bali yang pertama, Oktober 2002. Perannya masih sebatas mengantarkan uang US$ 5.000-dari eks Ketua Mantiqi I Jamaah Islamiyah, Hambali, yang saat itu ada di Thailand-kepada Ali Ghufron alias Mukhlas, salah satu perancang utama teror di Bali. Meski peranannya hanya selintas, Noordin saat itu sudah menjadi tokoh penting dalam jejaring pelaku teror di Jamaah Islamiyah. Karena itulah, hanya setahun setelah bom Bali pertama, Noordin langsung naik kelas menjadi perencana serangan. Bom di Hotel JW Marriott, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, pada awal Agustus 2003 adalah hasil karya perdananya.
Pada tahun-tahun pertama aksinya di Indonesia, Noordin selalu menggunakan aktivis Jamaah Islamiyah sebagai pendukung. Namun, setelah para pemimpin kelompok itu menyatakan keberatan dengan pola aksi Noordin yang membabi buta, sekitar awal 2004 dia mencari kelompok-kelompok radikal lain yang bisa membantu. Noordin misalnya, mendekati kelompok Darul Islam lewat Rois alias Iwan Dharmawan, yang kemudian membantu aksi peledakan bom di Kedutaan Besar Australia, Oktober 2004.
Menurut laporan International Crisis Group, sekitar masa inilah beredar dokumen "Serial Jihad IV" di kalangan pengikut Noordin. Dokumen yang diterjemahkan dari bahasa Arab itu menjelaskan cara membentuk tim teror kecil yang bisa bergerak bebas. Unit dasar dari tim itu-biasa disebut thoifah-terdiri atas seorang ketua dan wakil. Merekalah yang merencanakan serangan dan melatih pelaksana lainnya. Masih menurut dokumen itu, untuk melancarkan serangan, dibutuhkan sedikitnya tiga tim pembantu: tim pengumpulan data (melakukan survei lokasi), tim logistik (menyiapkan bahan bom dan perlengkapan lain), dan tim eksekutor. Sejak itulah, polisi meyakini Noordin mulai aktif menggunakan struktur seperti itu.
Nama Al-Qaidah sebenarnya sudah lama digunakan Noordin. Pada Januari 2006, Kapolri (ketika itu) Jenderal Sutanto, dalam sebuah rapat dengan Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat, mengumumkan "Tandzim Qaidatul-Jihad untuk Kepulauan Melayu" sebagai nama baru yang digunakan kelompok Noordin sepeninggal Dr. Azahari. "Wilayah operasinya Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Filipina. Namun, sampai polisi menemukan dokumen Noordin belum pernah ada bukti keras bahwa dia mendapat restu sebagai wakil Al-Qaidah di Asia Tenggara.
Ada kemungkinan Noordin yang menyusun strukturnya sendiri, lalu minta restu kepada Al-Qaidah, begitu penjelasan pengamat terorisme dari International Crisis Group, Sidney Jones. Ia mengingatkan, jalan Noordin menuju pusat Al-Qaidah di Afganistan sudah terbuka ketika Ayman al-Zawahiri, tangan kanan Osama bin Laden, memuji tiga pelaku bom Bali yang dihukum mati, akhir tahun lalu.
Abu Dujana
Nama Abu Dujana muncul dalam radar polisi setelah peledakan Hotel JW Marriott, Jakarta, 5 Agustus 2003. Dua bulan sebelum pengeboman itu, ia yang saat itu menjadi sekretaris komando pusat Jamaah Islamiyah, dan Qotadah alias Basyir, anggota Mantiqi II (Jawa-Bali), menemui Noordin M. Top dan Dr Azahari. Dua nama terakhir diyakini sebagai otak berbagai pengeboman. Azahari tewas dalam penggerebekan polisi di Batu, Jawa Timur, November 2005. Abu Dujana, Qotadah, Noordin, dan Azahari kembali bertemu di Bandung beberapa hari setelah peledakan. Abu Dujana tidak setuju dengan pengeboman Marriott dan sempat ribut dengan Noordin serta Azahari. Abu Dujana mengaku mempertanyakan alasan Noordin dan Azahari mengebom Marriott? Noordin sengit menjawab gugatan itu dengan beralasan bahwa musuh-musuh Islam akan menghancurkan mereka, jika mereka tidak menghancurkan musuh-musuh itu terlebih dahulu.
