<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7473472176854231904</id><updated>2012-01-24T06:16:13.779-08:00</updated><title type='text'>Pekerja Museum</title><subtitle type='html'>Narasi yang Mengabadikan Masa Lalu</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Erwien To'tiL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16127221575751256267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/Sz4AfMOICqI/AAAAAAAAAQc/ljCFJ8iJQbE/S220/PB210370.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>41</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7473472176854231904.post-4310285680194060387</id><published>2011-07-20T01:41:00.000-07:00</published><updated>2011-07-20T01:47:03.603-07:00</updated><title type='text'>Di Bawah Bendera Revolusi (naskah dibuang sayang)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-LxiH1ZG3dKY/TiaWAFj_nsI/AAAAAAAAAWU/nO1hnwzjn_k/s1600/0511M_sejarah_sketsa_Buku_Dibawah-Bendera-Revolusi_8.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 282px; height: 298px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-LxiH1ZG3dKY/TiaWAFj_nsI/AAAAAAAAAWU/nO1hnwzjn_k/s320/0511M_sejarah_sketsa_Buku_Dibawah-Bendera-Revolusi_8.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5631353312310697666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini sejarah telah membuktikan bahwa Soekarno adalah satu-satunya Presiden Republik Indonesia yang mempunyai pemikiran orisinil dan matang tentang bangsa dan negara yang dipimpinnya. Soekarno selain terkenal karena pidatonya yang berapi-api itu juga telah dikenal mempunyai mata pena yang tajam membedah segala permasalahan bangsa Indonesia pada masa kolonial. Sejak masih belajar di Hogere Burgerschool (HBS) di Surabaya, Soekarno muda telah dikenal gemar menuangkan pikirannya dalam suatu tulisan. Kebiasaan menulis ini terus berkembang hingga Soekarno menjadi mahasiswa Technische Hogeschool (THS) di Bandung, menjadi aktivis Partai Nasional Indonesia (PNI), lalu kemudian menjadi aktivis Partindo. Sampai di tanah pembuangan sekalipun, di Endeh dan Bengkulen, Soekarno tidak pernah berhenti menuangkan pemikirannya dalam tulisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bawah Bendera Revolusi adalah buku fenomenal yang menghimpun tulisan-tulisan Soekarno pada masa penjajahan Belanda (1917 – 1925) dan pertama kali diterbitkan pada tahun 1959 oleh sebuah Panitia Penerbitan di bawah pimpinan H. Mualliff Nasution. Pada tahun 1963 buku monumental itu mengalami cetak ulang yang kedua dan hanya dalam waktu dua minggu sudah habis terjual. Tidak mengherankan setelah itu pencetakan kembali dilakukan setiap tahun. Terakhir kali, tahun 1965 buku itu untuk keempat kalinya dicetak ulang. Ini menunjukkan bahwa keinginan rakyat Indonesia untuk memiliki buku itu sangat besar. Pada tahun 1964, Panitia Penerbit Di Bawah Bendera Revolusi juga menerbitkan jilid kedua buku tersebut yang memuat 20 pidato 17 Agustus yang disampaikan Soekarno kepada rakyat Indonesia dari tahun 1945 hingga 1964.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut catatan penerbit, judul Di Bawah Bendera Revolusi adalah judul yang dipilih oleh Soekarno sendiri, untuk menandai bahwa pemikiran-pemikiran itu lahir dalam kondisi Indonesia yang sedang  menuju revolusi kemerdekaannya. Pada cetakan kedua tahun 1963 dan 1964, penerbit memberikan tambahan bahwa Di Bawah Bendera Revolusi adalah suatu bukti bahwa segala kebijakan politik  yang ditempuh Soekarno pada masa itu mempunyai pembenaran sejarah dalam pemikiran Soekarno muda. Gagasan koalisi Nasakom yang menggabungkan tiga kekuatan utama politik Indonesia, yaitu nasionalis, agama dan komunis, serta politik anti-imperialisme telah menjadi bahan pemikiran Soekarno jauh sebelum Indonesia merdeka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi jilid pertama, terdapat 61 tulisan Soekarno muda yang pernah dimuat dalam berbagai media cetak, seperti Suluh Indonesia Muda, Fikiran Ra’jat, Pandji Islam, dan Pemandangan. Tulisan Soekarno itu mencakup tema-tema agraria, strategi politik nasional, seruan terhadap kaum Marhaen, pandangan Soekarno tentang Islam, ulasan pemikiran tokoh dunia seperti Karl Marx dan Mahatma Gandhi, perkembangan politik dunia, hingga kritik dan komentarnya terhadap Mohammad Hatta yang kemudian mendampinginya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelihaian Soekarno dalam memainkan kata-kata dalam setiap pidatonya, diksi dan pilihan kalimatnya yang menyihir para pendengarnya juga tercermin dalam gaya bahaya yang digunakan oleh Soekarno muda. Sepertinya ketika menulis Soekarno merasakan dirinya sedang berorasi langsung di hadapan para pembacanya. Bahasa yang digunakan cukup lugas, pilihan kata demi kata sangat menarik, terutama untuk membuat judul tulisan. Simak saja judul- judul seperti Islam Sontolojo, Tabir adalah lambang Perbudakan, Kuasanya Kerongkongan, dan 1.000.000.000 extra! yang termuat dalam jilid pertama Di Bawah Bendera Revolusi. Judul yang indah juga selalu Soekarno sematkan dalam setiap pidato 17 Agustus yang ia sampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia. Lihat saja judul-judul seperti Sekali Merdeka, Tetap Merdeka; Rawe-rawe rantas, malang-malang putung!;Tetap terbanglah Radjawali!;  Genta Suara Republik Indonesia, dan banyak lainnya yang begitu melekat pada telinga seluruh rakyat Indonesia kala itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas lisan dan tulisan Sekarno semua permasalahan bangsa, perkembangan sejarah dunia mutakhir, berbagai teori baru yang dikemukakan oleh para tokoh dunia, masalah-masalah agama, kecaman politik yang serius, bisa disampaikan kepada rakyat Indonesia dengan bahasa yang mudah dimengerti dan mampu menyihir kesadaran mereka. Maka bukan berlebihan, ketika Soekarno telah menyadari kepiawaiannya itu ia berani menyatakan diri bahwa Soekarno adalah Penyambung Lidah Rakyat!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui dua jilid buku Di Bawah Bendera Revolusi ini bangsa Indonesia akan dibawa untuk mengenali sosok pemikiran Soekarno dalam arti yang sebenarnya. Dari tulisan pada periode pergerakan nasional hingga pidatonya pada era 1950 an dan 1960-an menunjukkan rangkaian pemikiran yang konsisten. Gagasan politik nasakom Soekarno (yang tidak mudah kita terima) akan mudah kita cermati dalam tulisan Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme pada jilid pertama buku. Sikap berdikari dalam ekonomi dan politik yang dicanangkan Soekarno telah ia tunjukkan dalam beberapa tulisannya yang begitu mengagumi Mahatma Gandhi di India. Lalu bagaimana religiusitas seorang Soekarno, Islam apa yang ia anut selama hayatnya akan dapat kita mengerti dalam Surat-Surat Islam dari Endeh pada jilid pertama buku.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Surat-Surat Islam dari Endeh adalah surat-menyurat antara Soekarno kepada T. A Hassan, seorang tokoh Persatuan Islam, Bandung yang dilakukan pada masa pembuangan Soekarno di Endeh 1934 hingga 1936. Korespondensi antara kedua tokoh itu, tidak hanya sebatas dialog antara seorang guru dengan murid, tapi lebih dari itu merupakan dialog antara kedua pemikir agama yang handal.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama masa pemerintahan Orde Baru, meskipun tidak termasuk dalam daftar buku terlarang, Di Bawah Bendera Revolusi seakan menghilang dan banyak dilupakan oleh orang. Hingga kemudian pada tahun 2004, Yayasan Bung Karno (YBK) melakukan persiapan cetak ulang buku Di Bawah Bendera Revolusi. Cetak ulang itu bermaksud agar generasi muda dapat memahami pemikiran Soekarno, salah satu pendiri bangsa dan negara ini. Dalam  cetakan ulang itu diputuskan penggunaan ejaan baru, meski perubahan ejaan itu diupayakan tidak menghilangkan gaya penulisan Soekarno serta semangat zaman yang terdapat dalam tulisan itu. Dibanding dengan edisi terdahulu, secara substansial tidak ada perubahan dalam mater isi buku. Hanya ada dua tulisan tambahan untuk melengkapi sosok Bung Karno, bagi generasi muda yang belum banyak mengenalnya. Tulisan pertama mengenai riwayat hidup Bung Karno dan yang kedua, tulisan sejarawan Dr. Asvi Warman Adam berupa telaah kritis terhadap tulisan-tulisan Bung Karno yang dimuat dalam buku ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sejarah Pencetakan Di Bawah Bendera Revolusi:&lt;br /&gt;- Pada tahun 1959 dicetak jilid pertama edisi pertama Di Bawah Bendera Revolusi oleh Panitia Penerbitan dibawah pimpinan H. Muallif Nasution &lt;br /&gt;- Pada tahun 1963 jilid pertama dicetak ulang hingga tahun 1965 terus dicetak ulang&lt;br /&gt;- Pada tahun 1964 jilid kedua dicetak ulang&lt;br /&gt;- Pada tahun 2004 dua jilid Di Bawah Bendera Revolusi kembali dilakukan cetak ulang yang diprakarsai oleh Yayasan Bung Karno &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7473472176854231904-4310285680194060387?l=pekerjamuseum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/feeds/4310285680194060387/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7473472176854231904&amp;postID=4310285680194060387&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/4310285680194060387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/4310285680194060387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/2011/07/di-bawah-bendera-revolusi-naskah.html' title='Di Bawah Bendera Revolusi (naskah dibuang sayang)'/><author><name>Erwien To'tiL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16127221575751256267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/Sz4AfMOICqI/AAAAAAAAAQc/ljCFJ8iJQbE/S220/PB210370.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-LxiH1ZG3dKY/TiaWAFj_nsI/AAAAAAAAAWU/nO1hnwzjn_k/s72-c/0511M_sejarah_sketsa_Buku_Dibawah-Bendera-Revolusi_8.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7473472176854231904.post-706714367897734266</id><published>2011-07-03T18:27:00.002-07:00</published><updated>2011-07-03T19:11:08.712-07:00</updated><title type='text'>1 Juli</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-ZXe9kHtgwJo/ThEhMr7FhKI/AAAAAAAAAWM/V1YtMuZSf8A/s1600/3300-bank-indonesia-ajukan-kenaikan-gaji-7-persen.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 219px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ZXe9kHtgwJo/ThEhMr7FhKI/AAAAAAAAAWM/V1YtMuZSf8A/s320/3300-bank-indonesia-ajukan-kenaikan-gaji-7-persen.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5625313911395157154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Apa sesungguhnya arti 1 Juli bagi bangsa Indonesia? Meski tidak melampaui sakralnya 17 Agustus 1945 atau heroiknya 1 Nopember dan tanggal-tanggal bersejarah lainnya bagi bangsa Indonesia. Sejarah telah mencatat bahwa pada 1 Juli telah lahir dua lembaga negara yang mempunyai peranan penting bagi Republik ini, yaitu Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) pada 1946 dan Bank Indonesia (BI) pada 1953. Dua lembaga tinggi negara ini tentunya mempunyai perbedaan sejarah dan juga perbedaan peran dalam penyelengaraan pemerintahan di Indonesia. Polri bertugas dalam penegakan hukum dan keamanan, sedang BI bertugas mengawal stabilitas makro moneter atau stabilitas harga-harga, stabilitas sistem keuangan dan sistem pembayaran yang lancar, aman, cepat dan murah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persamaan kedua lembaga ini dimulai sejak periode reformasi 1998 hingga  periode sesudahnya. Polri dan BI mempunyai nasib yang sama. Keduanya terjerat dalam berbagai permasalahan serius, dari mulai kasus korupsi para pejabatnya hingga kecaman atas kebijakan yang mereka tempuh atau kinerja lembaga yang kurang memuaskan publik. BI pernah dituduh sebagai “sarang penyamun”, sementara Polri pernah disorot tajam karena dugaan “rekening gendut” sejumlah petingginya. Kedua lembaga negara ini kerap menyita perhatian masyarakat, khususnya untuk prestasi buruk yang mereka hasilkan, hingga berbagai prestasi baik Polri dan BI terkubur begitu saja. Nasib yang dialami keduanya mungkin pas dengan kata pepatah “panas semusim terhapus hujan sehari!” Citra kedua lembaga tersebut terus memburuk di mata masyarakat, terutama Polri. Berbagai upaya yang mereka tempuh untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri terus mendapatkan tantangan yang datang silih berganti.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mandiri dan Independen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dan uniknya, citra buruk yang disandang oleh Polri dan BI tersebut justru terjadi pada saat kedua lembaga negara itu telah mendapatkan hak independensinya masing-masing. Sejak tahun 1999 Polri dinyatakan independen dari organisasi TNI yang menaunginya sejak era 1960an. Demikian pula BI, pada tahun yang sama Undang-Undang Bank Sentral tahun 1999 menyatakan bahwa dalam melaksanakan tugasnya BI independen dan bebas dari intervensi pihak luar BI, termasuk pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan yang independen itu adalah harapan yang selalu dinantikan oleh Polri dan BI. Keduanya sama-sama meyakini bahwa kemandirian dan independensi institusi adalah sarat ideal bagi suksesnya pelaksanaan tugas dan wewenang mereka masing-masing. Berkaca kepada sejarah masa lalu, Polri menganggap bahwa peristiwa 1 Juli 1946 adalah tonggak kemandirian Polri sebagai lembaga Kepolisian Nasional. Pada saat itu pemerintah menetapkan Polri sebagai jawatan tersendiri langsung di bawah Perdana Menteri. Dengan kemandirian itulah Polri mulai dapat membenahi organisasinya sebagai lembaga Kepolisian Nasional yang terorganisir dengan baik, terhubung dari Pusat sampai ke daerah untuk pertama kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian halnya dengan Bank Indonesia, pengalaman sejarah pada 1 Juli 1953 mereka anggap sebagai tonggak sejarah lahirnya bank sentral Indonesia yang baru dan independen. Dengan independensi yang diterapkan oleh para pemimpin Bank Indonesia saat itu, BI sebagai bank sentral dapat berfungsi dengan baik di negeri ini, membantu pemerintah dalam menyelenggarakan politik moneter, melaksanakan sistem pembayaran yang aman dan lancar, serta menyiapkan tata perbankan Indonesia yang modern. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian kenapa justru pada saat ini, justru di tengah kemandirian dan independensi itu, Polri dan BI seolah-olah mengalami kemunduran. Sistemkah yang keliru? karena mungkin justru kemandirian dan independensi itu dalam kondisi sosial politik saat ini, sudah tidak diperlukan lagi? Atau karena para pemimpin kedua lembaga itu telah tergoda untuk menceburkan diri dalam pusaran arus politik kekuasaan di negeri ini? Atau mungkin sebaliknya, arus politik kekuasaan yang semakin liar itu justru mulai menelan institusi Polri dan BI dalam pusaran permainan mereka demi kepentingan kekuasaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Struktur Atas-Bawah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana kita ketahui, kepemimpinan dalam tubuh Polri ataupun BI adalah hasil dari keputusan politik. Undang-undang kedua institusi itu telah menetapkan hal tersebut. Meskipun Presiden berhak untuk menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin Polri dan BI, tapi para politisi partai di parlemen lah yang juga ikut menyetujui keputusan Presiden itu. Jadi terkadang, bukan tidak mungkin, untuk menetapkan siapa pemimpin Polri atau BI itu, bukan faktor profesionalisme atau kredibilitas kepemimpinan yang dikedepankan, tapi lebih pada ego kepentingan masing-masing. Kalau sudah begitu, penetapan para pemimpin itu biasanya menjadi berlarut, tertunda-tunda menunggu kompromi politik antara pemerintah dan politisi partai terjadi! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, kenyataan yang terjadi di republik ini. Lembaga negara yang seharusnya menjadi institusi yang melayani masyarakat, meweujudkan kesejahteraan dan kedamaian bagi rakyat, malah diusik dengan berbagai kepentingan yang tak perlu. Maka, tidak mengherankan bagi kita semua, jika saat ini beberapa mantan anggota parlemen (politisi partai) telah divonis bersalah menerima suap dalam suatu pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya ditengah kepungan kepentingan politik itu, dua lembaga negara ini masih dapat berjalan dengan cukup baik. Meskipun para pemimpin mereka kerap diombang-ambing oleh kepentingan politik, tapi jajaran aparatur Polri dan BI masih terus menjalankan tugas dan wewenangnya seperti biasa. Tidak ada yang macet atau tidak ada rutinitas yang terhenti, meskipun secara psikis kita meyakini bahwa para aparatur ini merasa terganggu dengan situasi yang dialami oleh para pemimpin mereka.Bagaimanapun untuk tujuan jangka panjang, kepemimpinan para pemimpin ini cukup diperlukan oleh institusi beserta jajaran aparatnya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melihat fakta ini, kita dapat meyakini bahwa dalam struktur birokrasi lembaga-lembaga itu terdapat dua struktur kepemimpinan, atas dan bawah. Struktur kepemimpinan atas adalah bagian yang bersentuhan secara langsung dengan kepentingan politik yang terus menghampiri. Bahkan mereka adalah produk kompromi berbagai kepentingan-kepentingan poltik itu sendiri. Sementara struktur bawah adalah struktur kepemimpinan profesional yang hirau akan berbagai kepentingan politik, karena orientasi mereka adalah tercapainya pelaksanaan tugas yang diemban oleh institusi. Meski struktur bawah ini tidak mempunyai andil dalam menentukan kebijakan lembaga secara strategis, tapi eksistensi merekalah yang justru menjadikan suatu institusi tetap bertahan dan menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah Bank Indonesia, dalam periode pasca reformasi ini kerap kali para pemimpinnya terjerat berbagai kasus hukum yang beraroma politis. Dua pemimpin BI, yaitu Syahril Sabirin dan Burhanudin Abdullah, harus mendekam dalam bui pada saat masih berstatus sebagai Gubernur Bank Indonesia. Tapi toh, Bank Indonesia terus berjalan. Bahkan pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid 1999 – 2001,hampir seluruh anggota Dewan Gubernur BI dituntut mengundurkan diri oleh pemerintah, tapi untungnya BI masih terus berjalan dengan baik. Demikian halnya dengan Polri, insiden dualisme kepemimpinan Polri yang terjadi dalam periode terakhir pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, juga tak menghalangi aktivitas Polri terhenti. Insiden “Cicak dan Buaya”, tuduhan “rekening gendut” sejumlah petinggi Polri, dan rumor makelar kasus (markus) di lingkungan Polri, juga tak menyurutkan langkah beribu-ribu polisi di seantero negeri ini untuk terus menjalankan tugas dan kewajibannya dalam melindungi, melayani dan mengayomi masyarakat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dukungan Masyarakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Melihat realita itu semua, pada 1 Juli ini, dimana Polri dan BI tengah merayakan hari jadi institusi mereka masing-masing, seyogyanya kita memberikan dukungan kepada kedua institusi tersebut. Berbagai peristiwa buruk yang menimpa kedua lembaga ini, khususnya beberapa oknum aparat dan petinggi mereka, tentunya jangan sampai menyurutkan langkah kita untuk terus mengapresiasi peran dan andil kedua lembaga itu bagi kepentingan publik kita. Apresiasi yang sangat besar tentunya harus kita sematkan kepada aparatur institusi Polri dan BI pada level struktur bawah, yang terus bekerja secara professional demi tercapainya pelaksanaan tugas dan kewajiban  lembaga mereka masing-masing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka semua tentunya bekerja tak kenal lelah, tanpa pamrih, tanpa publikasi yang meriah, hanya segelintir saja yang mujur dan menjadi terkenal seperti Briptu Norman. Dan sialnya, tak jarang juga mereka dikorbankan sebagai kambing hitam atas kesalahan yang dilakukan oleh para pemimpin mereka atau mati menjadi martir karena amarah sekelompok orang yang benci terhadap institusi. Para aparat Polri dan BI itu, terutama yang ada di pelosok negeri ini tak pernah hirau akan berbagai kepentingan politik yang memangsa institusi mereka, atau memang sengaja dimainkan oleh para pemimpin mereka. Tapi biasanya akibat buruk dari ulah para politisi itu juga turut mereka rasakan. Maka dukungan moral, kritik dan saran harus terus kita berikan kepada para aparatur itu. Dengan harapan akan tumbuh kesadaran dalam diri mereka akan pentingnya perubahan positif institusi yang harus dilakukan dari diri mereka. Ketika para pemimpin tak lagi dapat diharapkan, dan perubahan dari luar institusi sudah terkontaminasi dengan kepentingan, maka perubahan dari bawah yang harus ditumbuhkan. Dirgahayu Polri dan BI, salam perubahan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7473472176854231904-706714367897734266?l=pekerjamuseum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/feeds/706714367897734266/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7473472176854231904&amp;postID=706714367897734266&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/706714367897734266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/706714367897734266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/2011/07/1-juli_03.html' title='1 Juli'/><author><name>Erwien To'tiL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16127221575751256267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/Sz4AfMOICqI/AAAAAAAAAQc/ljCFJ8iJQbE/S220/PB210370.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ZXe9kHtgwJo/ThEhMr7FhKI/AAAAAAAAAWM/V1YtMuZSf8A/s72-c/3300-bank-indonesia-ajukan-kenaikan-gaji-7-persen.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7473472176854231904.post-935076754594360040</id><published>2011-05-20T10:52:00.000-07:00</published><updated>2011-05-20T11:11:31.201-07:00</updated><title type='text'>Saya dan Museum Bank Indonesia (2004 – 2009)  Bagian 2</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bekerjasama dengan Para Arsitek, Desainer Grafis dan Perupa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena keterbatasan staf di UKMBI, pada tahun 2004 saya kerap kali terpaksa dilibatkan dalam tugas-tugas yang semestinya bukan bagian dari tanggung jawab saya. Tapi kebetulan saat itu, Pak Ashadi, direktur UKMBI, mempunyai tipikal samen bundeling van alle crachten! Jadi semua tenaga SDM dikerahkan secara bersama-sama untuk menuntaskan suatu pekerjaan. Kebetulan, pada 2004 – 2005 itu pekerjaan penentuan konsep ruang sejarah Museum Tahap I telah mengejar-ngejar UKMBI, maka jadilah saya tercebur untuk ikut-ikutan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan itu. Mulanya saya hanya bertugas memastikan bahwa narasi sejarah yang akan ditulis dalam panel-panel museum itu sudah sesuai dengan fakta sejarah yang telah dituliskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian tugas saya bertambah lagi, yaitu menyediakan berbagai bahan image atau apa saja yang dimungkinkan untuk dapat menjadi materi ilustrasi atau grafis panel museum. Dari sini, saya mulai terlatih untuk memainkan feel bagaimana agar suatu narasi sejarah dapat dikomunikasikan dalam bentuk visual. Kedua hal itu harus selaras, antara teks dengan gambar haruslah pas! Itulah yang saya kerjakan selama bertahun-tahun di UKMBI. Dalam proses itu saya mulai banyak belajar dan menyerap berbagai cara dan pengetahuan dari rekan-rekan kerja dalam meja rapat, yaitu para arsitek, desainer grafis dan belakangan para perupa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada perbedaan mendasar antara konsep ruang sejarah pada tahap I dengan konsep ruang sejarah pada tahap II. Jika di tahap I, sentuhan perupa sama sekali tak muncul, permainan interior dan grafis lebih utama di tahap ini. kami berseloroh bahwa tahap I itu, Museum Bank Indonesia tampil dalam format Kebun Panel! Pada tahap II, peran perupa lebih terasa. Selain waktu penyusunan yang lebih memungkinkan, ditambah anggaran museum yang juga bertambah bengkak, maka keterlibatan perupa-perupa itu dimungkinkan pada tahap II. Hasilnya, pada tahap ini berbagai kreativitas perupa lebih kental rasanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-l9t7xArrWyE/TdarcY1iNAI/AAAAAAAAAVA/ZFExoYm__Bg/s1600/Mendengarkan%2Bpenjelasan%2Bguide.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-l9t7xArrWyE/TdarcY1iNAI/AAAAAAAAAVA/ZFExoYm__Bg/s320/Mendengarkan%2Bpenjelasan%2Bguide.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608858890128208898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Latar belakang: Kebun Panel di tahap I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-lLHrL4lFemM/TdarcyGczMI/AAAAAAAAAVI/TeJte5cGwAA/s1600/DSC_0202.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-lLHrL4lFemM/TdarcyGczMI/AAAAAAAAAVI/TeJte5cGwAA/s320/DSC_0202.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608858896910044354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kreasi para Perupa di tahap II&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan saya dalam penyusunan konsep-konsep ruang itu memang bukan hal yang normal. Karena tidak sesuai dengan tugas pekerjaan saya yang seharusnya. Saya hanya pegawai outsourching setingkat staf golongan tiga! Tapi begitulah UKMBI, adagium “4 L”  lu lagi lu lagi  kerap terjadi dalam proses kerja di satker ini. sudah biasa saya melihat beberapa staf yang terpaksa harus melakukan pekerjaan yang berada di luar tugas mereka, sementara staf yang lainnya terkesan “berusaha” kurang maksimal. Tapi itu kenyataan yang kurang menyenangkan itu ternyata mendatangkan kebaikan buat saya di kelak kemudian hari. Dalam keadaan organisasi kerja yang kurang teratur itu saya justru terjerumus di jalan yang benar! Di jalan yang saya yakini suatu saat akan bermanfaat untuk karir saya di kelak kemudian hari. Di jalan yang memberi kesempatan kepada saya untuk mengetahui bagaimana seluruh proses pembangunan museum dilaksanakan. Di jalan dimana saya dapat mengamati bagaimana para arsitek, para perupa, dan para desainer itu bekerja. Ya, saya banyak mengamati dan mencatatnya baik-baik dalam benak dan pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Gagasan Museum sebagai Project Komunikasi atau Project Klarifikasi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Membangun museum bukanlah sekedar membangun suatu bangunan fisik saja. Tapi secara lebih luas, membangun museum adalah membangun sebuah institusi! Tentunya sebelum membangun Museum Bank Indonesia, para petinggi bank sentral itu telah mempunyai visi dan misi yang akan mereka sampaikan melalui institusi bernama museum itu. Secara kebetulan saya mengetahui beberapa pemikiran ini, karena pada periode 2004 itu, lagi-lagi karena kurangnya staf, saya beberapa kali mendapat arahan dari direktur UKMBI untuk menyusun draft pidato atau kata pengantar yang akan disampaikan oleh Deputi Gubernut, atau oleh beliau (direktur) sendiri dalam suatu acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam arahan itu, secara umum saya mengetahui bahwa Museum Bank Indonesia sebenarnya ditujukan sebagai sebuah project komunikasi lembaga bank sentral kepada masyarakat luas. Setelah penjelasan tentang berbagai dasar hukum konstitusional yang biasanya saya tuliskan dengan hati-hati, saya memahami bahwa Museum Bank Indonesia mengemban amanat untuk dapat menjelaskan kepada masyarakat tentang peran dan fungsi Bank Indonesia sebagai bank sentral, dengan begitu diharapkan image atau pandangan minor masyarakat terhadap bank sentral yang ada pada titik menara gading menjadi melandai, membumi, dapat dimengerti oleh masyarakat. Dua tujuan mulia itu dibarengi dengan beberapa misi lainnya, seperti museum menjadi sarana edukasi dan rekreasi, serta melestarikan bangunan cagar budaya, yaitu gedung BI Kota. Dengan begitu, Museum Bank Indonesia memang tak sekedar berkisah tentang masa lalu saja, tak hanya sejarah saja, tak hanya yang kuno-kuno saja, tapi lebih bersifat kini dan akan datang.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Sebagai negara dunia ketiga, hampir semua lembaga di negeri pasti mempunyai kaitan dengan masa lalu, entah kelam entah terang. Kisah-kisah yang kelam atau yang terang itu akan dicoba untuk disampaikan dengan arif dan bijaksana. Yang kelam akan diterangkan sejelas-jelasnya agar dapat menjadi pelajaran baik yang menjadi pengingat agar kita tak melakukannya lagi. Sementara yang terang akan terus menjadi penerang agar lembaga itu dapat bekerja dan mengabdi kepada negara dan masyarakat dengan lebih baik lagi. Pada titik ini, museum juga dapat mengambil perannya sendiri sebagai media klarifikasi sejarah, sebagai media penjelasan lembaga tentang sepak terjang yang ia lakukan di masa lampau. Mengapa begini, mengapa begitu di masa lampau? Akan dapat juga dijelaskan dalam museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum Bank Indonesia juga demikian, beberapa kisah kelam lembaga itu tetap disajikan dengan kearifannya sendiri, dengan cara khas Indonesia. Kisah tentang pimpinannya yang mengundurkan diri karena berbeda dengan pemerintah, museum sampaikan. Kisah tentang Bank Tunggal yang menghempaskan institusi Bank Indonesia sebagai bank sentral juga mereka gambarkan. Lalu kisah tentang BLBI dalam kondisi krisis bangsa ini juga mereka tuturkan dengan sudut pandang mereka sebagai pelaku yang terdesak dan turut bertanggung jawab! Demikianlah cara “kultural” Bank Indonesia dalam memperbaiki gambaran masa lalunya. Tidak menghapus jejak sejarah, tidak menyembunyikan fakta, tapi mengolahnya sebagai suatu informasi yang dapat diwacanakan dan diperdebatkan dalam masyarakat luas! Beginilah saya! Beginilah kami! Beginilah bank sentral milik masyarakat Indonesia ini! Silahkan bubuhilah nilai bagi sepak terjang kami! Kira-kira begitulah yang ingin disampaikan Museum Bank Indonesia kepada masyarakat luas.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-JrpOmI64OpM/TdasScE-XCI/AAAAAAAAAVQ/PaFXkPXIcVs/s1600/DSC_0203.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-JrpOmI64OpM/TdasScE-XCI/AAAAAAAAAVQ/PaFXkPXIcVs/s320/DSC_0203.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608859818711211042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tentang Bank Tunggal: Jusuf Muda Dalam tetap ada dalam image tersebut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dilema: Benda bersejarah atau Kisah Kebijakan bersejarah!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sudah sering kita membaca atau mendengar, bahwa secara etimologis, museum berasal dari kata Yunani, mouseion, yang sebenarnya merujuk kepada nama kuil pemujaan terhadap Muses, dewa yang berhubungan dengan kegiatan seni. Mouseion merupakan sebuah bangunan tempat suci untuk memuja Sembilan Dewi Seni dan llmu Pengetahuan. Salah satu dari sembilan Dewi tersebut ialah: MOUSE, yang lahir dari maha Dewa Zous dengan isterinya Mnemosyne. Dewa dan Dewi tersebut bersemayam di Pegunungan Olympus. Mouseion selain tempat suci, pada waktu itu juga untuk berkumpul para cendekiawan yang mempelajari serta menyelidiki berbagai ilmu pengetahuan, juga sebagai tempat pemujaan dewa-dewi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu museum, berdasarkan definisi yang diberikan International Council of Museums, adalah institusi permanen, nirlaba, melayani kebutuhan publik, dengan sifat terbuka, dengan cara melakukan usaha pengoleksian, mengkonservasi, meriset, mengkomunikasikan, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, dan kesenangan. Karena itu ia bisa menjadi bahan studi oleh kalangan akademis, dokumentasi kekhasan masyarakat tertentu, ataupun dokumentasi dan pemikiran imajinatif di masa depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah definisi itu, dan seturut dengan bagaimana museum-museum disusun di negeri ini, maka dalam benak kita selalu ada pengertian mendasar, bahwa museum adalah benda. Tanpa benda bersejarah yang tersimpan di dalamnya lembaga museum tak akan disebut sebagai museum. Saya rasa, inilah problem mendasar yang dimiliki oleh Bank Indonesia ketika ingin membangun museum. Bank Indonesia hanya memiliki gedung bersejarah yang indah, kisah sejarah yang panjang, membentang jauh dari periode 1800 hingga saat ini abad ke 21, kisah lebih dari dua abad. Tapi sayangnya tak sebanding dengan koleksi benda bersejarah yang mereka miliki. Modal Museum Bank Indonesia adalah bangunan bersejarah dan kisah! Itu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-O5_ryE9LESQ/Tdas1_H6RWI/AAAAAAAAAVY/sHXmIZ04zvM/s1600/DSC_0186.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-O5_ryE9LESQ/Tdas1_H6RWI/AAAAAAAAAVY/sHXmIZ04zvM/s320/DSC_0186.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608860429414188386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Salah satu koleksi benda display di Museum Bank Indonesia&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada satu dua benda bersejarah yang dimiliki oleh Bank Indonesia yang dapat menuturkan kisahnya, satu-persatu UKMBI berusaha mengumpulkan benda-benda itu untuk selanjutnya diberi informasi sejarah. Kebanyakan benda-benda itu hanya sedikit saja dapat terkait dengan kisah yang ingin disampaikan museum, terutama untuk soal-soal administratif organisasi. Misalnya mesin ketik dengan berbagai jenisnya, meja-kursi kantor atau jam dinding kantor, tentu hanya bisa bercerita sedikit saja tentang masa lalu Bank Indonesia. Sebenarnya Bank Indonesia memiliki koleksi andalan berupa ragam uang kuno yang sebelumnya telah terhimpun dalam Museum Artha Suaka, Kebon Sirih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, dalam kaitannya dengan pembangunan Museum Bank Indonesia, koleksi uang-uang kuno tersebut belum bisa seluruhnya mengungkap peran dan fungsi Bank Indonesia sebagai bank sentral. Maka problem “benda bersejarah” masih tetap ada, benda sejarah apa yang akan didisplay dalam museum? Benda bersejarah asli milik Bank Indonesia? atau benda-benda replika imitatif yang banyak beredar di pasar-pasar benda antik? Sepadankah atau patutkah hal itu dilakukan? Museum yang megah tapi mendisplay benda-benda yang bukan dari khazanahnya sendiri? Semua memang masih bisa diperdebatkan, semuanya masih terus bisa menjadi wacana, sepanjang kisahnya atau sejarahnya yang tidak dipalsukan! Bukankah demikian?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minimnya benda bersejarah yang dimiliki oleh Bank Indonesia itu menjadikan Museum Bank Indonesia memilih kisah kebijakan bank sentral sebagai koleksi utamanya. Namun demikian tidak mudah tentunya untuk mengisahkan kembali kebijakan moneter, pengawasan perbankan atau sistem pembayaran yang pernah dilaksanakan oleh Bank Indonesia di masa lampau. Jika pada tahap I, Museum hanya menyajikan kisah kebijakan itu melalui medium panel-panel dan film dokumenter, maka pada tahap II kisah kebijakan itu disampaikan dengan lebih kreatif, meski masih tidak mudah untuk dicerna semua kalangan. Mungkin, diantara informasi peran dan fungsi bank sentral itu, tema perkembangan kelembagaan dan koleksi numismatik saja yang cukup mudah dicerna oleh masyarakat luas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggantikan fungsi benda-benda bersejarah dalam museum, Museum Bank Indonesia memilih menggunakan diorama dan karya instalasi ruang untuk mengisahkan kondisi atau kebijakan yang pernah mereka lakukan di masa lampau. Diantara karya instalasi ruang yang menurut saya lumayan cerdas dan bernas adalah display yang menggambarkan kebijakan Morning and Evening Call yang ingin menjelaskan betapa berjibaku-nya Bank Indonesia dalam menghadapi krisis moneter yang menerpa Indonesia pada 1998. Selain itu, beberapa diorama yang disusun pada tahap II Museum Bank Indonesia juga terlihat lebih dramatik dari tahap sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-OkljMu_hV60/TdatqG-BQRI/AAAAAAAAAVg/T1ofk6QSCIs/s1600/DSC_0223.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-OkljMu_hV60/TdatqG-BQRI/AAAAAAAAAVg/T1ofk6QSCIs/s320/DSC_0223.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608861324873384210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Salah satu karya instalasi “Morning and Evening Call”  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu diketahui dari diorama-diorama itu adalah, jika biasanya museum-museum di Indonesia menggunakan diorama sebagai display yang menggambarkan suatu peristiwa yang jelas waktu dan tempatnya. Maka berbeda dari itu, diorama Museum Bank Indonesia bukanlah diorama peristiwa bersejarah. Diorama Museum Bank Indonesia adalah diorama yang menggambarkan suasana zaman dari periode tertentu atau diorama yang merekonstruksi suasana bank dan kegiatan perbankan di masa lalu. Dengan demikian tidak ada peristiwa bersejarah tertentu yang dirujuk oleh diorama-diorama itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan format sedemikian rupa, maka kegiatan kuratorial di Museum Bank Indonesia bukanlah kuratorial koleksi benda bersejarah atau produk seni rupa lainnya. Kuratorial pada Museum Bank Indonesia adalah kuratorial kisah kebijakan, maka tak mengherankan jika title para peneliti di lembaga UKMBI adalah Peneliti Sejarah Kebijakan! Kuratornya pun adalah Kurator Kebijakan! Itulah uniknya Museum Bank Indonesia dari museum-museum yang ada di Indonesia saat ini, Maka dari itu, menurut hemat saya Museum Bank Indonesia yang hadir di tengah kita saat ini adalah jenis museum baru di Indonesia, yaitu museum kebijakan.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kelebihan dan Kekurangan Museum Bank Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai museum yang baru saja mempunyai eksistensi dalam kancah permuseuman di Indonesia, Museum Bank Indonesia cukup berhasil mencuri perhatian masyarakat Indonesia secara luas. Disamping upaya marketing yang cukup maksimal, antara lain masuk dalam suatu acara infotainment, Museum Bank Indonesia juga cepat dikenal sebagai museum yang menggunakan sarana media tekonologi modern. Pada Desember 2006, ruang “play-motion” Museum Bank Indonesia cukup digemari oleh pengunjung. Tampilan media teknologi itu dengan cepat menjadi primadona dan seolah menjadi identitas yang paling dikenal dari Museum Bank Indonesia.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-h-liP4vwFRk/TdauHlsYxzI/AAAAAAAAAVo/6hBGZQhZcoc/s1600/DSC_0167.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-h-liP4vwFRk/TdauHlsYxzI/AAAAAAAAAVo/6hBGZQhZcoc/s320/DSC_0167.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608861831337133874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Play-motion: media kreatif  tapi mahal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tampilan gedung museum yang cukup menawan, tampilan tata ruang yang relative modern, dan penggunaan berbagai media teknologi yang modern (dan mahal tentunya) dapat dikatakan telah berhasil menempatkan Museum Bank Indonesia sebagai salah satu museum terbaik di Indonesia. Semua yang aspek yang sebutkan itu adalah salah satu kelebihan Museum Bank Indonesia sebagai museum yang modern, yang edukatif dan rekreatif. Tidak banyak museum di Indonesia yang dapat tampil sedemikian menawan, meskipun kita cukup mafhum, bahwa Bank Indonesia sebagai bank sentral, lembaga pengelola devisa negara kita tercinta ini, tentu mempunyai “kekuatan yang lebih cukup” untuk mewujudkan museum yang sedemikian rupa baiknya. Bayangkan, dari sisi fasade bangunan saja, bisa kita bayangkan berapa biaya perawatan yang diperlukan untuk mempertahankan agar bangunan putih bersih itu tampil tak kusam dan muram di tengah-tengah kondisi polusi udara wilayah kota tua!