Abu Dujana sang panglima JI
Setelah pertemuan itu, Abu Dujana memutuskan mengirim Noordin dan Azahari ke Jawa Timur. Ia menitipkan kedua buron kepada Fahim, Ketua Jamaah Islamiyah di wilayah itu. Fahim, dengan bantuan anak buahnya, memindahkan mereka ke sejumlah tempat seperti Blitar, Kediri, Pasuruan, Surabaya, dan Malang. Karena keputusannya itu, polisi menuduh Abu Dujana menyembunyikan buron. Polisi betul-betul mengawasi Abu Dujana dengan ketat setelah meletusnya konflik di Poso, Sulawesi Tengah. Dari sejumlah orang tersangka yang ditangkap, polisi menyimpulkan bahwa keterlibatan pria bernama kecil Ainul Bahri itu sangat besar. Ia mengendalikan pengiriman senjata api, amunisi, bahan peledak, dan bom dari Jawa ke Poso.
Polisi juga menuduh Abu Dujana mengendalikan sejumlah operasi di Poso, termasuk menerima Rp 500 juta hasil rampokan gaji pegawai pemerintah daerah itu pada 2005. Dari keterangan Surya Dharma itu, polisi mengusut peran Abu Dujana dalam bom Marriott, bom Kedutaan Besar Australia 9 September 2004, dan bom Bali II November 2005. Abu Dujana diduga memimpin sayap militer Jamaah Islamiyah sejak 2004, ketika pemimpin tertinggi organisasi itu dijabat Adung alias Sunarto bin Kartodiharjo.
Selain Dujana, juga terungkap tokoh bernama Zarkasih alias Mbah yang diduga adalah pemimpin tertinggi darurat Jamaah Islamiyah, setelah Adung ditangkap polisi di Surakarta. Zarkasih adalah alumni kamp pelatihan militer Abbas, Afganistan, angkatan kelima (1987) atau dua angkatan di atas Abu Dujana. Ia lulus dengan predikat terbaik kedua di bawah Nasir Abas, mantan Ketua Mantiqi III (Sulawesi) Jamaah Islamiyah. Nama Zarkasih, seperti juga halnya Abu Dujana, menarik perhatian polisi setelah tertangkapnya para tersangka kasus Poso. Dari keterangan mereka, diketahui bahwa para ustad yang terjun ke Poso, termasuk yang tewas dalam baku tembak dengan polisi pada Januari lalu, memiliki kaitan dengan Zarkasih. Pengiriman bahan peledak ke wilayah itu juga diketahui atas persetujuannya.
Bersama Abu Dujana, Zarkasih memimpin Jamaah Islamiyah yang tinggal remah-remah karena para pemimpin pucuknya ditangkapi. Keduanya lalu membentuk struktur baru yang lebih ramping, dengan menghilangkan beberapa bagian. Di antaranya, kepemimpinan mantiqi atau wakalah seperti tercantum dalam Pedoman Umum Perjuangan Jamaah Islamiyah (PUPJI). Sebagai gantinya, dalam struktur itu, amir membawahkan hanya empat bidang, yaitu dakwah, tarbiyah (pendidikan), perbekalan, dan sariyah (sayap militer).
Jabatan yang dipegang Abu Dujana adalah komandan sariyah. Di bawahnya ada ishobah, lalu di bawahnya lagi majmuah dan qism dzakhiroh, yang mengurusi logistik. Komandan satuan di bawah qoryah ditunjuk oleh Abu Dujana dalam pertemuan di Solo, tahun 2006. Sarwo Edi Nugroho, yang ditangkap pada Maret 2007, ditunjuk menjadi Komandan Ishobah Jafar bin Abi Tholib (wilayah Semarang). Lalu Kholis diperintahkan memimpin Ishobah Abdullah bin Rowiyah (Surabaya). Ishobah Zaid bin Haristah di Surakarta dipimpin Gulam yang hingga kini masih buron. Adapun Ayyasy alias Sutardjo ditunjuk untuk mengurusi logistik. Selain Gulam, mereka ditangkap ketika sedang memindahkan senjata dari Sukoharjo ke Magelang. Di luar Abu Dujana dan Zarkasih, tersangka lainnya boleh dibilang para pendatang baru. Misalnya Aris Widodo alias Tri yang ditangkap karena dituduh mengirim dan menerima email untuk Abu Dujana. Demikian juga Anif Saefuddin alias Tsaqof, yang konon berperan membantu mengirimkan perintah atas nama Abu Dujana melalui surat elektronik
Perburuan terhadap Abu Dujana sesungguhnya sudah digelar sejak tahun 2002, setelah bom melumat sejumlah kafe di Legian, Bali, 12 Oktober 2002. Beberapa pelaku peledakan seperti Imam Samudra, Amrozy, dan Mukhlas ditangkap. Mereka dijatuhi hukuman mati. Dujana juga ditengarai terlibat. Dujana juga diduga terlibat dalam kasus peledakan bom yang melumat Hotel JW Marriott di Jakarta pada 5 Agustus 2003, dan ikut merancang bom di Kedutaan Australia di Jakarta, September 2004. Dalam catatan polisi, namanya berkibar dalam rangkaian peledakan bom di Poso, Sulawesi Tengah.
Mencari Abu Dujana sulitnya mintan ampun. Pada Januari 2005 jejaknya tercium di Subang, Jawa Barat. Bersama sejumlah kawan, dia bersembunyi di hutan dekat Kampung Banggal, Cipeunduy. Warga di sana mengetahui adanya kelompok ini setelah seorang anak buah Dujana mengoda istri penduduk. Warga yang marah melapor polisi. Namun, saat didatangi, rombongan Dujana sudah kabur. Setelah itu jejaknya gelap lagi. Dujana baru terendus lagi enam bulan kemudian. Pada Juni 2006 dia diketahui mengontrak rumah di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Polisi menyergap rumah kontrakan itu tapi tak ada hasilnya. Dia melarikan diri sebelum polisi tiba.
Perburuan kemudian berpindah ke Yogyakarta. Pada pertengahan Maret 2007, polisi mengintai kelompok Dujana di Maguwoharjo, Sleman. Di situ anak buahnya baku tembak dengan polisi. Satu tewas, tapi Dujana raib. Dia dikabarkan lari ke Sukoharjo, Jawa Tengah. Polisi langsung merangsek ke sana. Ia lagi-lagi lolos, tapi polisi meringkus Sikas bin Karim, salah satu anak buahnya. Dari rumah Sikas ini ditemukan ribuan amunisi, senapan mesin AK-47, M-16, 200 detonator aktif, 16 bom lontar, dan 20 kilogram TNT. Barang laknat itu ditemukan di bunker rumah.
Pada akhir Maret 2007 polisi juga merangsek ke Surabaya. Di sana mereka menangkap Choirul, juga anak buah Dujana. Sejumlah barang bukti disita dari rumah Choirul, antara lain 12 kilogram bahan peledak dan sejumlah dokumen tentang Abu Dujana. Dari berbagai dokumen dan kesaksian itu, polisi akhirnya tahu posisi Dujana dalam Jamaah Islamiyah. Menurut aparat, Dujana adalah panglima militer organisasi itu. Posisinya lebih tinggi dibanding Noordin M. Top. Dari anak buahnya itu pula diketahui bahwa Dujana orang yang banyak akal. Di setiap tempat pelarian, dia selalu menggunakan nama samaran dan mengubah penampilan.
Tak ingin kalah set, polisi juga rajin menyamar. Rambut mereka dibiarkan gondrong dan mereka kerap memakai celana selutut. Bahkan polisi-polisi itu sanggup bergadang hingga subuh, mereka gila kerja. Anggota tim pemburu bukan cuma polisi. Ada juga ahli komputer, mantan hacker, dan petugas dari operator jaringan telepon seluler. Tim ini bekerja sama dengan kepolisian Australia dan Biro Penyelidik Federal Amerika Serikat. Belakangan polisi mengendus aktivitas dunia maya orang-orang dekat Dujana. Mereka antara lain Aris Widodo dan Arif Syarifuddin. Dari pelacakan polisi, diketahui bahwa keduanya berkomunikasi lewat surat elektronik.