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah museum, untuk mewujudkan dimensi “modern” dalam tampilan fisiknya cukuplah mudah. Kuncinya adalah pada kekyatan financial dan daya kreativitas. Meskipun yang pertama lebih dominan. Karena tampaknya sudah banyak museum di Indonesia yang mulai mengubah tampilannya menjadi lebih modern. Gaya interior dan tampilan grafis yang lebih mengikuti trend, seperti tampil cerah penuh warna, atau justru bersahaja tapi tampak mewah sudah menjadi jejak lumrah bagi beberapa museum di Indonesia. Tapi diluar dimensi modern itu, dimensi edukatif dan rekreatif lah yang susah untuk diwujudkan dalam museum-museum kita. Ada museum yang cukup edukatif, tapi belum dapat tampil rekreatif, demikian pula sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi demikian, menurut hemat saya, sejauh ini Museum Bank Indonesia tampil cukup edukatif dan rekreatif. Beberapa media interaktif yang digunakan dalam museum tersebut mencoba menjelaskan beberapa pengetahuan perbankan dan moneter yang cukup rumit. Memang harus diakui bahwa hingga saat ini belum semua kalangan masyarakat dapat dengan mudah menyerap pengetahuan tentang kebijakan moneter, perbankan dan sistem pembayaran yang terkandung dalam museum. Jejalan informasi dan berbagai pesan kreasi instalasi sarat pengetahuan ekonomi politik yang serius serasa membuat Museum Bank Indonesia adalah “beban yang berat bagi isi kepala pengunjung”. Untunglah berbagai game dengan media teknologi canggih di sela-sela ruang pamer dapat menolong situasi “berat” itu menjadi lebih “ringan”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya kesan “berat dan serius” inilah yang menjadi kelemahan Museum Bank Indonesia saat ini. Tidak banyak orang yang mampu menyerap edukasi yang ingin disampaikan museum, dan konyolnya untuk kelas masyarakat pengunjung museum di Indonesia, tidak banyak yang mau dengan mudah diajak merenung dan berkontemplasi dengan tema-tema serius yang terjadi di republik ini. Pengunjung museum di Indonesia memang tidak selalu pada gelombang pengetahun dan keingin-tahuan yang sama, dan yang harus kita sadari susah sekali mengajak mereka untuk benar-benar kontemplatif dan mengambil pelajaran dalam kunjungan mereka ke tempat-tempat semacam museum. Istilahnya, mereka maunya diajak yang senang-senang saja, yang asyik-asyik saja, tanpa beban, tanpa pikiran!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan lainnya yang bagi saya cukup mengkhawatirkan adalah ketergantungan tata pamer museum terhadap media teknologi. Selain biaya pengadaan yang mahal, perawatan benda-benda teknologi ini juga cukup menyita anggaran museum. Saya banyak melihat pada beberapa museum di Indonesia yang sebenarnya sudah mengenal media layar sentuh sejak beberapa tahun yang lalu (meski dalam bentuk yang masih sederhana), saat ini banyak yang menelantarkan media-media tersebut karena rusak dan tak cukup terawatt dengan baik. Yang harus dipastikan oleh museum dalam menggunakan teknologi yang canggih adalah ketersediaan dana yang tak terbatas. Mengingat perkembangan teknologi yang cukup pesat, nilai kekinian suatu produk teknologi juga cukup singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh yang saya ketahui, Museum Bank Indonesia memang terlampau berkiblat pada museum-museum di negera maju (umumnya di Eropa, dan yang terdekat adalah Singapura) yang telah menggunakan berbagai media teknologi yang canggih. Ada nilai positifnya dan negatifnya. Saya tak lagi berbicara soal biaya-biaya teknologi itu. Anggaplah untuk urusan satu itu, Museum Bank Indonesia sudah tak perlu dipersoalkan lagi kesanggupannya. Tapi cobalah dilihat dari sisi humanisnya. Bak revolusi industri, penggunaan teknologi yang terlampau berlebihan dapat mematikan potensi kreatif sumber daya manusia yang kita punya! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan media companion misalnya, memang cukup pas jika digunakan oleh museum-museum di negara seperti Singapura, dimana sumber daya manusia terbatas dan mahal. Dan lagi kisah dramatik dan tragik apa yang perlu dikisahkan dari kisah sejarah dalam museum-museum di Singapura itu? Atau boleh jadi masyarakat pengunjung (termasuk wisatawan asing) di negara yang serba maju itu sudah pada tingkat tak butuh lagi sentuhan “human”. Sehingga uluk salam pun bisa digantikan dengan image audio visual dari suatu teknologi yang canggih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu sangat berbeda dengan kondisi masyarakat di Indonesia, sentuhan humanis masih sangat diperlukan dalam melayani masyarakat pengunjung kita.Sambutan guide museum yang hangat dan penjelasan memukau yang dramatis, serta tutur mereka yang seakan-akan mengisahkan dirinya sendiri masih cukup diperlukan untuk masyarakat kita saat ini. Meski dalam sisi SDM ini kita juga masih banyak prihatin, karena tak banyak guide kita yang memiliki kualitas yang baik. Bahkan seorang pemimpin suatu komunitas pecinta heritage-pun masih memberikan tips “ngeles” dalam suatu workshop tentang guide yang pernah saya ikuti di Museum Bank Indonesia dahulu. Sungguh tragis! Demikianlah beberapa kelebihan dan kelemahan yang dimiliki oleh Museum Bank Indonesia dalam pandangan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Museum dalam Pikiran saya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang bagaimana seharusnya museum kita bangun dan kita susun, saya teringat pembicaraan saya dengan mentor saya, Pak Wahyono. Beliau pernah menuliskan kenapa kiranya masyarakat kita tidak atau kurang gemar untuk mengunjungi museum? Beliau berpendapat bahwa museum bukan terlahir dari  peradaban orang Indonesia, yang masih bagian dari dunia Timur. Museum adalah tradisi Barat, maka tak mengherankan jika masyarakat Barat bukan hanya gemar mengunjungi museum, tapi mereka mewujudkan museum mereka sendiri! Di Amerika, instansi kepolisian setingkat polres saja sudah memiliki museum sendiri, semua Presiden Amerika Serikat mempunyai museumnya sendiri-sendiri. Museum-museum itu tidak hanya didanai oleh pemerintah saja, tapi masyarakat pun memberikan donasi kepada museum!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-LbTvYxjXvsM/TdaugynfLJI/AAAAAAAAAVw/yXGANvlDKK8/s1600/DSCF0949.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-LbTvYxjXvsM/TdaugynfLJI/AAAAAAAAAVw/yXGANvlDKK8/s320/DSCF0949.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608862264302972050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Saya dan Pak Wahyono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatkah di Kanada, di Jepang, beberapa pembangunan museum HAM diprakarsai oleh publik dan mencari sumber pendanaan juga dari masyarakat luas. Sementara, di Indonesia museum-museum harus mencari “bapak asuh” untuk membiayai hidup mereka. Sedikit saja orang-orang kaya dari Timur di Indonesia yang concern terhadap museum. Jika di barat problem filantropi masyarakat kaya telah usai, di Indonesia masih terus berlangsung. Kedermawanan di dunia kita ini harus dipancing dengan janji-janji Surga di Hari Akhir. Dan kita berpikir bahwa museum bukanlah tempat atau bukanlah sarana yang dapat menyampaikan kita kepada Surga-Surga itu! haha. Bukankah demikian?        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perbincangan dengan Wahyono itu, saya mempunyai pendapat sendiri, meski pendapat mentor saya itu memang benar juga adanya. Menurut hemat saya, lemahnya gairah masyarakat untuk berkunjung ke museum adalah karena masyarakat itu tidak melihat diri mereka dalam kisah sejarah yang disampaikan dalam museum itu. Masyarakat tidak melihat adanya repesentasi glory dan kebanggan jati diri mereka dalam kisah-kisah atau benda-benda yang dipamerkan dalam museum. Ada jarak yang memisahkan antara identitas masyarakat dengan kisah sejarah yang disampaikan dalam museum. Karena apa? Karena masyarakat kita tidak diberi kesempatan untuk mewuudkan museumnya sendiri! Karena selama ini museum-museum kita cukup egois untuk menentukan kisah sejarah dalam versinya sendiri! Dengan demikian yang terjadi adalah kepalsuan atau paling nggak suatu yang semu, sumir tidak jelas! Lalu dalam kondisi seperti itu bagaimana suatu museum dapat membangkitkan kesadaran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan argument saya itu, maka bagaimana bentuk museum yang ideal menurut pikiran saya? jawabannya adalah museum yang dapat memberikan atau membangkitkan identitas masyarakat sebagai suatu bangsa sebagai suatu entitas yang berperan dalam sejarah! Sejarah adalah milik masyarakat, karena merekalah yang membuat sejarah itu ada. Museum menurut pikiran saya adalah museum yang bisa membuat masyarakat melihat diri mereka terlibat aktif dalam pergumulan sejarah yang dikisahkan dalam museum! Tentunya pendapat ini baru sebatas teori, tapi baiklah dalam tulisan saya berikutnya akan saya kisahkan bagaimana secara kongkret kita mewujudkan museum sebagaimana yang saya angankan itu. (selesai)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7473472176854231904-935076754594360040?l=pekerjamuseum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/feeds/935076754594360040/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7473472176854231904&amp;postID=935076754594360040&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/935076754594360040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/935076754594360040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/2011/05/saya-dan-museum-bank-indonesia-2004_20.html' title='Saya dan Museum Bank Indonesia (2004 – 2009)  Bagian 2'/><author><name>Erwien To'tiL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16127221575751256267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/Sz4AfMOICqI/AAAAAAAAAQc/ljCFJ8iJQbE/S220/PB210370.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-l9t7xArrWyE/TdarcY1iNAI/AAAAAAAAAVA/ZFExoYm__Bg/s72-c/Mendengarkan%2Bpenjelasan%2Bguide.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7473472176854231904.post-2909757650384728290</id><published>2011-05-18T08:28:00.000-07:00</published><updated>2011-08-21T00:20:53.660-07:00</updated><title type='text'>Saya dan Museum Bank Indonesia (2004 – 2009)  Bagian 1</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-Ev8Sl5J3TZI/TdPrqDq2SpI/AAAAAAAAATw/VAv5-hdYaXE/s1600/DSC_3578.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Ev8Sl5J3TZI/TdPrqDq2SpI/AAAAAAAAATw/VAv5-hdYaXE/s320/DSC_3578.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608085068778457746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pesta Kostum UKMBI Desember 2008 @ Museum Bank Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bergabung dengan UKMBI (Unit Khusus Museum Bank Indonesia) pada Mei 2004. Waktu itu UKMBI, organisasi ad hoc dalam lingkungan Bank Indonesia baru saja dibentuk meneruskan Tim Pembangunan Museum Bank Indonesia (TPMBI). TPMBI ini pertama kali dibentuk oleh pimpinan Bank Indonesia pada Juni 1999 dengan target Museum Bank Indonesia (MBI) akan dapat diwujudkan pada tahun 2001. Karena belum kesampaian mewujudkan MBI, maka TPMBI kembali diremajakan pada Juni 2001 itu. TPMBI ini terdiri dari beberapa pegawai Bank Indonesia, dengan Pak Rachmat Saleh (mantan Gubernur Bank Indonesia) dan Pak Achwan (mantan Deputi Gubernur) duduk sebagai Penasehat. Lalu ada semacam General Advisor yang terdiri dari beberapa konsultan ahli dalam bidang museum, arsitektur, sejarawan. Beberapa pensiunan pegawai Bank Indonesia yang concern terhadap rencana pembentukan Museum Bank Indonesia juga ada dalam Tim tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama seperti Soedarmadji J.H Damais (Aji Dame’), Wagiono, Mohammad Iskandar ada dalam tim awal pembangunan Museum Bank Indonesia itu. Tim itu bekerja mungkin hingga periode 2001 - 2003 dan menghasilkan blue-print museum (versi pertama) yang tak pernah diwujudkan pembangunannya. Pada suatu kesempatan di 2008, saya bertemu dengan Aji Dame’ dan bertanya sebenarnya siapa yang pertama kali mencetuskan rencana pembangunan Museum Bank Indonesia? Beliau menegaskan bahwa Rachmat Saleh, mantan Gubernur Bank Indonesia, yang memintanya untuk bergabung dalam TPMBI. Lokasi museum telah ditentukan, yaitu gedung Bank Indonesia Kota, eks bangunan De Javasche Bank, yang sejak 1994 – 1995 telah tidak digunakan lagi sebagai kantor oleh Bank Indonesia, meski sisa emas moneter masih tersimpan di dalamnya hingga 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan TPMBI, UKMBI adalah organisasi yang lebih formal. Dipimpin seorang direktur (golongan delapan) dan mempunyai anggaran pembiayaan yang lebih jelas. Pada awal saya bergabung dengan UKMBI, struktur organisasi itu belum sempurna dan belum dapat mewujudkan rencana kerja yang ideal dan terstruktur dengan baik. Saat itu, selain direktur yaitu, M. Ashadi, UKMBI hanya terdiri dari dua orang pegawai golongan empat, yaitu Tri Woro (sekretaris direktur) dan Gede Aryana (kepala seksi), dua orang staf golongan tiga, Adi Purwantoro dan Dicky Colanus, serta dua orang tenaga konsultan, Achwan, pensiunan Deputi Gubernur Bank Indonesia dan R. Hardjo Santoso, pensiunan kepala Arsip Bank Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam formasi ini, Pak Achwan mengambil peran sebagai sosok yang meneruskan atau menjabarkan gagasan museum yang dilontarkan Rachmat Saleh, menjadi sebuah kenyataan. Sementara Pak Hardjo adalah seorang pengabdi Bank Indonesia yang tak kenal lelah. Sejak pension pada tahun 1986 beliau terus bekerja di lingkungan Bank Indonesia. Uniknya, beliau rajin mengumpulkan arsip, menterjemahkan dokumen-dokumen berbahasa Belanda ke dalam bahasa Indonesia, memerhatikan detail sejarah De Javasche Bank, dan berkisah tentang kondisi Bank Indonesia di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 2004 itu, saya bergabung bersama beberapa orang pegawai lainnya. Maria Arinta, lulusan Sastra Perancis FSUI yang telah melanglang buana di dunia advertising, bergabung sebagai Manajer Program Publik. Lalu Pak Gatot, pensiunan kurator Museum Nasional, lulusan IKJ yang mahir dalam konservasi dan menduplikasi benda-benda bersejarah, beliau bergabung sebagai Asisten Kurator Numismatik. Bersama Pak Gatot, ada Haslim Hasanuddin, pensiunan pegawai golongan enam Bank Indonesia yang bertugas sebagai Asisten Kurator Non Numismatik. Kemudian Pak Wahyono, juga pensiunan kurator Museum Nasional, lulusan Arkeologi FSUI, sahabat Soe Hok Gie legenda angkatan 66. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan saya mengetahui bahwa pak Wahyono adalah .penulis kebudayaan yang handal dan museolog yang mempunyai gagasan murni dan cemerlang. Ia kemudian menjadi semacam “mentor” bagi saya selama di UKMBI. Dengan kemampuan yang mumpuni dalam bidang museum, Pak Wahyono cukup rendah hati untuk duduk sebagai staf Kurator di UKMBI. Terakhir adalah Astiningrum, lulusan sarjana Ekstensi Kearsipan FSUI yang bertugas sebagai asisten Pustakawan. Sementara, saya sendiri bertugas sebagai asisten Peneliti Sejarah Kebijakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah UKMBI pada awal mulanya, penuh dengan keterbatasan. Staf terbatas dan lokasi kantor yang juga terbatas. UKMBI menempati sayap kanan lantai dasar Gedung D di Komplek Bank Indonesia Thamrin. Pada mulanya UKMBI, lebih dikenal dengan satuan kerja pensiunan. Maklum selain beberapa orang yang telah saya sebutkan di atas, ada beberapa orang pensiunan lagi yang juga bekerjasama dengan UKMBI dalam menyusun buku sejarah Bank Indonesia. Tim ini disebut dengan TPSBI (Tim Penulis Sejarah Bank Indonesia). Setahun kemudian, pada 2005, barulah secara bertahap bergabung satu persatu staf Bank Indonesia lainnya. Dari mulai kepala bagian, staf administrasi, para peneliti, para guide museum, dan beberapa rekan staf desain grafis, serta ahli komputer lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tahapan Pembangunan Museum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2004, pembangunan Museum Bank Indonesia diarahkan secara bertahap.Tahap pertama,  Museum Bank Indonesia direncanakan dibuka pada Desember 2006. Tahap pertama ini mulanya akan dibangun di gedung Kebon Sirih, Komplek Bank Indonesia Thamrin, sembari menunggu tuntasnya konservasi gedung Bank Indonesia (BI) Kota. Museum tahap pertama di gedung Kebon Sirih itu dirancang dengan bentuk sederhana, tidak begitu banyak benda bersejarah yang akan dipamerkan. Tujuannya sebelum dibangun secara total, format ringkas museum telah dapat disaksikan oleh masyarakat luas dengan segera. Mendahului pembukaan museum tahap pertama itu, materi sejarah Bank Indonesia dan beberapa informasi lainnya, terutama koleksi numismatik, telah disiapkan dalam bentuk virtual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-Od5ArnsvmUM/TdPn2u3x3nI/AAAAAAAAATY/PYIiuFcmUT4/s1600/Denah%2BTahap%2BI.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-Od5ArnsvmUM/TdPn2u3x3nI/AAAAAAAAATY/PYIiuFcmUT4/s320/Denah%2BTahap%2BI.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608080888487337586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bagian Lantai 2 Bank Indonesia Kota yang menjadi  ruang museum pada tahap I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan perkembangan yang terjadi, Museum Bank Indonesia Tahap I akhirnya dibangun dengan menggunakan BI Kota. Proses pengerjaan museum tahap pertama ini dilakukan secara simultan dengan renovasi bangunan BI Kota. Oleh karena itu tidak semua bagian bangunan eks De Javasche Bank yang digunakan untuk area museum. Mungkin hanya 20% - 30% dari seluruh bangunan yang digunakan untuk ruang museum, terutama pada sisi bagian depan bangunan di lantai 2. Sementara beberapa ruang utama, seperti ruang direksi, ruang hijau, ruang rapat direksi di lantai 2 bangunan belum digunakan sebagai museum, tapi masih terus dilakukan proses renovasi. Demikian halnya dengan bagian lantai 1 bangunan, hingga Desember 2006, saat Museum Bank Indonesia Tahap I diresmikan untuk umum, bagian itu masih dalam kondisi renovasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah museum tahap pertama dibuka, UKMBI melanjutkan tugas untuk membangun Museum Bank Indonesia Tahap II, tahap yang final. Tahap dimana setiap ruang dan ruas bangunan eks De Javasche Bank itu akan digunakan sebagai museum. Tadinya saya menduga bahwa tahap kedua akan melanjutkan konsep museum yang sama dengan tahap pertama, khususnya untuk konsep ruang sejarah. Ternyata, pada tahap kedua itu, ruang sejarah ditampilkan secara berbeda dengan tahap sebelumnya. Nama-nama seperti Achadiat, Sunaryo dan Pintor Sirait mulai masuk dalam babak pengerjaan museum tahap dua ini. Sebelumnya saya mendengar bahwa nama-nama kondang perupa seperti Dolorosa Sinaga dan Agus Suwage juga diajak untuk bergabung dalam tim konsultan yang akan merancang ruang sejarah Museum Bank Indonesia tahap II ini, tapi konon kedua perupa itu menolak tawaran UKMBI.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-3ku-Zl2ZzTo/TdPpoh0UHNI/AAAAAAAAATg/04jjqdKR-D8/s1600/Denah%2BTahap%2BII.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-3ku-Zl2ZzTo/TdPpoh0UHNI/AAAAAAAAATg/04jjqdKR-D8/s320/Denah%2BTahap%2BII.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608082843488230610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bagian Lantai 2 Bank Indonesia Kota yang menjadi  ruang museum pada tahap II&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periode 2007 hingga 2008 saya bergulat dengan pengerjaan materi dan konsep ruang sejarah, khususnya untuk masa Pra Bank Indonesia dan Periode I dan II dari sejarah Bank Indonesia yang akan saya jelaskan lebih detail dalam bagian yang lain dalam tulisan ini. Selain tiga ruang periode itu, saya juga ambil bagian dalam penyusunan beberapa detail materi sejarah lainnya, termasuk sejarah uang dan numismatik, perkembangan kelembagaan Bank Indonesia hingga masa reformasi, serta bagian yang paling membanggakan saya, yaitu merekonstruksi Jung Jawa. Proses penelitian literature Jung ini sebenarnya sudah saya mulai sejak tahun 2005 dan baru semakin intens dan mewujud dalam hal yang kongkret pada tahun 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periode akhir 2008, adalah masa terakhir saya dalam mengerjakan apa yang terkait dengan materi dan konsep ruang sejarah Museum Bank Indonesia Tahap II. Setelah masa itu saya mendapatkan tugas lanjutan untuk menulis buku, materi panel layar sentuh dan menyelesaikan materi ruang Hall of Fame, hingga kemudian saya memutuskan untuk hengkang dari UKMBI pada Maret 2009. Akhirnya pada Juli 2009 Museum Bank Indonesia resmi berdiri secara total, 90% ruang gedung eks De Javasche Bank itu telah berubah menjadi Museum Bank Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-ZlAbjVERyXY/TdPppW2CzGI/AAAAAAAAATo/7RAfNiaPeZ8/s1600/DSC_0242.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-ZlAbjVERyXY/TdPppW2CzGI/AAAAAAAAATo/7RAfNiaPeZ8/s320/DSC_0242.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608082857722563682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ruang Emas Moneter  salah satu bagian yang menawan dalam Museum Bank Indonesia Tahap Akhir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lekuk Tubuh Museum Bank Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Meski saya tak lagi sempat mengikuti babak akhir dari pengerjaan museum itu, tapi ada satu teks di sudut gedung itu yang terus membuat saya tak dapat melupakan Bank Indonesia. Kata-kata itu memesona saya sejak lama, sejak pertama saya mengenal gedung kolonial yang megah itu pada tahun 2004. Teks itu tertulis pada suatu Cippus (istilah arsitektur; tugu prasasti) terbuat dari marmer berwarna merah keabu-abuan, terletak di lantai dua unit bangunan di pinggir Kali Besar, persis dekat pintu masuk ruang Presiden (kemudian menjadi ruang rapat direksi). Teks itu berbunyi:  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEDULA PROPELLIT / COLUMENQUE DECUSQUE / MINSTRAT / ARGENTARIA / DUX ATRIBUS / ATQUE COMES&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara bebas dapat diartikan : &lt;br /&gt;“bank yang aktif mendirikan tiang-tiang dan menjunjung seni hias menjadi pelopor dan pendukung kesenian”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks itu menyadarkan saya, bahwa sejak semula bangunan De Javasche Bank itu didirikan untuk tujuan keindahan dan kesenian, bukan hanya sekedar menjadi gedung bank saja. Tapi juga dimaksudkan dengan sengaja sebagai gedung bank yang mengeksplorasi ornamen-ornamen keindahan pada setiap lekuk tubuhnya! Cobalah kita tengok beberapa detail molek tubuh gedung ini dari beberapa gambar berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-ZNaIeymTntk/TdPtqd6ObpI/AAAAAAAAAT4/5D3O8urhtVs/s1600/DSC_0299.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-ZNaIeymTntk/TdPtqd6ObpI/AAAAAAAAAT4/5D3O8urhtVs/s320/DSC_0299.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608087274845531794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Prasasti sang Biro Arsitektur “Fermont and Cuypers”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menemukan bagian prasasti kecil ini secara tidak sengaja, maklum saya bukan seorang arsitek, yang paham betul seluk-beluk gedung kolonial seperti Gedung BI Kota ini. Waktu itu saya mencoba mengambil gambar tangga depan pada pintu masuk menuju Lobby Utama. Nah, prasasti itu terdapat pada dinding bagian tengah (bawah) antara dua pintu masuk tersebut. Teks yang tercantum cukup sederhana “:ARCH. EN. INGRS. BUR: FERMONT-CUYPERS”. Teks itu menunjukkan nama dari biro arsitektur yang membangun gedung De Javasche Bank selama periode 1910 -1935, yaitu: N.V. Architecten-Ingenieursbureau Fermont te Weltevreden en Ed. Cuypers te Amsterdam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biro konsultan arsitektur tersebut berdiri pada 1910 yang terdiri dari gabungan antara dua Biro Arsitek Cuypers &amp; Hulswit dan Biro Arsitek Fermont. Nama biro tersebut tampaknya diambil dari nama-nama arsitek yang mendirikan biro konsultan tersebut, yaitu  M.J. Hulswit, E.H.G.H. Cuypers dan AA Fermont. Selain De Javasche Bank di Jakarta, beberapa kantor De Javasche Bank di beberapa daerah di Indonesia yang dibangun pada periode tersebut, juga  ditangani oleh biro konsultan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-9QXzfVV32W4/TdPuLprb0yI/AAAAAAAAAUA/9JKHRwgQPSk/s1600/PC300097.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-9QXzfVV32W4/TdPuLprb0yI/AAAAAAAAAUA/9JKHRwgQPSk/s320/PC300097.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608087844940403490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Megah dan Indah: Ornamen pada salah satu bagian dinding Museum Bank Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana kita ketahui, mulanya De Javasche Bank yang kemudian menjadi Bank Indonesia, menggunakan bangunan bekas rumah sakit yang terletak di pinggir Kali Besar. Arsip sejarah mencatat bangunan itu dengan nama Binnen Hospitaal (rumah sakit dalam tembok kota). Hingga kemudian dengan sentuhan tangan para arsitek Belanda itu, bangunan lama De Javasche Bank kemudian berubah secara bertahap menjadi bangunan seperti yang ada pada saat ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sentuhan dekoratif yang indah dan menawan mulai merambah bangunan bank ini sejak pada 1910 secara bertahap gedung bekas rumah sakit mulai direnovasi. Sebagai unsure dekoratif muncullah elemen-elemen baru seperti dormer window, louvre, balustrade serta beberapa ornamen hiasan berbentuk relief floral yang menghiasi beberapa dinding bangunan bank. Coba saja langkahkan kaki anda pada lobby utama bangunan Museum Bank Indonesia saat ini. berdirilah persis di tengahnya. Maka kita akan terkesima melihat keindahan dan kerumitan format arsitektur yang dipersembahkan oleh Vermont and Cuypers kepada kita hingga saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-rSMMIm6zQ74/TdPuq3SvG0I/AAAAAAAAAUI/oCRmzLQAe2w/s1600/P6230005.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-rSMMIm6zQ74/TdPuq3SvG0I/AAAAAAAAAUI/oCRmzLQAe2w/s320/P6230005.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608088381170850626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sunglass atau Sumur Cahaya yang mengakomodasi cahaya dari luar menerangi lobby utama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2004 saya mendapatkan tugas pertama untuk menelusuri lekuk tubuh gedung De Javasche Bank ini. Saat itu saya harus menemani dua orang kru rumah produksi yang akan mengabadikan beberapa sudut bangunan ini. Saya kagum menyaksikan keindahan dan kecerdasan bangunan kolonial ini, terutama untuk dua hal, yaitu sun-glass atau sumur cahaya yang terdapat tepat di tengah ruang looby utama dan kaca patri yang berada di lobby pintu masuk bagian depan. Sumur Cahaya itu mulanya untuk memberi penerangan ke dalam ruang lobby secara alami, tanpa menggunakan bantuan lampu. Saya pernah berkesempatan naik ke atap lobby itu dan berdiri di atas kaca gelas cembung setebal 1 meter yang tak lain adalah Sumur Cahaya itu. Sayang sumur cahaya itu pada saat ini tak banyak berfungsi sebagai penerang. Tapi sebagai ornament yang memperindah ruangan, tentu sun-glass cembung itu masih berfungsi dengan baik.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kalah menariknya adalah ventilasi yang terletak pada dinding atas pada bagian kanan dan kiri lobby utama. Tepatnya tepat berada di atas pintu menuju ruang loket kas Jakarta dan ruang bagian kliring (sistem pembayaran). Ventilasi itu memanjang secara vertical, megah dan cantik karena terdiri dari beberapa ornament dengan bentuk yang berupa-rupa uniknya.        &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-QtLjCt7nT_A/TdPvt2KR-OI/AAAAAAAAAUQ/L8pZ_qc4R6o/s1600/P6230006.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-QtLjCt7nT_A/TdPvt2KR-OI/AAAAAAAAAUQ/L8pZ_qc4R6o/s320/P6230006.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608089531918186722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ventilasi pada Looby Utama terdiri dari beberapa ornament yang unik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu lekuk tubuh bangunan Museum Bank Indonesia yang tak dapat saya lupakan adalah hiasan kaca patri yang terdapat di beberapa bagian ruang gedung eks BI Kota tersebut, antara lain di bagian lobby depan dan Ruang Hijau (ruang rapat direksi). Mengingat kaca patri, saya tentu akan mengingat Wahyono. Rekan kerja dan sekaligus mentor saya itu. Beliaulah yang ditugasi oleh UKMBI untuk kembali meneliti kaca patri yang penuh arti itu. Dari Pak Wahyono saya memperoleh beberapa informasi bahwa kaca patri tersebut dipesan secara khusus dari studio Jan Schoulten di Delft Belanda. Wah, bersungguh-sungguh sekali rupanya De Javasche Bank ini dalam menghiasi gedungnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaca patri bangunan ini, memang bukan sekedar kaca patri biasa. Tapi ia adalah kaca patri yang mempunyai banyak arti. Kaca patri ini dibuat dengan cara dilukis dan diberi warna lalu dibakar dalam temperature 1100 derajat celcius, sehingga menghasilkan warna yang sangat baik kualitasnya. Di beberapa bagian bila kita perhatikan kaca patri tersebut menggambarkan berbagai aspek kehidupan masyarakat Nusantara pada masa itu, terutama dalam hal perdagangan dan kegiatan ekonomi lainnya. Selain itu di bagian lain kaca patri tersebut menggambarkan beberapa dewa dewi Yunani dan lambang kota-kota perdagangan penting di Jawa, dimana De Javasche Bank berada. Untuk mengurus kaca-kaca patri itu Museum Bank Indonesia melibatkan Brian Yaputra, salah satu maestro seniman kaca patri, yang kembali membawa seni kaca patri ke Indonesia sejak tahun 1981.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-bBpL8YnCSXM/TdPwKi8SolI/AAAAAAAAAUY/l8S-ln39CwI/s1600/patri%2B4.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-bBpL8YnCSXM/TdPwKi8SolI/AAAAAAAAAUY/l8S-ln39CwI/s320/patri%2B4.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608090024975442514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kaca Patri yang syarat Arti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah beberapa lekuk tubuh Museum Bank Indonesia yang memesona. Sekali lagi saya bukan arsitek, sehingga banyak informasi tentang seluk-beluk arsitektur dan ornament gedung yang saya juga belum mengerti dan mengenalnya dengan baik. Sebagai seorang staf peneliti sejarah yang terlibat dan dilibatkan secara intensif oleh para pimpinan UKMBI dalam merancang dan membangun Museum Bank Indonesia, saya cukup mengamati berbagai proses dengan baik. Banyak hal-hal menarik diluar tangung jawab kerja saya, yang diam-diam juga saya dalami dan saya geluti secara pribadi. Tentunya dengan berbagai keterbatasan yang saya miliki, tapi saya tak menutup mata dan telinga. Saya merekam setiap proses, membuat penilaian, membuat rencana ini itu, sembari berharap kelak semua yang saya rasakan dan saya amati dalam persinggahan saya di UKMBI itu akan bermanfaat sebaik mungkin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Membuat Naskah Film Dokumenter&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2004, saat pertama kali berkerja untuk UKMBI, tak banyak yang saya mengerti apa dan bagaimana program pembangunan Museum Bank Indonesia akan dilaksanakan. Saya masih banyak belajar, bagaimana sistem birokrasi dalam lingkungan Bank Indonesia bekerja. Namun demikian, tugas pertama-tama yang harus saya lakukan adalah menulis draft naskah film dokumenter sebagai salah satu materi yang nantinya akan disajikan dalam Museum Bank Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa terasa dalam waktu kurang lebih lima bulan, saya berhasil menyusun tujuh sampai delapan draft naskah film dokumenter. Jumlah itu, lebih dari separuh jumlah film yang disusun oleh UKMBI pada saat itu yaitu, 14 naskah film. Di bawah supervisi Pak Achwan saya menulis dalam tempo yang sangat tinggi. Dalam hal ini saya harus berterima kasih kepada Ibu Arinta, pengetahuan bagaimana menyusun narasi film, pertama kali saya peroleh darinya. Selebihnya saya coba-coba saja. “Asma” atau “Asal maju” begitulah prinsip sederhana yang disampaikan Pak Gede, Kepala Seksi UKMBI, saat itu. Asma bukan berarti bekerja asal-asalan, akan tetapi bagaimana caranya kita bekerja sesuai dengan deadline yang ada dengan kualitas yang baik, tentunya masih dengan berbagai kekurangan yang kita punyai dalam keadaan tergesa-gesa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya pekerjaan menyusun narasi film ini dan kemudian mewujudkannya bersama-sama dengan rumah produksi yang dibayar oleh UKMBI itu, adalah pekerjaan utama kami di UKMBI selama beberapa waktu. Dua atau tiga tahun lamanya kami terus memproduksi berpuluh-puluh naskah film dokumenter. Kami mempunya klasifikasi untuk film-film tersebut, yaitu Film Storyline I, Film Storyline dan film-film episode. Konsep pembagian ini adalah gagasan dari Pak Achwan yang meyakini bahwa film dalam durasi pendek akan dapat menyampaikan informasi museum dengan lebih mudah kepada masyarakat luas. Sayangnya tema-tema film itu terkadang terlalu berat, terlalu kering dan banyak membosankan pengunjung museum. Namun demikian nilai informasi dan eksistensi film-film itu sebagai salah satu produk historis yang dihasilkan UKMBI sangatlah berarti penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-lVl40dd38m0/TdPwhNK69hI/AAAAAAAAAUg/kephcyxjwpE/s1600/DSCN2626.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-lVl40dd38m0/TdPwhNK69hI/AAAAAAAAAUg/kephcyxjwpE/s320/DSCN2626.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608090414268216850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pak Toegono, pelaku sejarah dalam proses pengambilan gambar pada Oktober 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pengalaman saya yang cukup menantang di tahun 2004 itu, ada satu pengalaman menarik yang saya rasakan dalam proses membuat film. Film itu adalah film terakhir saya di UKMBI. Terlepas dari berbagai kekurangannya, saya cukup merasa puas dalam proses penyusunan film tersebut. Apa sebabnya? Pertama, kisah yang saya angkat dalam film tentang Kantor Bank Indonesia Dilli itu adalah kisah nyata. Selama dua bulan saya melakukan studi literature dan mewawancarai beberapa narasumber, pelaku sejarah, baik secara langsung maupun hanya melalui korespondensi. Kedua, film itu disajikan dalam format yang cukup baru bagi UKMBI. Pak Purnomo, Deputi Direktur UKMBI saat itu, mengijinkan digunakannya media sketsa dan kartun untuk menggambarkan beberapa kisah dalam film. Ketiga, Film itu untuk pertama kalinya pula menggunakan tehnik reportase, layaknya penyajian materi-materi film dokumenter yang biasa diproduksi oleh stasiun televisi. &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Riset Sejarah yang Sepi dan Sepoi Sepoi itu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai asisten peneliti sejarah core tugas saya adalah meneliti dan memproduksi materi-materi sejarah untuk UKMBI. Karena dedikasi dan prestasi kerja saya, pada tahun 2006 saya mendapatkan semacam reward dari UKMBI. Saya mendapatkan promosi untuk menjadi Analis Program Publik, meski core tugas saya tak berubah. Tetap seperti tugas semula, peneliti dan produser materi-materi sejarah. Dari tangan orang-orang semacam saya di UKMBI, lahirlah naskah-naskah untuk bahan dasar film, materi website, materi layar sentuh, dan berbagai materi panel informasi yang akan disajikan dalam museum. Selain itu, beberapa staf yang bertitel peneliti juga dituntut untuk mempunyai produksi buku episode sejarah, satu buku dalam setahun. Syukurlah saya sudah mempunyai produk tiga buku episode selama bekerja di UKMBI.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia riset sejarah, adalah dunia yang minor di lingkungan Bank Indonesia, bahkan di lingkungan UKMBI sendiri. Hanya beberapa orang sahaja yang cukup concern untuk menjejak prosedur riset sejarah dengan baik. Dalam dunia riset yang sepi itu, saya mempunyai mentor yang cukup handal. R. Hardjo Santoso namanya, sehari-hari kami memanggilnya papi. Perkenalan saya untuk pertama kali dengan beliau berjalan dengan tidak mulus. Ada sedikit problem psikologis-etik yang muncul saat pertama saya mencoba akrab dengan beliau. Cukup lama, saya tidak dianggap mumpuni oleh beliau, terutama karena penguasaan bahasa Belanda saya pas pas saja. Artinya pas dites, saya pas tau artinya, pas kepepet saya pas tiba-tiba paham maknanya. Begitulah mulanya hubungan saya dengan papi Hardjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya harus bersabar. Dan kesabaran itu membuahkan hasil. Setelah beberapa lama saya berhasil membuktikan kepada papi Hardjo bahwa saya siap menjadi partnernya yang tangguh dalam merambah dunia sejarah Bank Indonesia. Saya bukan penjilat. Kesediaann beliau untuk mengajari saya tentunya berdasarkan penilaian positif beliau kepada saya karena perkembangan pesat yang saya alami dalam bidang riset sejarah Bank Indonesia. Saya punya tips-tips tersendiri dan feeling yang kuat dalam dunia riset. Kuncinya adalah ketekunan dan keuletan. Itu yang saya lakukan dalam menapaki jejak riset sejarah Bank Indonesia. Dengan cara itu akhirnya saya bisa mensiasati bahwa papi Hardjo mempunyai keahliannya sendiri dalam suatu  hal, maka saya harus memiliki kelebihan saya sendiri dalam suatu hal yang lain. Dengan demikian, kami saling melengkapi, saling membutuhkan dan melengkapi satu sama lain.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persahabatan saya dengan pak Hardjo membuahkan hasil. Banyak pengetahuan dan cara pandang baru dalam riset sejarah De Javasche Bank dan Bank Indonesia yang saya peroleh dari beliau. Karena beliau pula saya menjadi lebih leluasa menembus batas-batas ketatnya prosedur kearsipan di lingkungan Bank Indonesia. Untuk ukuran tenaga konsultan, saya telah mencapai batas terdalam pada urat nadi arsip dan dokumen sejarah di lingkungan Bank Indonesia. Saya yakin, konsultan sejarawan sebelum saya, seperti Mohammad Iskandar, misalnya, tidak akan mencapai pada titik dimana saya berdiri pada saat itu. Beliau tentu belum sempat menembus tembok-tembok arsip yang sepi dan sepoi-sepoi ini. Maka, dari itu produk tulisan yang beliau hasilkan untuk TPMBI pada periode sebelumnya belum cukup menggigit dan menggambarkan wujud masa lalu Bank Indonesia secara utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-RsMSRyHuD3o/TdPw8Aw3qAI/AAAAAAAAAUo/bEJ9Ief1QVg/s1600/DSCF0188.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-RsMSRyHuD3o/TdPw8Aw3qAI/AAAAAAAAAUo/bEJ9Ief1QVg/s320/DSCF0188.