Polisi menelusuri email itu. Polisi mencurigai bahasa yang mereka pakai. Pada akhir surat mereka kerap menulis, ”Salam dari pimpinan.” Artinya, ”Mereka kirim surat atas perintah pimpinan”. Selain memeriksa email, polisi juga menyadap komunikasi telepon Abu Dujana dan anah buahnya. Dari penyadapan itu akhirnya diketahui lokasi sejumlah orang ini. Mereka tinggal di tempat yang berbeda-beda. Tapi di mana persisnya Abu Dujana berada belum diketahui.
Polisi akhirnya menemukan rumus jitu mengunci Dujana, yakni operasi serentak. Operasi itu digelar pada Juni 2007 di lima lokasi sekaligus, yaitu di Sleman Yogyakarta, Banyumas, Karanganyar, Sukoharjo di Jawa Tengah, dan di Surabaya. Daerah itu dianggap sebagai tempat persembunyian Dujana. Dengan operasi serentak ini, posisi Dujana diyakini akan terkunci. Sejumlah polisi yang menyamar dikirim ke lokasi itu. Di Desa Kebarongan, selain menyamar jadi pemulung, ada juga yang menyamar jadi tukang ojek. Begitu diketahui Yusron Mahfud alias Abu Dujana, berada di rumahnya, polisi itu menempel ketat. Di empat lokasi lain, polisi juga sukses mengunci anak buah Dujana. Aris Widodo, yang kerap kali berkomunikasi lewat surat elektronik, dibekuk di Tegalgede, Karanganyar, Jawa Tengah. Arif Syarifudin ditangkap di Surabaya. Rombongan Dujana ini ”disimpan” di tempat yang dirahasiakan.
Dulmatin
Pada suatu ketika di tahun 2000, jauh sebelum terjadinya Bom Bali I (2002), Amrozi, 37 tahun, menerima telepon dari Dulmatin, yang menyuruhnya membeli bahan kimia untuk membuat bom: 200 kilogram pota-sium klorat, 25 kilo sulfur, dan 25 kilo bubuk aluminium. Mobil dan bahan pesanan itu segera dibawa ke rumah Dulmatin di Pekalongan, Jawa Tengah. Bom segera dirakit. Tuan rumah mencampur bahan kimia dengan tangan: sembilan kilo potasium klorat untuk setiap tiga kilo sulfur dan tiga kilo bubuk aluminium. Tiap porsi dimasukkan ke wadah plastik, dilubangi atasnya buat memasukkan detonator. Dulmatin lalu memasukkan tas ke mobil, berisi detonator jarak jauh yang dimodifikasi. Walkie talkie bekas dipakai untuk memicu ledakan dari jarak maksimal 500 meter.
Dulmatin, teroris terakhir yang tewas pada 2010
Dulmatin, Amrozi, dan enam orang lainnya bergegas menuju Jakarta. Di Ibu Kota mereka bertemu dengan Abdul Jabar dan Usman, anggota komplotan lainnya. Waktu serangan telah diputuskan, 1 Agustus 2000. Sisa hari sebelum tanggal itu mereka manfaatkan buat memasang sumbat dan kawat peledak. Pada hari serangan, Usman memarkir mobil bom di dekat gerbang rumah Duta Besar Filipina. Pada pukul 12.30, Mercedes Duta Besar Leonides Caday tiba. Ghozi berjalan di trotoar mendekati sasaran agar mencapai jarak 500 meter. Klik, ia menekan handy talkie. Dalam sedetik, bunyi gelegar membahana. Caday yang duduk di kursi kiri belakang terluka: empat tulangnya patah, darah mengucur dari tubuhnya yang dihantam pecahan kaca. Tapi ia selamat. Bom membunuh seorang petugas satpam dan seorang perempuan pejalan kaki. Belasan orang lainnya luka luka. Itulah ledakan bom "karya" pertama Dulmatin dalam curriculum vitae terorismenya.
Tetap menjadi perakit bom, ia bergabung kembali dengan Usman dan Abdul Jabar pada akhir tahun yang sama. Dalam proyek pengeboman malam Natal, mereka memilih tiga gereja Katolik dan tiga gereja Protestan di seluruh penjuru Jakarta. Serangan kali ini gagal karena Abdullah, si pembawa bom, ketakutan sehingga bom bom ia letakkan dan meledak di luar kompleks gereja sasaran. Setelah serangan, mereka lari ke Jawa Tengah. Esok paginya, mereka menonton televisi di rumah Dulmatin di Pekalongan yang mengabarkan peledakan.
Punca kerja terorisme Dulmatin dilakukan di Bali. Ia tiba di Denpasar pada 6 Oktober 2002. Kali ini ia bergabung dalam komplotan bersama dua warga negara Malaysia, Doktor Azahari dan Noordin M. Top, serta Imam Samudra, Umar Patek, dan Abdul Ghoni. Amrozi kembali bergabung bersama kakaknya, Ali Ghufron, dan adiknya, Ali Imron. Mereka menjadikan sebuah rumah di Jalan Pulau Menjangan sebagai markas.
Dulmatin merakit tiga bom. Untuk ledakan pengalihan, bom dipasang dalam enam kantong dijahit dalam rompi, masing masing berisi enam pipa PVC dengan sebatang dinamit. Bom kedua untuk Konsulat Amerika Serikat, hanya terdiri atas bungkusan lima kilogram dinamit terhubung dengan de-tonator jarak jauh, memakai telepon seluler Nokia. Dua bom ini dipakai hanya untuk simbol serangan, bukan untuk membuat kerusakan.
Bom utama ditaruh dalam mobil L300, yang dibeli Amrozi atas perintah Imam Samudra. Total ada satu ton lebih campuran potasium klorat, sulfur, dan bubuk aluminium sesuai dengan resep 3:1:1. Campuran dimasukkan ke empat laci beberapa lemari plastik, disambungkan dengan kawat dan detonator buatan India. Dengan seluruh kemampuan elektroniknya, Dulmatin membuat papan sirkuit yang terhubung ke baterai 9 volt. Diletakkan dalam wadah tertutup, sirkuit menghantarkan listrik ke detonator dengan empat metode: dengan sinyal telepon seluler, pengatur waktu, pemicu manual, atau pemicu otomatis. Bom raksasa ini mendapat sentuhan terakhir dari Azahari, ahli bom komplotan itu.
Pada 12 Oktober 2002, bom pengalihan diledakkan di Sari Club, Legian. Bom utama meledak beberapa menit setelahnya, meluluh lantakkan Paddy's Club. Malam Minggu di Pulau Dewata menjadi petaka, 202 orang tewas. Sebagian besar warga negara Australia, termasuk rombongan pemain rugbi yang sedang berlibur. Tatkala berita pengeboman disiarkan langsung di televisi, Dulmatin dan Azahari telah berada di Jawa. Ketika polisi menggelar operasi pengejaran dan menangkap sebagian besar penjahat, Dul menyeberang ke Filipina Selatan. Ia bergabung dengan kolega lamanya, Al Ghozi.
Dianggap terlibat kasus terorisme di negara itu, mereka diburu tentara setempat. Pemerintah Amerika Serikat menjanjikan hadiah US$ 10 juta bagi siapa pun yang bisa menangkap atau membunuh Dulmatin. Tak mengherankan, setidaknya tiga kali tentara Filipina mengklaim berhasil membunuh pria bernama asli Joko Pitono itu.