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608090874794190850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;September 2008, saat kami memberi kenang-kenangan untuk Pak Hardjo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Hardjo pula-lah yang berhasil membuat saya semakin penasaran dengan pernak-pernik sejarah De Javasche Bank dan Bank Indonesia lainnya, terutama untuk urusan gedung-gedung De Javasche Bank, kisah-kisah para pemimpin De Javasche Bank, soal administrasi dan kepegawaian Bank Indonesia di masa lalu, dan tentang koleksi uang Bank Indonesia yang cukup beragam. Seiring dengan menurunnya stamina fisik beliau, banyak hal terkait dengan riset sejarah Bank Indonesia yang mulai beliau “serahkan” kepada saya. Dalam dua tahun terakhir sebelum saya meninggalkan UKMBI, saya setia menemani Pak Hardjo untuk terus mereview arsip-arsip Bank Indonesia. Dari situlah semakin banyak pengetahuan yang saya peroleh tentang sejarah Bank Indonesia, yang seakan-akan tidak ada lagi peneliti yang concern terhadapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah dunia riset sejarah yang sepi di Bank Indonesia. Selain bukan core dari Bank Indonesia untuk berkutat dengan masa lalu, banyak yang beranggapan bahwa urusan sejarah adalah urusan para pensiunan. Pernah suatu ketika saya membuat beberapa staf bagian moneter di Bank Indonesia geleng-geleng kepala, karena kami meminta suatu pertemuan untuk membahas masalah cadangan emas moneter periode perang kemerdekaan. Dari raut mereka tampak terlihat kekecewaan, karena menganggap membuang-buang waktu saja untuk membahas cadangan emas moneter di masa lalu., sedang untuk mengurus cadangan emas moneter yang masa kini saja cukup menyita perhatian mereka! Begitulah. riset sejarah memang belum mendapat tempat mulia di lingkungan Bank Indonesia, meski hal itu adalah keharusan dalam proses pembangunan museum. Apa artinya bangunan megah museum tanpa pengetahuan sejarah? bak raga yang molek tanpa nyawa! Karena itulah sesepi apa dunia riset sejarah itu, saya harus menapakinya. Untungnya di tengah sepi-sepi itu masih ada angin sepoi-sepoi yang berhembus dari keramahan para staf Arsip di Bank Indonesia dan bantuan luar biasa rekan-rekan saya di bagian perpustakaan riset moneter Bank Indonesia.        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Antara Jung Jawa dan Uang Setan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selain menuliskan Bank Tunggal, kemudian mengisahkan kembali kisah tragis KBI Dili, ada hal lain yang juga membuat saya terkesan dalam proses pembangunan Museum Bank Indonesia, yaitu rekonstruksi Jung Jawa dan meneliti pernak pernik uang kuno. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal Jung Jawa, adalah Pak Achwan yang terus mendorong saya untuk menelusuri jejak kapal Nusantara ini. Awalnya beliau hanya mengajukan bahan awal riset berupa hasil unduhan informasi dunia maya melalui mesin pencari informasi google. Lalu karena tidak puas, dan hanya menganggap bahwa bahan awal itu masih cukup mentah dan boleh saja keliru karena sumbernya tak dapat kita lacak secara langsung, maka beliau menyarankan saya untuk melakukan riset tentang Jung Jawa secara bertahap. Bukan tugas utama, tapi harus saya kerjakan di sela-sela tugas riset atau menulis saya yang lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-INu1Y8ecAac/TdPxVrFhmoI/AAAAAAAAAUw/BSH-zpBRJZw/s1600/Moker%2B2.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-INu1Y8ecAac/TdPxVrFhmoI/AAAAAAAAAUw/BSH-zpBRJZw/s320/Moker%2B2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608091315651844738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bertemu dengan pembuat replika Kapal Jung di Mojokerto April 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 2006, saya mondar-mandir ke kampus, perpustakaan nasional, EFEO dan hingga Balai Arkeologi Nasional. Setiap kali saya bertemu dengan peneliti sejarah kawasan Asia Tenggara, saya selalu menyempatkan untuk bertanya tentang kapal Jung. Melalui kerja-kerja itulah akhirnya kami sampai pada suatu informasi yang cukup kuat tentang Jung Jawa. Beberapa petunjuk Nico van Horn terkait tentang Jung ini juga patut mendapatkan apresiasi, karena beliaulah yang memberikan petunjuk akhir terkait literature kuno yang memuat berita dan kisah tentang Jung Jawa. &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;Adapun soal uang kuno, adalah suatu kebetulan saya lulusan pesantren dan menguasai bacaan huruf arab pego atau arab gundul. Dalam beberapa uang kuno koleksi Museum Bank Indonesia, banyak terdapat uang yang tertulis dalam huruf arab gundul itu. Dalam beberapa kesempatan saya kerap diminta oleh rekan-rekan Museum Artha Suaka untuk membacakan apa yang tertera di atas uang kuno koleksi mereka. Sekedar untuk mengecek kecocokan data pada katalog koleksi mereka. Pada suatu saat ketika saya diminta membaca kalimat apa yang tertera pada keping uang kepeng Banten, salah seorang staf Museum Artha Suaka berseloroh “kamu ini uang kuno maca apa aja kamu bisa baca, jangan-jangan uang setan pun kamu juga bisa baca ya?” mendengar itu saya sempat tergelak.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-fK_yRNK4Rv8/TdPxzaJbvyI/AAAAAAAAAU4/YS1PfFB442w/s1600/DSCN0308.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-fK_yRNK4Rv8/TdPxzaJbvyI/AAAAAAAAAU4/YS1PfFB442w/s320/DSCN0308.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608091826500910882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Saya dalam suatu pameran di Palembang tahun 2005&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kebetulan pula sejak 2005 saya kerap diutus UKMBI untuk mengikuti pameran koleksi Museum Artha Suaka yang diadakan di beberapa daerah di Indonesia. Dalam setiap pameran itulah, saya mulai menguji kemampuan saya untuk menjadi guide pameran/museum yang menjelaskan sejarah Bank Indonesia, dan tentunya tentang informasi beberapa koleksi uang kuno itu pula. Terkadang saya harus menghadapi berbagai pertanyaan konyol dari para pengunjung pameran dan harus segera menyiapkan jawaban yang cerdas pula! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya suatu saat ada seorang pengunjung yang bertanya kenapa tokoh pahlawan daerah asalnya  digunakan untuk gambar uang kertas dengan pecahan yang kecil, sementara tokoh pahlawan daerah lain digunakan untuk pecahan yang lebih besar? Saya menjawab bahwa gambar pahlawan di pecahan kecil, bukan berarti merendahkan derajat pahlawan atau daerah asal pahlawan tersebut, tapi malah menjadikan pahlawan itu lebih dikenal luas oleh masyarakat Indonesia yang kebanyakan masih mengunakan pecahan uang kecil daripada uang dengan pecahan besar. Pokoknya, saya harus pandai-pandai berdiplomasi dalam menghadapi setiap pengunjung, baik yang datang dengan pertanyaan yang baik ataupun yang nyleneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran demi pameran saya ikuti, dan saya merasa bosan jika harus memberi informasi pengunjung sebatas apa yang telah tercantum dalam buku katalog museum. Dari situlah keinginan saya untuk mulai mempelajari uang kuno mulai tumbuh. Saya lalu mencari berbagai informasi tambahan tentang uang dari berbagai literature yang tersebar di perpustakaan di Jakarta. Juga tentang ORI dan beberapa uang yang bergambar Soekarno, saya harus bekerja keras untuk mendapatkan informasi tentang uang-uang itu, apa keunikannya dan bagaimana proses penerbitannya. Karena dari berbagai daerah banyak pertanyaan tentang uang yang terkait dengan ORI serta uang-uang kertas bergambar Soekarno itu.         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan saya tentang koleksi uang tersebut masih sangat terbatas, terutama jika dibandingkan dengan para numismator atau kolektor uang kuno yang benar-benar mengerti seluk-beluk uang kuno atau uang ORI misalnya. Namun demikian, sebagai sejarawan saya berusaha mempunyai informasi yang unik dan berbeda dengan para kolektor tersebut. caranya mudah saja, tentunya dengan banyak keluar masuk ke perpustakaan nasional dan mengorek berbagai majalah atau surat kabar yang kemungkinan memuat informasi tentang uang-uang kuno tersebut. Demikianlah kisah saya dengan uang-uang kuno itu, saya berharap dalam waktu dekat ini saya dapat menuliskan sejarah uang dengan lebih detail lagi. Saya ingin menerbitkannya dan menyebarkan informasi tentang uang itu kepada khalayak luas.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(bersambung....)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7473472176854231904-2909757650384728290?l=pekerjamuseum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/feeds/2909757650384728290/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7473472176854231904&amp;postID=2909757650384728290&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/2909757650384728290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/2909757650384728290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/2011/05/saya-dan-museum-bank-indonesia-2004.html' title='Saya dan Museum Bank Indonesia (2004 – 2009)  Bagian 1'/><author><name>Erwien To'tiL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16127221575751256267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/Sz4AfMOICqI/AAAAAAAAAQc/ljCFJ8iJQbE/S220/PB210370.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Ev8Sl5J3TZI/TdPrqDq2SpI/AAAAAAAAATw/VAv5-hdYaXE/s72-c/DSC_3578.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7473472176854231904.post-8507844152508710008</id><published>2011-02-18T01:05:00.000-08:00</published><updated>2011-02-18T01:15:35.445-08:00</updated><title type='text'>Catatan Kongres Ansor ke 14: Dari SY kepada NW</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-ekUYAf5w1aY/TV43joMk_KI/AAAAAAAAAS4/7J_XhH5kAKg/s1600/Kngres%2B14%2Bansr.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 245px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ekUYAf5w1aY/TV43joMk_KI/AAAAAAAAAS4/7J_XhH5kAKg/s320/Kngres%2B14%2Bansr.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5574954473956375714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pengantar: Menanti SBY&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memasuki 2010 bursa pencalonan ketua umum GP Ansor secara informal telah dimulai. Beberapa nama tokoh muda NU mulai santer terdengar akan maju sebagai calon pemimpin Ansor menggantikan Saifullah Yusuf yang telah menjadi Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus salah satu Ketua Nahdlatul Ulama hasil Muktamar NU ke 32 di Makassar, Maret 2010. Dua nama kandidat pemimpin Ansor yang paling awal tersiar di media adalah salah satu ketua PP GP Ansor, Chatibul Umam Wiranu dan sekjen PP GP Ansor, Malik Haramain. Keduanya adalah politisi partai Demokrat dan PKB.  Sebelumnya Chatibul Umam Wiranu adalah salah seorang veteran Ansor yang juga pernah meramaikan bursa pemilihan ketua umum pada Kongres GP Ansor ke-12 di Boyolali, Jawa Tengah. Saat itu ia kalah dari Saifullah Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, Kongres GP Ansor ke-14 nasibnya sempat terkatung-katung. Sebagai suatu kelaziman, kongres GP Ansor akan segera diadakan setelah diselengarakannya Muktamar NU. Mulanya kongres akan diadakan setelah musim ibadah haji usai, yaitu pada 2 – 7 Oktober 2010, mengingat asrama haji Sukolilo, Surabaya baru bisa digunakan pada saat penyelenggaraan haji telah usai. Namun akhirnya kongres dikabarkan ditunda hingga 24-27 Desember 2010 yang kemudian masih ditunda lagi sampai waktu yang belum dapat ditentukan. Hal itu menurut Saifullah Yusuf  karena kongres harus menyesuaikan dengan jadwal Presiden SBY yang sedianya akan membuka kongres, sesuai dengan permintaan peserta kongres.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian muncullah kepastian bahwa kongres akan dilaksanakan pada 8 – 13 Januari 2011 yang kemudian juga diubah lagi menjadi 13 – 17 Januari 2011. Meskipun Saifullah Yusuf  menganggap bahwa penundaan jadwal itu adalah hal biasa bagi organisasi besar seperti Ansor, tapi ketidak-pastian jadwal itu sempat memicu sejumlah kalangan Ansor, seperti para alumni GP Ansor Jawa Timur misalnya, yang menilai bahwa independensi dan kemandirian organisasi GP Ansor telah hilang. Hal itu disebabkan kian kuatnya sikap pragmatisme demi tujuan sesaat yang dilakukan para pengurus GP Ansor. Bagi mereka dengan penyesuaian jadwal kongres agar sesuai dengan jadwal Presiden adalah contoh kecil dari sikap pragmatisme itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Slamet Effendy Yusuf yang juga mantan Ketua Umum PP GP Ansor tahun 1985-1990. Slamet  merasa aneh Kongres disesuaikan dengan jadwal Presiden SBY. Slamet meminta agar GP Ansor ini diletakkan sebagai organisasi yang bermartabat. Selain mengawal perjuangan NU juga melakukan kaderisasi yang benar, karena GP Ansor itu merupakan sumber kader untuk NU. Politisi Golkar itu menilai jika dalam dua periode GP Ansor sekarang mengalami hilangnya proses kaderisasi. Sehingga GP Ansor kehilangan ideologi, mengalami degradasi luar biasa dan cenderung pragmatis. "Prinsip-prinsip itulah yang harus dikembalikan dalam Kongres Ansor di Surabaya ini," ujar Slamet di Jakarta di hadapan media massa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih terkait dengan pengunduran jadwal itu, menarik jika kita lihat opini seorang kader GP Ansor di Kediri, Jawa Timur, yang menuliskan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“………diundurnya pelaksanaan kongres Ansor hingga empat kali dengan alasan menyesuaikan jadwal Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengindikasikan bahwa ketergantungan Ansor pada kekuasaan yang sangat tinggi terkooptasi sedemikian kuat. Tanpa dihadiri presiden, seakan kongres Ansor tidak bisa berjalan dan tidak boleh dilaksanakan. Mengapa kongres Ansor ”wajib” dibuka presiden?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaliknya, mengapa kongres Ansor tidak wajib dibuka ketua umum PB NU? Seharusnya yang paling berhak adalah ketua umum PB NU, bukan presiden. Karena Ansor adalah banom NU, bukan banom presiden. Ketergantungan dan kooptasi Ansor oleh kekuasaan ini membuka peluang miskoordinasi vertikal yang semakin lebar antara Ansor dan PB NU. Ini karena kiblat Ansor lebih pada kekuasaan dibanding PB NU.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Kongres GP Ansor ke -14 dibuka oleh Presiden SBY pada kamis, 13 Januari 2011 di Markas Kodam V/Brawijaya, Surabaya. Sejumlah menteri kabinet turut datang bersama presiden membuka forum kongres yang mengusung tema “Meneguhkan Kerukunan, Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat”. Suatu tema yang cukup menarik dan relevan dengan kondisi bangsa itu sempat mendapatkan apresiasi dari Presiden SBY  yang pada kesempatan itu menyatakan bahwa kerukunan merupakan modal bangsa membangun dan mewuudkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Oleh karena itu menurutnya jika ada perselisihan dan kemajemukan, penyelesaian secara damai dan bermartabat diperlukan. Lalu kepada para pemuda Ansor Presiden mengatakan ”Ansor harus bisa menjadi contoh dalam menyelesaikan perselisihan anak bangsa secara bermartabat”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan itu juga presiden menyampaikan bahwa sikap NU yang tidak melakukan koalisi dengan pemerintah dianggap tepat. Presiden mengatakan “Dengan posisi NU yang tidak masuk koalisi, maka mereka (NU) bisa mengkritik serta memberi dukungan yang proporsional”. Dalam sambutannya Presiden juga mengatakan “Sebelum ini saya memang menjaga jarak dengan NU karena saya ingin NU tidak terseret dalam arus politik. Karena saya sayang dengan NU, sayang dengan kiai”. Demikianlah pada kesempatan kongres Ansor itu puja dan puji presiden disampaikan dengan deras oleh Presiden SBY kepada posisi NU dan sikap para tokoh-tokohnya. Hal itu menunjukkan bahwa hubungan pemerintah dan NU mulai membaik kembali, setelah beberapa waktu lalu NU di bawah pimpinan Hasyim Muzadi seolah mempunyai hubungan yang kurang harmonis dengan pemerintahan SBY. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kongres GP Ansor ke -14 itu diawali dengan Apel Banser NU yang diikuti 7.000-an anggota Banser NU se-Jatim di lapangan Makodam V/Brawijaya pada 13 Januari siang. Setelah Presiden SBY membuka Kongres Ansor di tempat yang sama, kongres selanjutnya berlangsung di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, hingga 17 Januari. Menurut laporan panitia, acara Kongres GP Ansor ke-14 diikuti sekitar 1800 hingga 2000 peserta dari 515 cabang se-Indonesia dan melibatkan 300-an anggota panitia. Kongres mempunyai 3 agenda utama, yaitu  evaluasi terhadap Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT) organisasi, laporan pertanggungjawaban kerja dan rekomendasi, serta pemilihan ketua umum baru. Untuk bisa maju ke bursa ketua umum, para kandidat minmal harus mendapatkan dukungan 99 suara pengurus. Mereka kemudian maju dalam proses pemilihan. Pemilihan sendiri akan dilakukan secara langsung memperebutkan sekitar 515 suara pengurus, dari wilayah hingga cabang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Siapa Pengganti SY?&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Menjelang dilaksanakannya kongres ada beberapa wacana dan pendapat yang dilontarkan oleh berbagai kalangan dalam Ansor dan NU. Beberapa bagian dari wacana dan pendapat itu kiranya penting untuk diungkapkan dalam tulisan ini. Pertama, adalah wacana  pembatasan jabatan ketua umum hanya satu periode untuk memperlancar proses regenerasi yang disampaikan oleh Saifullah Yusuf. "Sudah saatnya jabatan ketua umum GP Ansor itu hanya satu periode, biar proses regenerasi  berjalan cepat," begitulah kata Ketua Umum GP Ansor dua periode itu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Wacana pertama itu dapat dimafhumi oleh semua kalangan dengan harapan agar terjadi perbaikan dalam proses kaderisasi kepemimpinan dalam tubuh Ansor. Tapi tidak halnya dengan wacana kedua yang dinyatakan oleh Saifullah Yusuf bahwa hanya kalangan anggota DPR dan memiliki modal besar saja yang pantas menjadi nahkoda GP Ansor yang baru. Pernyataan ketua umum yang akan segera usai masa pengabdiannya itu sangat disayangkan oleh berbagai kalangan, meski hanya Banserlah yang secara formal berani mengambil langkah tegas dengan mengeluarkan pernyataan sikap mengecam pernyataan ketua umum GP Ansor itu. Menurut Tatang Hidayat, ketua Satkornas Banser pernyataan itu seakan secara sengaja ingin mendorong kongres Ansor menjadi forum transaksional pragmatis dengan kepentingan politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih menyambung dengan apa yang diwacanakan Saifullah Yusuf, PBNU melontarkan wacana ketiga menjelang kongres Ansor dengan menyatakan agar partai politik tidak melakukan intervensi dalam kongres GP Ansor, mengingat banyaknya politisi yang turut meramaikan bursa pencalonan ketua umum GP Ansor. Meskipun demikian PBNU tidak merasa keberatan dengan hadirnya para politisi partai itu dalam persaingan kandidat ketua umum Ansor, asalkan mereka tetap mengedepankan kepentingan NU dan Ansor, bukan kepentingan politik partai mereka.  Selain itu ketua PBNU, Said Aqil Siradj, juga mengingatkan para peserta kongres agar  menjaga independensi, termasuk menjauhkan diri dari pengaruh money politics. “Jangan juga (kongres) dikotori dengan politik uang”, demikian ujar ketua PBNU. Hal yang sama juga disampaikan oleh mantan ketua PBNU Salahuddin Wahid (Gus Sholah) yang mengatakan “terserah siapa saja (ketua umum  Ansor), asal jangan main uang”. Semua tokoh-tokoh NU itu rupanya merasa khawatir  akan adanya kemungkinan turut bermainnya kepentingan partai politik melalui cara-cara kotor seperti politik uang itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan kongres-kongres sebelumnya, Kongres GP Ansor ke-14 ini adalah kongres yang banyak mendapat perhatian publik. Setiap hari hampir semua media cetak di Jawa Timur  juga beberapa media cetak nasional terus memberitakan perkembangan kongres GP Ansor. Banyak faktor yang menyebabkan hal itu terjadi, hadirnya presiden SBY dalam pembukaan kongres dan mendapatkan liputan yang serius dari media, mungkin bisa menjadi salah satu faktornya. Selain itu, hadirnya para politisi partai yang berpengaruh dalam bursa pencalonan ketua umum juga menjadi salah satu penyebabnya. &lt;br /&gt;Nama-nama seperti Chatibul Umam Wiranu (Demokrat) yang dianggap mendapat dukungan dari Cikeas, Nusron Wahid (Golkar) yang disinyalir mendapatkan dukungan dari Golkar, Malik Haramain dan Marwan Ja’far yang mendapat dukungan dari PKB, Syaifullah Tamliha politisi PPP, serta beberapa nama politisi lainnya semakin memperkuat adanya persaingan kekuatan partai-partai politik dalam arena kongres. Santer berhembus kongres Ansor adalah persaingan antara Demokrat dan Golkar, lalu bergeser menjadi persaingan antara Cikeas dan Bakrie! Keduanya disinyalir sedang memburu posisi nahkoda baru organisasi pemuda NU itu untu kepentingan politik mereka di masa depan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua media menuliskan analisanya masing-masing, berdasarkan isu atau informasi yang beredar di seputar arena kongres dan tentunya berdasarkan kepentingannya masing-masing pula. Beberapa informasi yang mereka tuliskan ada yang terkesan tak masuk akal, berpihak kepada salah seorang kandidat  tertentu, atau bahkan ingin “membunuh karakter” salah seorang kandidat tertentu. Tapi isu paling penting yang direkam oleh media pada hari pertama  jalannya kongres adalah isu politik uang yang mulai merebak hingga keluar arena kongres. Tidak dapat dipungkiri apa yang disinyalir media itu memang benar-benar terjadi, meski tidak sebombastis dan fantastis yang mereka tuliskan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi pemuda seperti GP Ansor bagaimanapun tidak akan bisa lepas dari praktek persaingan politik kotor semacam itu. Sebagaimana kita ketahui, pada perkembangan politik Indonesia mutakhir, politik uang dengan berbagai dalihnya, telah bekerja dengan baik dalam praktek pengorganisasian massa di tanah air atau praktek politik dukung-mendukung terhadap tokoh tertentu. Apapun bentuk organisasinya dan dalam lingkungan mana pun mereka berorganisasi, apa yang disebut dengan politik uang itu telah menjadi semacam kompromi bersama dalam batas-batas tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi isu politik uang itu, Saifullah Yusuf dengan yakin mengatakan bahwa gerakan politik uang di Kongres Ansor itu tidak akan membuat jalan seorang  kandidat menjadi mulus. Sebaliknya mereka terancam kerugian ganda, yaitu kehilangan uang dan kalah dalam pemilihan. Saifullah mengatakan “Ketua-ketua Ansor itu pintar-pintar semua. Makanya kalau mendekati mereka dengan uang, kandidat malah bisa rugi besar”. Kemudian ia juga menepis tudingan bahwa kandidat yang muncul dalam bursa pemilihan ketua umum Ansor adalah para pemain politik yang biasa menggunakan kekuatan uang. “Semua kandidat punya reputasi dan prestasi cukup baik. Lagi pula masak ada kader Ansor sampai membawa Rp 100 miliar”, begitu tuturnya. Saifullah beranggapan bahwa berkembangnya isu-isu panas itu menandakan ketatnya persaingan merebut kursi ketua umum GP Ansor.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu dalam menanggapi adanya isu politik uang itu beberapa kader Ansor yang turut dalam meramaikan bursa pencalonan ketua umum, seperti Munawar Fuad misalnya, secara diplomatis mengatakan jika gelontoran uang 100 milar rupiah itu memang ada, maka uang itu terlalu kecil untuk dapat membeli GP Ansor. Sebab eksistensi GP Ansor tak tertandingi dengan nilai uang itu, mengingat organisasi ini mempunyai peran yang besar dan dapat mempengaruhi kondisi politik nasional. Lain halnya dengan Chatibul Umam Wiranu yang mempunyai pendapatnya sendiri tentang money politics. Kepada media massa Umam  mengatakan ”Pengertian money politics harus diperluas. Para perwakilan DPC dari daerah, jelas butuh uang untuk transportasi”.  Dalam konteks itulah Umam melihat suatu kewajaran terjadinya money politics dalam forum seperti kongres Ansor tersebut. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk menekan adanya isu money politics dalam bursa pencalonan ketua umum, Saifullah Yusuf sesaat setelah dinyatakan Laporan Pertanggung Jawaban-nya diterima, segera menyerukan kepada para kandidat untuk menggunakan cara-cara yang sehat dan tidak menggunakan politik uang. “Sebab, itu (politik uang) nanti akan merusak Ansor. Saya berharap, ada deklarasi damai dan tak menggunakan politik uang oleh para calon”,demikian kata Ketua Umum GP Ansor demisioner itu.  Sementara itu forum kongres terus memanas, puncaknya terjadi pada hari Minggu, 16 Januari 2011, dimana masing-masing pendukung kandidat melakukan aksi jegal-menjegal melalui penetapan PD/PRT yang membahas syarat pencalonan ketua umum.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan pertama adalah soal batasan usia. Sebagian peserta ingin usia maksimal bagi calon ketua umum adalah 40 tahun. Batasan itu sesuai dengan hasil Muktamar NU di Makassar, Maret 2010. Namun demikian, jika usulan ini disetujui oleh forum kongres maka beberapa kandidat seperti Chotibul Umam Wiranu, Syaifullah Tamliha dan Choirul Saleh akan terdepak dari bursa pencalonan, karena usia mereka di atas 40 tahun. Sementara itu Nusron Wahid, Marwan Ja’far dan Munawar Fuad akan diuntungkan oleh penetapan batas  usia itu.  Tidak  mau kalah dengan manufer itu, kubu yang lainnya mulai mewacanakan bahwa  syarat ketua umum GP Ansor adalah harus pernah menjabat sebagai pengurus pusat dan pengurus harian GP Ansor. Dengan syarat itu maka kandidat seperti Nusron, Syaifulah Tamliha dan Marwan otomatis akan terjegal karena tidak pernah menjabat sebagai pengurus harian atau pengurus pusat GP Ansor.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi terus memanas dan dalam forum kongres segera terlihat bahwa persaingan untuk merebut nahkoda GP Ansor periode mendatang mengerucut kepada dua nama, yaitu Chatibul Umam dan Nusron, Demokrat dan Golkar! Untuk menenangkan situasi yang terus memanas itu, maka Saifullah Yusuf mengatakan kepada media bahwa dirinya selaku ketua umum demisioner akan berinisiatif mengumpulkan semua kandidat sebelum acara pemilihan. Ia akan meminta para kandidat membuat pernyataan bersama untuk siap menang dan siap kalah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan sebagai pengurus pusat dan harian GP Ansor akhirnya mencapai kompromi, tapi tidak demikian dengan syarat batasan usia. Hingga minggu malam, 16 Januari 2011, perdebatan tentang batas usia itu belum menemukan titik temu. Sebagai solusi dari kebuntuan itu ketua umum PBNU, Said Aqil Siradj, datang ke arena kongres untuk memberikan penjelasan bahwa aturan batasan usia maksimal 40 tahun untuk anggota GP Ansor berlaku pada kongres berikutnya. Karena itu, kongres kali ini masih diperbolehkan kandidat melebihi usia 40 tahun. Dengan penjelasan langsung ketua PBNU itu barulah kongres berlangsung kembali, melanjutkan kepada detik-detik pemilihan ketua umum GP Ansor periode 2011-2016. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melewati forum yang sangat alot, terus memanas, dan  hingga hampir ricuh, akhirnya prosesi pemilihan Ketua Umum PP GP Ansor dilangsungkan pada dini hari Senin, 17 Januari 2011. Hasil putaran pertama pemilihan ketua umum, ternyata benar-benar di luar dugaan. Sinyalemen media bahwa akan terjadi persaingan ketat antara Umam dan Nusron, Demokrat dan Golkar, akhirnya tidak terbukti! Di pagi hari itu, setelah pemilihan putaran pertama, Umam diiringi para pendukungnya tertunduk lesu meninggalkan arena kongres. Ia tak tertarik lagi menyaksikan pemilihan putaran kedua, karena harus terdepak diputaran pertama dengan perolehan 40 suara, jauh dari batas minimal yang ditentukan untuk melaju ke putaran berikutnya, yaitu 99 suara. Sementara itu Nusron memimpin di putaran pertama dengan perolehan 257 suara disusul oleh Marwan, politisi PKB, yang memperoleh 183 suara. Beberapa suara tercecer untuk Syaifullah Tamliha (PPP) sejumlah 24 suara, Munawar Fuad 3 suara, Choirul Saleh 1 suara, Malik Haramain 1 suara, dll.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hasil putaran pertama itu, Nusron Wahid, politisi partai Golkar, akhirnya bersaing dengan Marwan Ja’far, politisi PKB, yang dua-duanya selama ini selalu mendapatkan pemberitaan negative  dari media massa. Dengan tampilnya kedua orang kader NU itu, setidaknya telah menepis tudingan sebelumnya bahwa Kongres GP Ansor ke -14 adalah ajang perebutan kekuasaan antara Cikeas dan Bakrie atau Demokrat dengan Golkar. Dalam pemilihan putaran kedua, Nusron akhirnya menang telak dengan memperoleh 345 suara, sedangkan Marwan memperoleh 161 suara, berkurang dari perolehannya pada putaran pertama. Dengan kemenangan itu, Nusron Wahid, mantan ketua umum PB PMII itu akhirnya menjadi nahkoda baru bagi GP Ansor untuk periode 2011-2016.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum Kongres GP Ansor ke-14 di Surabaya berjalan dengan baik. Kongres kali itu adalah kongres yang paling banyak diikuti oleh tokoh-tokoh muda NU untuk maju sebagai nahkoda utama bahtera pemuda-pemuda NU. Meski sempat mengalami beberapa ketegangan, tapi tidak ada kericuhan yang berarti selama kongres berlangsung. Semua peserta benar-benar menerima hasil kongres dengan lapang dada. Meskipun sebelum acara penutupan sudah banyak peserta yang pulang, hal itu terjadi bukan karena kekecewaan seperti yang dilansir oleh media massa. Pasalnya, kongres pada hari minggu berjalan molor, terjadi beberapa deadlock, padahal beberapa peserta telah memesan tiket kepulangan mereka ke daerah masing-masing untuk hari senin. Jadi yang terjadi adalah hal teknis biasa, bukan kekecewaan atau ketidak-puasan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan menurut Saifullah Yusuf, mantan ketua umum GP Ansor selama dua periode, kongres ke -14 itu adalah kongres terbaik. Semua kandidat bisa maju, tidak ada yang diganjal usia atau dibatasi harus pernah jadi pengurus Pimpinan Pusat. Sambil bergurau, Saiful mengatakan di hadapan publik Ansor pada saat pidato penutupannya, bahwa saking baiknya kongres ini “bahkan yang sudah mundur saja, masih mendapat suara dalam pemilihan”, begitu selorohnya. Tidak hanya itu Saiful juga menilai bahwa persaingan antar kandidat berlangsung sangat fair, meski terkadang memanas. Selain itu pemilihan Ansor juga digelar secara sangat terbuka, siapa pun dapat dengan leluasa mengikuti jalannya pemilihan ketua hingga usai.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kenapa harus NW?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terpilihnya Nusron Wahid sebagai Ketua Umum GP Ansor  periode 2011-2016 sudah banyak diprediksi oleh berbagai kalangan. Tidak hanya karena pengalaman kader muda NU itu dalam politik partai nasional, yaitu Golkar. Tapi juga karena kedekatannya dan kepiawaiannya dalam menjalin komunikasi dengan berbagai tokoh dan kalangan dalam lingkungan NU. Sebelumnya pada periode 2000 – 2003 Nusron pernah menjabat sebagai Ketua Umum PB PMII. Itu adalah karir pertamanya dalam dunia NU secara nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu dalam kongres Ansor ke -14 yang lalu, diakui oleh sejumlah peserta bahwa tim suskes Nusron lebih agresif dibandingkan dengan tim dari kandidat lainnya. Bersama timnya, Nusron dikenal lebih egaliter, ramah, dan mudah ditemui oleh para pimpinan cabang GP Ansor. Semua cabang merasa diperlakukan sama oleh Nusron, tidak ada yang ditutup-tutupi. Hal ini berbeda dengan beberapa kandidat lainnya yang lebih terkesan terlalu protokoler, dan susah ditemui oleh para pimpinan cabang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut salah seorang pimpinan cabang Ansor dari daerah, cara dan perlakuan seperti itulah yang mendatangkan simpati cabang-cabang kepada Nusron. Jadi persoalan memilih bukan karena bantuan material semata atau apapun yang selama ini disebut sebagai money politics. Menurut mereka semua kandidat berlaku sama, menggunakan money politics dalam melakukan pendekatan kepada cabang-cabang meski dengan berbagai istilah yang berbeda, seperti uang transport, sodaqoh ataupun bantuan operasional. Tapi bukan hal itu yang menentukan kemenangan seorang kandidat, tapi lebih pada sikap dan apa tujuan, visi dan misi yang akan dijalankan oleh sang nahkoda pada saatnya nanti.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat setelah terpilih sebagai Ketua Umum GP Ansor, dalam acara penutupan kongres, Nusron Wahid mengawali kepemimpinannya dengan suatu pidato kemenangan yang sangat meyakinkan para pemuda Ansor. Berikut beberapa petikan dari pidato itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saudara-saudara sekalian peserta kongres yang saya hormati, pada hari ini kita akan mengawali sebuah perjalanan baru, yang ini bukan akhir, tapi ini adalah awal dari kita yang ingin menatap masa depan. Oleh karena itu, dalam pidato kemenangan ini atau pidato terpilihnya saya sebagai ketua umum, kami ingin tegaskan bahwa setelah kongres ini kita bersama-sama membangun basis gerakan Ansor di daerahnya masing-masing.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita akhiri pertikaian-pertikaian dan konflik-konflik yang terjadi selama kongres ini. kita tidak akan lagi ada kelompok-kelompok di dalam menjalankan organisasi. Meskipun kemarin banyak kandidat, tidak akan ada lagi friksi-friksi maupun dendam ataupun kesumat dalam rangka menjalankan roda organisasi. Maka itu,  pertama saya ucapkan terima kasih sekali, yang pertama kepada sahabat Saifullah Yusuf selaku penangggung jawab Kongres ke-14 di Surabaya ini, yang kedua kepada semua peserta kongres, pertama adalah mereka yang melakukan dukungan dan amanah kepada kami, yang kedua kepada seluruh peserta kongres, baik yang mendukung maupun tidak, baik yang terlibat sebagai peseta maupun tidak….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sahabat-sahabat sekalian, saya yakini lima tahun mendatang kita banyak tantangan, lima tahun mendatang kita akan mengalami masa-masa kerja. Tahun 2014 bukan tujuan. Sekali lagi, tahun 2014 bukan tujuan. Politik itu adalah sah, tapi perjuangan Gerakan Pemuda  Ansor tidak hanya perjuangan politik, tapi perjuangan Gerakan Pemuda Ansor adalah perjuangan gerakan kultural kebudayaan dalam rangka membangun masyarakat Indonesia yang lebih baik….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sahabat-sahabat sekalian, Nahdlatul ulama sebagai organisasi induk kita yang mempunyai misi Islam ahlus sunnah wal jama’ah, yang berbasis inklusif, yang menjadi ciri khas Islam di dunia merupakan Islam yang akan menjad prototype  dalam pembentukan karakter ke-Indonesiaan maupun karakter Islam inklusif di dunia. Maka itu sahabat-sahabat sekalian, masa depan Ansor mendatang tidak hanya menentukan arah perjalanan bangsa Indonesia tapi akan menentukan arah perjalanan bangsa di dunia.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sahabat-sahabat sekalian, pada saat ini dunia telah bergerak ke arah Timur, dulu peradaban Barat, tapi sekarang bergerak ke arah Timur. Islam menjadi satu-satunya alternative. Apalagi Islam di Indonesia adalah Islam yang menerima perbedaan, Islam yang toleran, Islam yang inklusif dan Islam yang memahami karakter dan paradigma-paradigma demokratis. Dan saya yakin Gerakan Pemuda Ansor akan menjadi komponen utama dalam rangka membangun dan membawa agama dan bangsa Indonesia menjadi bagian dari peradaban dunia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saat ini hanya ada peradaban Barat, peradaban Arab, peradaban Cina, peradaban Rusia, tapi belum ada peradaban Indonesia yang diperhitungkan dalam panggung internasional. Bersama dengan akhlak dan akal budi serta dengan cita-cita dan paradigm internasional dan ke NU-an. Saya yakin dengan bimbingan para a’wan dan bimbingan para kyai dan para intelektual, kita tidak akan sekedar bicara dalam konteks ke-Indonesiaan saja, tapi juga bicara dalam konteks-konteks Internasional…….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Para hadirin, kita akan usung dalam konteks menggunakan paradigm urut kacang. Kalau pada level-level jabatan elite politik kita harus memberikan kepada pihak-pihak yang paling mumpuni. Maka kalau pada masa yang akan datang, yang paling mumpuni adalah sahabat Saifullah Yusuf, maka kita semua harus dengan ikhlas mengusung beliau untuk menjadi salah satu pemimpin nasional. Sekali lagi saya katakana, diantara kita jangan ada lagi friksi-friksi diantara kita. Kita sebagai anak muda NU, mohon maaf, sudah capek, sudah lelah dengan pertikaian-pertikaian dan dengan berbagai konflik yang terjadi dalam masyarakat NU.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangsa Indonesia membutuhkan NU, tapi NU-nya makin hari makin tidak diminati oleh masyarakat, karena ibarat rumah seperti kosong karena penghuninya pada keluar karena rumahnya kotor. Karena itu wajib tugasnya bagi Gerakan Pemuda Ansor untuk membenahi rumah besar kita, yaitu jam’iyyah NU. Sehingga jam’iyyah NU kembali menjadi payung besar bagi umat Islam Indonesia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhirul kalam, dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, maka pada pidato yang pertama kami ini, pertama yang ingin kami sampaikan adalah pesan sebagai berikut: Setelah kemenangan ini, kami minta jangan dukung saya, tapi kritiklah saya. Dan yang kedua adalah tagihlah janji-janji program saya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kutipan pidato kemenangan yang disampaikan oleh Nusron Wahid pada forum penutupan Kongres GP Ansor ke-14 di Surabaya. Ada beberapa poin penting yang perlu digaris-bawahi dari janji-janji yang ia sampaikan, antara lain adalah membangun basis-basis Ansor di daerah, membawa Ansor kepada perjuangan cultural, mewujudkan Islam Indonesia yang insklusif dan toleran, membawa Ansor untuk berbicara dalam forum-forum dunia, membenahi NU dan menghentikan pertikaian antar warga NU, khususnya dalam bidang politik, dengan cara memberikan kesempatan dan dukungan kepada kader NU dan Ansor yang mumpuni untuk muncul sebagai figure pimpinan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa janji yang disampaikan dalam pidato kemenangan itu juga diperkuat dengan keterangan Nusron  kepada beberapa media. Sebagian besar apa yang direkam oleh media terkait dengan pendapat yang disampaikan Nusron Wahid adalah soal hubungan Ansor dan politik serta hubungan Ansor dengan NU.   Terkait dengan politik Nusron menjanjikan:&lt;br /&gt;1. Mengubah citra Ansor agar tidak dianggap sebagai organisasi kemasyarakatan pemuda politik (OKP politik). Perubahan citra itu tidak hanya dilakukan dengan pernyataan, tapi juga tindakan. Di bidang politik, kader-kader Ansor selama ini belum disiplin, kapan berpolitik, kapan berjam’iyah Ansor, sehingga Ansor tercitrakan sebagai OKP politik.  &lt;br /&gt;2. Nusron tegas menyatakan Kalau kader Ansor akan berpolitik maka hendaknya melepas atribur Ansor. Sangat tidak mungkin bagi Nusron untuk melarang kader Ansor terjun ke dunia politik, karena justru Ansor harus mendorong kadernya untuk masuk di berbagai jaringan, termasuk parpol. Karena parpol adalah tempat pengkaderan pemimpin nasional, jadi melarang anggota Ansor masuk parpol sama halnya mencegah kader Ansor menjadi pemimpin nasional. &lt;br /&gt;3. Nusron Wahid menegaskan bahwa ia tidak akan membawa Ansor ke politik, Ia tidak akan menyeret lembaga Ansor untu dukung mendukung kepada calon tertentu pada pilpres mendatang. Nusron menjamin dirinya tidak akan membuat Ansor berwarna politik, baik kuning, biru, hijau atau yang lainnya. Pilihan politik akan diserahkan kepada individu, Ansor tidak akan mengurusi politik.  &lt;br /&gt;4. Kader Ansor harus bisa mewarnai kehidupan politik maupun birokrasi di semua pemerintahan, baik di tingkat daerah maupun nasional. Menurut Nusron, prinsipnya Ansor adalah insan pengabdi di levelnya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun soal hubungan dengan NU, Nusron menjanjikan:&lt;br /&gt;1. Nusron berjanji akan menyinergikan fungsi dan tugas Ansor, baik di masyarakat maupun harmonisasi dengan NU. Sinergi di kalangan NU itu memang kerap kali mengalami kesulitan, tapi itu indah, dan sinergi itulah yang akan menjadi salah satu target perbaikan dan penguatan  Ansor di bawah kepemimpinan Nusron. Ia menampik kekhawatiran kan berlanjutnya ketegangan Ansor-NU.&lt;br /&gt;2. Nusron berjanji akan merangkul pihak-pihak yang tersingkir dalam kongres, meskipun hal itu hanya bersifat ajakan dan yang diajak bisa saja menolak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun menang dalam kongres dengan cara yang meyakinkan dan diikuti pula dengan berbagai rencana yang cukup baik, tapi beberapa kalangan masih banyak menyangsikan atau pesimis dengan janji perubahan yang akan dibawa oleh Nusron. Tapi jika kita kembali kepada apa yang diucapkan Nusron dalam pidato kemenangannya, justru kritik itulah yang ia ingin dapatkan dari berbagai kalangan pada awal kepemimpinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi beberapa kalangan, kemenangan Nusron antara lain adalah bukti lemahnya sistem kaderisasi dalam GP Ansor. Karena dianggap tidak mempunyai pengalaman dalam organisasi Ansor, baik dalam level pengurus pusat atau pengurus harian, kemunculan Nusron dianggap tiba-tiba dan langsung menjabat sebagai orang nomor satu. Hal ini menurut Munawar Fuad menimbulkan kesan asal punya modal bisa langsung melejit ke jajaran pemimpin organisasi. Jika pola tersebut dipertahankan, maka dikhawatirkan akan menyakiti kader yang susah payah berjuang dari level bawah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhawatiran kedua, adalah adanya efek negative bagi Ansor, yaitu hilangnya independensi organisasi, karena status Nusron sebagai seorang politisi Golkar. Banyak kalangan yang tetap khawatir jangan-jangan Ansor akan dijadikan sebagai mesin politik partai Golkar. Meskipun secara teori memang tidak mungkin membawa Ansor menjadi satu warna politik, mengingat para anggota Ansor sendiri mengikuti beragam warna politik, tapi tarikan-tarikan politik yang akan diterima Ansor akan lebih kuat dan tak terhindarkan mengingat kedudukan sang nahkoda sebagai seorang politisi. Dalam hal ini Nusron berjanji bahwa dirinya pada tahun 2014 nanti tidak akan terjun lagi ke politik praktis.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan janji Nusron itu, Wakil Rais Aam Nahdlatul Ulama (NU), KH Musthofa Bisri (Gus Mus) menyarankan agar Ketua Umum Ansor terpilih menon-aktifkan diri dari partai politik dan sepenuhnya mengurus Ansor. Langkah itu menurut Gus Mus akan lebih baik dan lebih sesuai dengan khittah NU. “Kalau berani, keluar dari parpol dan hanya ngurus Ansor. Saya kira itu lebih ideal,” demikian dawuh Kiai pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, Jawa Tengah itu. Selain itu Gus Mus juga mengatakan bahwa janji tidak membawa Ansor ke politik tidak cukup. Karena itu bisa saja retoris. “Janji juga untuk tidak membawa politik ke Ansor gak?” tanya Gus Mus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah beberapa kritik, saran dan nasehat yang harus menjadi perhatian nahkoda Gerakan Pemuda Ansor di masa yang akan datang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;daftar pustaka:&lt;br /&gt;dari berbagai sumber&lt;br /&gt;* naskah ini akan segera dibukukan...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7473472176854231904-8507844152508710008?l=pekerjamuseum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/feeds/8507844152508710008/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7473472176854231904&amp;postID=8507844152508710008&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/8507844152508710008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/8507844152508710008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/2011/02/catatan-kongres-ansor-ke-14-dari-sy.html' title='Catatan Kongres Ansor ke 14: Dari SY kepada NW'/><author><name>Erwien To'tiL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16127221575751256267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/Sz4AfMOICqI/AAAAAAAAAQc/ljCFJ8iJQbE/S220/PB210370.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ekUYAf5w1aY/TV43joMk_KI/AAAAAAAAAS4/7J_XhH5kAKg/s72-c/Kngres%2B14%2Bansr.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7473472176854231904.post-32318922020507184</id><published>2010-09-30T23:19:00.000-07:00</published><updated>2010-09-30T23:30:00.775-07:00</updated><title type='text'>Ansor hingga titik 73 Tahun.....</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/TKV-gCaVJCI/AAAAAAAAASc/jYOQ73jFzGA/s1600/bansernu.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 215px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/TKV-gCaVJCI/AAAAAAAAASc/jYOQ73jFzGA/s320/bansernu.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5522959606908003362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bersama PKB&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Setelah tumbangnya pemerintahan Orde Baru, semua kekuatan politik segera bergegas mendirikan partainya masing-masing. Tak ketinggalan kalangan NU. PPP bukan lagi menjadi satu-satunya pilihan dan semangat kembali ke khittah 1926 mendapatkan ujian baru pada masa reformasi ini. Akhirnya pada 23 Juli 1998 PBNU kepemimpinan Gus Dur mendeklarasikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai partai yang akan menghimpun aspirasi politik warga NU. Partai itu dipimpin oleh Matori Abdul Jalil aktivis NU yang aktif di PPP dan pernah menjabat sekjen partai itu pada era sebelum 1990. Abdurrahman Wahid sendiri dalam struktur pertama PKB hanya duduk sebagai deklarator bersama beberapa kiai, seperti KH Ilyas Ruhiyat, KH Munasir Ali, KH A Mustofa Bisri dan KH Muchit Muzadi.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengomentari bagaimana hubungan NU dengan PKB secara organisatoris,  sebagai ketua PBNU Gus Dur mengatakan bahwa tidak ada hubungan organisatoris antara PKB dan NU, meskipun kelahiran PKB difasilitasi PBNU. Selain itu, secara pribadi jamaah NU “masih” bebas menentukan pilihan politik seperti yang dijamin Khittah 1926. Dalam suatu pembukaan Rakornas GP Ansor di kediamannya di Ciganjur pada Februari 1999, Gus Dur mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"PB NU hanya membuatkan tempat di PKB bagi warga NU yang ingin berpolitik, mengingat jumlah partai yang muncul begitu banyak. Tetapi, secara individu warga NU bebas menentukan pilihan. Iqbal yang Ketua Umum PP GP Ansor saja masih anggota Golkar."&lt;/span&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut Gus Dur, konsisten dengan pendapatnya terdahulu, PB NU melarang seseorang merangkap jabatan di PKB dan NU. Seorang pengurus harus memilih salah satu, NU atau PKB. Ini ditempuh agar tidak ada tumpang tindih yang nantinya akan sangat merugikan gerak langkah PKB dan NU. Dengan demikian PKB harus berupaya sendiri, membesarkan dirinya. NU hanya mendirikan dan memberi fasilitas dan dukungan. PKB menurut Gus Dur adalah organisasi politik yang terbuka bagi hadirnya orang di luar Islam.  Maka tampaklah benar-benar bahwa PKB merupakan partai yang mengusung pandangan dan pemikiran Abdurahman Wahid sedari dulu, kental dengan semangat toleransi, pluralism dan gaya demokrasi non religius.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana disebutkan oleh pernyataan Gus Dur di atas, GP Ansor di bawah kepemimpinan Iqbal masih bernuansa Golkar, karena itu susah sekali menemukan kontribusi Ansor dalam pembentukan PKB. Meskipun Ansor masih tetap sebagai anak NU, tapi kedekatan anak dan bapak itu belum tuntas, karena sang anak masih sibuk dengan kiprahnya sendiri, paling tidak itulah yang terlihat dari figur kepemimpinan Iqbal. Barulah setelah Syaifullah Yusuf terpilih sebagai pejabat Ketua Umum GP Ansor, visi Ansor sebagai anak anak NU secara perlahan mulai bergeser kembali mendekat kepada visi PBNU kepemimpinan Gus Dur. Nuansa Golkar yang kental selama hampir 15 tahun dalam tubuh Ansor mulai terkikis sedikit demi sedikit. Namun demikian, Syaifullah Yusuf sendiri juga tidak terlibat dalam PKB, ia dikabarkan dekat dengan Megawati dan diakui sebagai kader PDI Perjuangan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi pemilu 1999, pemilu pertama kali yang akan diadakan pada era Reformasi, di Indonesia muncullah 48 partai politik yang siap mengikuti pemilu. Meskipun demikian hanya lima partai politik  yang  muncul sebagai partai utama dalam masa itu, yaitu Partai Amanat Nasional (PAN) dengan Amien Rais sebagai penggeraknya, kemudian PKB dengan Gus Dur sebagai tokohnya, PDI Perjuangan yang mengusung Megawati Sukarnoputri,serta dua partai lama yaitu PPP dan Golkar yang masih terus bertahan dalam Orde Reformasi. Pada saat itu Golkar berusaha bertransformasi menjadi Golkar baru yang akan memupus berbagai warisan Soeharto dan secara terbuka meminta maaf kepada publik atas segala dosa politik mereka di masa lampau.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat  pemilu 1999  adalah hajatan yang besar dan cukup penting bagi bangsa Indonesia, GP Ansor langsung mengambil sikap dengan menyerukan kepada seluruh warga Ansor beserta bansernya untuk berjihad mengamankan jalannya Pemilu 1999, Sidang Umum (SU) MPR, dan proses pembentukan pemerintahan baru. GP Ansor berpendapat jihad untuk membentengi tiga agenda nasional itu dipandang sebagai sebuah kewajiban moral dan perwujudan rasa tanggung jawab segenap warga Ansor pada nasib dan masa depan bangsa. Seruan jihad bukan karena adanya kepentingan sesaat ataupun maksud politik tertentu tetapi lebih dilatari maksud dan tujuan mulia sebagai pemuda bangsa. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam suatu pidatonya pada saat pembukaan Konferensi Wilayah IV GP Ansor Sulteng di Palu, April 1999, salah seorang ketua GP Ansor mengatakan: &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Saya menyerukan jihad, mengingat nilai strategis penyelenggaraan Pemilu 1999 dan adanya upaya-upaya untuk menggagalkannya. Jihad yang dimaksud adalah berjuang sungguh-sungguh mewujudkan sebuah pemerintahan baru yang demokratis. Perjuangan tersebut mutlak ditempuh lewat pemilu yang jujur dan adil (Jurdil)  serta demokratis, SU MPR yang lancar dan demokratis, serta proses munculnya pemimpin nasional yang aspiratif dan demokratis" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ketiga agenda nasional ini tentu tidak mudah diwujudkan, karena jauh sebelumnya sudah muncul upaya-upaya untuk menggagalkan pemilu. Akhir-akhir ini gerakan tersebut semakin tampak kasat mata. Gerakan ini harus dihadapi warga Ansor beserta bansernya. Itu jelas dilakukan oleh kelompok masyarakat yang tidak menghendaki adanya perubahan politik ke arah yang lebih demokratis, karena akan menggusur mereka dari tampuk kekuasaan."  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menghadapi pemilu 1999, GP Ansor mempunyai sikap politik yang membebaskan seluruh warganya menentukan pilihan politiknya. GP Ansor berusaha tetap berdiri dan konsisten pada posisi yang tidak berafiliasi politik ke partai mana pun. Hal itu mereka tempuh karena menyadari bahwa aspirasi politik para pemuda Ansor juga amat beragam. Ada kalanya sebagian dari pemuda Ansor di wilayah tertentu agak dekat dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), atau di suatu tempat dekat dengan Golongan Karya (Golkar), atau di tempat lain dekat dengan Partai Nahdlatul Ummat (PNU). Melihat fenomena itu, sikap politik yang terbaik bagi Ansor adalah netral secara organisatoris tapi memberikan kebebasan anggotanya untuk menentukan pilihannya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih tidak mendukung partai politik tertentu, beberapa Ansor wilayah secara resmi menyatakan dukungannya Gus Dur untuk maju sebagai pimpinan nasional. Misalnya Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Tengah mendesak DPW PKB Jateng segera menyampaikan usulan kepada DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) agar mencalonkan Ketua Umum PBNU, KH Abdurrahman Wahid, sebagai calon Presiden ke-4 RI dalam Pemilu 1999. Alasannya, GP Ansor Jateng menilai Gus Dur adalah figur pemimpin bertaraf internasional. Hal itu dikemukakan Ketua GP Ansor Jawa Tengah secara terbuka di hadapan pers nasional.   Sikap dukungan terhadap Gus Dur ini, dari awal telah ditunjukkan Ansor ketika sekitar 200 anggota Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) mendatangi gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jl Imam Bonjol Jakarta, pada September 1999. Mereka mengecam penolakan KPU atas pencalonan Abdurrahman Wahid sebagai utusan golongan dari Nahdlatul Ulama (NU). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil melantunkan Shalawat Badar, mereka mengacungkan poster-poster dan spanduk yang mendukung pencalonan Gus Dur. "Menolak Gus Dur berarti melukai warga NU", "Kami Siap Berjihad Bela Gus Dur", demikian antara lain bunyi poster yang mereka bawa. GP Ansor menganggap, penolakan tersebut tindakan KPU yang konyol karena sebelumnya KPU  telah memutuskan siapa yang berhak duduk dalam utusan golongan MPR, tetapi belakangan menolak calon yang diputuskan NU.  Pada saat itu pemilu 1999 baru saja usai dan PKB berhasil menduduki posisi empat besar dalam perolehan suara, setelah  PDI Perjuangan, Golkar, dan PPP. Dengan hasil itu, tampaknya ambisi untuk membawa Gus Dur sebagai figur pimpinan nasional mulai timbul dalam diri warga NU, tak terkecuali para pemuda Ansor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dukungan itu tak sia-sia, dalam Sidang MPR, Oktober 1999, melalui manuver politiknya yang didukung oleh kalangan Islam di luar NU, Abdurrahman Wahid berhasil menyisihkan Megawati Soekarnoputri dan menjadi Presiden RI yang ke empat. Sebagai partai pemenang pemilu PDI Perjuangan merasa dirugikan karena yang terpilih sebagai presiden justru berasal dari partai pemenang keempat, yaitu PKB. Para pendukung PDI Perjuangan bereaksi marah dan melakukan demonstrasi pada setiap wilayah basis mereka. Meski kemarahan itu tak berlangsung lama, karena terus mereda dengan terpilihnya Megawati sebagai wakil Presiden mendampingi Abdurrahman Wahid.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suasana kemenangan itulah, GP Ansor akhirnya menyelenggarakan Kongres ke-12 GP Ansor di Wisma Haji Donohudan, Boyolali,  Jawa Tengah, pada 28 Juni-2 Juli 2000. Dalam sambutan sebelum pelaksanaan kongres, Ketua Umum PBNU yang baru terpilih menggantikan Gus Dur, KH Hasyim Muzadi menyampaikan tiga pesan berkaitan dengan kongres Ansor itu, yaitu agar Ansor melakukan konsolidasi organisasi yang harus sejalan dengan PBNU, para kandidat  hendaknya menghormati mekanisme dan aturan pemilihan, serta mengkaji  posisi Ansor di dalam tubuh NU dan di masyarakat. Terkait dengan hal yang terakhir ini, PBNU merasakan adanya kelemahan organisasi NU dalam menjalankan sistem koordinasi yang baik. Itulah titik  lemah keluarga besar NU yang dirasakan oleh PBNU. Maka dalam kongres itu Ansor diminta untuk turut memikirkan pola, mekanisme, serta model koordinasi di dalam keluarga besar NU. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Syaifullah Yusuf, pejabat sementara Ketua Umum GP Ansor, mengatakan, selain meneguhkan kembali peran kemasyarakatannya, dalam kongres itu Ansor juga akan membahas masalah internal yang terkait dengan kehidupan publik. Diantaranya soal penataan Barisan Serba Guna (Banser) yang menjadi sorotan publik. Hal senada juga diutarakan oleh Ahmad Bagja, salah seorang ketua PBNU yang mengatakan perlunya dikaji mengenai arah dan tindakan Banser. Selain itu, perlu ditata peranannya di dalam masyarakat sehingga mengurangi penampilan yang punya nuansa kekuasaan.  &lt;br /&gt;Kongres ke 12 GP Ansor yang diselenggarakan di Asrama Haji Donohudan, Boyolali mulai berlangsung pada 28 Juni, meskipun pembukaan kongres secara resmi baru dilakukan pada 29 Juni oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid. Pada hari pertama, kongres mendengarkan Ta'aruf Dewan Pe-nasihat dan PP GP Ansor 1995-2000. Lalu dilanjutkan dengan mendengar laporan pertanggungjawaban PP GP Ansor Periode 1995-2000 yang disampaikan Pejabat Ketua Umum H Syaifullah Yusuf. Syaifullah menjadi pejabat ketua umum, karena ketua umum terpilih dalam Kongres XI GP Ansor di Palembang, Iqbal Assegaf, meninggal dunia. Selain diikuti 1.870 peserta yang datang dari 335 cabang, menurut panitia, Kongres GP Ansor ini diikuti oleh para penggembira serta utusan dari luar negeri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kongres ke-12 ini ada beberapa nama kandidat yang telah beredar dalam bursa pemilihan calon ketua, antara lain Chatibul Umam Wiranu (Ketua PB PMII), Dr Fathoni Rodhi, Syaefullah Maksum (salah satu Ketua GP Ansor), dan Syaifullah Yusuf (Pjs Ketua Umum GP Ansor). Sebagai bentuk persaingan wacana sebelum kongres, mulai beredar kabar bahwa warga Ansor memounyai aspirasi kuat agar calon Ketua Umum berasal dari PMII atau PKB. Tentu saja kabar ini melemahkan Syaifullah yang tidak berasa; dari PMII dan saat itu menjabat sebagai fungsionaris PDI Perjuangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi kepada wartawan menyatakan NU tidak melakukan intervensi terhadap Ansor. Ini dikarenakan Ansor  merupakan badan otonom dengan independensi terbatas yang pada masalah-masalah ideologis tetap mengacu pada NU. Sedangkan mengenai strategi dan taktis sebagai badan independen ditetapkan lewat kongres. Soal kepemimpinan GP Ansor dari kader partai, menurut Hasyim Muzadi, tergantung ketentuan AD/ART GP Ansor. Apakah ada pemisahan atau perangkapan, semuanya terserah keputusan kongres Ansor, NU tidak akan turut campur.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Kongres ke-12 GP Ansor menetapkan Saifullah Yusuf sebagai Ketua Umum GP Ansor periode 2000-2005 secara aklamasi. Mulanya dalam penjaringan awal, secara mengejutkan Saiful mendaoatkan 300 suara dukungan dari total 306 suara. Dengan perolehan itu Kongres langsung memutuskan secara aklamasi Saiful sebagai ketua umum GP Ansor, setelah sebelumnya  selama setahun menjalankan pejabat ketua umum menggantikan almarhum Iqbal. Perolehan dukungan mutlak itu menurut kabar yang beredar dalam arena kongres, karena posisi strategis Saiful yang dianggap sebagai jembatan penghubung antara dua ekuatan besar PKB dan PDI Perjuangan, antara Gus Dur dan Megawati, yang saat itu sedang memimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Membela Gus Dur?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur adalah ikon besar politik NU. Dengan terpilihnya Gus Dur sebagai Presiden RI melalui sebuah manuver politik cerdik, semakin memantapkan posisi ikon itu dalam benak warga NU dan Ansor. Kemenangan itu bagi warga NU adalah sebuah jawaban dari pengorbanan politik mereka selama ini, selain juga sebagai bentuk cita politik tertinggi mereka yang mungkin susah terulang lagi dalam sejarah kekuasaan di Indonesia.  Maka Gus Dur harus dipertahankan sebagai Presiden RI, Gus Dur harus dibela. Itulah gambaran politik yang juga ditunjukkan oleh NU dan Banser Ansor dalam periode kepemimpinan Abdurrahman Wahid yang relative singkat. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagai Presiden RI yang muncul dari kalangan santri tradisional, Abdurrahman Wahid memberikan nuansa baru bagi dunia kekuasaan formal di Indonesia. Sebagai sosok yang eksentrik Presiden Wahid terus memberikan suasana segar dalam pemerintahan Indonesia, beberapa kejeniusannya semakin terekspose dengan terang, seterang kritikan yang juga sampai kepadanya karena dianggap gegabah dalam melontarkan pernyataan publik. Presiden Wahid mendorong pluralisme dan keterbukaan yang tak pernah dicapai sebelumnya, meski pemerintahan itu terus diwarnai konflik antar etnis yang terus berlanjut di Maluku. Tapi sayang melalui berbagai tuduhan keterlibatan dalam suatu skandal korupsi yang dilakukan orang-orang sekitarnya, akhirnya mengimbas pada nasib kedudukannya sebagai Presiden. Sepanjang tahun 2000 semakin terang jika poros (tengah) Islam di parlemen, yang sebelumnya mendukungnya menghadapi Megawati, tak lagi menginginkan kepemimpinan Wahid berlanjut. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam konteks politik itulah, NU  dan Ansor tergerak untuk melakukan gerakan mendukung Presiden Abdurrahman Wahid. Menjelang Sidang Tahunan MPR, 7-18 Agustus 2000 merebaklah kabar bahwa banser Ansor dari seluruh wilayah di Indonesia, terutama Jawa, akan bergerak menuju Jakarta. Menghadapi rencana itu Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor meminta agar Pengurus Wilayah (PW) Ansor di seluruh propinsi membatalkan rencana pengerahan massa Barisan Serba Guna (Banser) ke Jakarta itu.  PP Ansor menghimbau sebaiknya semua bentuk aspirasi rakyat sepenuhnya dipercayakan kepada anggota MPR yang akan melakukan sidang dan pengamanan sidang sepenuhnya diserahkan kepada aparat keamanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banser pada masa pemerintahan Gus Dur adalah barisan yang paling ekspresif dan secara blak-blakkan mendukung Gus Dur mati-matian. Dalam kondisi tertentu, beberapa pimpinan Ansor berusaha menggunakan potensi loyalitas dan massifnya kekuatan Banser Ansor untuk menyatakan dukungannya terhadap Presiden. Maka untuk mengantisipasi munculnya kerusuhan dan tindak kekerasan dari kemauan para anggotanya yang sedemikian ekspresif itu, PP GP Ansor sangat berhati-hati dalam bersikap. Ketua Umum GP Ansor Syaifullah Yusuf pada suatu kesempatan mengatakan:&lt;br /&gt;“Pengerahan massa belum perlu karena hal itu dapat ditunggangi pihak lain untuk kepentingan lain. Kami berharap anggota MPR bisa berpikir arif dan bersikap sebagai negarawan, dengan tetap meneguhkan kepemimpinan Indonesia kepada Presiden Abdurrahman Wahid dan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri."   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa langkah moderat terus ditempuh Ansor, demi menghindari kondisi politik Indonesia yang terus memanas dan semakin melemahkan pemerintahan Abdurrahman Wahid. Berbagai komunikasi politik lintas sektoral terus dilakukan oleh Ansor yang terus berupaya merapatkan barisan bersama PP Pemuda Muhammadiyah, Fatayat NU, Nasyiatul Aisyiah, dan komponen lainnya. Dalam suatu siaran pers bersama pada akhir Agustus 2000, mereka mengajak semua elemen bangsa untuk tetap memelihara rasa saling mempercayai, saling menghargai, serta saling mendukung guna menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta mewujudkan kehidupan beragama, serta bermasyarakat yang lebih demokratis dan bermartabat. &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Dalam kesempatan itu seorang tokoh pemuda Muhammadiyah mengatakan bahwa dibangunnya persaudaraan umat antara Pemuda Muhammadiyah dan NU, akan semakin memperkecil kemungkinan terjadinya perpecahan bangsa. Umat pun semakin terlindung dari berbagai kepentingan politik sempit. Tokoh itu menjelaskan di masa lalu, persaudaraan umat Muhammadiyah dan NU juga sempat dirusak oleh kepentingan-kepentingan politik. Muhammadiyah dan NU sering kali ditempatkan dalam posisi yang saling berhadapan. Padahal, sesungguhnya, wacana yang dibangun di Muhammadiyah dan di NU adalah sama. Basis keagamaan Muhammadiyah dan NU, dalam arti aqidah juga sama. Demikian juga dengan basis  sosialnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya belajar dari hal tersebut, di masa yang akan datang seluruh umat akan terus disadarkan untuk tidak mencampuradukkan kepentingan politik dan kepentingan organisasi atau umat. Umat bisa saja diikutkan berpartisipasi dalam politik, tetapi jangan dijadikan bagian dari kepentingan politik. Umat sendiri harus semakin menyadari bahwa Muhammadiyah itu bukan Partai Amanat Nasional (PAN). Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu pun bukan bukan NU. Demikianlah ungkapan yang bermaksud meredakan panasnya hubungan NU dan Muhammadiyah itu disampaikan, mengingat memanasnya hubungan Presiden RI, Abdurrahman Wahid dengan Amien Rais, Ketua MPR saat itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi pembelan yang dilakukan oleh warga NU dan Ansor terhadap dirinya, Gus Dur sendiri menolak cara-cara dukungan massif yang akan dilakukan oleh Banser. Menurutnya cara  memberikan  dukungan  politik dengan menurunkan massa dalam jumlah  banyak  ke  Jakarta, justru   akan   membuat  bingung  masyarakat. Karena  itu ia mengimbau agar pengerahan massa seperti itu tidak dilakukan. Dalam suatu kesempatan di  hadapan puluhan ribu umat Islam dan warga  Blitar,  di  pendopo  Kabupaten  Blitar,  Januari 2000,  Gus Dur mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Pengerahan massa itu salah satu bentuk semangat tradisionalisme yang kelewatan. Contohnya  ya seperti Banser (Barisan Serbaguna GP Ansor-Red) itu, kok malah mau mengirim massa ke Jakarta."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu dalam kesempatan lainnya Gus Dur juga menyatakan bahwa ia  telah mengimbau Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, Saifullah  Yusuf  untuk  menahan massa Banser supaya tak datang  ke  Jakarta. Ia mengatakan:  &lt;br /&gt;"Saya bilang ke Saifullah, 'Ful, nek isa (Banser Red)  ora usah teka. Ditahan wae sak isa-isane (Ful, kalau bisa tidak usah   datang.   Ditahan   saja   sebisa-bisanya)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian semua himbauan itu seperti tidak membawa hasil apa-apa, melihat kondisi politik yang semakin tidak menguntungkan posisi Presiden Abdurrahman Wahid, kemarahan warga NU merebak di wilayah-wilayah basis NU, terutama Jawa Timur. Ribuan massa di wilayah itu bergerak untuk mendemonstrasi gedung-gedung DPRD dan menyegel beberapa kantor partai Golkar. Tindakan massa yang mulai mengarah kepada anarkisme itu akhirnya membuat Presiden secara khusus mengirimkan Menteri Pertahanan, Mahfudz MD, ke wilayah Jawa Timur guna menenangkan suasana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suasana memanas itu Ketua Umum  Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Ketua Pengurus Banser NU, mengimbau seluruh anggota jajaran GP Ansor bersama Banser-nya di seluruh Indonesia agar tidak bertindak gegabah dan emosional dalam menyikapi perkembangan politik di Tanah Air. Terutama, setelah DPR melayangkan memorandum kepada Presiden Abdurrahman Wahid dan munculnya desakan kuat agar Presiden segera mengundurkan diri. Syaifullah Yusuf dan Ahmad Ni'am Salim tegas menyerukan agar seluruh anggota jajaran GP Ansor beserta Banser-nya di mana pun berada bersedia menahan diri, bertindak proporsional, dan tidak mengambil langkah destruktif dalam aksi demonya. Seruan moral ini harus disampaikan, guna menyikapi aksi-aksi demo massa pro Presiden Abdurrahman Wahid di wilayah Jawa Timur yang telah melahirkan ekses negatif dalam hal ketertiban umum.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan selanjutnya, ketika aksi membela Gus Dur semakin menjadi-jadi di kalangan NU dan Ansor sendiri telah terjadi semacam kegamangan tentang bagaimana sejauhn mana mereka akan bertindak dalam membela Gus Dur. Suatu peristiwa menarik digambarkan oleh Kompas denga artikel berita sebagai  berikut:&lt;br /&gt;“Dalam perjalanan  Surabaya-Malang, penyanyi Franky Sahilatua tak henti-hentinya  tersenyum.  Ia terus-menerus mengolok-olok Ketua Umum Gerakan  Pemuda  (GP)  Ansor  Syaifullah  Yusuf yang duduk di sebelah Ketua  GP  Ansor  Jawa Timur Mohammad Rofiq, yang mengemudikan Toyota Kijang. "Wah,  ini  gambaran tepat di Ansor. Sopir ingin terus menginjak pedal gas, sedangkan penumpang ingin selamat dan sekarang mau sopir menginjak rem," ujar Franky disambut derai tawa penumpang lainnya. Apa  yang  diungkap Franky adalah cermin beda pandangan dan sikap antara  Syaifullah  dan Rofiq. Syaifullah berterus terang tidak ingin ada  anggota  GP  Ansor  dan  Banser  ikut-ikutan dalam Front Pembela Kebenaran   (FPK),  yang  sampai  hari-hari  terakhir  kemarin  telah mendaftar  lebih  dari  70.000  relawan  berani  mati untuk mendukung Presiden  Abdurrahman  Wahid.  Rofiq  tidak bisa berbuat lain kecuali menyetujui  permintaan  teman-temannya  di Jawa Timur untuk mendukung sepenuhnya gerakan FPK."Saya takut remnya nanti blong. Bagaimana jadinya? Saya tak bisa membayangkan," ujar Franky sambil menggelengkan kepala. Rofiq  dan  Syaifullah menanggapi Franky dengan senyum, sesekali dengantawa. Tiba-tiba Rofiq  memperdengarkan  mars FPK yang mirip dengan  mars  TNI.  "Kalau bisa saya bawa satu. Biar saya juga bisa," ujar  Franky.  "Masak penyanyi terkenal masih ingin belajar lagu-lagu seperti  ini,"  ujar  Adhie  Massardi,  juru bicara kepresidenan yang duduk di barisan bangku tengah. Perjalanan Surabaya-Malang yang hampir dua jam itu terus dipenuhi gelak  tawa.  Meski  berbeda  pandangan,  kedua  pemimpin  pemuda  di lingkungan NU  ini tidak  memperlihatkan  sikap  rikuh,  apalagi bermusuhan."Biasa  saja,  sesekali kita memang harus berbeda," kata Rofiq.”     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  rapat koordinasi GP Ansor di Jakarta 24-25 Apri 2001 tidak  satu  pun  pengurus  Ansor  Jawa Timur yang hadir. Absennya Ansor  Jawa  Timur  diduga terkait dengan  hasil  rapat  koordinasi  nasional sebelumnya, yang tegas tidak menginginkan  warga  Ansor  dan  Banser  terlibat  dalam FPK atau Pasukan Berani Mati (PBM) yang akan hadir ke Jakarta.  Perbedaan pandangan pengurus pusat dan Jawa Timur dalam menyikapi kondisi  politik tidaklah mengejutkan. Ketua Umum GP Ansor, yang juga anggota DPR dari PDI Perjuangan, punya kedekatan baik dengan Presiden Abdurrahman  Wahid  maupun Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri. Dalam posisi itu, Saiful, sebagai  jembatan antara keduanya tentu harus berhati-hati dalam menyikap hubungan antara kedua tokoh itu, yang dikabarkan juga mulai retak. &lt;br /&gt;                                  &lt;br /&gt;Melihat apa yang terjadi saat itu, warga NU mungkin merasa sangat terpukul melihat perlakuan para elite politik terhadap Abdurrahman Wahid. Bagi mereka, perbedaan pandangan  dan  pendapat  Abdurrahman  Wahid  dengan  sebagian  besar anggota  DPR bukan lagi dalam wacana demokrasi, tetapi sudah mengarah pada hinaan, cercaan, fitnah, dan pengkhianatan. Oleh karena itu beberapa orang ulama, seperti KH Abdullah Abbas, pengasuh  Pesantren  Buntet,  Cirebon, misalnya mengatakan bahwa para tindakan para penentang Presiden Wahid adalah masuk kategori  bughot, makar. KH  Subadar  dari Pasuruan, KH Sidqi Mudhar   dari   Pamekasan,   dan   beberapa  ulama  NU lainnya juga mengatakan hal yang serupa. Sementara itu PBNU tidak serta menyatakan nada keras yang serupa, PBNU hanya menyatakan  bahwa sikap NU jelas, Presiden  Abdurrahman Wahid dan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri harus  dipertahankan  sampai  2004. Kegamangan ulama menyikapi situasi politik menimbulkan sikap pro-kontra  di  tengah  masyarakat.  Ada  yang  berkata  ulama  tidak lagi rasional  dalam  memberikan dukungan kepada Presiden Wahid, sementara warga NU  menganggap  dukungan  PB NU  terhadap  Presiden yang mereka cintai itu  hanya setengah-setengah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Banser Ansor Banser NU &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seperti disinggung sebelumnya Banser Ansor adalah elemen terdepan NU dalam membela tujuan jam’iyyah NU atau kepemimpinan para tokoh dan ulama NU, seperti Gus Dur misalnya. Selama ini kalangan awam melihat bahwa Ansor identik dengan Banser yang mereka miliki, dan Banser selalu identik dengan NU. Dimana ada perhelatan NU, maka disitulah tampak Banser berdiri mengamankan dan mengawal jalannya perheletan tesebut. Sebetulnya Banser itu sendiri baru  didirikan  tahun  1967, berbarengan dengan  Kongres ke-7  GP Ansor  di  Jakarta.  Pada saat  didirikan itu,  Banser  dibebani  dua  tugas  utama.  Pertama,   mengamalkan  dan  mengamankan  ideologi gerakan serta mempertahankan dan menyelamatkan segala hasil  perjuangan  yang telah dicapai. Kedua, serta melaksanakan  program  perjuangan  gerakan   dan   membantu  pelaksanaan program pemerintah. &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Meski  terbilang  mati-matian  membela  Orde  Baru, sama  seperti NU, Banser pun tak memetik banyak hasil. Seiring  dengan  pengebirian partai politik, pamor Banser juga  mulai  meredup. Sebagian besar warga NU yang dulunya  anggota  Banser menggantungkan baju seragamnya. Pada dua dekade sejak  pertengahan  1970-an,  jarang  terlihat  warga NU memakai atribut, apalagi seragam Banser. Hanya cerita kepahlawanan  penuh romantisme yang tetap tersebar dari mulut ke mulut. Ketika  Muktamar  Situbondo  memutuskan kembali ke Khitah 1926, secara pelan tetapi pasti  membuat  Banser menggeliat. Karena  sudah  terlalu  lama  terhenti,  Banser kala itu masih  belum menemukan jati  diri  yang  tepat  di  tengah  pergumulan  politik  militeristik yang pernah mereka alami sebelumnya. Hingga saat ini  ternyata Banser masih   larut  dengan   suasana   politik  yang militeristik. Penampilan mereka  pun  cenderung mirip tentara yang keras,  kasar,  terkadang maunya  sendiri. (Kompas, Senin, 24 April 2000)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu saat terkait dengan demiliterisme sipil, Ketua PBNU KH  Hasyim Muzadi pernah diminta untuk mengganti seragam  Banser Ansor. Soalnya seragam Banser mirip  tentara.  Baju  loreng  lengkap  dengan  kopel,  baret hitam seperti  milik  kavaleri, dan sepatu lars. Ada juga yang berseragam hitam dikombinasi loreng. Dengan serius tapi beraroma guyon Hasyim menjawab bahwa ternyata  merealisasi  permintaan  itu  tidak  mudah "Soalnya seragam  Banser  itu  mereka  beli  sendiri-sendiri. Malah ada yang kreditnya  belum  lunas,"  katanya  di tengah peserta apel nasional Banser di lapangan Makodam V/Brawijaya, April 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan itu Hasyim Muzadi yang pernah menjadi Ketua GP Ansor Jawa Timur ini mengaku,  ada  sikap  Banser yang kurang tepat pada saat pemerintahan Abdurrahman Wahid berkuasa. Karena yang menjadi presiden  dari  NU,  seolah-olah  Banser  juga  ikut berkuasa. Bahkan menurut Hasyim dengan lugu seorang anggota Banser bertanya  kepadanya  jika NU yang berkuasa, apa Banser  bisa  menjadi  Koramil? Kemudian Hasyim dengan bercanda mengomentari “Banser itu gagah-gagah, tetapi beli rokoknya eceran."   Demikian kiranya gambaran umum dari Banser, meski terkesan guyon, tapi ungkapan Hasyim itu cukup bisa menggambarkan bagaimana kondisi ekonomi sosial warga Banser Ansor saat itu dan mungkin masih berlaku hingga saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu insiden serius yang pernah dilakukan Banser Ansor Jawa Timur ketika mereka  melakukan aksi demo ke ruang redaksi Jawa Pos pada Mei 2000. Aksi  massa itu dilakukan untuk memprotes berita di halaman tiga  Jawa  Pos terbitan Sabtu 6 Mei 2000 yang mereka nilai menyudutkan pimpinan NU. Aksi demonstrasi itu akhirnya menyebabkan Jawa Pos tidak  bisa terbit keesokan harinya, karena sudah terlalu malam untuk memulai proses produksi. Menurut berita media, massa Banser datang pukul 14.30 dan kemudian pukul 19.45 WIB  puluhan  orang  merangsek  ke  ruang  redaksi  dan memaksa karyawan Jawa Pos berhenti bekerja. Akhirnya Jawa Pos mengakui kesalahan mereka dan bersedia meminta maaf secara terbuka, karena telah memuat informasi yang keliru tentang pimpinan NU. Serangkaian islah pun kemudian dilakukan antara Ansor, NU dengan Jawa Pos, meskipun berbagai kecaman terlanjur terlontar untuk Banser yang dianggap belum siap menerima demokrasi sebagai bagian dari kehidupan bangsa Indonesia atau dianggap arogan dalam menyampaikan pendapat.  Itulah fenomena Banser Ansor pada masa lalu. Sebagai salah satu asset penting NU dan Ansor, Banser harus terus mendapatkan perhatian yang serius hingga dapat berkembang sebagai potensi yang semakin bermanfaat, tidak saja untuk NU dan Ansor tapi juga untuk bangsa dan negara.  &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Larut berpolitik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dukung mendukung terhadap pemerintahan Abdurrahman Wahid akhirnya usai pada Juli 2001. Ketika Presiden Wahid berupaya membekukan DPR dan membubarkan partai Golkar melalui suatu dekrit. Sayangnya dekrit itu tidak mendapatkan tanggapan, dan MPR terus melaksanakan Sidang Istimewa yang memberhentikan Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI digantikan oleh Megawati Soekarnoputri. Bagaimana dengan Ansor? Rupanya, terhentinya langkah Gus Dur sebagai pimpinan nasional tak menyurutkan langkah Ansor terus berkiprah dalam politik. Bahkan cenderung larut dalam politik dukung-mendukung dan tawar-menawar yang dilakukan oleh para pemimpinnya yang beberapa diantaranya telah mendapatkan posisi strategis dalam dunia politik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Megawati ditetapkan sebagai presiden menggantikan Presiden Wahid dalam Sidang Istimewa, Juli 2001, wacana presiden perempuan telah mendapatkan perhatian dari Ansor.  Salah satu ketua Ansor  Munawar Fuad Nuh di hadapan 300-an massa Ansor dalam acara Pelatihan Kepemimpinan Dasar GP Ansor II dan Pendidikan Latihan Dasar Banser II di Batam, pada 21 Juni menyatakan  bahwa GP Ansor tak mempermasalahkan perempuan ataupun sipil maupun militer menjadi presiden. Sepanjang prosesnya ditempuh secara konstitusional dan mendapat dukungan aspirasi rakyat, Ansor akan memberi dukungan. Ansor justru memprihatinkan sikap pemimpin yang suka menciptakan konflik yang hanya membingungkan dan meresahkan masyarakat, bahkan memecah-belah persatuan dan kesatuan bangsa. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Siapa pun pemimpin nasional di masa mendatang, Ansor tetap committed mendukungnya. Bahkan akan menempatkan diri sebagai kekuatan moral politik," begitulah yang diucapkan oleh Munawar Fuad, seolah telah membaca pergantian kepemimpinan yang akan segera terjadi. Menurut Munawar, garis kebijakan politik Ansor tetap memberi ruang kebebasan kepada anggotanya untuk menentukan pilihan politiknya. Ia menambahkan “Ansor tidak pernah memandang warna atau baju politik anggotanya untuk berkiprah di kancah politik nasional. Sebab, Ansor sudah terbiasa hidup dalam keragaman dan kemajemukan. Ada orang-orang Orde Baru, PPP, PKB, bahkan Ketua Umum Ansor sekarang ini dari PDI Perjuangan".  