Jejak Dulmatin tercium pada awal 2008. Dari wilayah Filipina Selatan, ia berkomunikasi dengan beberapa aktivis di Tanah Air. Setahun kemudian, menurut keterangan sejumlah sumber, ia benar benar tiba di Jakarta. Ia memutar masuk melalui Batam menggunakan paspor atas nama Yahya Ibrahim yang dikeluarkan Kantor Imigrasi Jakarta Timur. Menurut Mawi Hartono, ketua RT yang membawahkan Jalan Asem, Pamulang, Yahya Ibrahim menetap di wilayahnya sejak 13 April 2009. Di KTP yang dibawanya, Yahya ditulis lahir di Jakarta, 2 Januari 1973. Alamatnya Jalan Masjid Fathul Ghofur RT 1/RW 4, Kelurahan Cibubur, Ciracas, Jakarta Timur.
Yahya tinggal di rumah kontrakan milik Fauzi Syarief, mantri kesehatan. Ia mengaku kerja di ruang pamer motor di Ciputat. Tak lama, Yahya menampung dua pria lainnya, mengaku sebagai Umar dan Muhammad Subqha. Kepada tetangga, Umar menyebut dirinya mahasiwa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Subqha menyatakan kerja bersama Yahya menjual motor. Yahya sering berkunjung ke rumah kontrakan pasangan Marko dan Tari, 300 an meter dari tempat tinggalnya. Kontrakan di Jalan Madrasah ini juga dihuni Nurhasan dan Ridwan, belakangan disebut sebagai pengawal Dulmatin.
Empat bulan setelah kedatangan Yahya alias Dulmatin di Pamulang, bom bunuh diri meledak di Hotel Marriott dan Ritz Carlton, Jakarta Selatan. Aksi teror ini membuat polisi mengerahkan segala kekuatan buat mengejar komplotan pelaku teror. Puncaknya tercapai pada 17 September 2009, ketika Detasemen Khusus 88 menembak mati Noordin M. Top di Solo, Jawa Tengah. Setelah kematian Noordin, menurut keterangan sejumlah polisi, kelompok Jamaah Islamiyah menunjuk Dulmatin menjadi pemimpin militer. Ia melakukan koordinasi dan mulai merekrut pasukan. Ia bergabung kembali dengan kolega lamanya: Abdullah Sunata dan Pura Sudarma alias Jaja. Sunata pernah dipenjara karena dituduh menyembunyikan Noordin. Adapun Jaja buron lama, memimpin sejumlah pelatihan dan merekrut para pelaku peledakan bom bunuh diri, termasuk Ikhwan Maulana yang meledakkan Ritz Carlton, tahun 2009.
Awal Januari 2010, mereka mulai menggelar tadrib alias pelatihan militer, yang diwajibkan dalam jihad, di wilayah Jantho, Aceh Besar. Pesertanya datang dari sejumlah daerah, termasuk Jawa Tengah dan Jakarta. Salah satunya Sapta Adi alias Ismet Hakiki alias Syailendra, pria asal Banten yang tinggal di Petamburan, Jakarta Pusat. Pada 2004, jejaknya terlihat dalam bom Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Ia meminjamkan sepeda motornya buat Azahari dan Muhammad Rois, buat mengawasi aksi proyek itu.
Malik, tetangganya, mengatakan Syailendra pernah bekerja menjadi petugas satpam di Plaza Senayan. Ia bertemu dengan Syailendra, akhir tahun lalu. Waktu itu dia bilang mau ke Aceh. Menurut Malik, Syailendra acap kali hilang dan muncul. Kalau pulang, kata dia, Syailendra ditemani orang orang berbeda. Ia pernah melihat tetangganya itu datang bersama lima orang, rata rata 20 tahun. Waktu itu dia juga pernah ngajak orang Petamburan, tapi enggak berhasil.
Polisi tak ketinggalan langkah. Mereka mengendus kegiatan ilegal di Aceh. Pada 22 Februari 2010 Detasemen Khusus menyerbu tempat latihan. Belasan orang ditangkap, termasuk Syailendra dan rekannya dari Banten, Zaky Rahmatullah, serta Yudi Zulfahri dari Aceh. Yudi, lulusan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri, paling banyak buka suara. Menurut sumber di detasemen, ketiga tersangka menyebutkan satu nama: Mansur.