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saifullah Yusuf , Ketua umum GP Ansor akhirnya keluar dari PDI Perjuangan dan dalam suatu muktamar  luar biasa PKB di Yogyakarta (Januari, 2002) ia berhasil menduduki posisi Sekjen partai, meski beberapa kalangan NU di PKB merasa bingung dalam menerima kemenakan Gus Dur itu. Posisi baru itu memaksa Saifullah merangkap  jabatan sebagai Sekjen DPP PKB sekaligus Ketua Umum GP Ansor. Suatu jabatan rangkap  yang dilarang dalam aturan organisasi di lingkungan NU. Maka dalam Konferensi Besar (Konbes) Gerakan Pemuda (GP) Ansor ke-14, di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta, pada April 2002 dibahas soal rangkap jabatan sang ketua, selain juga muncul usulan pembentukan partai baru di luar PKB. Sedikitnya tujuh wilayah tegas-tegas menginginkan pendirian partai politik yang seluruh personelnya berasal dari GP Ansor. Ketua Pengurus Wilayah (PW) GP Ansor Sulawesi Tengah Latopada menegaskan, keinginannya membentuk partai dilandasi pemikiran bahwa ada ketidakpuasan di tingkat akar  rumput terhadap PKB dan sikap politik Nahdlatul Ulama (NU).  Lebih tegas lagi, Ketua PW GP Ansor Sulsel Mochtar Syarkowi mengatakan, keluarga besar NU segera memikirkan tentang penyiapan kadernya untuk membentuk partai baru dan calon pimpinan nasional. Menanggapi wacana pembentukan partai, Ketua Umum GP Ansor Saifullah Yusuf mengatakan, hal itu hanya sebagai kritik terhadap PKB dan NU, sekaligus menunjukkan kegelisahan warga Ansor akan masa depan politik menjelang pemilu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu dalam hal rangkap jabatan, Konbes akhirnya memberi kewenangan kepada Ketua Umum GP Ansor Saifullah Yusuf menunjuk pelaksana harian (Plh) untuk menjalankan tugas dan kewenangan Ketua Umum. Namun, Konbes tidak menentukan kapan penunjukan harus dilakukan. Hampir semua wilayah tetap menginginkan Saifullah Yusuf menjabat  Ketua Umum GP Ansor meskipun pasca muktamar PKB Yogyakarta telah ditunjuk sebagai Sekjen DPP PKB. Ada sekitar 12 wilayah yang menyatakan dukungan rangkap jabatan itu. Ketua PW Ansor Bengkulu Khairuddin Wahid menambahkan, PBNU sendiri tidak mempunyai mekanisme yang jelas mengatasi persoalan rangkap jabatan. Selain itu Konbes juga merekomendasikan Kongres GP Ansor secepat-cepatnya dilaksanakan tahun 2003. Keputusan ini diambil mengingat pelaksanaan kongres membutuhkan persiapan yang matang menyangkut dana dan materi, agar tidak terjebak pada masalah figur kandidat ketua umum semata.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rentang 2002 hingga 2004 terjadilah perselisihan dalam tubuh PKB antara Sekjen dengan pimpinan Dewan Syura, antara dua matahari PKB Saiful dan Gus Dur, yang menyebabkan terancamnya Saiful dari posisi Sekjen PKB. Perbedaan pendapat kerap terjadi antara dua tokoh yang selama ini dikenal dekat itu, bahkan puncaknya Dewan Syura membentuk tim tiga yang diperintahkan untuk meneliti kesalahan yang mungkin dilakukan oleh Saiful sebagai sekjen partai. Terlepas dari perselisihan itu, menjelang  pemilu 2004 Ansor kembali terpecah terkait kepada siapa dukungan Ansor akan diberikan? Pada saat itu ketua PBNU Hasyim Muzadi berpasangan dengan Megawati Soekanoputri dalam Pilpres 2004. Ada beberapa pengurus teras Ansor yang menginginkan dukungan kepada Mega-Hasyim, sementara yang lainnya menyatakan netral tidak berpihak kepada siapa pun, atau menyatakan dukungan kepada Solahuddin Wahid, salah satu ketua PBNU yang juga didapuk oleh Golkar untuk mendampingi Wiranto sebagai cawapres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Absennya dukungan Ansor terhadap Hasyim terlihat ketika pada awal Mei 2004, GP Ansor meminta Ketua PBNU  Hasyim Muzadi menolak dijadikan sebagai calon wakil presiden (cawapres) mendampingi Megawati. Kalaupun memilih mendampingi Megawati, Hasyim harus mundur dari PBNU. Wakil Sekretaris Jenderal GP Ansor Maskut Candranegara di Jakarta mengatakan, Hasyim sebagai Ketua Umum PBNU telah bertindak terlalu jauh dalam perebutan kekuasaan. Ia menyatakan tindakan Hasyim disandingkan dengan Megawati tidak sesuai Khittah NU 1926 yang menyebut NU sebagai organisasi keagamaan, sosial, dan pendidikan. Menurut Maskut, keterlibatan Hasyim dalam perebutan kekuasaan berbahaya bagi masa depan NU karena menyeret NU dalam politik praktis. Tapi, dengan argumentasi berbeda, Maskut mendukung SolahuddinWahid, yang juga Ketua PBNU, dicalonkan sebagai cawapres berdampingan dengan Wiranto.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimpali pernyataan wakil Sekjen itu, Sekretaris Jenderal Gerakan Pemuda Ansor M Syukur Sabang dalam suatu siaran pers di kantor pusat GP Ansor Jakarta meminta  warga GP Ansor-badan otonom di lingkungan Nahdlatul Ulama- agar tidak terjebak kegiatan politik praktis dengan mendukung atau menegasi dua tokoh Pengurus Besar NU yang maju sebagai calon wakil presiden, yakni KH Hasyim Muzadi dan KH Solahuddin Wahid. Syukur mengatakan "Perlu kehati-hatian dari komunitas NU khususnya badan otonom, terutama GP Ansor, supaya tidak terjebak dalam permainan politik praktis seperti ini." Melalui siaran pers itu GP Ansor  juga meluruskan pernyataan Wakil Sekjen GP Ansor Maskut Candranegara yang meminta Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi mundur jika menjadi calon wapres Megawati Soekarnoputri. Namun, di lain pihak, Maskut mendukung Ketua PBNU Salahuddin Wahid untuk berdampingan  dengan Jenderal (Purn) Wiranto. "Saya menilai pernyataan dari salah seorang pimpinan Ansor tersebut adalah sikap yang tidak berakhlak. Ini akan menghancurkan sendi-sendi kultural dan bangunan komunitas NU," kata Syukur.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah pemilu 2004. Ansor semakin larut dalam pertarungan politik. Silang pendapat antar pengurus teras PP GP Ansor sudah menjadi hal yang biasa. Wakil Sekretaris Jenderal Gerakan Pemuda (GP) Ansor Maskut Candranegara kemudian tetap meneruskan pernyataannya kepada pers dengan menyatakan desakan agar Muktamar Nahdlatul Ulama dipercepat sebenarnya untuk mencari figur penjaga moral bangsa, terutama bagi warga NU. Ketua umum PBNU yang dipilih lewat Muktamar NU itulah nantinya diharapkan menjadi figur yang netral dan dapat didengar oleh sekitar 40 juta warga NU. Dalam  kesempatan itu, Maskut juga menyatakan, GP Ansor mendesak agar Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) dipercepat sebelum pemilihan presiden putaran kedua, 20 September 2004. Padahal rencananya, PBNU akan menggelar  Muktamar NU pada akhir November 2004. Untuk ini Maskut mengatakan "Saya kira desakan agar Muktamar NU dipercepat bukan hanya datang dari GP Ansor saja, tetapi juga ada beberapa pihak yang ingin muktamar dipercepat dan saya yakin desakan ini tidak bernuansa politis. Kami hanya ingin NU mempunyai figur yang dapat didengar." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Komite Bersama Warga Nahdlatul Ulama Penyelamat  Khittah di Yogyakarta mendesak para kiai untuk menyatakan NU dalam kondisi darurat dan mempercepat muktamar. Maskut mengatakan, dalam eskalasi politik yang cepat berubah memang tidak efektif kalau sebuah lembaga besar seperti NU dipimpin pejabat sementara yang tidak dapat mengambil sebuah kebijakan. Apalagi, setelah Hasyim Muzadi dinonaktifkan dari PBNU dan menjadi calon wakil presiden dari PDI-P, beberapa pengurus dalam PBNU juga ikut non-aktif karena menjadi tim suksesnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyudahi   polemik yang terjadi akhirnya Saifullah Yusuf, Ketua Umum GP Ansor angkat bicara dalam surat pembaca Kompas ia menuliskan:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sehubungan dengan tulisan di Kompas edisi Kamis (15/7) halaman 8 berjudul "Konflik Elite dan Pecahnya Suara NU", terdapat beberapa penggal kalimat yang boleh jadi akan memunculkan banyak tafsir. Oleh sebab itu, kami perlu memberikan keterangan tambahan agar tulisan itu tidak melahirkan kesan kurang tepat soal posisi Gerakan Pemuda (GP) Ansor, khususnya seputar posisi penulis, dalam konteks tulisan yang berkaitan dengan perkembangan politik terakhir ini. Sejauh ini posisi GP Ansor- sebagai salah satu badan otonom Nahdlatul Ulama (NU)- tidak berubah dan tetap berada dalam bingkai qarar (ketetapan) yang telah digariskan oleh Pengurus Besar (PB) NU serta sesuai dengan Khittah 1926.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam perkembangan politik mutakhir, qarar ini telah pula di-takhshish dan di-ta’kiidkan melalui taushiyah Rois Aam Syuriyah PBNU KH MA Sahal Mahfudh yangdibacakan di Rembang beberapa hari lalu. Oleh sebab itu, sebagaimana organisasi induknya, GP Ansor hanya sebatas bisa menitipkan aspirasi politiknya melalui partai politik yang ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetapi kalau dalam peraturan politik mutakhir, khususnya dalam konteks pemilu presiden, ternyata ada kader GP Ansor yang ikut terlibat pada beberapa kutub pasangan capres- cawapres, maka itu semata-mata atas nama pribadi dan sama sekali tidak berada dalam pengaruh, apalagi menjadi sikap jam’iyah yang diambil GP Ansor. Sementara menyangkut tulisan yang menjelaskan bahwa Ketua Umum Pengurus Pusat GP Ansor bersimpati kepada capres tertentu, itu tak lebih dari sekadar tafsir bebas sang penulis (Mohammad Bakir). Sebagai fungsionaris Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), kami juga tetap  berpegang teguh atas hasil rapat pleno partai yang mengusung nama Wiranto-Salahuddin Wahid.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H Saifullah Yusuf&lt;br /&gt;Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Setelah 73 Tahun &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Adanya dua figur NU yang berkompetisi dalam pilpres 2004, telah semakin menyulitkan posisi pasangan Mega-Hasyim dalam meraup dukungan warga NU. Mau tak mau dukungan bulat warga NU sebagaimana mereka harapkan menjadi terpecah, satu untuk Hasyim, satu yang lain untuk Solahuddin. Maka siapakah yang diuntungkan dari posisi itu? sejarah telah mencatat, pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla (SBY-JK) yang akhirnya keluar sebagai pemenang pilpres 2004. Dan agaknya melihat konsesi yang diterima oleh ketua umum GP Ansor dalam kabinet yang disusun oleh SBY-JK, menjadi terang untuk siapa dukungan Ansor  diarahkan oleh sang ketua, setidaknya pada putaran kedua pilpres. Dalam kabinet yang disusun oleh SBY-JK, Saifullah Yusuf dipilih sebagai Menteri Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, sebagai unsur PKB dalam kabinet. Jabatan ini nantinya memperpanjang deretan perselisihan Saiful dengan Gus Dur yang kemudian memecatnya dari Sekjen PKB bersama Alwi Sihab sebagai ketua partai. Keduanya dianggap secara tidak etis menerima jabatan menteri kabinet tanpa melalui mekanisme partai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki tahun 2005, tibalah Ansor untuk kembali berkongres. Kongres ke-13 GP Ansor ini tidak banyak mendapat liputan media massa. Mungkin berita perselisihan dalam tubuh PKB lebih menarik daripada berita GP Ansor. Dengan demikian, bagi media atau public luas GP Ansor boleh jadi sudah tak berarti apa-apa lagi sehingga tak perlu diperhatikan kiprah dan langkahnya. Dalam kongres yang berlangsung pada 1 – 3 April 2005 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta itu Saifullah Yusuf yang menjabat sebagai menteri kabinet masih mendominasi persaingan dalam arena kongres. Bahkan cenderung menguat dan terkalahkan lagi kedudukannya. Buktinya, dalam Kongres ke -13 GP Ansor itu Saifullah terpilih secara aklamasi oleh 397 cabang dan 30 wilayah, meskipun penetapan aklamasi itu sempat mendapatkan tentangan dari beberapa peserta kongres. Kericuhan sempat mewarnai kongres yang dianggap berjalan  dengan tidak demokratis, karena terkesan memaksakan Saiful untuk memimpin kembali GP Ansor. Isu politik uang pun juga dituduhkan kepada kubu Saiful oleh kubu kandidat lainnya yang tidak puas atas jalannya kongres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu banyak yang menganggap bahwa Kongres ke 13 GP Ansor adalah kongres yang terburuk dalam sejarah kongres GP Ansor. Merebaknya isu politik uang, nyaris terjadinya bentrokan fisik antar peserta, serta diadakannya forum tandingan di luar kongres dianggap telah menunjukkan bagaimana kualitas kongres tersebut diadakan. Saifullah Yusuf sendiri dalam keterangan persnya menyatakan bahwa ia dapat mengerti apa yang dirasakan oleh peserta kongres, namun ia menganggap bahwa tudingan politik uang tidak benar adanya dan kongres telah berjalan sesuai prosedur. Ia juga mengetahui ketidak puasan itu juga bermuara pada keengganan sebagian pengurus GP Ansor untuk menerima Saiful sebagai ketua umum untuk kedua kalinya, karena ia telah menjabat sebagai menteri kabinet. Namun Saiful beralasan bahwa rangkap jabatan sebagai menteri tidak diatur ada dalam AD/ART GP Ansor, berbeda jika ia merangkap sebagai  pengurus partai yang memang ada ketentuannya dalam AD /ART.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun kemudian, pada saat GP Ansor merayakan harlahnya yang ke-73 pada April 2007, Saifullah Yusuf tidak lagi menduduki posisi menteri kabinet. Dalam rangkaian peringatan harlah GP Ansor ke-73 itu, GP Ansor mengisi harlah dengan pertandingan bulu tangkis persahabatan yang diikuti sejumlah pejabat, termasuk menteri Kabinet Indonesia Bersatu. Dengan masing-masing memakai kaus bertuliskan "Badminton Kemesraan", dalam pertandingan pertama, pasangan Saifullah Yusuf dan Menteri Pertanian Anton Apriyantono melawan pasangan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Hidayat Nur Wahid dengan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie. Setelah diselingi pertandingan yang diikuti pebulu tangkis nasional, turun ke lapangan pula pasangan Menteri Kehutanan MS Kaban dan mantan pebulu tangkis nasional, Icuk Sugiarto, melawan pasangan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault dengan anggota DPR dari Partai Demokrat, Adjie Massaid. Lalu hadir dalam acara itu antara lain musisi Franky Sahilatua dan artis Denada yang kemudian bersama-sama menyanyikan lagu Kemesraan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pesannya, Saifullah Yusuf mengatakan "Kami menggelar pertandingan bulu tangkis ini karena di gedung Pimpinan Pusat GP Ansor kebetulan ada lapangan bulu tangkisnya. Pertandingan ini dinamai badminton Kemesraan karena masalah bangsa ini hanya dapat diselesaikan jika ada kemesraan di antara kita semua". Pesan moral yang baik dan tepat dengan kondisi bangsa yang mulai tercabik-cabik dengan berbagai konflik dan  kekerasan etnis dan agama, amuk massa karena pilkada merebak dimana-mana dan bahaya terorisme terus mengancam Indonesia. Dalam harlah itu Ansor kembali menegaskan bahwa komitmen kebangsaan menjadikan tujuan utama Ansor, yakni membangun bangsa dengan menjunjung tinggi keberagaman. Komitmen itu juga membuat Ansor tidak pernah berpikir akan menjadikan Indonesia sebagai negara agama. Setelah kebangsaan, komitmen Ansor selanjutnya adalah keagamaan, keumatan, dan kepemudaan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam usianya ke-73 itu, GP Ansor semakin memantapkan diri sebagai organisasi pemuda terbesar di Indonesia. GP Ansor hadir di 33 provinsi dan 417 kabupaten/kota. Ansor mengorganisasi sekitar enam juta pemuda yang tercatat aktif di organisasi yang hadir sejak zaman pra-kemerdekaan ini. Anggota Gerakan Pemuda (GP) Ansor ini tersebar di sekitar 20.000 desa dan kelurahan, baik di Pulau Jawa maupun luar Pulau Jawa. Dari jumlah di atas, sekitar 350.000 hingga 400.000 merupakan kader inti GP Ansor yang diwadahi dalam Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Lalu apa yang sedang dilakukan oleh Ansor saat itu?  Menurut Malik Haramain, GP Ansor sedang membangun kapasitas organisasi dan memperkuat  konsolidasi internal. "Kami sekarang sedang mencoba mendata ulang anggota Ansor. Kami ingin mengefektifkan semua struktur dari tingkat pusat hingga ranting (desa/kelurahan)," begitulah yang dikatakan oleh Malik. Masih menurutnya pada masa kepemimpinan Saifil, kantor-kantor Ansor dibangun, jaringan baik di dalam organisasi maupun luar organisasi diperkuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reformasi tak hanya menyentuh kalangan Ansor. Banser pun juga direformasi. Banser, yang semula dikenal dalam bidang pengamanan, kini mulai menyentuh kebutuhan masyarakat yang lebih nyata. Banser menambah satuan-satuan baru, yaitu Search and Rescue (SAR), Balakar (khusus membantu penanganan kebakaran), dan Medical Evakuasi. Pembentukan satuan-satuan itu disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi saat ini, mengingat akhir-akhir ini kan banyak bencana alam dan sosial yang terjadi di Indonesia.  Memasuki usianya yang ke-73, GP Ansor dan Banser ingin lebih mendekat ke masyarakat. Mereka ingin menjawab kebutuhan sosial dan menyumbangkan sesuatu di negeri yang kini sedang dilanda bencana ini.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak  peringatan harlah ke- 73 GP Ansor dilalukan pada  Minggu malam, 20 Mei 2007, dihadiri sejumlah tokoh politik, termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga Ketua Umum Partai Golkar dan Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan Suryadharma Ali, serta sejumlah ulama. Ikut hadir, fungsionaris PDI-P Taufik Kiemas dan Sekjen PDI-P Pramono Anung, serta Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso.  Sejumlah ulama, antara lain Ketua PB Nahdlatul Ulama Said Agil Siradj, KH Idris Marzuki, dan KH Mas Subadar, hadir dalam acara yang digelar di Kantor Pusat GP Ansor di Jalan Kramat,  Jakarta, itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Umum GP Ansor Saifullah Yusuf memberikan sambutan pada hari lahir Ansor yang dirayakan bersamaan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa pemerintah harus didukung agar bisa menjalankan programnya dengan sukses. Pasalnya, kesuksesan pemerintah akan berimplikasi positif pada rakyat dan kegagalan pemerintah akan membuat rakyat sengsara. Gerakan Pemuda Ansor akan mendukung pemerintah dengan melakukan gerakan kerakyatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berita dan Atikel Kompas&lt;br /&gt;beberapa Buku&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7473472176854231904-32318922020507184?l=pekerjamuseum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/feeds/32318922020507184/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7473472176854231904&amp;postID=32318922020507184&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/32318922020507184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/32318922020507184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/2010/09/ansor-hingga-titik-73-tahun.html' title='Ansor hingga titik 73 Tahun.....'/><author><name>Erwien To'tiL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16127221575751256267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/Sz4AfMOICqI/AAAAAAAAAQc/ljCFJ8iJQbE/S220/PB210370.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/TKV-gCaVJCI/AAAAAAAAASc/jYOQ73jFzGA/s72-c/bansernu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7473472176854231904.post-2823523298839174114</id><published>2010-07-28T20:15:00.000-07:00</published><updated>2011-08-21T00:24:25.440-07:00</updated><title type='text'>Tentang Wahyono, mentor dan sahabatku (1 Agustus 1942 – 16 Juli 2009)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/TFDyjEz1MxI/AAAAAAAAASM/7JGRE3UCOik/s1600/I+n+Wahyn.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 219px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/TFDyjEz1MxI/AAAAAAAAASM/7JGRE3UCOik/s320/I+n+Wahyn.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5499161829419856658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hari ini aku pamit padamu&lt;br /&gt;meninggalkan kiriman saran&lt;br /&gt;biarkan saja air mengalir&lt;br /&gt;karena kita &lt;br /&gt;tak pernah tahu apa-apa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahyono&lt;br /&gt;Jakarta, 6 Agustus 1967&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, hari itu engkau pamit kepada ku. Kamis, 16 Juli 2009 Wahyono mentor ku berpulang ke haribaan Tuhan yang Esa. Begitu cepat engkau pamit, padahal pagi itu, pagi yang cerah itu aku akan menemui mu. Tapi itulah janji, janji yang tak pernah kita inginkan tapi terucap begitu saja. Ingat kah pak Wahyono ucapku ketika bapak terbaring di rumah sakit, aku katakan aku akan menemui mu lagi dalam keadaan sembuh. Ya, pagi itu Tuhan telah menyembuhkan pak Wahyono dari segala rasa sakit, mengajak mu untuk beristirahat tinggalkan dunia dan segala kepenantannya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu aku sungguh tak tau diri. Aku bukan anak mu, meski pak Wahyono lah yang mengantarku untuk melamar pujaan hati ku. Aku bukan siapa-siapa, aku hanyalah anak kemaren sore di hadapan mu yang mencoba menghibur bapak tua di tengah himpitan aktivitas kantor yang menjemukan. Aku hanyalah anak muda yang baru kau temui kemaren hari, lalu dengan baik hati kau mulai mengajariku hidup, mengenalkan dunia mu, dunia museum, dunia puisi, dunia lukisan, dunia wacana kebudayaan dan kemudian  mengarahkan aku untuk lebih berani mengambil sikap untuk tidak berkutat di satu tempat. ”pergilah dik, keluar lah dari museum ini, niscaya kamu akan akan mendapatkan sesuatu yang lebih besar lagi di luar sana” begitulah ucapnya, meyakinkan aku untuk keluar dari Museum Bank Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu aku sungguh tak tau malu. Aku sesenggukan dalam do’a di hadapan jazad pak Wahyono yang telah beristirahat dengan tenang. Wajahnya berbinar, terdiam tanpa beban, sumringah puas seolah telah usai melahap seonggok gulai kepala ikan kesukaan mu. Wajahmu tampak tenang, damai dan syahdu. Raut itu pernah kau tunjukkan di hadapanku ketika engkau dengan bahagia memandangi putri semata wayangmu, Ratih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu pak, aku menemuinya. Tak ada yang bisa aku ucapkan. Kami berdua saling tak berkata-kata, hanya menangis sahaja. Sedih, engkau pergi dengan cepat. Meski kami tau, itu adalah waktu mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;======================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan aku bertemu pak Wahyono?&lt;br /&gt;Juni 2004 tepatnya. Aku masih pegawai baru di Unit Khusus Museum Bank Indonesia (UKMBI). Suatu pagi aku melihat bapak tua, berdasi tak serasi, menenteng jaket kulit kumal, berjalan perlahan, dan melempar senyum lirih berucap ’...pagi...”. Aku tak pernah menegor mu, atau menyapamu mengajak berkenalan, hingga suatu hari teman kita, Astiningrum, pegawai pertama UKMBI yang menyapamu, memeberitahuku bahwa engkau adalah alumni arkeologi, FSUI. Sungguh bodohnya aku melewatkan itu.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu aku menemui mu, mengajak mu berkenalan, kita cepat menjadi akrab. Di sela-sela kantuk jam kantor aku kerap datang ke mejamu, bergurau berkisah tentang sastra, tentang UI. Barulah aku tau engkau anggota mapala UI M 10, kawan dekat Soe Hok Gie katamu. Aku tak percaya, sampai aku mencari nama mu dalam buku Gie, Catatan Harian Seorang Demonstran, aku bilang pada pak Wahyono, ”wah...pak nama bapak ada tuh di catatan harian Soe Hok Gie, tapi cuman sekali....cuman sekali”. Pak wahyono tak tampak kecewa, hanya tersenyum kecil, seraya dalam batinnya berujar ” sial ni anak muda, nggak percaya kalu gua temen akrab Soe Hok Gie...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu diskusi demi diskusi berlanjut. Kita berbicara seru tentang kebudayaan, tentang museum, tentang masa depan, tentang apa saja yang asyik. Hingga suatu saaat kita pernah berbicara serius tentang perkembangan Islam di Indonesia yang kau katakan akan disusun sebagai materi pameran sebuah museum di Kanada. Aku hanya menanggapi biasa saja, tapi ternyata engkau serius menulis dengan detail seluruh pendapat ku tentang Islam dan  mengirimnya ke museum itu. Suatu pagi pak Wahyono menyampaikan kartu pos kepada ku, isinya ucapan terima kasih dari sebuah museum di Kanada, karena aku telah turut serta memberikan materi untuk pameran mereka tentang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semakin akrab. Aku menganggapnya mentor. Dalam hal apa pun aku berkonsultasi kepadanya, termasuk tentang jodoh. Suatu pagi ia tersenyum kepada ku dan berkata ”dik, saya kok mimpi jual jari’ (kain) ke kamu....” ia tersenyum geli. Aku bertanya ”apa artinya pak?” ia tetap tersenyum dengan geli ” saya pingin kamu jadi anak mantu saya” mendengar itu aku terbahak, Pak Wahyono pun turut larut dalam tawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengahan 2006, aku bertemu dengan kekasih ku, yang kemudian menjadi istri ku saat ini. Aku tanyakan hal ini kepada pak Wahyono. Maklum terkadang aku usil atau boleh dibilang jahat memanfaatkan keahlian pak Wahyono dalam melihat masa depan, atau menembus ”jati diri” seseorang.....Pak Wahyono menasehatiku, ”sudah kamu seriusin saja, kekasih baru mu itu perempuan yang tulus hatinya, ia mencintai kamu apa adanya. Jadi mulai sekarang, lupakan masa lalu mu, lepaskan dirimu dari rasa merasa bersalah karena meninggalkan yang dahulu....” nasehat itu sungguh berharga dan dua tahun kemudian aku menikahi perempuan itu.        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2006, aku mulai melihat pak Wahyono gelisah. Ia merasa secara intelektual masih mempunyai banyak gagasan yang ingin ia dedikasikan untuk orang banyak. Pak Wahyono berkata kepadaku bahwa ia merindukan pameran lukisan, yang dulu biasa ia lakukan. Sudah hampir sepuluh tahun ia vakum berkarya, maklum genre lukisannya adalah lukisan abstrak, abstrak yang sebenar-benarnya, yang mungkin hanya sedikit orang yang dapat menikmati.&lt;br /&gt;Seperti yang dikisahkan kepadaku, dalam melukis pak Wahyono mempunyai sejarah yang cukup panjang. Pada 1957 pak Wahyono belajar melukis di Himpunan Budaya Surakarta dibawah asuhan pelukis S. Hartoko. Pada waktu menjadi mahasiswa arkeologi UI, ia belajar melukis dibawah bimbingan Dr. Budhihartono di FKUI dan dilanjutkan dengan mendirikan Sanggar Seni Lukis di Fakultas Sastra UI dan belajar melukis dibawah bimbingan Drs. M. Mofit. &lt;br /&gt;Peristiwa terpenting yang dialami Pak Wahyono dalam dunia melukis terjadi pada tahun 1984, ketika ia bertemu seorang kritikus seni internasional, yaitu Prof. Seiichi Sasaki dari Tama University Jepang, dalam suatu kesempatan kunjungan penelitian lukisan kaca Indonesia. Sang Profesor, ketika melihat lukisan-lukisan Wahyono, berkata kepadanya “mengapa engkau tidak membuat lukisan yang keluar dari dalam dirimu sendiri?”. Sejak saat itu Wahyono yang semula  melukis secara figurative-ekspresionis, mengubah objek lukisannya menjadi abstrak-ekspresionis. &lt;br /&gt;Ini uniknya, Pak Wahyono melukiskan apa yang dilihat dengan “mata ketiga”-nya, yaitu warna-warni yang bergerak terus menerus, yang menggambarkan energi. Dan tepatnya pada 1989, lukisan Wahyono menjadi lukisan abstrak dengan warna-warni yang meriah, tapi bersuasana tenang dan damai. Itu aku-nya. Tapi hingga saat ini hanya beberapa karya pak Wahyono yang dapat aku pahami. Terkait dengan melukis itu pernah aku sampaikan kepadanya, bahwa dewasa ini dengan kecanggihan teknologi, para pelukis abstrak telah meramu karyanya dengan bantuan banyak media, termasuk elemen grafis. Makanya karya abstak kontemporer sekarang lebih beragam dan mungkin lebih dapat menyentuh sense masyarakat saat ini. Pak Wahyono, hanya diam, rupanya ia tetap meyakini “mata ketiga“- nya itu.&lt;br /&gt;===================&lt;br /&gt;Saya tak berhenti sampai disitu. Dalam  hatiku, aku harus bisa membantu bapak sepuh ini untuk keluar dari kegelisahannya. Mulailah, diam-diam aku melakukan riset kecil ke Pusdok majalah Intisari, aku dapatkan banyak tulisan Pak Wahyono dalam arsip majalah Intisari. Lusa harinya aku sampaikan hasil riset ku, aku tunjukkan beberapa contoh tulisannya. Ia gembira sekali, bahkan beberapa tulisan pak Wahyono sudah lupa pernah menuliskannya. &lt;br /&gt;Ide berkembang. Aku bilang, kita harus menerbitkan naskah  pak Wahyono. Ia semangat sekali cuman kendala dana menjadi masalah. Tapi Tuhan sungguh welas asih kepada pak Wahyono. Suatu ketika ia mendapatkan tawaran barang antik (ini salah satu keahlian pak Wahyono) dari seorang langganannya. Kata orang itu barang kuno itu hanya terbuat dari sepuhan bahan kuningan, maka ia rela melepaskannya untuk Pak Wahyono hanya dengan beberapa ratus ribu saja. Pak Wahyono sepakat dan membelinya dalam keadaan tidak tau bahwa benda kuno itu ternyata terbuat dari emas murni!&lt;br /&gt;Adalah pak Gatot, rekan pak Wahyono dari masa kerja di Museum Nasional dan kemudian bersama di UKMBI, yang memberitahu bahwa benda kuno itu setelah dibersihkan olehnya ternuata diketahui terbuat dari emas murni. Rejeki nomplok, pak Wahyono kemudian melepaskan benda kuno itu dengan nilai belasan juta! Dan hasil dari penjualan itulah tulisan-tulisan pak Wahyono diterbitkan.&lt;br /&gt;Ia bahagia sekali. Terlahir kembali menjadi penulis. Bukunya Cerita dari Gedung Arca (2006), menjadi salah satu buku yang unik dan menarik karena membahas tema yang tidak pernah dibahas oleh penulis lainnya. Aku bersyukur, dapat membantu pak Wahyono menemukan permatanya yang hilang, kumpulan tulisan yang kemudian menjadi buku itu.      &lt;br /&gt;======================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2008 pak Wahyono kembali gelisah, kali ini ia memikirkan koleksinya, siapa penerusnya yang akan merawat koleksinya. Ia berencana mencari rumah tersendiri untuk merawat koleksi-koleksinya terutama koleksi buku, lukisan dan benda-benda kuno miliknya. Aku menyarankan agar koleksi itu, asal dia mau, bisa dicari lembaga seni atau galeri yang mau menampung dan merawatnya. Tapi susah sungguh rupanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan untuk kembali melukis tiba-tiba muncul kembali. Katanya ia seolah mendapatkan energi baru untuk melukis. ”Warna-warna itu kembali muncul dik....” aku berpikir keras bagaimana caranya dapat memenuhi keinginan orang tua ini. Sampai kemudian pada suatu pagi hari ia datang ke meja kerjaku dengan bersemangat dan mengatakan ”dik, kumpulan puisi saya ditemukan teman saya di rak perpustakaan Cornell University, semalam ia mengirimkan copynya dalam bentuk pdf!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar itu ide ku muncul, aku menyarankan agar beliau kembali melukis dengan menggunakan puisi sebagai dasar imajinasinya. Dan nantinya kita terbitkan antologi puisi dan lukisan abstrak sekaligus! Pak Wahyono setuju dan meny anggupi untuk melukis dengan segera. Setelah itu hampir setiap malam pak Wahyono kembali melukiskan puisi-puisinya. Hanya dalam hitungan beberapa hari, lukisan telah siap. Aku menjanjikan Sapardi Joko Damono, sang penyair legendaris itu yang akan memberikan kata pengantarnya. Semua berjalan lancar. Suatu saat JJ Rizal, kawan yang mencetak dan m. enerbitkan buku pak Wahyono berkata ” Win, kayaknya pak Wahyono semangat banged ni nerbitin buku yang kedua, kayak buru-buru mau pergi kemana gitu....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang buku Salemba-Rawamangun (2008) adalah buku terakhir pak Wahyono. Penyair Sapardi menyatakan kepada ku ”puisi Wahyono ini lumayan, meski saya nggak cukup mengerti makna apa dalam lukisan abstraknya......”. Buku itu adalah pemuas dahaga terakhir Wahyono, ia rela mengorbankan uang yang ia punya untuk suatu karya yang ia tau pasti tak akan ada yang berminat membelinya, sebagaimana buku sebelunya. Aku berulang kali menegaskan itu. Pak Wahyono tak peduli. Ia sudah cukup puas dengan saranku untuk menerbitkan puisi dan lukisan. Seolah ia ingin katakan inilah aku Wahyono, si manusia bebas yang pernah hidup sebagai penulis, pelukis dan sekaligus penyair!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;======================&lt;br /&gt;Aku sungguh tak tau dengan jelas bagaimana ihwal kehidupan keluarga Wahyono. Yang aku tau hanya samar-samar saja, pak Wahyono tinggal di sebuah rumah milik mantan istrinya bersama putri tunggalnya, Ratih, dan beberapa orang anak tirinya dari perkawinan sang istri dengan suaminya yang terdahulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendengar sayup, bahwa mantan istri pak Wahyono, ibunda Ratih, juga anggota Mapala UI, entah M berapa? Demikian bisik-bisik dua orang ibu sahabat karib pak Wahyono yang juga sahabat karib Soe Hok Gie, Tides dan lain-lain....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rentang 2004 hingga akhir hayatnya, aku hanya mengenal sosok Pak Wahyono yang saleh, religius, rajin beribadat ke gereja dan kerap mengikuti pertemuan aliran Kristen yang ia yakini. Kami kerap berdiskusi tentang agama, termasuk tentang Mario Teguh yang ia yakini sebagai seorang Kristen, hahahahaha. ”apa yang Mario sampaikan itu dik, sama dengan ajaran pendeta di gereja saya.....” demikian ujarnya suatu ketika. Aku mengangguk sahaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=========================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2009 adalah tahun yang singkat bagi aku dan pak Wahyono. Di tengah berjalannya projek museum Polri, aku mengajak beliau untuk menjadi konsultan dalam pembangunan museum. Aku berniat untuk menulis bersama dengan pak Wahyono tentang dunia museum di Indonesia. Sayang belum kesampaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pak Wahyono jatuh sakit, kita sempat jalan berdua dua kali. Yang pertama, kami bicara berdiskusi bersama tentang museum di sebuah rumah makan favorit beliau di daerah Tanah Abang, dan kedua kalinya  aku mengajaknya untuk melihat perkembangan proyek museum Polri yang sedang berlangsung. Siang itu dengan lahap ia menyantap gulai kepala ikan kesukannya. Ia tampak menikmati, meski aku khawatir hal itu akan berakibat buruk bagi kesehatannya, terutama penyakit gula-nya. Tapi ia tampak bahagia, meski aku tak tau pasti apa yang berkecamuk di kepalanya. Hingga beberapa hari kemudian, pada saat-saat tak berdaya karena sakitnya ia terus mengirim sms kepada saya ” dik, saya sakit, saya di rawat di RS Harapan Kita” lalu berikutnya ”dik, saya harus masuk ICU.....”ia tampak berat masih menyisahkan hutang tulisan untuk buku yang akan kami susun berdua......padahal aku sudah katakan bahwa buku museum bukan segalanya, tapi kesehatan beliau adalah yang utama. Tapi itulah pak Wahyono. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya  Pak Wahyono pergi di pagi hari itu, aku bersedih dan membuka dua bukunya.  Pada salah satu puisinya ia menuliskan:      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku berlabuh di tempat nan jauh&lt;br /&gt;untuk mencari kembali matahari&lt;br /&gt;tempatkan di singgasana&lt;br /&gt;menggamit kita semua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahyono&lt;br /&gt;Jakarta, 20  Juni 1966&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;============================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini, nama pak Wahyono dalam phonebooks Hp ku belum terhapus. Setiap kali aku berkendara di wilayah Jombang-Ciater, aku teringat pak Wahyono. Ujarku dalam hati “pak Wahyono, saya sekarang tinggal dekat rumah bapak, tapi sayang bapak telah tiada, Andai saja…..kita pasti akan kerap bertemu, berbincang, berdiskusi…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan pak Wahyono, mentor ku sahabat ku. Aku sungguh merindukan perbincangan kita dahulu………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;somewhere, 28 Juli 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7473472176854231904-2823523298839174114?l=pekerjamuseum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/feeds/2823523298839174114/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7473472176854231904&amp;postID=2823523298839174114&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/2823523298839174114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/2823523298839174114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/2010/07/tentang-wahyono-mentor-dan-sahabatku-1_28.html' title='Tentang Wahyono, mentor dan sahabatku (1 Agustus 1942 – 16 Juli 2009)'/><author><name>Erwien To'tiL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16127221575751256267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/Sz4AfMOICqI/AAAAAAAAAQc/ljCFJ8iJQbE/S220/PB210370.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/TFDyjEz1MxI/AAAAAAAAASM/7JGRE3UCOik/s72-c/I+n+Wahyn.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7473472176854231904.post-4187476844832701501</id><published>2010-07-28T19:41:00.000-07:00</published><updated>2010-07-28T19:46:20.730-07:00</updated><title type='text'>MUSEUM  DAN IDENTITAS BANGSA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/TFDqvJ82tgI/AAAAAAAAASE/dj6e_qMQKn0/s1600/museumpolri010709-2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 215px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/TFDqvJ82tgI/AAAAAAAAASE/dj6e_qMQKn0/s320/museumpolri010709-2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5499153240865289730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini kalangan permuseuman di Indonesia mengadakan seminar Hari Museum Indonesia  di Yogyakarta (Kompas, 24/04/10). Seminar itu antara lain bertujuan untuk menentukan hari Museum Indonesia yang diharapkan dapat menciptakan momentum bersama bagi seluruh museum di Indonesia dalam meningkatkan kualitasnya masing-masing. Sebagaimana kita ketahui, Hari Museum Dunia diperingati setiap tanggal 18 Mei. Di Indonesia sendiri, sejauh yang terpublikasi oleh media, perayaan hari jadi museum internasional itu tampaknya baru diperingati pada 18 Mei 2009 yang lalu. Agak terlambat memang, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks kondisi permuseuman Indonesia saat ini, langkah untuk menentukan Hari Museum Indonesia memang cukup penting bagi permuseuman kita. Selain untuk merevitalisasi semangat dan kinerja dunia permuseuman Indonesia, langkah itu juga dapat memberikan identitas baru bagi dunia museum di Indonesia yang sebenarnya telah mempunyai sejarah yang cukup panjang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sejarah Museum di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dunia museum di Indonesia bukanlah hal yang baru, menurut beberapa sumber disebutkan bahwa sebelum Perang Dunia II masyarakat Indonesia telah dilanda epidemik permuseuman (Amir Sutaarga, 2000). Pendirian museum pada waktu itu banyak dilakukan atas partisipasi para pengusaha yang memanfaatkan sebagian keuntungan dari penjualan karet dan gula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelum masa itu, di Indonesia telah berdiri suatu lembaga kebudayaan bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen pada 24 April 1778 yang banyak mewariskan berbagai benda bersejarah, termasuk literatur kuno, yang kini tersimpan di Museum Nasional dan Perpustakaan Nasional di Jakarta. Pada tahun 1819 di Bogor dibuka suatu herbarium dan Museum Zoologi bersamaan dengan dibukanya Kebun Raya Bogor. Setelah itu Museum Geologi berdiri di Bandung beberapa tahun sebelum Perang Dunia II, dan menyusul kemudian Museum Sono Budoyo di Yogyakarta pada tahun 1935 (Pratameng Kusumo, 1985).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya museum di Indonesia bermula adalah sekedar tempat memamerkan benda-benda kuno (bersejarah) hingga kemudian menjadi lembaga yang berfungsi mengumpulkan, meneliti, merawat, menyajikan, dan mengkomunikasikan benda-benda alam dan budaya untuk kepentingan pengkajian, pembelajaran, dan rekreasi. Seiring dengan perkembangan pengetahuan dan minat masyarakat, museum mulai melakukan berbagai cara dalam penyajian koleksi yang bersifat kontekstual. Koleksi mulai ditampilkam dengan dukungan berbagai media, seperti media grafis, gambar, sketsa, skema, dan informasi tertulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cara itu diharapkan koleksi yang dipamerkan dapat dipahami dari berbagai sudut sejarah, latar dan fungsi sosial budaya, peranan dan penyebaran suatu benda bersejarah dalam masyarakat. Sentuhan teknologi pun tak luput dalam penyajian koleksi di beberapa museum  di Indonesia yang juga sudah menggunakan berbagai perangkat multi media (audio-visual) yang lumayan modern, terutama museum-museum di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Konsep Museum Modern &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini di Indonesia, khususnya Jakarta, telah banyak museum yang melakukan langkah maju seperti itu. Museum tidak hanya hadir sebagai tempat penelitian dan kajian ilmiah yang melulu serius dan reflektif.  Tapi di luar itu museum adalah media komunikasi dari suatu lembaga atau suatu bangsa agar masyarakat luas dapat mengerti dan memahami citra diri mereka selama ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan merangkul berbagai kalangan, para kurator museum bekerja sama dengan para seniman instalasi ruang, ahli teknologi, arsitek desain interior, pekerja  grafis, dan ahli media dan  komunikasi.  Mereka bersama-sama mewujudkan suatu konsep museum yang lebih modern, dinamis, rekreatif, tanpa mengabaikan nilai-nilai edukasi yang bersandar pada pengkajian ilmiah. Sebut saja Museum Bank Indonesia (2007), Museum Polri (2009), serta beberapa museum lainnya yang juga mulai merevitalisasi kondisinya dengan mengikuti konsep yang lebih modern ini. Selain menyajikan keunikan sejarah, koleksi benda kuno yang langka,  kemegahan dan keindahan gedung,  mereka juga menyajikan nuansa yang berbeda dalam tata pamer mereka dengan bantuan berbagai kreasi, media seni dan teknologi tentunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum-museum modern itu, tidak saja menyajikan sesuatu pengetahuan yang serius, tapi lebih dari itu museum mereka hadirkan sebagai community center yang memberikan alternatif lain bagi dunia rekreasi dan hiburan di tengah hiruk pikuknya budaya konsumerisme yang terpusat di mall dan plaza perbelanjaan dewasa ini. Tak heran jika di dalam museum itu juga terdapat sejumlah area permainan bagi anak-anak yang mungkin belum dapat banyak mengerti berbagai informasi dalam museum.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah museum yang buram dan beraura mistik, penuh dengan benda-benda sejarah yang berumur dan susah untuk ditelaah, kini sudah tak tampak lagi. Semua nuansa itu telah digantikan dengan suasana museum yang lebih ceria, desain interior yang modern dan nyaman seperti di mal atau café, serta grafis yang lebih atraktif  bagi selera anak muda. Dan tata pamer koleksi yang lebih interaktif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Siasat Museum dan  Identitas Bangsa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui bahwa museum-museum di Indonesia belum mempunyai koleksi yang fenomenal seperti lukisan Mona Lisa karya Leonado da Vinci (1506) yang tersimpan bersama 300.000 karya seni lainnya di Louvre, Paris, atau museum dengan bangunan artistik yang megah seperti kebanyakan bangunan museum di Eropa. Beberapa karya seni rupa karya para seniman Indonesia justru tersimpan di Galeri Nasional, Jakarta, atau tempat lainnya yang jarang publik mengetahuinya. Sementara itu museum negeri di Indonesia kebanyakan berisi benda-benda masa pra sejarah, batu-batu besar dengan tulisan yang nyaris tak dikenal lagi oleh masyarakat kita. Sehingga terdapat semacam “jarak” atau “ruang kosong” antara memori kolektif masyarakat dengan benda-benda bersejarah di museum kita.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari kenyataan ini, beberapa museum mulai mencari siasat untuk mengisi “jarak” dan “ruang kosong” itu. Selain dengan mulai menampilkan wajah museum yang lebih modern, juga dengan menyajikan berbagai program menarik yang dapat mendekatkan suasana batin masyarakat dengan koleksi museum. Beberapa museum mulai mengadakan workshop membatik atau membuat keramik atau juga membuat wayang, yang mencoba melibatkan masyarakat secara aktif agar mempunyai pengalaman langsung dalam mewujudkan sesuatu yang menjadi koleksi museum. Sejauh ini cara seperti itu cukup efektif dalam menarik minat masyarakat untuk mengunjungi museum. Karena mereka merasa dilibatkan, tidak hanya pasif sebagai penonton.  Dengan cara itu pengunjung merasa berdialog dengan koleksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, siasat lain yang harus dilakukan adalah bagaimana museum memberikan informasi sejarah yang lebih mengkisahkan keterlibatan peran masyarakat dalam sejarah suatu lembaga atau bangsa yang sedang dikisahkan. Seperti kita berkisah tentang Batavia atau Jakarta, hendaknya tidak melulu bercerita tentang bangsa kolonial saja, dan mengabaikan peranan sejarah bangsa –bangsa lain yang juga mempunyai peran di dalamnya. Ketika suatu lembaga menuturkan peranannya dalam sejarah, hendaknya tidak hanya dikisahkan sisi gemilang dari lembaga itu, melainkan juga harus mengkisahkan apa dampak peranan lembaga itu yang dirasakan oleh masyarakat luas. Dengan siasat inilah, dengan sendirinya masyarakat akan tergerak untuk mencintai museum, karena mereka melihat identitas mereka ada dalam informasi dan koleksi suatu museum. Dengan begitu, museum akan menjadi cermin bagi masyarakat Indonesia untuk senantiasa melihat kembali identitasnya sebagai sebuah bangsa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7473472176854231904-4187476844832701501?l=pekerjamuseum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/feeds/4187476844832701501/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7473472176854231904&amp;postID=4187476844832701501&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/4187476844832701501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/4187476844832701501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/2010/07/museum-dan-identitas-bangsa.html' title='MUSEUM  DAN IDENTITAS BANGSA'/><author><name>Erwien To'tiL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16127221575751256267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/Sz4AfMOICqI/AAAAAAAAAQc/ljCFJ8iJQbE/S220/PB210370.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/TFDqvJ82tgI/AAAAAAAAASE/dj6e_qMQKn0/s72-c/museumpolri010709-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7473472176854231904.post-3053627659557007316</id><published>2010-07-28T19:28:00.000-07:00</published><updated>2010-07-28T20:10:33.763-07:00</updated><title type='text'>(Gubernur) Bank Indonesia, Riwayat mu Kini</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/TFDpqB-VfcI/AAAAAAAAAR8/w7TFmQN0k2Q/s1600/GBI.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 217px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/TFDpqB-VfcI/AAAAAAAAAR8/w7TFmQN0k2Q/s320/GBI.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5499152053313043906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang diketahui oleh masyarakat tentang peranan Bank Indonesia? lembaga pencetak uang, pengawas bank, dan induk dari segala bank (bankers bank) di negeri ini. Sementara peranan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter yang harus menjaga stabilitas nilai rupiah serta mengendalikan inflasi kurang diketahui oleh masyarakat luas. Padahal, tugas yang terakhir ini adalah tugas utama Bank Indonesia sebagai bank sentral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan hal ini menarik jika kita mengutip pendapat Ben Bernanke, Gubernur bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve System), yang kerap mengatakan bahwa dalam mengelola perekonomian negara, bank sentral hanya bertugas sebagai “pemeran pembantu”. Maka tak mengherankan jika kontribusi lembaga moneter ini kerap diabaikan. Ketika bank sentral berhasil menjalankan tugasnya dengan baik dan berhasil memuwujudkan kondisi keuangan yang sehat, sering ka li pihak lainlah yang mendapat pujian, bukan bank sentral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pengalaman Bank Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nasib semacam itu adalah pengalaman abadi yang dialami oleh Bank Indonesia sebagai bank sentral di Indonesia. Sejarah selalu berulang, menempatkan Bank Indonesia pada tempat yang sama, tidak populer dan kambing hitam dari kebijakan perbankan atau moneter yang dianggap keliru. Lihatlah krisis ekonomi pada akhir pemerintahan Soekarno (1965-1966), Jusuf Muda Dalam, sebagai Gubernur bank sentral diadili karena dianggap berhaluan komunis dan turut membawa ekonomi Indonesia ke ambang kehancuran. Lalu krisis ekonomi di akhir pemerintahan Soeharto (1997-1998) juga telah menyeret Bank Indonesia sebagai satu-satunya terdakwa karena telah menggelontorkan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) triliunan rupiah yang diniatkan untuk menyelamatkan perbankan dari kehancuran sistemik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian yang paling mutakhir adalah kasus Century di akhir pemerintahan SBY-Kalla (2008-2009). Dalam rekomendasi pansus DPR, Bank Indonesia dinyatakan lalai dalam pengawasan Bank Century, sehingga bank tersebut bermasalah dan harus diselamatkan dengan dana 6,7 triliun rupiah yang dianggap merugikan Negara. Meskipun dalam kasus Century ini Bank Indonesia tidak sendirian, Menteri Keuangan juga menjadi tumpahan kesalahan atas kebijakan Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) yang ia pimpin.  &lt;br /&gt;Malang betul nasib Bank Indonesia. Setelah mencoba berbenah pasca krisis 1997 dengan independensinya sebagai bank sentral (UU No. 23/1999), berusaha untuk lebih akuntabel dan terbuka, tapi citranya justru kembali terpuruk karena skandal aliran dana YPPBI yang dianggap menyalahi aturan. Beberapa mantan pimpinan Bank Indonesia diseret ke pengadilan lalu masuk penjara. Bahkan Burhanuddin Abdullah, Gubernur Bank Indonesia pertama yang terpilih melalui mekanisme pemilihan dalam DPR, juga masuk penjara. Selanjutnya kelalaian dalam kasus Century menambah buruknya citra bank sentral sebagai otoritas moneter yang seharusnya disegani dan dipercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lowongnya Posisi Gubernur Bank Indonesia&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Dalam kondisi citra bank sentral yang sedang terpuruk itu, Bank Indonesia seharusnya segera mempunyai figur pemimpin yang cakap dan mampu mengembalikan citra Bank Indonesia sebagai bank sentral yang kredibel dan dipercaya. Namun sayangnya, sejak pencalonan Boediono sebagai calon wakil presiden dan kemudian secara resmi berhenti sebagai Gubernur Bank Indonesia pada 16 Mei 2009, jabatan Gubernur Bank Indonesia praktis lowong. Saat itu, hampir setahun (13 -15 bulan) lebih, Bank Indonesia dipimpin oleh seorang DGS sebagai pelaksana tugas Gubernur Bank Indonesia. Tercatat dua orang DGS yang telah mengisi posisi pelaksana tugas Gubernur, yaitu Miranda Gultom yang kemudian digantikan oleh Darmin Nasution. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya pada saat pengunduran diri Boediono dari posisi Gubernur Bank Indonesia, pemerintah menjanjikan akan segera mengajukan calon Gubernur Bank Indonesia kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Namun pada kenyataannya, hingga parlemen berganti, dan kabinet telah terbentuk, pengangkatan Gubernur Bank Indonesia belum juga dilakukan. Kemudian Presiden SBY juga mengatakan bahwa nama calon Gubernur Bank Indonesia akan segera diumumkan bersamaan dengan pengumuman nama pengganti Menteri Keuangan Sri Mulyani. Dan pada 20 Mei 2010 Menteri Keuangan telah resmi diumumkan dan dilantik keesokan harinya. Tapi nama Gubernur Bank Indonesia tak kunjung diumumkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru setelah masa 15 bulan lowong, akhirnya seperti banyak diduga sebelumnya oleh banyak kalangan, Darmin Nasution lah yang terpilih sebagai Gubernur Bank Indonesia yang ke 14 dalam sejarah bank sentral. Dalam rapat Komisi XI DPR RI beberapa waktu yang lalu Darmin diterima secara aklamasi dengan beberapa catatan. Sebelumnya beberapa fraksi merasa keberatan dengan keputusan Presiden untuk mengajukan satu nama untuk calon Gubernur BI. Tapi akhirnya riak-riak itu terlewati, dari soal pajak hingga soal century yang berusaha dikaitkan dengan Darmin, tak mampu membendung langkah Darmin sebagai Gubernur BI. Pemerintah pun menyambut gembira hasil aklamasi DPR itu. Demikian setidaknya yang disampaikan oleh Hatta Rajasa, menko perekonomian saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Gubernur Bank Indonesia dalam Sejarah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah bank sentral di Indonesia, ini adalah kali kedua posisi Gubernur bank sentral dijabat oleh pejabat sementara. Pernah pada suatu masa, yaitu awal tahun 60 an posisi Gubernur Bank Indonesia selama 15 bulan diisi oleh Menteri Keuangan Soetikno Slamet, dari September 1959 hingga Nopember 1960. Menanggapi mundurnya Mr. Loekman Hakim dari posisi Gubernur Bank Indonesia pada Agustus 1959, pemerintah segera mencari figur pimpinan bank sentral meski hanya untuk sementara. Pada saat itu sejarah mencatat bahwa kondisi politik dan ekonomi Indonesia sedang tak menentu. Sistem demokrasi dan ekonomi terpimpin Soekarno telah memicu mundurnya dua pemimpin bank sentral, yaitu Mr. Sjafruddin Prawiranegara yang merasa “terintimidasi” secara politik sehingga harus bergabung bersama PRRI di Sumatra, dan Mr. Loekman Hakim yang merasa tidak dianggap lagi sebagai pemimpin otoritas moneter karena tidak dilibatkan dalam keputusan sanering (penurunan nilai uang) pada tahun 1959.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Orde Baru, dimana tata kelola aparatur negara terselenggara dengan baik dan kondisi ekonomi berlangsung relatif stabil, tidak pernah terjadi satu kali pun kekosongan posisi Gubernur bank sentral. Dalam Dewan Moneter yang dipimpin oleh Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia dapat bekerja dengan baik bersama menteri-menteri ekonomi lainnya. Meski figur gubernur bank sentral tidak menonjol dan praktis hanya dikenal tanda tangannya yang tertera pada uang kertas Indonesia, tetapi reputasinya terjaga dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki periode reformasi, setelah Indonesia mengalami krisis, figur pemimpin bank sentral mulai dikenal luas oleh publik. Bukan karena pujian atau pengakuan atas kerja kerasnya dalam turut mengawal ekonomi Indonesia, tapi lacurnya dikenal karena berbagai kasus hukum yang mempersalahkan kebijakan yang telah mereka lakukan sebelumnya. Sejarah mencatat Soedradjad Djiwandono, Gubernur Bank Indonesia pada masa krisis diberhentikan oleh Presiden dan kemudian dituntut secara hukum karena telah melaksanakan kebijakan BLBI. Kemudian Syahril Sabirin, Gubernur Bank Indonesia pertama dalam masa independensi sempat mendekam beberapa saat dalam penjara karena skandal Bank Bali. Dan terakhir, Burhanuddin Abdullah yang akan mencalonkan diri untuk kedua kali sebagai Gubernur Bank Indonesia juga harus mendekam dalam penjara karena kasus aliran dana YPPBI. Dalam kasus Bank Century, Boediono Gubernur Bank Indonesia yang terakhir juga nyaris terseret dalam jerat hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pemerintah dan bank sentral&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini meskipun kepemimpinan bank sentral di Indonesia sebagaimana diatur dalam undang-undang dilakukan secara kolektif, yaitu oleh suatu Dewan Gubernur, tetapi menunda-nunda pengangkatan Gubernur Bank Indonesia seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, adalah teladan kebijakan yang tak patut ditiru oleh pemerintah Indonesia di masa depan. Sebagaimana lazimnya yang terjadi pada negara-negara dengan kedudukan bank sentral sebagai otoritas moneter yang independen, figur dan eksistensi seorang gubernur bank sentral mau tidak mau dapat mempengaruhi kredibilitas perekonomian negara tersebut, terutama dalam ranah moneter dan perbankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini sebenarnya ada sesuatu yang belum selesai terkait dengan posisi Gubernur Bank Indonesia dalam komposisi tata negara Indonesia. Apakah Gubernur Bank Indonesia mempunyai posisi yang sederajat dengan Presiden sebagai kepala negara, yaitu sebagai pemimpin otoritas moneter yang berada di luar struktur pemerintahan. Namun hal ini kerap dimaknai keliru oleh berbagai kalangan yang menganggap bank sentral ingin diperlakukan istimewa sebagai negara dalam negara. Padahal bukan itu maksudnya, secara teori dalam negara demokrasi posisi otoritas moneter harus independen dari intervensi penguasa agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Sebagaimana lembaga tinggi negara lainnya, pemimpin Bank Indonesia harus berdiri tegak dan sejajar dengan Presiden sebagai kepala negara, meski pengangkatannya diusulkan oleh Presiden. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai hubungan ini, contoh yang baik dapat kita ambil dari pengalaman Presiden Amerika Ronald Reagen yang tak mau turut campur atas kepemimpinan The Fed, meski terjadi ketegangan antara pemerintahannya dengan Paul Volcker, Gubernur bank sentral saat itu. Bahkan menurut pengalaman Amerika, suatu hal lumrah jika misalnya Presiden terpilih dari suatu partai menunjuk seorang Gubernur bank sentral dengan latar politik yang berbeda, hanya karena pertimbangan  kredibilitas dan profesionalisme semata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teladan seperti inilah yang harus kita jadikan contoh dalam pengelolaan bank sentral di negara kita. Dalam suasana politik apapun kita berharap pemerintah dapat berpikiran jernih untuk menjauhkan kalkulasi politik dari urusan moneter. Dengan demikian siapapun pemimpin bank sentral yang baru itu, adalah seorang profesional yang mampu menjalankan tugas bank sentral dalam menjaga tingkat inflasi, mengawasi sistem perbankan, sistem pembayaran nasional, dan menjaga nilai tukar rupiah. Semoga Darmin Nasution dapat menjadi sosok seperti yang kita harapkan itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7473472176854231904-3053627659557007316?l=pekerjamuseum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/feeds/3053627659557007316/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7473472176854231904&amp;postID=3053627659557007316&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/3053627659557007316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/3053627659557007316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/2010/07/gubernur-bank-indonesia-riwayat-mu-kini.html' title='(Gubernur) Bank Indonesia, Riwayat mu Kini'/><author><name>Erwien To'tiL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16127221575751256267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/Sz4AfMOICqI/AAAAAAAAAQc/ljCFJ8iJQbE/S220/PB210370.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/TFDpqB-VfcI/AAAAAAAAAR8/w7TFmQN0k2Q/s72-c/GBI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7473472176854231904.post-2834383538894379289</id><published>2010-05-26T19:31:00.000-07:00</published><updated>2010-05-26T19:41:46.454-07:00</updated><title type='text'>Siddharta Buddha Gautama (563 SM - 483 SM)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/S_3bagXkwXI/AAAAAAAAARk/xd9ePiHyLu4/s1600/Biksu+Buddha+di+Kuil+Srilanka.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 254px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/S_3bagXkwXI/AAAAAAAAARk/xd9ePiHyLu4/s320/Biksu+Buddha+di+Kuil+Srilanka.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5475773970364285298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gautama Buddha dilahirkan dengan nama Siddhartha Gautama (Sanskerta: Siddhattha Gotama; Pali: "keturunan Gotama yang tujuannya tercapai"), dia kemudian menjadi sang Buddha (secara harfiah: orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna). Dia juga dikenal sebagai Shakyamuni ('orang bijak dari kaum Sakya') dan sebagai sang Tathagata. Siddhartha Gautama adalah guru spiritual dari wilayah timur laut India yang juga merupakan pendiri Agama Buddha. Ia secara mendasar dianggap oleh pemeluk Agama Buddha sebagai Buddha Agung (Samma sambuddha) di masa sekarang. Waktu kelahiran dan kematiannya tidaklah pasti: sebagian besar sejarawan dari awal abad ke 20 memperkirakan kehidupannya antara tahun 563 SM sampai 483 SM. &lt;br /&gt;Siddhartha Gautama merupakan figur utama dalam agama Buddha, keterangan akan kehidupannya, khotbah-khotbah, dan peraturan keagamaan yang dipercayai oleh penganut agama Buddha dirangkum setelah kematiannya dan dihafalkan oleh para pengikutnya. Berbagai kumpulan perlengkapan pengajaran akan Siddhartha Gautama diberikan secara lisan, dan bentuk tulisan pertama kali dilakukan sekitar 400 tahun kemudian. &lt;br /&gt;Ayah dari Pangeran Siddhartha adalah Sri Baginda Raja Suddhodana dari Suku Sakya dan ibunya adalah Sri Ratu Maha Maya Dewi. Ibunda Ratu meninggal dunia tujuh hari setelah melahirkan Sang Pangeran. Setelah meninggal, beliau terlahir di alam Tusita, yaitu alam surga luhur. Sejak itu maka yang merawat Pangeran Siddharta adalah Mahā Pajāpati, bibinya yang juga menjadi isteri Raja Suddhodana.&lt;br /&gt;Pangeran Siddharta dilahirkan pada tahun 623 SM di Taman Lumbini, saat Ratu Maha Maya berdiri memegang dahan pohon sal. Pada saat ia lahir, dua arus kecil jatuh dari langit, yang satu dingin sedangkan yang lainnya hangat. Arus tersebut membasuh tubuh Siddhartha. Siddhartha lahir dalam keadaan bersih tanpa noda, berdiri tegak dan langsung dapat melangkah ke arah utara, dan tempat yang dipijakinya ditumbuhi bunga teratai.&lt;br /&gt;Oleh para pertapa di bawah pimpinan Asita Kaladewala, diramalkan bahwa Sang Pangeran kelak akan menjadi seorang Chakrawartin (Maharaja Dunia) atau akan menjadi seorang Buddha. Hanya pertapa Kondañña yang dengan tegas meramalkan bahwa Sang Pangeran kelak akan menjadi Buddha. Mendengar ramalan tersebut Sri Baginda menjadi cemas, karena apabila Sang Pangeran menjadi Buddha, tidak ada yang akan mewarisi tahta kerajaannya. Oleh pertanyaan Sang Raja, para pertapa itu menjelaskan agar Sang Pangeran jangan sampai melihat empat macam peristiwa. Bila tidak, ia akan menjadi pertapa dan menjadi Buddha. Empat macam peristiwa itu adalah: Orang tua, Orang sakit, Orang mati, dan Seorang pertapa.&lt;br /&gt;Sejak kecil sudah terlihat bahwa Sang Pangeran adalah seorang anak yang cerdas dan sangat pandai, selalu dilayani oleh pelayan-pelayan dan dayang-dayang yang masih muda dan cantik rupawan di istana yang megah dan indah. Pada saat berusia 7 tahun, Pangeran Siddharta mempunyai 3 kolam bunga teratai, yaitu: Kolam Bunga Teratai Berwarna Biru (Uppala), Kolam Bunga Teratai Berwarna Merah (Paduma), dan Kolam Bunga Teratai Berwarna Putih (Pundarika). Dalam Usia 7 tahun itu Pangeran Siddharta telah mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Tetapi Pangeran Siddharta kurang berminat dengan pelajaran tersebut. Dalam usia 16 tahun Pangeran Siddharta menikah dengan Puteri Yasodhara yang dipersuntingnya setelah memenangkan berbagai sayembara. Dan saat berumur 16 tahun, Pangeran memiliki tiga Istana, yaitu: Istana Musim Dingin (Ramma), Istana Musim Panas (Suramma), dan Istana Musim Hujan (Subha).&lt;br /&gt;Kata-kata pertapa Asita membuat Raja Suddhodana tidak tenang siang dan malam, karena khawatir kalau putra tunggalnya akan meninggalkan istana dan menjadi pertapa, mengembara tanpa tempat tinggal. Untuk itu Baginda memilih banyak pelayan untuk merawat Pangeran Siddharta, agar putra tunggalnya menikmati hidup keduniawian. Segala bentuk penderitaan berusaha disingkirkan dari kehidupan Pangeran Siddharta, seperti sakit, umur tua, dan kematian, sehingga Pangeran hanya mengetahui kenikmatan duniawi.&lt;br /&gt;Suatu hari Pangeran Siddharta meminta ijin untuk berjalan di luar istana, dimana pada kesempatan yang berbeda dilihatnya "Empat Kondisi" yang sangat berarti, yaitu orang tua, orang sakit, orang mati dan orang suci. Pangeran Siddhartha bersedih dan menanyakan kepada dirinya sendiri, "Apa arti kehidupan ini, kalau semuanya akan menderita sakit, umur tua dan kematian. Lebih-lebih mereka yang minta pertolongan kepada orang yang tidak mengerti, yang sama-sama tidak tahu dan terikat dengan segala sesuatu yang sifatnya sementara ini!". Pangeran Siddharta berpikir bahwa hanya kehidupan suci yang akan memberikan semua jawaban tersebut.&lt;br /&gt;Selama 10 tahun lamanya Pangeran Siddharta hidup dalam kesenangan duniawi. Pergolakan batin Pangeran Siddharta berjalan terus sampai berusia 29 tahun, tepat pada saat putra tunggalnya Rahula lahir. Pada suatu malam, Pangeran Siddharta memutuskan untuk meninggalkan istananya dan dengan ditemani oleh kusirnya, Canna. Tekadnya telah bulat untuk melakukan Pelepasan Agung dengan menjalani hidup sebagai pertapa.&lt;br /&gt;Setelah itu Pangeran Siddhartha meninggalkan istana, keluarga, kemewahan, untuk pergi berguru mencari ilmu sejati yang dapat membebaskan manusia dari usia tua, sakit dan mati. Pertapa Siddharta berguru kepada Alara Kalama dan kemudian kepada Uddaka Ramaputra, tetapi tidak merasa puas karena tidak memperoleh yang diharapkannya. Kemudian beliau bertapa menyiksa diri dengan ditemani lima orang pertapa. Akhirnya beliau juga meninggalkan cara yang ekstrim itu dan bermeditasi di bawah pohon Bodhi untuk mendapatkan Penerangan Agung.&lt;br /&gt;Didalam pengembaraannya, pertapa Gautama mempelajari latihan pertapaan dari pertapa Bhagava dan kemudian memperdalam cara bertapa dari dua pertapa lainnya, yaitu pertapa Alara Kalama dan pertapa Udraka Ramputra. Namun setelah mempelajari cara bertapa dari kedua gurunya tersebut, tetap belum ditemukan jawaban yang diinginkannya. Sehingga sadarlah pertapa Gautama bahwa dengan cara bertapa seperti itu tidak akan mencapai Pencerahan Sempurna. Kemudian pertapa Gautama meninggalkan kedua gurunya dan pergi ke Magadha untuk melaksanakan bertapa menyiksa diri di hutan Uruwela, di tepi Sungai Nairanjana yang mengalir dekat Hutan Gaya. Walaupun telah melakukan bertapa menyiksa diri selama enam tahun di Hutan Uruwela, tetap pertapa Gautama belum juga dapat memahami hakekat dan tujuan dari hasil pertapaan yang dilakukan tersebut.&lt;br /&gt;Pada suatu hari pertapa Gautama dalam pertapaannya mendengar seorang tua sedang menasehati anaknya di atas perahu yang melintasi sungai Nairanjana dengan mengatakan:“Bila senar kecapi ini dikencangkan, suaranya akan semakin tinggi. Kalau terlalu dikencangkan, putuslah senar kecapi ini, dan lenyaplah suara kecapi itu. Bila senar kecapi ini dikendorkan, suaranya akan semakin merendah. Kalau terlalu dikendorkan, maka lenyaplah suara kecapi itu”.&lt;br /&gt;Nasehat tersebut sangat berarti bagi pertapa Gautama yang akhirnya memutuskan untuk menghentikan tapanya lalu pergi ke sungai untuk mandi. Badannya yang telah tinggal tulang hampir tidak sanggup untuk menopang tubuh pertapa Gautama. Seorang wanita bernama Sujata memberi pertapa Gautama semangkuk susu. Badannya dirasakannya sangat lemah dan maut hampir saja merenggut jiwanya, namun dengan kemauan yang keras membaja, pertapa Gautama melanjutkan samadhinya di bawah pohon bodhi (Asetta) di Hutan Gaya, sambil ber-prasetya, "Meskipun darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulang jatuh berserakan, tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku mencapai Pencerahan Sempurna."&lt;br /&gt;Perasaan bimbang dan ragu melanda diri pertapa Gautama, hampir saja Beliau putus asa menghadapi godaan Mara, setan penggoda yang dahsyat. Dengan kemauan yang keras membaja dan dengan iman yang teguh kukuh, akhirnya godaan Mara dapat dilawan dan ditaklukkannya. Hal ini terjadi ketika bintang pagi memperlihatkan dirinya di ufuk timur.&lt;br /&gt;Pertapa Gautama telah mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Samyaksam-Buddha (Sammasam-Buddha), tepat pada saat bulan Purnama Raya di bulan Waisak ketika ia berusia 35 tahun (menurut versi Buddhisme Mahayana, 531 SM pada hari ke-8 bulan ke-12, menurut kalender lunar. Versi WFB, pada bulan Mei tahun 588 SM). Pada saat mencapai Pencerahan Sempurna, dari tubuh Sang Siddharta memancar enam sinar Buddha (Buddharasmi) dengan warna biru yang berarti bhakti; kuning mengandung arti kebijaksanaan dan pengetahuan; merah yang berarti kasih sayang dan belas kasih; putih mengandung arti suci; jingga berarti giat; dan campuran kelima sinar tersebut.&lt;br /&gt;Setelah mencapai Pencerahan Sempurna, pertapa Gautama mendapat gelar kesempurnaan yang antara lain: Buddha Gautama, Buddha Shakyamuni, Tathagata ('Ia Yang Telah Datang', Ia Yang Telah Pergi'), Sugata ('Yang Maha Tahu'), Bhagava ('Yang Agung') dan sebagainya. Lima pertapa yang mendampingi Beliau di hutan Uruwela merupakan murid pertama Sang Buddha yang mendengarkan khotbah pertama Dhammacakka Pavattana, dimana Beliau menjelaskan mengenai Jalan Tengah yang ditemukan-Nya, yaitu Delapan Ruas Jalan Kemuliaan termasuk awal khotbahNya yang menjelaskan "Empat Kebenaran Mulia".&lt;br /&gt;Buddha Gautama berkelana menyebarkan Dharma selama empat puluh lima tahun lamanya kepada umat manusia dengan penuh cinta kasih dan kasih sayang, hingga akhirnya mencapai usia 80 tahun, saat ia menyadari bahwa tiga bulan lagi ia akan mencapai Parinibbana. Sang Buddha dalam keadaan sakit terbaring di antara dua pohon sala di Kusinagara, memberikan khotbah Dharma terakhir kepada siswa-siswa-Nya, lalu Parinibbana pada 486 SM. &lt;br /&gt;Seorang Buddha memiliki sifat Cinta Kasih (maitri atau metta) dan Kasih Sayang (karuna). Cinta Kasih dan Kasih Sayang seorang Buddha tidak terbatas oleh waktu dan selalu abadi, karena telah ada dan memancar sejak manusia pertama kalinya terlahir dalam lingkaran hidup roda samsara yang disebabkan oleh ketidaktahuan atau kebodohan batinnya. Jalan untuk mencapai Kebuddhaan ialah dengan melenyapkan ketidaktahuan atau kebodohan batin yang dimiliki oleh manusia. Pada waktu Pangeran Siddharta meninggalkan kehidupan duniawi, ia telah mengikrarkan Empat Prasetya yang berdasarkan Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang tidak terbatas, yaitu berusaha menolong semua makhluk, menolak semua keinginan nafsu keduniawian, mempelajari, menghayati dan mengamalkan Dharma.&lt;br /&gt;Buddha Gautama pertama melatih diri untuk melaksanakan amal kebajikan kepada semua makhluk dengan menghindarkan diri dari sepuluh tindakan yang diakibatkan oleh tubuh, ucapan dan pikiran, yaitu Tubuh (kaya): pembunuhan, pencurian, perbuatan zinah; Ucapan (vak): penipuan, pembicaraan fitnah, pengucapan kasar, percakapan tiada manfaat; dan  Pikiran (citta): kemelekatan, niat buruk dan kepercayaan yang salah.&lt;br /&gt;Cinta kasih dan kasih sayang seorang Buddha adalah cinta kasih untuk kebahagiaan semua makhluk seperti orang tua mencintai anak-anaknya, dan mengharapkan berkah tertinggi terlimpah kepada mereka. Akan tetapi terhadap mereka yang menderita sangat berat atau dalam keadaan batin gelap, Sang Buddha akan memberikan perhatian khusus. Dengan Kasih Sayang-Nya, Sang Buddha menganjurkan supaya mereka berjalan di atas jalan yang benar dan mereka akan dibimbing dalam melawan kejahatan, hingga tercapai "Pencerahan Sempurna".&lt;br /&gt;Sebagai Buddha yang abadi, Beliau telah mengenal semua orang dan dengan menggunakan berbagai cara Beliau telah berusaha untuk meringankan penderitaan semua makhluk. Buddha Gautama mengetahui sepenuhnya hakekat dunia, namun Beliau tidak pernah mau mengatakan bahwa dunia ini asli atau palsu, baik atau buruk. Ia hanya menunjukkan tentang keadaan dunia sebagaimana adanya. Buddha Gautama mengajarkan agar setiap orang memelihara akar kebijaksanaan sesuai dengan watak, perbuatan dan kepercayaan masing-masing. Ia tidak saja mengajarkan melalui ucapan, akan tetapi juga melalui perbuatan. Meskipun bentuk fisik tubuh-Nya tidak ada akhirnya, namun dalam mengajar umat manusia yang mendambakan hidup abadi, Beliau menggunakan jalan pembebasan dari kelahiran dan kematian untuk membangunkan perhatian mereka.&lt;br /&gt;Pengabdian Buddha Gautama telah membuat diri-Nya mampu mengatasi berbagai masalah didalam berbagai kesempatan yang pada hakekatnya adalah Dharma-kaya, yang merupakan keadaan sebenarnya dari hakekat yang hakiki dari seorang Buddha. Sang Buddha adalah pelambang dari kesucian, yang tersuci dari semua yang suci. Karena itu, Sang Buddha adalah Raja Dharma yang agung. Ia dapat berkhotbah kepada semua orang, kapanpun dikehendaki-Nya. Sang Buddha mengkhotbahkan Dharma, akan tetapi sering terdapat telinga orang yang bodoh karena keserakahannya dan kebenciannya, tidak mau memperhatikan dan mendengarkan khotbah-Nya. Bagi mereka yang mendengarkan khotbah-Nya, yang dapat mengerti dan menghayati serta mengamalkan Sifat Agung Sang Buddha akan terbebas dari penderitaan hidup. Mereka tidak akan dapat tertolong hanya karena mengandalkan kepintarannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Referensi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berbagai artikel dalam  www. wikipediaIndonesia.com&lt;br /&gt;Huston Smith, Agama-Agama Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1985.&lt;br /&gt;David G. Bradley, A Guide to the Worlds Religions. New York, Prentice Hall, Incl., 1963.&lt;br /&gt;Michael H. Hart, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah. Jakarta, PT. Dunia Pustaka Jaya, 1982.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7473472176854231904-2834383538894379289?l=pekerjamuseum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/feeds/2834383538894379289/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7473472176854231904&amp;postID=2834383538894379289&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/2834383538894379289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/2834383538894379289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/2010/05/siddharta-buddha-gautama-563-sm-483-sm.html' title='Siddharta Buddha Gautama (563 SM - 483 SM)'/><author><name>Erwien To'tiL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16127221575751256267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/Sz4AfMOICqI/AAAAAAAAAQc/ljCFJ8iJQbE/S220/PB210370.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/S_3bagXkwXI/AAAAAAAAARk/xd9ePiHyLu4/s72-c/Biksu+Buddha+di+Kuil+Srilanka.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7473472176854231904.post-1819011220472144932</id><published>2010-05-18T19:05:00.000-07:00</published><updated>2010-05-20T18:00:32.711-07:00</updated><title type='text'>Siapa Gubernur Bank Indonesia Berikutnya?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/S_Xa57ztuaI/AAAAAAAAARc/_x5n9Pi6G7s/s1600/DG+BI.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 199px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/S_Xa57ztuaI/AAAAAAAAARc/_x5n9Pi6G7s/s320/DG+BI.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5473521610980702626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini adalah tulisan lama, saya membuatnya sekitar Januari 2010. berharap kapan segera Bank Indonesia mempunyai nahkoda baru. ternyata hingga sekarang tak kunjung ada pengganti. menurut saya, BI benar2 tidak menjadi prioritas. sektor moneter pada periode SBY ini memang tidak hanya selaras dengan kebijakan pemerintah. tapi, cenderung manut....maka tak heran, jika BI hanya perlu dijaga oleh seorang DGS saja, tak perlu Gubernur. setidaknya setahun ini berlaku demikian. selamat menyimak....&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Januari 2010)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Apa tugas utama dari seorang Gubernur Bank Indonesia? Jika kita merujuk kepada undang-undang tentang Bank Indonesia, UU No. 23/1999 yang disempurnakan dengan UU No. 3/2004, Gubernur Bank Indonesia bertugas memimpin Bank Indonesia sebagai bank sentral yang bertanggung jawab untuk menjaga inflasi, mengawasi sistem perbankan, sistem pembayaran nasional, dan menjaga nilai tukar rupiah. Tentunya Gubernur Bank Indonesia tidak memimpin bank sentral seorang diri. Kepemimpinan bank sentral di Indonesia sebagaimana diatur dalam undang-undang dilakukan secara kolektif oleh Dewan Gubernur yang terdiri Gubernur Bank Indonesia, sebagai pucuk pimpinan, Deputi Gubernur Senior (DGS) sebagai wakil, dan beberapa anggota Deputi Gubernur (DG) yang memimpin langsung beberapa direktorat di dalam struktur organisasi Bank Indonesia. Sebagaimana lazimnya yang terjadi pada negara-negara dengan kedudukan bank sentral sebagai otoritas moneter yang independen, figur dan eksistensi seorang gubernur bank sentral mau tidak mau dapat mempengaruhi kredibilitas perekonomian negara tersebut, meskipun bank sentral dipimpin secara kolektif.