Dalam pertemuan pertemuan di Jakarta, Mansur mengaku tinggal di Pamulang. Dialah yang mengkoordinasi pengiriman peserta dari luar Aceh, memasok senjata, serta membiayai pelatihan. Karena menganggap sebagai tokoh penting, detasemen menyelidiki laki laki itu. Data hasil pemeriksaan Syailendra, Zaky, dan Yudi segera dikirim ke Jakarta. Bersamaan dengan operasi di Aceh, detasemen ternyata juga menggelar aksi rahasia. Mereka membuntuti anggota anggota jaringan Jamaah Islamiyah di Jakarta. Salah satunya seseorang bernama Yahya di Pamulang. Ia menarik perhatian karena aktif sekali menjalin kontak dengan kelompok Jamaah Islamiyah di Filipina, baik melalui e mail maupun telepon. Anggota detasemen memotretnya dari kejauhan.
Data dari Aceh merangkai informasi penting. Detasemen menyimpulkan, Mansur sama dengan Yahya yang mereka buntuti di Pamulang. Mereka lalu menunjukkan foto Yahya kepada Yudi, yang langsung berseru: "Dialah Mansur." Hasil analisis dan cek silang ke bank data yang mereka miliki, detasemen juga menyimpulkan, Mansur alias Yahya ternyata adalah Dulmatin. Maret 2010 Tim antiteror kepolisian segera dikerahkan buat memburunya. Satu tim diterjunkan ke Cipayung buat memburu Abdullah Sunata. Rumahnya kosong. Satu tim ke Depok buat mengejar Sofyan dan berhasil menangkap desersi polisi itu. Satu tim lainnya dikirim ke Pamulang, menyerbu Yahya alias Mansur alias Dulmatin.
Tim di Pamulang menyamar dengan berbagai rupa. Sebagian mondar mandir di sekitar rumah Yahya. Sebagian menyewa komputer di lantai dua Multiplus. Senin pagi pekan lalu, mobil minibus Elf warna perak parkir tak jauh dari Multiplus. Sukirman, sopir taksi Koperasi, menduga itu mobil polisi yang sedang mengintai. Kali ini mobil Elf beriringan dengan empat Avanza. Mereka parkir di luar Multiplus. Terlihat juga satu mobil boks. Beberapa menit setelah pria berjenggot masuk toko multiguna itu, orang orang bersenjata laras panjang keluar dari mobil dan menyerbu lantai dua. Tembakan terdengar dalam sekejap.
Sejam kemudian, anggota detasemen menyerbu rumah Yahya alias Dulmatin. Tiba tiba dua orang melesat mengendarai sepeda motor Suzuki Thunder. Tiga puluh meter dari jalan besar, polisi menembak mereka. Keduanya Ridwan dan Hasan Nur, pengawal Dulmatin. Di rumah itu, polisi juga menangkap dua orang bernama Bakti Rahma alias Abu Haikal dan Syaiful Siregar alias Imam. Kurang dari setahun setelah kepulangannya dari Filipina Selatan, Dulmatin tewas. Curriculum vitae nya berakhir di tempat persewaan komputer. Sungguh tragis. Itulah kisah paling akhir dari jejak sejarah teror di Indonesia.
1 komentar:
coba teliti dulu brita teeroris yg anda dpt..jgn lgsg dmakan mntah2,.sdikit mmakai otak dgn hati brsamaan..pngadiln manapun tdk bs mmbuktikn aksi teror mreka (con;ust.ba'asyir) scara trbuka..smua seolah dirahasiakn..sharusny anda sdikit curiga dg stuasi spt ini.,sy tdk mmbela faruq (ad b2rapa kmngkinn dy mmg org boneka amerika ato dy mmg org islam yg slah jln)..stidaknya anda buka lgi mata anda,mana mungkin amrozi cs mmbuat bom yg hny bs dbuat olh rusia.bnyk org yg sdh mlai curiga sprti Gus Dur,john mempi (security & inteegent analyst), adi tjondro (pengamat teror).kalo anda mw sdikit trbuka sy pny video yg sdikit mngungkap teror diindo jg brisi bukti2 yg konkrit..jk minat slhkan hubngi sy: alibnu_ibra@yahoo.co.id
Post a Comment