&lt;br /&gt;Sejak pencalonan Boediono sebagai calaon wakil presiden dan kemudian secara resmi berhenti sebagai Gubernur Bank Indonesia pada 16 Mei 2009, jabatan Gubernur Bank Indonesia praktis lowong. Hingga saat ini, kurang lebih tujuh bulan lamanya, Bank Indonesia dipimpin oleh seorang DGS sebagai pelaksana tugas Gubernur Bank Indonesia. Tercatat dua orang DGS yang telah mengisi posisi pelaksana tugas Gubernur, yaitu Miranda Gultom yang kemudian digantikan oleh Darmin Nasution.Padahal, pada saat pengunduran diri Boediono dari posisi Gubernur Bank Indonesia, pemerintah menjanjikan akan segera mengajukan calon Gubernur Bank Indonesia kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Namun pada kenyataannya, hingga parlemen berganti, dan kabinet telah terbentuk, pengangkatan Gubernur Bank Indonesia belum juga dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Masalah politis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, memang belum ada dampak serius yang dirasakan oleh perekonomian kita akibat absennya Gubernur Bank Indonesia ini, meski harus diakui bahwa para pelaku pasar ekonomi mulai bertanya-tanya tentang kepastian siapa Gubernur Bank Indonesia setelah Boediono. Pemerintah dan DPR tampaknya masih masygul menghadapi kasus demi kasus yang terus terjadi dalam dunia politik Indonesia. Dari kasus perseteruan antara KPK dan Polri (Cicak dan Buaya) hingga skandal Bank Century yang belakangan ini juga mulai menyeret beberapa nama pimpinan Bank Indonesia periode kepemipinan Boediono-Miranda. Dua kasus politik itu rupanya telah menyita perhatian pemerintah dan DPR, hingga masalah kepemimpinan Bank Indonesia seakan belum menjadi prioritas. Pun demikian di sela-sela ramaianya pembicaraan skandal Century, dalam berbagai kesempatan beberapa kalangan mulai menyuarakan agar pemerintah dan DPR segera menetapkan siapa Gubernur Bank Indonesia yang akan datang. &lt;br /&gt;Jika melihat gelagatnya, agaknya pemerintah cukup puas dengan komposisi Dewan Gubernur yang memimpin Bank Indonesia pada saat ini. Sehingga jika nantinya resmi diajukan, dapat dipastikan bahwa Darmin Nasution, DGS yang saat ini menjabat sebagai pelaksana tugas Gubernur Bank Indonesia, adalah kandidat kuat yang akan mengisi posisi lowong Gubernur Bank Indonesia. Maka jika ini benar terjadi, berarti pemerintah harus mencari DGS baru yang beberapa kandidatnya pun juga mulai beredar di kalangan pelaku ekonomi dan masyarakat luas.&lt;br /&gt;Namun demikian, posisi Gubernur Bank Indonesia tentu tidak segamblang dan sejelas itu. Pada masa reformasi ini pimpinan bank sentral adalah salah satu posisi politis yang abu-abu, kerap diperebutkan dan diperdebatkan secara alot, penuh dengan syak wasangka. Artinya dalam masa reformasi ini kerap kita menyeret-nyeret urusan moneter dan pengawasan perbankan kepada urusan kepentingan politik yang sesaat. Hal yang sebenarnya tidak boleh terjadi. Lamanya waktu yang dibutuhkan pemerintah untuk mengajukan nama yang mengisi jabatan Gubernur Bank Indonesia setidaknya telah menunjukkan hal itu. Ada pertimbangan politis yang selalu  tak dapat ditinggalkan. &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dari Dalam atau Luar &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lamanya waktu penetapan calon Gubernur ini, belakangan mulai menimbulkan berbagai macam spekulasi di kalangan pelaku pasar ekonomi Indonesia. Ada yang mulai menyuarakan bahwa seharusnya Gubernur Bank Indonesia nantinya diambil dari luar Bank Indonesia, yaitu kalangan bankir profesional. Pertimbangan bahwa dengan pengalaman sebagai bankir profesional, maka diharapkan Bank Indonesia akan lebih memperhatikan sektor riil dan tidak melulu berpaku pada urusan moneter.&lt;br /&gt;Sementara itu, banyak kalangan yang menyuarakan bahwa sebaiknya Gubernur Bank Indonesia yang baru adalah figur yang tepat, yang menguasai permasalahan moneter dan perbankan, baik karena latar belakang dispilin ilmu yang mereka kuasai atau karena faktor pengalaman. Dengan mengacu kriteria tersebut, sebenarnya banyak figur dari dalam Bank Indonesia yang cukup memenuhi syarat. Sebut saja Hartadi A.Sarwono, Muliaman D Hadad, Siti Fajriyah adalah figur-figur dari dalam Bank Indonesia yang cukup mumpuni dan disegani di kalangan pelaku ekonomi, namun belum cukup terpublikasi dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tegas dan Independen (pengalaman sejarah)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari polemik antara figur dari dalam ataupun luar organisasi Bank Indonesia  yang nantinya akan menjadi Gubernur. Ada kriteria lain yang harus mutlak dimiliki oleh figur Gubernu Bank Indonesia, yaitu sikap tegas dan independen. Beberapa permasalahan yang muncul belakangan ini, menyiratkan betapa mahalnya harga suatu ketegasan pimpinan bank sentral dalam mempertahankan independensinya. Terutama dalam hal menghadapi intervensi dari kepentingan vested interest baik dari kubu pemerintah, partai politik atau kelompok kepentingan manapun yang ingin mengambil keuntungan dari kebijakan bank sentral. Karena nila setitik rusak susu sebelanga, karena dosa segelintir pemipinya runtuhlah kepercayaan publik terhadap semua kinerja bank sentral. Begitulah kira-kira harga yang harus dipertaruhkan oleh bank sentral jika dipimpin oleh figur kepemimpinan yang lemah, tidak tegas dan kurang teguh dalam mempertahankan independensi.      &lt;br /&gt;Dalam sejarah bank sentral, ada beberapa figur Gubernur yang dapat menjadi teladan kita dalam hal ketegasan dan independensi. Gubernur Bank Indonesia yang pertama, yaitu Mr. Sjafruddin Prawiranegara adalah salah satu teladan yang baik dalam hal ketegasan dan independensi. Sjafruddin berpendapat bahwa bank sentral memerlukan pemimpin yang handal (ahli), baik secara keilmuan (teoritis) maupun  pengalaman (teknis). Selain itu  kepemimpinan dalam bank sentral seharusnya bersifat berkesinambungan, tidak ada kata jeda, terlebih lagi karena permasalahan politik. Berbeda dengan kabinet yang boleh jadi  akan berubah-ubah akibat berbagai pengaruh dan kepentingan politik. Pimpinan bank sentral pun harus bebas dari kepentingan politik, agar tidak dapat dimanfaatkan oleh kekuatan politik. &lt;br /&gt;Sjafrudin mengibaratkan urusan moneter dan perbankan yang diamanatkan kepada bank sentral dan pemimpinnya, dalam beberapa hal mempunyai kesamaan dengan kedudukan hukum dan otoritasnya (hakim). Kedua hal itu tidak boleh berada dibawah kekuasaan pemerintah, atau kekuasaan siapapun yang berkuasa. Karena urusan moneter, perbankan, dan hukum hanya dapat ditegakkan  bila sama sekali bebas dari pengaruh, politik dan campur tangan pemerintah atau penguasa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7473472176854231904-1819011220472144932?l=pekerjamuseum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/feeds/1819011220472144932/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7473472176854231904&amp;postID=1819011220472144932&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/1819011220472144932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/1819011220472144932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/2010/05/siapa-gubernur-bank-indonesia.html' title='Siapa Gubernur Bank Indonesia Berikutnya?'/><author><name>Erwien To'tiL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16127221575751256267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/Sz4AfMOICqI/AAAAAAAAAQc/ljCFJ8iJQbE/S220/PB210370.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/S_Xa57ztuaI/AAAAAAAAARc/_x5n9Pi6G7s/s72-c/DG+BI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7473472176854231904.post-1222810776429133254</id><published>2010-05-12T21:29:00.000-07:00</published><updated>2010-05-20T17:55:49.138-07:00</updated><title type='text'>Para Teroris Indonesia Dari AlFaruq hingga Dulmatin</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/S_XaC_tLEUI/AAAAAAAAARM/tAwfA17UovI/s1600/dulmatin+cs.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 254px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/S_XaC_tLEUI/AAAAAAAAARM/tAwfA17UovI/s320/dulmatin+cs.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5473520667134202178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dari serangkaian peristiwa terorisme yang hampir berlangsung selama satu dasawarsa (2000-2010) di Indonesia, ada dua nama yang sangat akrab dalam ingatan masyarakat Indonesia, yaitu: Dr. Azahari dan Noordin M. Top, duo teroris negeri jiran yang sempat menjadi hantu teror di Indonesia. Namun demikian, waktu satu dasawarsa itu tentunya adalah jangka waktu yang sangat lama dan cukup menegangkan bagi masyarakat Indonesia yang terus menanti kapan teror akan berakhir, dan kapan jaringan terorisme itu akan terungkap. &lt;br /&gt;Sebagian dari para teroris ini ada yang telah tewas pada saat penangkapan, mati dihukum mati, atau masih dalam penjara dan menanti proses hukuman atas tindakan teror yang mereka lakukan. Berikut ini adalah beberapa kelompok teroris yang pernah membuat kekacauan dan mengacam keamanan masyarakat Indonesia. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Umar al Faruq&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Nama ini muncul ke permukaan pada tahun 2002. Saat itu diberitakan bahwa seorang pria bernama Faruq dicokok intel Indonesia di Bogor, 5 Juni 2002. Pria itu dituduh berada di belakang aksi pengeboman sejumlah gereja pada tahun 2000 dan mendalangi upaya pembunuhan Presiden Megawati Soekarnoputri. Intelijen AS menuding Faruq tangan kanan Osama bin Laden dan menjadi tokoh penting Jamaah Islamiyah. &lt;br /&gt;Majalah Time edisi September 2002 menyebut Faruq berkewarganegaraan Kuwait. Tapi, Kuasa Usaha Kedutaan Besar Kuwait di Jakarta mengatakan Faruq berkewarganegaraan Irak dengan nama Mahmud Ahmad Muhammad al-Rasyid, dengan paspor bernomor 0549549. Rasyid masuk Kuwait pada 1985 dan bekerja di negara kaya minyak itu sepuluh tahun. Disebutkan, Rasyid alias Faruq pernah berlatih militer di kamp Al-Qaidah di Khaldan, Afganistan, bersama Abu Zubaidah, tangan kanan Osama Bin Laden, miliarder Arab yang disebut sebagai orang nomor satu di jaringan Al-Qaidah. Faruq juga ditugasi oleh Al-Qaidah ke Moro, Filipina Selatan, membantu Front Pembebasan Islam di sana. &lt;br /&gt;Time juga menyebutkan Faruq memiliki hubungan penting dengan jaringan teror di Indonesia. Ia, misalnya, dikabarkan dekat dengan Abu Bakar Ba’asyir, pemimpin Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Solo. Kata Faruq, dalam laporan Time, Ba’asyir merupakan tokoh kunci Jamaah Islamiyah di Asia Tenggara yang juga merestui pelbagai aksi kekerasan di Indonesia. Sementara itu, Ba’asyir kepada wartawan berkali-kali membantah mengenal Umar al-Faruq. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Umar al Faruq tangan kanan Osama bin Laden&lt;br /&gt;Soal penangkapan Faruq mengundang banyak tanda tanya. Secara resmi ia dituduh bersalah karena menyalahgunakan dokumen imigrasi. Karena itulah ia tidak ditahan di Indonesia, melainkan dikembalikan ke negara asalnya. Akan tetapi menurut sumber berita, petugas imigrasi Jawa Barat mengaku tak tahu-menahu soal penangkapan Faruq. Kemudian Badan Intelijen Negara (BIN) mengakui pihaknya yang menangkap Faruq. Menurut Muchyar Yara (ketika itu Asisten Kepala Bidang Sosial dan Kemasyarakatan BIN), Faruq ditangkap oleh tim yang dipimpin Mayor Andika Perkasa, perwira Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang diperbantukan dalam operasi BIN. Andika adalah menantu Hendropriyono, Kepala BIN saat itu. &lt;br /&gt;Pertanyaan muncul: mengapa BIN yang menangkap? Bukankah hak menangkap tersangka hanya dimiliki oleh polisi? Lalu, mengapa pula BIN menyerahkan kepada AS? Menurut berita para narasumber menemukan fakta bahwa Faruq diterbangkan dari Bandar Udara Halim Perdanakusuma dengan sebuah pesawat khusus. Paspor Faruq bahkan distempel dengan cap kedatangan Malaysia agar terkesan ia dideportasi ke negara itu. Diketahui Faruq diserahkan ke intelejen Amerika Serikat yang kemudian membawanya ke penjara Bagram, Afganistan, penjara yang selama ini dikenal sebagai tempat Amerika menempatkan sejumlah tahanan teroris jaringan Osama bin Laden.&lt;br /&gt;Berita terakhir tentang Umar al-Faruq, ia dikabarkan  lolos dari penjara Bagram, Afganistan pada 10 Juli 2005, meskipun berita lolosnya Faruq dari penjara dengan status maximum security yang berada di bawah pengawasan Amerika itu baru tersiar pada 1 November 2005. Bersama dia ikut hengkang tiga tahanan lain, yakni Abdullah Hasimi (warga Suriah), Mahmud al-Kahtai (warga Arab Saudi), dan Muhammad Hassan (warga Libya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hambali&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Nama aslinya adalah Encep Nurjaman, berasal dari Kampung Pamokolan di pelosok Cianjur, Jawa Barat. Laki-laki yang tenar sebagai Hambali ini terkenal justru karena tuduhan sebagai gembong teroris dunia. Pada Agustus 2003 ia berasil ditangkap oleh aparat intelejen dunia di sebuah apartemen di Thailand. Penangkapan itu diumumkan secara resmi oleh Presiden Amerika Serikat George W. Bush, dan dicermati oleh agen intelijen mancanegara. Ia menjadi buruan dunia yang namanya bertengger di belakang nama Osama bin Laden, pimpinan gerakan Al-Qaidah. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hambali alias Encep Nurjaman&lt;br /&gt;Sementara itu di kalangan keluarga, mereka mengenal Encep sebagai juru dakwah keliling yang santun, sosok yang bertanggung jawab dan taat beribadah. Anak kedua dari 12 bersaudara ini membantu ekonomi keluarga dengan pergi merantau ke Malaysia pada usia 19 tahun untuk berdagang sambil aktif mengikuti pengajian, terutama yang diadakan oleh mendiang Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir. &lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian, ia pergi berjihad ke Afganistan untuk membantu saudara seiman mengusir rezim yang kafir. Di medan laga itulah putra guru SD ini bertemu dengan saudara seperjuangan dari berbagai penjuru dunia dan menjadi bagian dari jejaring internasional yang punya satu tujuan dan pernah merasa sukses dalam memilih aksi kekerasan. Setelah tiga tahun berjihad di Afganistan, Hambali kembali ke Malaysia dan aktif berceramah di berbagai pengajian. &lt;br /&gt;Dalam ceramahnya, ia dikabarkan kerap menceritakan pertemuan-pertemuannya dengan Osama bin Laden, bahkan diberitakan menjadi anggota Dewan Syura Al-Qaidah yang dipimpin tokoh kelahiran Arab Saudi itu. Selain itu, Hambali diduga menjadi pemimpin operasional Jamaah Islamiyah, organisasi rahasia yang didirikan Abdullah Sungkar dan bercita-cita mendirikan kekhalifahan Islam di Asia Tenggara. &lt;br /&gt;Terlepas dari itu semua seberapa pentingkah perannya dalam berbagai kasus teror di Indonesia atau bahkan di dunia?  Hal itu akan terlihat dari jumlah negara yang berkepentingan terhadap pemeriksaan Hambali. &lt;br /&gt;1. Indonesia &lt;br /&gt;Markas Besar Kepolisian RI menduga Hambali terlibat setidaknya dalam 41 aksi peledakan di banyak tempat di Indonesia dalam kurun waktu sejak tahun 2000. Di antaranya adalah 29 aksi pengeboman di Medan, Batam, Jakarta, Pekanbaru, Bandung, Sukabumi, dan Mojokerto pada malam Natal tahun 2000. Ia juga dituduh berada di balik bom Atrium Senen (Jakarta) dan di trotoar depan gedung Kedutaan Besar Filipina di Jakarta. Aksinya yang terbesar adalah dalam kasus Bom di Kuta, Bali, pada 12 Oktober 2002, yang menewaskan 202 orang. Terakhir, Hambali disebut-sebut berada di balik bom yang meledak di lobi Hotel JW Marriott, Jakarta, yang menewaskan 12 orang pada 5 Agustus lalu. Menurut polisi, Hambali diduga mengirim uang sekitar Rp 382 juta untuk biaya pengeboman ini. Mabes Polri sendiri telah menyiapkan tim pemeriksa Hambali, tapi Amerika belum memberi akses untuk itu. &lt;br /&gt;2. Australia &lt;br /&gt;Pemerintah Australia sangat bernafsu menginterogasi Hambali karena keterlibatannya dalam bom di Bali, 12 Oktober 2002. Maklum, dari 202 korban tewas dalam serangan teroris nomor dua terbesar setelah peristiwa World Trade Center di New York itu, 88 di antaranya adalah warga Australia yang tengah melancong ke Kuta. &lt;br /&gt;3. Filipina &lt;br /&gt;Puluhan korban tewas di Manila sekitar tiga tahun lalu membuat Filipina juga ngotot menghukum Hambali. Ia dituduh berada di belakang aksi peledakan bom di stasiun di Manila, yang menewaskan 22 orang pada 30 Desember 2000. Bahkan, menurut laporan intelijen AS, Hambali bertanggung jawab atas serangan bom ke pesawat Philippines Airlines, rencana peledakan 12 pesawat AS, dan usaha pembunuhan Paus Yohanes Paulus II dalam kunjungannya ke Filipina pada tahun 1990-an. Pemerintah Filipina yakin, aksi bom keji di stasiun itu merupakan pembalasan atas penangkapan beberapa anggota Front Pembebasan Islam Moro (MILF) di markas mereka di Filipina Selatan, awal tahun 2000.  Fathur Rohman al-Ghozi, warga Indonesia yang dipidana di Filipina tapi melarikan diri, pernah menyebut Hambali sebagai pemimpinnya. &lt;br /&gt;4. Malaysia &lt;br /&gt;Negeri yang menjadi tempat persinggahan para teroris Asia ini menuduh Hambali telah menggunakan dana donasi warga Malaysia untuk membiayai pengeboman di sejumlah tempat dan latihan militer di Afganistan. Harian The Star yang terbit di Malaysia menyebutkan, Hambali pernah menerima 95 ribu ringgit untuk menjalankan Jamaah Islamiyah. Sebagian di antaranya, sebesar 8.000 ringgit, diperoleh dari sumbangan Pertubuhan Al-Ehasan, sebuah organisasi nirlaba Malaysia yang didirikan pada 1998 atas perintah Hambali. Menurut The Star, dana yang dikumpulkan dengan janji untuk membantu umat muslim itu juga dipakai membiayai pengeboman di Manila. Dengan uang itu pula, Jamaah Islamiyah membiayai Zaccharias Moussaoui, warga Prancis yang ditahan AS dengan tuduhan terlibat aksi WTC pada 2001. Malaysia telah menahan sedikitnya 80 tersangka militan Islam, mayoritas diduga anggota Jamaah Islamiyah yang berniat mendirikan negara Islam regional di Asia Tenggara. &lt;br /&gt;5. Singapura&lt;br /&gt;Negeri ini menganggap Hambali berada di balik rencana serangan bom ke berbagai kepentingan Amerika dan Eropa di Singapura. Itu diketahui dari temuan pemerintah Malaysia di tempat yang diduga gudang bahan pembuat bom di sebuah perkebunan kelapa sawit pada Maret lalu. Pemerintah Singapura pada Desember 2001 mengumumkan telah menangkap 31 orang dan memblokir rencana Jamaah Islamiyah menyerang sejumlah aset Amerika dan negara-negara Barat. &lt;br /&gt;6. Amerika Serikat &lt;br /&gt;Negara adidaya inilah yang kini menguasai Hambali di sebuah tempat yang masih dirahasiakan. Sebagai negara korban teror terbesar, Amerika telah menyatakan perang terhadap terorisme di seluruh pelosok dunia. Pada 11 September 2001, empat pesawat komersial Amerika dibajak sekelompok teroris dan ditabrakkan ke menara kembar gedung WTC di New York, gedung Pentagon, dan juga ada yang terjatuh di hutan. Lebih dari 3.000 orang tewas. Amerika menuduh Al-Qaidah, organisasi yang dipimpin bangsawan Arab Saudi, Usamah bin Ladin, berada di balik bom ala kamikaze ini. Amerika menuduh Hambali sebagai jaringan Usamah di Asia. Apalagi, menurut penyelidikan Amerika sendiri, Hambali pernah bertemu dengan Halid al-Midhar dan Nawaf al-Hasmi, dua di antara pembajak pesawat ke WTC itu, di sebuah apartemen di Kuala Lumpur pada Januari 2000. &lt;br /&gt;7. Thailand &lt;br /&gt;Semula, demi kepentingan pariwisata, Thailand menafikan adanya teroris yang bergerak di negara itu. Tapi penangkapan Hambali di sebuah apartemen di Ayutthaya, 80 kilometer dari Bangkok, 11 Agustus 2003 lalu memaksa Negeri Gajah Putih mawas diri. Perdana Menteri Thaksin Shinawatra ataupun polisi setempat yakin, Hambali berada di sana untuk mempersiapkan serangan saat pertemuan ekonomi negara-negara Asia Pasifik (APEC) Oktober mendatang, yang dihadiri Presiden AS George W. Bush. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dr. Azahari dan Noordin M. Top&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dr. Azahari dan Noordin M. Top minggat dari Malaysia setelah pemerintah Mahathir Mohamad menangkapi kelompok garis keras Kumpulan Mujahidin Malaysia (KMM) pada 2000. Ia lari ke Thailand bersama Ali Gufron, kakak Amrozi dari Tenggulun, Jawa Timur, sebelum akhirnya masuk Indonesia. Nama Azahari pertama kali disebut para tersangka bom Bali I pada 2002, terutama oleh Ali Imron. Apalagi kemudian aparat berhasil mencokok Hambali, Ketua Mantiqi I JI. Akibatnya, saringan JI kocar-kacir, namun justru Azahari dengan duetnya Noor Din M. Top mampu bertahan. &lt;br /&gt;Pasangan ini sungguh solid karena memiliki sejarah panjang sebelumnya. Mereka sama-sama terkait dengan UTM. Azahari sebagai dosen, dan Noordin mahasiswa. Keduanya juga bersamaan bergabung dengan JI dan bareng-bareng belajar paramiliter di Kamp Hudaibiyah, Filipina Selatan. Keduanya adalah anggota Wakalah Johor. Pasangan maut ini kemudian dituding berada di balik serangkaian bom yang mengguncang Tanah Air: bom JW Marriott (Agustus 2003), bom Kuningan (September 2004), dan terakhir bom Bali II (Oktober 2005). Menurut Conboy, duet Malaysia tersebut memang mampu terus melakukan perekrutan tenaga-tenaga baru untuk melakukan aksi bunuh diri. &lt;br /&gt;Dalam berbagai kesempatan, Azahari juga terus menularkan keahliannya dalam meracik bom kepada sel-sel JI yang masih bertahan. Ia dikenal sebagai pengajar yang baik. Menurut Ali Imron, pelaku bom Bali I, Azahari amat sabar dalam memberikan pelajaran membikin alat pencabut nyawa itu. Sementara itu Noordin terkenal dipercaya memiliki kemampuan tinggi dalam merekrut kader baru untuk menjalankan misi terornya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dr. Azahari, doktor Bom dari negeri jiran&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Lalu siapakah sebenarnya Dr. Azahari? Media menyebutnya sebagai Hantu Bom dari Johor. Tak seorang pun dapat memahami, mengapa Azahari bin Husin bisa berubah menjadi hantu bom paling mengerikan di Asia Tenggara. Sebab, sejak mudanya, kecil sekali petunjuk akan tendensi radikal genius matematika ini. Namun diduga, penyebabnya pasti sangat membekas dalam kehidupan profesor berumur 46 tahun ini, sehingga ia memutuskan bergabung dalam kelompok Islam militan, malang-melintang di Afganistan dan Filipina. &lt;br /&gt;Azahari belajar ke Australia empat tahun pada akhir 1970-an, ketika banyak pelajar Malaysia larut dalam kancah perpolitikan Islam gara-gara terpengaruh Revolusi Islam Iran. Namun tak ada anasir radikal ataupun keagamaan yang diminati Azahari ketika itu. Bahkan, menurut data yang dikumpulkan polisi, Azahari gagal meraih gelar masternya di Adelaide gara-gara terlalu banyak jalan-jalan dan pelesiran. Ia pulang ke Malaysia dan meraih gelar masternya. Pada 1980-an ia terbang ke Reading University di Inggris. Di sini dosennya sangat terkesan lalu membujuk dia menyelesaikan doktoralnya di universitas tersebut. Pada 1990 ia meraih Ph.D. dalam kajian model statistika dengan yudisium cum laude. &lt;br /&gt;Balik ke Malaysia, ia dan istrinya mengajar di Universiti Teknologi Malaysia di Skudai, Negara Bagian Johor. Ia menjadi dosen di fakultas teknik dan ilmu geoinformasi. Ketika itu ia pun masih belum menunjukkan sentimen Islam yang kuat. Aparat intelijen Malaysia menduga, perubahan mulai terjadi sekitar pertengahan 1990-an, ketika ia sering hadir dalam pengajian almarhum Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir. Berbeda dengan hampir semua akar jaringan Jamaah Islamiyah yang rata-rata berasal dari pedesaan dan mendapat pengajaran Islam dari pesantren atau madrasah, Azahari adalah sosok yang lahir dari kelas menengah dan berpendidikan tinggi (akademisi).  &lt;br /&gt;Pada sekitar tahun-tahun itu pula istrinya terserang kanker tenggorokan. Sang istri dapat diselamatkan, tapi tak mampu berbicara lagi sehingga harus pensiun mengajar. Semula, polisi mengira, sakitnya sang istri setelah kelahiran anak keduanya itu bisa menjadi katalisator perubahan dalam diri Azahari. Yang terjadi justru sebaliknya. Ia bahkan berangkat ke Afganistan dan ke wilayah selatan Filipina pada akhir 1990-an. Sejak pergi ke Filipina itulah ia seakan terobsesi membuat bom. Pada tahun 1999 lelaki berperawakan tinggi dan putih ini dikenal sebagai instruktur bom di kamp gerilyawan MILF (Moro Islamic Liberation Front) di Mindanao, Filipina Selatan. Dan pada tahun 2000 ia bersama Hambali alias Encep Nurjaman mengikuti kursus bom tingkat lanjut di Kandahar, Afganistan. &lt;br /&gt;Setelah tertangkapnya Hambali, Azahari menjadi buron utama. Apalagi, menurut pejabat CIA, dalam interogasinya Hambali mengaku Azahari sebagai penggantinya. Seorang polisi Indonesia yang terlibat dalam pengejaran Azahari menggambarkan, lelaki itu benar-benar luar biasa dalam urusan merangkai bahan peledak. Dia ahli merakit bom dengan bahan campuran low explosive dan high explosive menjadi bom rakitan yang lebih dahsyat dari bom konvensional. Azahari pun piawai merangkai kombinasi pemicu ledakan sehingga nyaris tak mungkin gagal. &lt;br /&gt;Doktor Azahari bin Husin, buruan paling berbahaya yang bertahun-tahun lolos dari pengejaran, akhirnya tewas dalam silang tembak ketika disergap polisi pada Rabu sore, 9 November 2005, di Perumahan Flamboyan, Jalan Flamboyan Raya Nomor 7, Batu, Jawa Timur. Di sanalah akhirnya petualangan Azahari berakhir, meda massa ramai membicarakannya. Tetapi kesenyapan justru melanda kediamannya di Jalan AU 2C/6 No. 12, Keramat, Kuala Lumpur. Menurut laporan media, rumah itu terkunci rapat, tak kelihatan siapa pun kecuali sebuah mobil sedan Toyota Unser warna hitam.  Warga sekitar yang mengenal Azahari tak percaya tetangganya itu seorang gembong teroris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Detik Terakhir Azahari &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;9 November 2005 &lt;br /&gt;Polisi menangkap Cholili, anak buah Azahari, di daerah Genuk, perbatasan Semarang dan Demak. Cholili membenarkan Azahari ada di Batu. Penggerebekan pun segera dipersiapkan. &lt;br /&gt;14.00 WIB &lt;br /&gt;Polisi mengevakuasi warga setempat. &lt;br /&gt;15.00 WIB &lt;br /&gt;Tim antiteror dari Detasemen 88 Mabes Polri Jakarta mulai mengepung rumah kontrakan Azahari. &lt;br /&gt;16.00 WIB &lt;br /&gt;Azahari dan teman-teman menolak menyerah. Baku tembak diselingi ledakan bom pun tak terhindarkan. Kira-kira setengah jam kemudian, polisi menguasai situasi. &lt;br /&gt;19.30 WIB &lt;br /&gt;Tim penjinak bom dari Kepolisian Daerah Jawa Timur menyisir sekitar rumah kontrakan Azahari, mencari sisa bom yang belum meledak. &lt;br /&gt;21.05 WIB &lt;br /&gt;Kapolri Jenderal Sutanto tiba di tempat kejadian. &lt;br /&gt;22.00 WIB &lt;br /&gt;Sutanto memastikan bahwa satu dari dua korban tewas adalah Azahari&lt;br /&gt;Sebelum petualangannya berakhir sebenarnya gerak lelaki yang dijuluki ”Doktor Bom” itu sudah semakin sulit. Soalnya, aksi bom bunuh diri yang mengakibatkan warga sipil tak berdosa tewas juga dikecam banyak kelompok gerakan di garis mereka. Selama ini kelompok Azahari nyaris tak punya banyak kawan. Biasanya, kelompok Azahari memakai banyak rumah jaringan Jamaah Islamiyah untuk persembunyiannya. Misalnya, setelah bom Bali I, Azahari dan kawan-kawannya masih ”ditolong” para sohibnya dengan alasan solidaritas bekas Jamaah Islamiyah. Rupanya, tidak semuanya setuju dengan cara jihad Azahari. Setelah anggota JI terceraiberai, mencari tempat sembunyi kian sulit. &lt;br /&gt;Spektrum gerakan radikal Islam itu pun beragam. Misalnya, Azahari pernah ditolak oleh Abdullah Sonata, 27 tahun, seorang pendukung gerakan radikal yang sudah ditangkap polisi Juli lalu, gara-gara mengirimkan orang untuk berlatih gerakan bersenjata di Moro Islamic Liberation Front, Filipina Selatan. Sonata tak setuju dengan gaya jihad Azahari dan Noordin yang melakukan aksi serangan bunuh diri di luar daerah konflik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemeriksaan polisi, banyak saksi mengatakan Sonata menolak bekerja sama dengan Noor Din dan Azahari. Inilah yang menyulitkan Azahari bergerak lebih leluasa. Ruang geraknya kian terbatas, sumber daya juga kian sulit. Bahkan sempat berhembus kabar bahwa Azahari dan Noordin akan menghentikan terornya dan menyerahkan diri ke polisi (lebaran tahun 2005), tapi nyatanya hal itu tidak pernah kesampaian. Hingga menjelang saat terakhir petualangannya  Azahari praktis hanya didampingi oleh empat pengawalnya yaitu :  Arman atau  Budi Darmawan, 24 tahun yang tewas tewas bersama Azahari. Ia adalah anak didik Dr Azahari. Kemampuannya dalam meracik bom hanya selapis di bawah gurunya; Achmad Cholili, 27 tahun, kepada warga di Perumahan Flamboyan Indah, Batu, mengaku bernama Yahya Antoni; Anif Solchanudin, 24 tahun, warga Semarang yang pernah memberi perlindungan kepada Nordin  dan Dwi Widiyarto, 33 tahun &lt;br /&gt;Setelah Dr Azahari tewas, polisi kini giat memburu Noordin M. Top. Selain disangka sebagai pelaku aksi pengeboman di berbagai wilayah di Indonesia, lelaki muda asal Malaysia ini dipercaya memiliki kemampuan tinggi dalam merekrut kader baru untuk menjalankan ambisinya, menghancurkan semua orang yang dianggapnya sebagai lawan. Dalam periode 205 – 2009 polisi terus menelisik jaringan Noordin ini. Hingga akhirnya perburuan Noordin kembali meningkat  setelah dua hotel di kawasan Mega Kuningan dibom pada 17 Juli 2009. Warga negara Malaysia ini diduga terlibat dalam serangan yang menewaskan sembilan orang itu. Polisi menyebar belasan ribu poster Noordin. Pemerintah juga bekerja sama dengan Malaysia buat memantau gerakan Noordin. Detasemen Khusus Anti Teror menggelar operasi di Banyumas, Cilacap, Klaten, Kulonprogo, dan beberapa daerah lain di Jawa Tengah yang diduga menjadi persembunyian buron tersangka teroris nomor satu itu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Noordin M. Top tabib bom duet maut Dr. Azahari&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Siapakah gerangan Noordin M Top ini? ia dapat dikatakan sebagai mahasiswa Dr. Azahari, lulusan Jurusan Teknik Mesin Universiti Teknologi Malaysia (UTM) di Skudai, Johor Malaysia ini saat kuliah mengaji ke Pesantren Luqmanul Hakiem, Ulu Tiram, Johor. Menurut Penasihat Senior International Crisis Group Jakarta, Sidney Jones, sikap radikal Noordin dipengaruhi oleh Hambali yang kini ditahan di Guantanamo. Hambali adalah Ketua Mantiqi I Jamaah Islamiyah yang berpusat di Johor. &lt;br /&gt;Noordin masuk ke Indonesia pada 2002 melalui Riau, setelah Malaysia menangkapi aktivis Kumpulan Mujahidin Malaysia (KMM). Noordin lalu menikahi Rahma, adik Muhammad Rais, saat di Johor. Rais dan Rahma adalah anak Rusdi, warga Rokan Hilir, Riau, yang kemudian hijrah ke Johor. Rais juga santri Luqmanul Hakiem. Rais, 35 tahun, sempat dipenjara karena membawa bahan peledak untuk bom Marriott 2003.  Noordin dan Rais sempat membuka bengkel shock breaker mobil di Bukittinggi, Sumatera Barat. Sebelum bom meledak di Bali pada 12 Oktober 2002, perakit bom Dr Azahari bergabung. Polisi memburu Noordin dan Azahari karena terlibat bom Bali. Mereka juga merancang bom Marriott setahun kemudian. Noordin dan Azahari sempat bersembunyi di Bandung. Di sana mereka menyiapkan bom untuk Kedutaan Besar Australia, Oktober 2004. Noordin dan Azahari juga merancang aksi bom Bali, Oktober 2005. Sebulan kemudian Azahari tewas saat disergap polisi di Kota Batu, Jawa Timur, sebulan setelah bom Bali II. Sejak itu Noordin terus berpindah, tapi masih di Jawa, terutama Jawa Tengah. &lt;br /&gt;Dalam aksi teror bom Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton pada 17 Juli 2009 Noordin menggandeng Ibrohim, penata bunga yang bekerja di Hotel Ritz-Carlton. Tidak lama setelah kejadian itu, pada tengah Agustus 2009, media elektronik menyiarkan luas drama penggerebekan sebuah rumah berdinding tembok milik Muhzahri, 70 tahun, di Dusun Beji, Kecamatan Kedu, Temanggung, Jawa Tengah, yang berlangsung selama hampir 18 jam. Noordin dikabarkan tewas di kamar mandi rumah persembunyiannya. Tapi ternyata kabar itu keliru, gembong teroris yang terbunuh itu ternyata bukan Noordin, melainkan Ibrohim.  &lt;br /&gt;Petualangan Noordin sendiri berakhir setelah polisi melakukan operasi penangkapan jaringan bom Marriott-Ritz secara serentak di tiga titik: Temanggung, Solo, dan Jatiasih. Pada  17 September 2009 dalam penyergapan mendadak di rumah persembunyiannya di Kepuhsari, Mojosongo, Solo, Jawa Tengah, Noordin akhirnya tewas terbunuh.  Setelah beberapa kali lolos dari sergapan, akhirnya tiga hari menjelang Idul Fitri tahun 2009 keberuntungan gembong teroris asal Malaysia itu berakhir. &lt;br /&gt;Dalam penyergapan itu Detasemen Khusus 88 menemukan banyak materi berharga terkait dengan jaringan terorisme di Indonesia. Polisi menemukan dua buah laptop, satu di antaranya ditemukan dalam ransel yang menempel di punggung Noor Din, alat-alat penyelidikan (surveillance), dan kamera video. Di luar itu, masih ada senjata M16, pistol Beretta, dan 200 kilogram bahan peledak. Dari temuan itu tersisa fakta bahwa Noordin tewas dengan meninggalkan anggota jaringan yang masih bergerak aktif. &lt;br /&gt;Sumber di kalangan Jamaah Islamiyah mengungkapkan, masih banyak pembuat bom dan eksekutor bunuh diri yang berkeliaran. Mereka disebut pasukan khos, berjumlah paling tidak seratus orang. Mereka siap dipanggil untuk aksi bom bunuh diri. Noordin mulai aktif "bermain" di Indonesia menjelang aksi peledakan bom Bali yang pertama, Oktober 2002. Perannya masih sebatas mengantarkan uang US$ 5.000-dari eks Ketua Mantiqi I Jamaah Islamiyah, Hambali, yang saat itu ada di Thailand-kepada Ali Ghufron alias Mukhlas, salah satu perancang utama teror di Bali.  Meski peranannya hanya selintas, Noordin saat itu sudah menjadi tokoh penting dalam jejaring pelaku teror di Jamaah Islamiyah. Karena itulah, hanya setahun setelah bom Bali pertama, Noordin langsung naik kelas menjadi perencana serangan. Bom di Hotel JW Marriott, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, pada awal Agustus 2003 adalah hasil karya perdananya. &lt;br /&gt;Pada tahun-tahun pertama aksinya di Indonesia, Noordin selalu menggunakan aktivis Jamaah Islamiyah sebagai pendukung. Namun, setelah para pemimpin kelompok itu menyatakan keberatan dengan pola aksi Noordin yang membabi buta, sekitar awal 2004 dia mencari kelompok-kelompok radikal lain yang bisa membantu. Noordin misalnya, mendekati kelompok Darul Islam lewat Rois alias Iwan Dharmawan, yang kemudian membantu aksi peledakan bom di Kedutaan Besar Australia, Oktober 2004. &lt;br /&gt;Menurut laporan International Crisis Group, sekitar masa inilah beredar dokumen "Serial Jihad IV" di kalangan pengikut Noordin. Dokumen yang diterjemahkan dari bahasa Arab itu menjelaskan cara membentuk tim teror kecil yang bisa bergerak bebas.  Unit dasar dari tim itu-biasa disebut thoifah-terdiri atas seorang ketua dan wakil. Merekalah yang merencanakan serangan dan melatih pelaksana lainnya. Masih menurut dokumen itu, untuk melancarkan serangan, dibutuhkan sedikitnya tiga tim pembantu: tim pengumpulan data (melakukan survei lokasi), tim logistik (menyiapkan bahan bom dan perlengkapan lain), dan tim eksekutor. Sejak itulah, polisi meyakini Noordin mulai aktif menggunakan struktur seperti itu. &lt;br /&gt;Nama Al-Qaidah sebenarnya sudah lama digunakan Noordin. Pada Januari 2006, Kapolri (ketika itu) Jenderal Sutanto, dalam sebuah rapat dengan Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat, mengumumkan "Tandzim Qaidatul-Jihad untuk Kepulauan Melayu" sebagai nama baru yang digunakan kelompok Noordin sepeninggal Dr. Azahari. "Wilayah operasinya Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Filipina. Namun, sampai polisi menemukan dokumen Noordin belum pernah ada bukti keras bahwa dia mendapat restu sebagai wakil Al-Qaidah di Asia Tenggara. &lt;br /&gt;Ada kemungkinan Noordin yang menyusun strukturnya sendiri, lalu minta restu kepada Al-Qaidah, begitu penjelasan pengamat terorisme dari International Crisis Group, Sidney Jones. Ia mengingatkan, jalan Noordin menuju pusat Al-Qaidah di Afganistan sudah terbuka ketika Ayman al-Zawahiri, tangan kanan Osama bin Laden, memuji tiga pelaku bom Bali yang dihukum mati, akhir tahun lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Abu Dujana&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Nama Abu Dujana muncul dalam radar polisi setelah peledakan Hotel JW Marriott, Jakarta, 5 Agustus 2003. Dua bulan sebelum pengeboman itu, ia yang saat itu menjadi sekretaris komando pusat Jamaah Islamiyah, dan Qotadah alias Basyir, anggota Mantiqi II (Jawa-Bali), menemui Noordin M. Top dan Dr Azahari. Dua nama terakhir diyakini sebagai otak berbagai pengeboman. Azahari tewas dalam penggerebekan polisi di Batu, Jawa Timur, November 2005.  Abu Dujana, Qotadah, Noordin, dan Azahari kembali bertemu di Bandung beberapa hari setelah peledakan. Abu Dujana tidak setuju dengan pengeboman Marriott dan sempat ribut dengan Noordin serta Azahari. Abu Dujana mengaku mempertanyakan alasan Noordin dan Azahari mengebom Marriott? Noordin sengit menjawab gugatan itu dengan beralasan bahwa musuh-musuh Islam akan menghancurkan mereka, jika mereka tidak menghancurkan musuh-musuh itu terlebih dahulu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Abu Dujana sang panglima JI&lt;br /&gt;Setelah pertemuan itu, Abu Dujana memutuskan mengirim Noordin dan Azahari ke Jawa Timur. Ia menitipkan kedua buron kepada Fahim, Ketua Jamaah Islamiyah di wilayah itu. Fahim, dengan bantuan anak buahnya, memindahkan mereka ke sejumlah tempat seperti Blitar, Kediri, Pasuruan, Surabaya, dan Malang. Karena keputusannya itu, polisi menuduh Abu Dujana menyembunyikan buron. Polisi betul-betul mengawasi Abu Dujana dengan ketat setelah meletusnya konflik di Poso, Sulawesi Tengah. Dari sejumlah orang tersangka yang ditangkap, polisi menyimpulkan bahwa keterlibatan pria bernama kecil Ainul Bahri itu sangat besar. Ia mengendalikan pengiriman senjata api, amunisi, bahan peledak, dan bom dari Jawa ke Poso. &lt;br /&gt;Polisi juga menuduh Abu Dujana mengendalikan sejumlah operasi di Poso, termasuk menerima Rp 500 juta hasil rampokan gaji pegawai pemerintah daerah itu pada 2005. Dari keterangan Surya Dharma itu, polisi mengusut peran Abu Dujana dalam bom Marriott, bom Kedutaan Besar Australia 9 September 2004, dan bom Bali II November 2005. Abu Dujana diduga memimpin sayap militer Jamaah Islamiyah sejak 2004, ketika pemimpin tertinggi organisasi itu dijabat Adung alias Sunarto bin Kartodiharjo. &lt;br /&gt;Selain Dujana, juga terungkap tokoh bernama Zarkasih alias Mbah yang diduga adalah pemimpin tertinggi darurat Jamaah Islamiyah, setelah Adung ditangkap polisi di Surakarta.  Zarkasih adalah alumni kamp pelatihan militer Abbas, Afganistan, angkatan kelima (1987) atau dua angkatan di atas Abu Dujana. Ia lulus dengan predikat terbaik kedua di bawah Nasir Abas, mantan Ketua Mantiqi III (Sulawesi) Jamaah Islamiyah.  Nama Zarkasih, seperti juga halnya Abu Dujana, menarik perhatian polisi setelah tertangkapnya para tersangka kasus Poso. Dari keterangan mereka, diketahui bahwa para ustad yang terjun ke Poso, termasuk yang tewas dalam baku tembak dengan polisi pada Januari lalu, memiliki kaitan dengan Zarkasih. Pengiriman bahan peledak ke wilayah itu juga diketahui atas persetujuannya. &lt;br /&gt;Bersama Abu Dujana, Zarkasih memimpin Jamaah Islamiyah yang tinggal remah-remah karena para pemimpin pucuknya ditangkapi. Keduanya lalu membentuk struktur baru yang lebih ramping, dengan menghilangkan beberapa bagian. Di antaranya, kepemimpinan mantiqi atau wakalah seperti tercantum dalam Pedoman Umum Perjuangan Jamaah Islamiyah (PUPJI). Sebagai gantinya, dalam struktur itu, amir membawahkan hanya empat bidang, yaitu dakwah, tarbiyah (pendidikan), perbekalan, dan sariyah (sayap militer). &lt;br /&gt;Jabatan yang dipegang Abu Dujana adalah komandan sariyah. Di bawahnya ada ishobah, lalu di bawahnya lagi majmuah dan qism dzakhiroh, yang mengurusi logistik. Komandan satuan di bawah qoryah ditunjuk oleh Abu Dujana dalam pertemuan di Solo, tahun 2006. Sarwo Edi Nugroho, yang ditangkap pada Maret 2007, ditunjuk menjadi Komandan Ishobah Jafar bin Abi Tholib (wilayah Semarang).  Lalu Kholis diperintahkan memimpin Ishobah Abdullah bin Rowiyah (Surabaya). Ishobah Zaid bin Haristah di Surakarta dipimpin Gulam yang hingga kini masih buron. Adapun Ayyasy alias Sutardjo ditunjuk untuk mengurusi logistik. Selain Gulam, mereka ditangkap ketika sedang memindahkan senjata dari Sukoharjo ke Magelang.  Di luar Abu Dujana dan Zarkasih, tersangka lainnya boleh dibilang para pendatang baru. Misalnya Aris Widodo alias Tri yang ditangkap karena dituduh mengirim dan menerima email untuk Abu Dujana. Demikian juga Anif Saefuddin alias Tsaqof, yang konon berperan membantu mengirimkan perintah atas nama Abu Dujana melalui surat elektronik&lt;br /&gt;Perburuan terhadap Abu Dujana sesungguhnya sudah digelar sejak tahun 2002, setelah bom melumat sejumlah kafe di Legian, Bali, 12 Oktober 2002. Beberapa pelaku peledakan seperti Imam Samudra, Amrozy, dan Mukhlas ditangkap. Mereka dijatuhi hukuman mati. Dujana juga ditengarai terlibat.  Dujana juga diduga terlibat dalam kasus peledakan bom yang melumat Hotel JW Marriott di Jakarta pada 5 Agustus 2003, dan ikut merancang bom di Kedutaan Australia di Jakarta, September 2004. Dalam catatan polisi, namanya berkibar dalam rangkaian peledakan bom di Poso, Sulawesi Tengah. &lt;br /&gt;Mencari Abu Dujana sulitnya mintan ampun. Pada Januari 2005 jejaknya tercium di Subang, Jawa Barat. Bersama sejumlah kawan, dia bersembunyi di hutan dekat Kampung Banggal, Cipeunduy. Warga di sana mengetahui adanya kelompok ini setelah seorang anak buah Dujana mengoda istri penduduk. Warga yang marah melapor polisi. Namun, saat didatangi, rombongan Dujana sudah kabur. Setelah itu jejaknya gelap lagi.  Dujana baru terendus lagi enam bulan kemudian. Pada Juni 2006 dia diketahui mengontrak rumah di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Polisi menyergap rumah kontrakan itu tapi tak ada hasilnya. Dia melarikan diri sebelum polisi tiba. &lt;br /&gt;Perburuan kemudian berpindah ke Yogyakarta. Pada pertengahan Maret 2007, polisi mengintai kelompok Dujana di Maguwoharjo, Sleman. Di situ anak buahnya baku tembak dengan polisi. Satu tewas, tapi Dujana raib. Dia dikabarkan lari ke Sukoharjo, Jawa Tengah.  Polisi langsung merangsek ke sana. Ia lagi-lagi lolos, tapi polisi meringkus Sikas bin Karim, salah satu anak buahnya. Dari rumah Sikas ini ditemukan ribuan amunisi, senapan mesin AK-47, M-16, 200 detonator aktif, 16 bom lontar, dan 20 kilogram TNT. Barang laknat itu ditemukan di bunker rumah. &lt;br /&gt;Pada akhir Maret 2007 polisi juga merangsek ke Surabaya. Di sana mereka menangkap Choirul, juga anak buah Dujana. Sejumlah barang bukti disita dari rumah Choirul, antara lain 12 kilogram bahan peledak dan sejumlah dokumen tentang Abu Dujana.  Dari berbagai dokumen dan kesaksian itu, polisi akhirnya tahu posisi Dujana dalam Jamaah Islamiyah. Menurut aparat, Dujana adalah panglima militer organisasi itu. Posisinya lebih tinggi dibanding Noordin M. Top. Dari anak buahnya itu pula diketahui bahwa Dujana orang yang banyak akal. Di setiap tempat pelarian, dia selalu menggunakan nama samaran dan mengubah penampilan. &lt;br /&gt;Tak ingin kalah set, polisi juga rajin menyamar. Rambut mereka dibiarkan gondrong dan mereka kerap memakai celana selutut. Bahkan polisi-polisi itu sanggup bergadang hingga subuh,  mereka gila kerja. Anggota tim pemburu bukan cuma polisi. Ada juga ahli komputer, mantan hacker, dan petugas dari operator jaringan telepon seluler. Tim ini bekerja sama dengan kepolisian Australia dan Biro Penyelidik Federal Amerika Serikat.  Belakangan polisi mengendus aktivitas dunia maya orang-orang dekat Dujana. Mereka antara lain Aris Widodo dan Arif Syarifuddin. Dari pelacakan polisi, diketahui bahwa keduanya berkomunikasi lewat surat elektronik. &lt;br /&gt;Polisi menelusuri email itu. Polisi mencurigai bahasa yang mereka pakai. Pada akhir surat mereka kerap menulis, ”Salam dari pimpinan.” Artinya, ”Mereka kirim surat atas perintah pimpinan”. Selain memeriksa email, polisi juga menyadap komunikasi telepon Abu Dujana dan anah buahnya.  Dari penyadapan itu akhirnya diketahui lokasi sejumlah orang ini. Mereka tinggal di tempat yang berbeda-beda. Tapi di mana persisnya Abu Dujana berada belum diketahui. &lt;br /&gt;Polisi akhirnya menemukan rumus jitu mengunci Dujana, yakni operasi serentak. Operasi itu digelar pada Juni 2007 di lima lokasi sekaligus, yaitu di Sleman Yogyakarta, Banyumas, Karanganyar, Sukoharjo di Jawa Tengah, dan di Surabaya. Daerah itu dianggap sebagai tempat persembunyian Dujana. Dengan operasi serentak ini, posisi Dujana diyakini akan terkunci.  Sejumlah polisi yang menyamar dikirim ke lokasi itu. Di Desa Kebarongan, selain menyamar jadi pemulung, ada juga yang menyamar jadi tukang ojek. Begitu diketahui Yusron Mahfud alias Abu Dujana, berada di rumahnya, polisi itu menempel ketat. Di empat lokasi lain, polisi juga sukses mengunci anak buah Dujana. Aris Widodo, yang kerap kali berkomunikasi lewat surat elektronik, dibekuk di Tegalgede, Karanganyar, Jawa Tengah. Arif Syarifudin ditangkap di Surabaya. Rombongan Dujana ini ”disimpan” di tempat yang dirahasiakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dulmatin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu ketika di tahun 2000, jauh sebelum terjadinya Bom Bali I (2002), Amrozi, 37 tahun, menerima telepon dari Dulmatin, yang menyuruhnya membeli bahan kimia untuk membuat bom: 200 kilogram pota-sium klorat, 25 kilo sulfur, dan 25 kilo bubuk aluminium. Mobil dan bahan pesanan itu segera dibawa ke rumah Dulmatin di Pekalongan, Jawa Tengah. Bom segera dirakit. Tuan rumah mencampur bahan kimia dengan tangan: sembilan kilo potasium klorat untuk setiap tiga kilo sulfur dan tiga kilo bubuk aluminium. Tiap porsi dimasukkan ke wadah plastik, dilubangi atasnya buat memasukkan detonator. Dulmatin lalu memasukkan tas ke mobil, berisi detonator jarak jauh yang dimodifikasi. Walkie talkie bekas dipakai untuk memicu ledakan dari jarak maksimal 500 meter. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dulmatin, teroris terakhir yang tewas pada 2010 &lt;br /&gt;Dulmatin, Amrozi, dan enam orang lainnya bergegas menuju Jakarta. Di Ibu Kota mereka bertemu dengan Abdul Jabar dan Usman, anggota komplotan lainnya. Waktu serangan telah diputuskan, 1 Agustus 2000. Sisa hari sebelum tanggal itu mereka manfaatkan buat memasang sumbat dan kawat peledak.  Pada hari serangan, Usman memarkir mobil bom di dekat gerbang rumah Duta Besar Filipina. Pada pukul 12.30, Mercedes Duta Besar Leonides Caday tiba. Ghozi berjalan di trotoar mendekati sasaran agar mencapai jarak 500 meter. Klik, ia menekan handy talkie. Dalam sedetik, bunyi gelegar membahana. Caday yang duduk di kursi kiri belakang terluka: empat tulangnya patah, darah mengucur dari tubuhnya yang dihantam pecahan kaca. Tapi ia selamat. Bom membunuh seorang petugas satpam dan seorang perempuan pejalan kaki. Belasan orang lainnya luka luka.  Itulah ledakan bom "karya" pertama Dulmatin dalam curriculum vitae terorismenya. &lt;br /&gt;Tetap menjadi perakit bom, ia bergabung kembali dengan Usman dan Abdul Jabar pada akhir tahun yang sama. Dalam proyek pengeboman malam Natal, mereka memilih tiga gereja Katolik dan tiga gereja Protestan di seluruh penjuru Jakarta. Serangan kali ini gagal karena Abdullah, si pembawa bom, ketakutan sehingga bom bom ia letakkan dan meledak di luar kompleks gereja sasaran. Setelah serangan, mereka lari ke Jawa Tengah. Esok paginya, mereka menonton televisi di rumah Dulmatin di Pekalongan yang mengabarkan peledakan. &lt;br /&gt;Punca kerja terorisme Dulmatin dilakukan di Bali. Ia tiba di Denpasar pada 6 Oktober 2002. Kali ini ia bergabung dalam komplotan bersama dua warga negara Malaysia, Doktor Azahari dan Noordin  M. Top, serta Imam Samudra, Umar Patek, dan Abdul Ghoni. Amrozi kembali bergabung bersama kakaknya, Ali Ghufron, dan adiknya, Ali Imron. Mereka menjadikan sebuah rumah di Jalan Pulau Menjangan sebagai markas. &lt;br /&gt;Dulmatin merakit tiga bom. Untuk ledakan pengalihan, bom dipasang dalam enam kantong dijahit dalam rompi, masing masing berisi enam pipa PVC dengan sebatang dinamit. Bom kedua untuk Konsulat Amerika Serikat, hanya terdiri atas bungkusan lima kilogram dinamit terhubung dengan de-tonator jarak jauh, memakai telepon seluler Nokia. Dua bom ini dipakai hanya untuk simbol serangan, bukan untuk membuat kerusakan. &lt;br /&gt;Bom utama ditaruh dalam mobil L300, yang dibeli Amrozi atas perintah Imam Samudra. Total ada satu ton lebih campuran potasium klorat, sulfur, dan bubuk aluminium sesuai dengan resep 3:1:1. Campuran dimasukkan ke empat laci beberapa lemari plastik, disambungkan dengan kawat dan detonator buatan India.  Dengan seluruh kemampuan elektroniknya, Dulmatin membuat papan sirkuit yang terhubung ke baterai 9 volt. Diletakkan dalam wadah tertutup, sirkuit menghantarkan listrik ke detonator dengan empat metode: dengan sinyal telepon seluler, pengatur waktu, pemicu manual, atau pemicu otomatis. Bom raksasa ini mendapat sentuhan terakhir dari Azahari, ahli bom komplotan itu. &lt;br /&gt;Pada 12 Oktober 2002, bom pengalihan diledakkan di Sari Club, Legian. Bom utama meledak beberapa menit setelahnya, meluluh lantakkan Paddy's Club. Malam Minggu di Pulau Dewata menjadi petaka, 202 orang tewas. Sebagian besar warga negara Australia, termasuk rombongan pemain rugbi yang sedang berlibur.  Tatkala berita pengeboman disiarkan langsung di televisi, Dulmatin dan Azahari telah berada di Jawa. Ketika polisi menggelar operasi pengejaran dan menangkap sebagian besar penjahat, Dul menyeberang ke Filipina Selatan. Ia bergabung dengan kolega lamanya, Al Ghozi. &lt;br /&gt;Dianggap terlibat kasus terorisme di negara itu, mereka diburu tentara setempat. Pemerintah Amerika Serikat menjanjikan hadiah US$ 10 juta bagi siapa pun yang bisa menangkap atau membunuh Dulmatin. Tak mengherankan, setidaknya tiga kali tentara Filipina mengklaim berhasil membunuh pria bernama asli Joko Pitono itu. &lt;br /&gt;Jejak Dulmatin tercium pada awal 2008. Dari wilayah Filipina Selatan, ia berkomunikasi dengan beberapa aktivis di Tanah Air. Setahun kemudian, menurut keterangan sejumlah sumber, ia benar benar tiba di Jakarta. Ia memutar masuk melalui Batam menggunakan paspor atas nama Yahya Ibrahim yang dikeluarkan Kantor Imigrasi Jakarta Timur.  Menurut Mawi Hartono, ketua RT yang membawahkan Jalan Asem, Pamulang, Yahya Ibrahim menetap di wilayahnya sejak 13 April 2009. Di KTP yang dibawanya, Yahya ditulis lahir di Jakarta, 2 Januari 1973. Alamatnya Jalan Masjid Fathul Ghofur RT 1/RW 4, Kelurahan Cibubur, Ciracas, Jakarta Timur. &lt;br /&gt;Yahya tinggal di rumah kontrakan milik Fauzi Syarief, mantri kesehatan. Ia mengaku kerja di ruang pamer motor di Ciputat. Tak lama, Yahya menampung dua pria lainnya, mengaku sebagai Umar dan Muhammad Subqha. Kepada tetangga, Umar menyebut dirinya mahasiwa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Subqha menyatakan kerja bersama Yahya menjual motor. Yahya sering berkunjung ke rumah kontrakan pasangan Marko dan Tari, 300 an meter dari tempat tinggalnya. Kontrakan di Jalan Madrasah ini juga dihuni Nurhasan dan Ridwan, belakangan disebut sebagai pengawal Dulmatin. &lt;br /&gt;Empat bulan setelah kedatangan Yahya alias Dulmatin di Pamulang, bom bunuh diri meledak di Hotel Marriott dan Ritz Carlton, Jakarta Selatan. Aksi teror ini membuat polisi mengerahkan segala kekuatan buat mengejar komplotan pelaku teror. Puncaknya tercapai pada 17 September 2009, ketika Detasemen Khusus 88 menembak mati Noordin M. Top di Solo, Jawa Tengah. Setelah kematian Noordin, menurut keterangan sejumlah polisi, kelompok Jamaah Islamiyah menunjuk Dulmatin menjadi pemimpin militer. Ia melakukan koordinasi dan mulai merekrut pasukan. Ia bergabung kembali dengan kolega lamanya: Abdullah Sunata dan Pura Sudarma alias Jaja. Sunata pernah dipenjara karena dituduh menyembunyikan Noordin. Adapun Jaja buron lama, memimpin sejumlah pelatihan dan merekrut para pelaku peledakan bom bunuh diri, termasuk Ikhwan Maulana yang meledakkan Ritz Carlton, tahun 2009. &lt;br /&gt;Awal Januari 2010, mereka mulai menggelar tadrib alias pelatihan militer, yang diwajibkan dalam jihad, di wilayah Jantho, Aceh Besar. Pesertanya datang dari sejumlah daerah, termasuk Jawa Tengah dan Jakarta. Salah satunya Sapta Adi alias Ismet Hakiki alias Syailendra, pria asal Banten yang tinggal di Petamburan, Jakarta Pusat. Pada 2004, jejaknya terlihat dalam bom Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Ia meminjamkan sepeda motornya buat Azahari dan Muhammad Rois, buat mengawasi aksi proyek itu. &lt;br /&gt;Malik, tetangganya, mengatakan Syailendra pernah bekerja menjadi petugas satpam di Plaza Senayan. Ia bertemu dengan Syailendra, akhir tahun lalu. Waktu itu dia bilang mau ke Aceh. Menurut Malik, Syailendra acap kali hilang dan muncul. Kalau pulang, kata dia, Syailendra ditemani orang orang berbeda. Ia pernah melihat tetangganya itu datang bersama lima orang, rata rata 20 tahun. Waktu itu dia juga pernah ngajak orang Petamburan, tapi enggak berhasil. &lt;br /&gt;Polisi tak ketinggalan langkah. Mereka mengendus kegiatan ilegal di Aceh. Pada 22 Februari 2010 Detasemen Khusus menyerbu tempat latihan. Belasan orang ditangkap, termasuk Syailendra dan rekannya dari Banten, Zaky Rahmatullah, serta Yudi Zulfahri dari Aceh. Yudi, lulusan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri, paling banyak buka suara.  Menurut sumber di detasemen, ketiga tersangka menyebutkan satu nama: Mansur. &lt;br /&gt;Dalam pertemuan pertemuan di Jakarta, Mansur mengaku tinggal di Pamulang. Dialah yang mengkoordinasi pengiriman peserta dari luar Aceh, memasok senjata, serta membiayai pelatihan. Karena menganggap sebagai tokoh penting, detasemen menyelidiki laki laki itu. Data hasil pemeriksaan Syailendra, Zaky, dan Yudi segera dikirim ke Jakarta.  Bersamaan dengan operasi di Aceh, detasemen ternyata juga menggelar aksi rahasia. Mereka membuntuti anggota anggota jaringan Jamaah Islamiyah di Jakarta. Salah satunya seseorang bernama Yahya di Pamulang. Ia menarik perhatian karena aktif sekali menjalin kontak dengan kelompok Jamaah Islamiyah di Filipina, baik melalui e mail maupun telepon. Anggota detasemen memotretnya dari kejauhan. &lt;br /&gt;Data dari Aceh merangkai informasi penting. Detasemen menyimpulkan, Mansur sama dengan Yahya yang mereka buntuti di Pamulang. Mereka lalu menunjukkan foto Yahya kepada Yudi, yang langsung berseru: "Dialah Mansur." Hasil analisis dan cek silang ke bank data yang mereka miliki, detasemen juga menyimpulkan, Mansur alias Yahya ternyata adalah Dulmatin. Maret 2010 Tim antiteror kepolisian segera dikerahkan buat memburunya. Satu tim diterjunkan ke Cipayung buat memburu Abdullah Sunata. Rumahnya kosong. Satu tim ke Depok buat mengejar Sofyan dan berhasil menangkap desersi polisi itu. Satu tim lainnya dikirim ke Pamulang, menyerbu Yahya alias Mansur alias Dulmatin. &lt;br /&gt;Tim di Pamulang menyamar dengan berbagai rupa. Sebagian mondar mandir di sekitar rumah Yahya. Sebagian menyewa komputer di lantai dua Multiplus. Senin pagi pekan lalu, mobil  minibus Elf warna perak parkir tak jauh dari Multiplus. Sukirman, sopir taksi Koperasi, menduga itu mobil polisi yang sedang mengintai.  Kali ini mobil Elf beriringan dengan empat Avanza. Mereka parkir di luar Multiplus. Terlihat juga satu mobil boks. Beberapa menit setelah pria berjenggot masuk toko multiguna itu, orang orang bersenjata laras panjang keluar dari mobil dan menyerbu lantai dua. Tembakan terdengar dalam sekejap. &lt;br /&gt;Sejam kemudian, anggota detasemen menyerbu rumah Yahya alias Dulmatin. Tiba tiba dua orang melesat mengendarai sepeda motor Suzuki Thunder. Tiga puluh meter dari jalan besar, polisi menembak mereka. Keduanya Ridwan dan Hasan Nur, pengawal Dulmatin. Di rumah itu, polisi juga menangkap dua orang bernama Bakti Rahma alias Abu Haikal dan Syaiful Siregar alias Imam.  Kurang dari setahun setelah kepulangannya dari Filipina Selatan, Dulmatin tewas. Curriculum vitae nya berakhir di tempat persewaan komputer. Sungguh tragis. Itulah kisah paling akhir dari jejak sejarah teror di Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7473472176854231904-1222810776429133254?l=pekerjamuseum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/feeds/1222810776429133254/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7473472176854231904&amp;postID=1222810776429133254&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/1222810776429133254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/1222810776429133254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/2010/05/para-teroris-indonesia-dari-alfaruq.html' title='Para Teroris Indonesia Dari AlFaruq hingga Dulmatin'/><author><name>Erwien To'tiL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16127221575751256267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/Sz4AfMOICqI/AAAAAAAAAQc/ljCFJ8iJQbE/S220/PB210370.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/S_XaC_tLEUI/AAAAAAAAARM/tAwfA17UovI/s72-c/dulmatin+cs.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7473472176854231904.post-7532132742007052023</id><published>2010-05-09T21:03:00.000-07:00</published><updated>2010-05-20T17:50:58.919-07:00</updated><title type='text'>Peran Museum dan Nasib Harta Karun kita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/S_XY6T1R6nI/AAAAAAAAARE/tFdEm5vrUOg/s1600/BMKT.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 298px; height: 225px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/S_XY6T1R6nI/AAAAAAAAARE/tFdEm5vrUOg/s320/BMKT.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5473519418406464114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu (Rabu,5/5) pemerintah melalu Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga asal Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) akhirnya melakukan pelelangan atas 271.381 keping artefak berumur lebih dari 1.000 tahun dengan harga pembuka 800 juta dollar AS atau setara Rp 760 miliar. Lima puluh persen dari hasil lelang itu direncanakan akan masuk Kas Negara, dan setengahnya akan diberikan kepada perusahaan pengeksplor bawah laut yang konon telah mengeluarkan investasi sebesar 10 juta dollar AS sekitar Rp 90 miliar. Namun seperti banyak diduga sebelumnya oleh banyak kalangan, pelelangan itu tidak menarik peminat, tidak ada penjualan dalam pelelangan itu. Pelelangan BMKT itu hasilnya nihil.  &lt;br /&gt;Secara hukum tidak ada yang keliru dengan pelelangan itu. Semuanya telah menempuh prosedur yang semestinya. Dan pihak panitia pun tampak berhati-hati dalam melakukan pelelangan itu. Kritik sejumlah pihak, termasuk Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO bahwa pelelangan akan menyebabkan musnahnya warisan sejarah budaya maritim Indonesia dapat dibantah dengan alasan bahwa dari 272.000 BMKT di perairan utara Cirebon, sekitar 976 artefak telah dipisahkan sebagai koleksi negara. Jumlah itu sudah cukup memadai untuk pelestarian warisan sejarah dan budaya maritim Indonesia karena telah dipilih berdasarkan  keindahan, langka, artistik, keutuhan, kronologi, dan asal dari warisan bawah laut Nusantara itu.&lt;br /&gt;Namun demikian, secara etik, pelelangan itu sungguh menjadi sebuah ironi besar bagi program Tahun Kunjung Museum 2010 yang antara lain bermaksud melakukan revitalisasi peran museum di Indonesia, baik dari segi materi maupun manajemen museum lainnya, yang ujungnya adalah harapan meningkatnya apresiasi  masyarakat terhadap museum. Mestinya, ditemukannya BMKT itu   dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk melengkapi sejarah kebudayaan kita, yaitu sejarah maritime, lewat berbagai museum yang tersebar di seluruh kepulauan Nusantara itu. Tapi tentunya hal ini tidak akan lepas dari sanggahan. Bahwa masalah dana adalah kendala utama yang harus dihadapi oleh pemerintah dalam menjalankan kegiatan operasional museum.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wacana Museum Maritim&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya tak perlu kita bersusah payah untuk membuat suatu museum baru seperti  museum maritim yang baru-baru ini dikemukakan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad (Kamis,6/5) sebagai solusi untuk mempertahankan benda-benda peninggalan bersejarah yang menunjukkan kejayaan maritim Nusantara. Tentunya pembangunan museum baru, meski sah-sah saja, akan membutuhkan dana yang cukup besar dan waktu perencanaan serta realisasi yang tidak singkat. Padahal Indonesia telah mempunyai sekitar 275 museum seantero negeri yang tentu dapat diberdayakan untuk mengelola warisan sejarah berupa BMKT itu. &lt;br /&gt;Selama ini menurut hemat penulis, Indonesia belum mempunyai suatu story-line yang utuh tentang sejarah kebudayaan Indonesia, hingga sejarah budaya maritim kita belum terceritakan secara lengkap dalam museum-museum kita. Padahal bangsa kita adalah bangsa maritim. Tampaknya berbagai museum daerah yang dikelola oleh pemerintah di seluruh wilayah Indonesia  belum mempunyai satu kesinambungan informasi sejarah atau koleksi artefak yang saling terkait dan saling mendukung satu sama lain.&lt;br /&gt;Dengan ditemukannya BMKT di perairan Cirebon ini dan juga dengan adanya informasi dari UNESCO bahwa sesungguhnya alam bawah laut kita mengandung 300 ribu situs kapal karam dari era kegiatan maritim pada periode Nusantara, telah terbuka peluang yang nyata bahwa banyak warisan kekayaan negeri kita ini yang belum terolah dengan baik. Tentu saja tidak hanya nilai yang bersifat materi saja yang dapat kita manfaatkan. Tapi ratusan situs itu tentu akan membuka ruang untuk studi sejarah, arkeologi, budaya, studi kawasan, atau ilmu-ilmu kemaritiman lainnya.&lt;br /&gt;Dengan potensi seperti  itu, bukan omong kosong tentunya, jika suatu saat Kementerian Kelautan dan Perikanan kita, dengan bekerjasama dengan berbagai lembaga lain tentunya, akan dapat membuka suatu laboratorium budaya maritim yang aktif dan terbuka di perairan Indonesia. Hal itu tentu akan menguntungkan Indonesia baik dari segi pariwisata ataupun segi akademik. Laboratorium maritim itu akan menjadi sumbangsih terbesar bangsa Indonesia bagi warga dunia, terutama dalam bidang pengetahuan potensi bawah laut.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berkaca dari pengalaman Luar Negeri&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana semua itu bisa diwujudkan? Bagaimana kita mewujudkan museum maritim yang baru atau memberdayakan museum-museum yang sudah ada untuk melestarikan BMKT itu. Tentunya museum-museum akan membutuhkan biaya yang cukup besar? Untuk itu marilah kita melihat kepada pengalaman luar negeri dalam mengelola museum-museumnya. &lt;br /&gt;Kendala dana atau biaya operasional museum adalah kendala klise bagi semua museum di dunia. Kita mengetahui dengan pasti bahwa perawatan bernda-benda bersejarah membutuhkan biaya yang lebih besar dibandingkan dengan merawat benda-benda kita saat ini. Warisan masa lalu memang mahal harganya. Untuk itu dalam pengelolaan museum, masyarakat luar negeri selalu  melibatkan masyarakatnya untuk berperan aktif, baik dalam penggalangan dana maupun memberi masukan terkait dengan informasi sejarah atau warisan budaya yang mana yang akan dipamerkan dalam museum. Tengoklah ke beberapa situs maya museum-museum di Kanada atau Jepang. Kedua pemerintah negara ini aktif menciptakan museum baru yang banyak melibatkan peran aktif warganya. &lt;br /&gt;Terkait dengan pengelolaan BMKT ini sebaiknya pemerintah memberikan kesempatan terlebih dahulu kepada masyarakat untuk mengetahui dengan jelas apa isi dari harta karun yang ada di perairan Indonesia itu. Para arkeolog dan sejarawan harus mendapat kesempatan yang cukup untuk mensosialisasikan tentang hasil riset mereka terkait dengan sejarah dan serba serbi dari BMKT tersebut. &lt;br /&gt;Baru kemudian masyarakat yang akan menilai koleksi mana yang kiranya mereka perlukan untuk diabadikan dalam museum di wilayahnya masing-masing. Biarkan masyarakat yang menentukan apakah harta karun itu bagian dari warisan budaya bangsanya atau tidak. Terkait dengan masa lalu mereka atau tidak. Terlepas dari mana benda itu berasal, dari Tiongkok, Arab atau  negeri entah berantah sekalipun, benda-benda itu telah lama menyatu dalam perairan kita, tentunya benda-benda itu jika diteliti akan dapat mengisahkan jati diri bangsa kita di masa lampau.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7473472176854231904-7532132742007052023?l=pekerjamuseum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/feeds/7532132742007052023/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7473472176854231904&amp;postID=7532132742007052023&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/7532132742007052023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/7532132742007052023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/2010/05/peran-museum-dan-nasib-harta-karun-kita.html' title='Peran Museum dan Nasib Harta Karun kita'/><author><name>Erwien To'tiL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16127221575751256267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/Sz4AfMOICqI/AAAAAAAAAQc/ljCFJ8iJQbE/S220/PB210370.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/S_XY6T1R6nI/AAAAAAAAARE/tFdEm5vrUOg/s72-c/BMKT.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7473472176854231904.post-8167081563886984682</id><published>2010-03-11T09:14:00.000-08:00</published><updated>2010-03-11T09:24:30.284-08:00</updated><title type='text'>Agama-Agama di Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/S5klqdVDfqI/AAAAAAAAAQ8/fjiOUZfngV4/s1600-h/borobudur+3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 208px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/S5klqdVDfqI/AAAAAAAAAQ8/fjiOUZfngV4/s320/borobudur+3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5447426635638996642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Para Pedagang Negeri Sebrang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kedatangan bangsa Barat, kegiatan perdagangan di wilayah kepulauan Nusantara telah berkembang menjadi wilayah perdagangan internasional. Jalur perniagaan melalui darat dimulai dari Cina (Tiongkok) melalui Asia Tengah, Turkestan sampai ke Laut Tengah. Jalur ini juga berhubungan dengan jalan-jalan kafilah dari India. Jalur ini terkenal dengan sebutan “Jalur Sutera” (Silk road). Sejauh ini, jalur perdagangan lewat darat inilah yang merupakan jalur paling tua, yang menghubungkan Cina dengan Eropa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Adapun jalan perniagaan melalui jalur laut juga dimulai dari Cina melalui Laut Cina, melalui Selat Malaka, Calicut (India), lalu ke Teluk Persia, melalui Syam (Suriah) sampai ke Laut Tengah; atau melalui Laut Merah sampai ke Mesir lalu menuju Laut Tengah. Pada waktu itu komoditi ekspor dari wilayah Nusantara yang sampai di pasaran India dan kekaisaran Romawi (Byzantium) antara lain: rempah¬rempah, kayu wangi, kapur barus, dan kemenyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaringan perdagangan itu pula akhhirnya membawa datangnya pedagang negeri sebrang ke wilayah Nusantara. Berdasarkan fakta sejarah, kaum pedagang negeri seberang itu kemudian menjadi pendorong utama lahirnya keaneka-ragaman agama dan kultur di dalam negeri Indonesia yang kala itu masih dikenal dengan Nusantara. Dengan melalui jalur sutra, para pedagang dari India, Tiongkok, Portugal, Arab, Belanda, dan berbagai negeri lainnya datang ke wilayah Nusantara. Mereka tidak hanya membawa komoditas perdagangan, lebih jauh itu mereka juga memberikan pengaruh budaya dan agama kepada masyarakat Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi Nusantara yang sangat terbuka itu memungkinkan terjadinya keragaman pengaruh budaya yang berkembang pada masyarakatnya. Berbagai macam pengaruh budaya itu datang secara bergantian, dominasi demi dominasi digilir secara teratur. Animisme dan Dinamisme diganti oleh agama Hindu, lalu datang pengaruh Buddha, dan baru kemudian disusul oleh pengaruh agama Islam. Datangnya bangsa Eropa pada abad-abad selanjutnya juga membawa agama Kristen (baik Katolik maupun Protestan) ke wilayah Nusantara. Bahkan konon kabarnya ekspansi dagang bangsa Eropa ke wilayah lain dilandasi semangat untuk menyebarkan agama mereka selain mendapatkan peruntungan dagang. &lt;br /&gt;Agama Hindu diperkirakan mulai masuk ke wilayah Nusantara pada abad pertama dan kedua masehi. Kemudian datang agama Buddha yang mulai melampaui pengaruh agama Hindu pada abad keenam hingga kedelapan masehi. Pada abad ke 7 hingga ke 13 M agama Buddha telah berkembang sebagai agama kerajaan, ditandai dengan lahirnya Kerajaan Buddha Sriwijaya di daerah Palembang saat ini. Kerajaan Buddha ini adalah salah satu kerajaan terbesar yang pernah lahir di wilayah Nusantara bagian barat, kekuasaanya hingga mencapai Hainan dan Taiwan. Pada abad ke 11 M Sriwijaya diperkirakan telah dapat menundukkan dominasi Mataram Hindu di Jawa. Salah satu monumen penting peninggalan Buddha di Indonesia adalah Borobudur yang dibangun pada abad ke 8 M atas prakarsa dinasti Syailendra.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada abad ke 13 M Srwijaya secara perlahan telah mengalami kemunduran, dan secara bersamaan dominasi agama Buddha pun mulai menyurut. Pada abad berikutnya kekuasaan Sriwijaya seolah beralih kepada Kerajaan Hindu Majapahit yang berpusat di Jawa bagian timur. Pada abad ke 14 M Majapahit mempunyai seorang negarawan besar, yaitu Mahapatih Gajah Mada. Kala itu kekuasaan Majapahit telah meliputi seluruh wilayah Nusantara, dari Sumatra (bahkan Tumasik atau Singapura) hingga Papua, dari Sumba hingga Mindano. Kekuasaan Majapahit akhirnya menyurut pada abad ke 15 M, seiring dengan menguatnya pengaruh Islam yang kemudian melahirkan Kerajaan Islam Demak.      &lt;br /&gt;Agama Islam diperkirakan telah masuk ke Indonesia pada abad ke-13M dengan bukti ditemukannya batu nisan raja Islam pertama di Pasai bertuliskan tahun 1297 M. Namun demikian banyak pendapat ahli yang menyatakan bahwa Islam telah masuk ke wilayah Nusantara jauh sebelum itu.  Jaringan pedagang muslim dari Gujarat, India pada abad-abad awal masehi sesungguhnya telah singgah dan menyebarkan Islam di wilayah pantai barat Sumatera dan kemudian berkembang ke timur pulau Jawa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kristen Katolik dibawa masuk ke Indonesia oleh bangsa Portugis, khususnya di pulau Flores dan Timor. Sedangkan Kristen Protestan pertama kali diperkenalkan oleh bangsa Belanda pada abad ke-16 M dengan pengaruh ajaran Calvinis dan Lutheran. Wilayah penganut animisme di wilayah Indonesia bagian Timur, dan bagian lain, merupakan tujuan utama orang-orang Belanda, termasuk Maluku, Nusa Tenggara, Papua dan Kalimantan. Kemudian, Kristen menyebar melalui pelabuhan pantai Borneo, kaum misionaris pun tiba di Toraja, Sulawesi. Wilayah Sumatera juga menjadi target para misionaris ketika itu, khususnya adalah orang-orang Batak, dimana banyak saat ini yang menjadi pemeluk Protestan. Sebelum mengetahui lebih mendalam tentang ajaran agama-agama tersebut, baiknya kita ketahui lebih dahulu tentang sejarah terbentuknya agama-agama itu hingga masuk dan menyebar ke wilayah Nusantara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Agama Hindu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Agama Hindu disebut juga agama Brahma, agama Weda atau agama Dharma. Penyebutan nama Hindu disesuaikan dengan perkembangannya sejak semula di daerah Sapta Sindhu, yaitu tujuh daerah penting di sekitar sungai Indus di India utara. Dari sanalah kemudian agama ini menyebar ke seluruh dunia hingga ke Indonesia. Pengaruh agama ini cukup kentara pada agama-agama lain, seperti agama Buddha (Mahayana), agama Lama (Tibet), dan agama Konghucu (Cina), terutama dalam hal pematungan dewa-dewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Hindu tidak mempunyai seorang nabi, meski diduga agama itu berasal dari ajaran seorang atau beberapa nabi yang terkumpul menjadi satu sejak lebih dari seribu tahun yang lalu dan dikenal dengan sebutan kaum Brahmana atau golongan pendeta. Ada suatu pendapat yang mengatakan bahwa kata Brahman atau Brahmana berasal dari akar kata Abraham (nabi Ibrahim), sehingga kaum Brahmana juga disebut sebagai kaum pengikut nabi Ibrahim. Pendapat ini adalah salah satu teori yang ingin mengaitkan antara agama Hindu dengan ajaran agama Ibrahim. Terlebih lagi ketika mengetahui bahwa dalam ajaran Weda, kitab suci agama Hindu juga terdapat ajaran tentang ke-Esa-an Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori yang lebih jelas tentang Hindu menyatakan bahwa agama ini merupakan percampuran antara kepercayaan dan agama yang dibawa bangsa Aria, yang masuk ke India dari sela Kaibar (Iran) kira-kira tahun 2000-1000 sebelum Masehi, dengan kepercayaan bangsa Dravida, bangsa asli India, hingga menjadi bangsa dan agama Hindu seperti saat ini. Bangsa Aria mewariskan kitab Weda bagi agama Hindu, sedangkan bangsa Dravida mewariskan ajaran penghormatan kepada penjelmaan roh, dewa, dan hantu-hantu. Sejak zaman dahulu bangsa Dravida telah mempunyai dewa-dewa alam seperti: Surya, dewa matahari; Soma, dewa bulan; Agni, dewa api; Wayu, dewa angin; Waruna, dewa langit, dan lain-lain dengan jumlah yang banyak sekali. Tetapi dewa yang terpenting adalah Trimurti, yaitu Brahma, Wisynu dan Syiwa. Brahma adalah dewa pencipta segalanya yang ada di alam semesta ini, Wisynu adalah penjaga dan pemelihara dari apa yang ada di semesta itu, sementara Syiwa adalah perusak. &lt;br /&gt;Bangsa Hindu yang terlahir dari percampuran dua bangsa itu terbagi dalam empat kasta, yaitu Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra. Bangsa Aria, sebagai bangsa pemenang dalam percampuran itu menempatkan dirinya dalam tiga kasta tertinggi. &lt;br /&gt;Sedangkan bangsa Dravida dimasukkan dalam kasta terendah yaitu Sudra. Menurut pembagiannya, kasta Brahmana terdiri dari golongan pendeta, Ksatria ialah golongan bangsawan dan prajurit, Waisya adalah golongan pedagang dan tuan tanah. Sedang kasta Sudra adalah golongan petani, pekerja kasar dan budak. Di luar keempat kasta itu terdapat suatu kelompok masyarakat yang berjumlah besar yaitu kasta Paria, golongan orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap (gelandangan) yang tidak termasuk dalam perhitungan pergaulan hidup sehari-hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman dahulu perbedaan antara kasta-kasta tersebut sangat dipegang teguh oleh umat Hindu. Diantara mereka terdapat batas pemisah yang kukuh antara satu sama lain. Mereka tidak dapat bergaul antar kasta secara bebas dalam kehidupan sehari-hari. Bila dilanggar maka mendapatkan hukuman yang berat, bahkan hukuman mati. Dalam struktur kasta itu, tentunya kaum Brahmana yang mendapatkan kekuasaan penting dalam masyarakat Hindu, karena merekalah yang dapat membaca kitab-kitab ajaran Hindu, memimpin peribadatan, dan membaca mantra-mantra. Kaum Brahmana ini pulalah yang kelak sampai ke wilayah nusantara bersama para bangsawan dan pengusaha yang melakukan perniagaan di wilayah nusantara.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Hindu yang kemudian juga berkembang sebagai kebudayaan Hindu datang di wilayah nusantara (Indonesia) pada abad pertama Masehi. Dalam konteks sejarah Indonesia, pengaruh agama Hindu bergulir secara bergantian dengan agama Budha yang datang setelahnya dan bahkan kedua agama itu akhirnya membaur satu sama lain. Agama ini kemudian melahirkan aliran Chiva-Budha dan membentuk sejumlah kerajaan Hindu-Budha seperti Kerajaan Kutai dan Mataram. Candi Prambanan adalah kuil Hindu yang dibangun atas perintah dinasti Sanjaya yang menganut Hindu sebagai agama resmi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Agama Hindu dapat dikatakan mulai menemukan ekspresi politiknya secara penuh dengan berdirinya Kerajaan Hindu Majapahit di Jawa bagian timur. Seperti dikatakan sebelumnya, kerajaan ini bertahan hingga abad ke 15 M, ketika kerajaan Islam mulai berkembang dan menggeser kedudukan agama Hindu-Buddha. Keruntuhan Majapahit pada abad ke 15 M itu adalah tanda dari pergeseran pengaruh Hindu kepada Islam di Nusantara. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa agama Hindu bersama dengan agama Budha bertahan pengaruhnya selama 15 abad penuh di Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hindu di Indonesia berbeda dengan Hindu lainnya di dunia. Sebagai contoh, Hindu di Indonesia, secara formal ditunjuk sebagai agama Hindu Dharma, tidak menerapkan sistem kasta. Contoh lain adalah, bahwa Epos keagamaan Hindu Mahabharata (Pertempuran Besar Keturunan Bharata) dan Ramayana (Perjalanan Rama), menjadi tradisi penting para pengikut Hindu di Indonesia, yang dinyatakan dalam bentuk wayang dan pertunjukan tari. Aliran Hindu juga telah terbentuk dengan cara yang berbeda di pulau Jawa, sehingga lebih dipengaruhi oleh agama Islam, yang dikenal sebagai Islam Sinkretis, Islam Abangan atau Islam Kejawen. Fenomena ini menunjukkan bahwa pengaruh Hindu cukup mengakar kuat dalam tradisi bangsa Indonesia, khususnya Jawa, sehingga terjadi sinkretisme semacam itu.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian halnya dengan ajaran Hindu di pulau Bali, agama Hindu Bali adalah campuran dari ajaran Hindu, Budha dan adat asli dari suku bangsa Bali. Mereka mengenal banyak dewa-dewa, dan dewa yang tertinggi mereka namakan Hyang Titah, Sang Hyang Widdhi atau Sang Hyang Widhiwasa. Hindu Bali juga mengenal adanya pembagian kasta dalam masyarakatnya, meskipun kasta Paria golongan terendah yang terdapat dalam ajaran Hindu India tidak digunakan oleh Hindu Bali.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Agama Buddha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Agama Buddha dilahirkan oleh seorang suci bernama Siddharta Gautama (566-486 SM), putra Raja Suddodana dari Kerajaan Sakya atau juga dikenal Kerajaan Kapilawastu, di lereng pegunungan Himalaya, Nepal. Siddharta telah ditinggal oleh ibunya, Ratu Maya, yang wafat ketika ia masih bayi. Dalam kisahnya, diketahui bahwa Siddharta, yang telah diramal akan menjadi pendeta besar, sejak muda tidak tertarik dengan kehidupan istana yang serba gemerlap dan penuh kesenangan hidup. Ia lebih menyukai kehidupan di luar istana yang lebih bersahaja dan bahkan jauh dari kesenangan. Oleh karena itu Sidharta bersama saisnya, Chandra, kerap mencari kesempatan untuk pergi menyendiri ke luar kota, jauh dari istana raja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanannya ke luar kota itulah, jauh dari istana raja, Sidharta memperoleh beberapa pengalaman spiritual yang memberikan pencerahan bagi pikiran dan batinnya. Penglihatannya atas seorang tua renta yang papa, orang-orang yang menderita kesakitan karena suatu penyakit, orang mati, dan orang tertimpa kesedihan karena kematian itu sangat membekas dalam diri Siddharta. Hingga kemudian dalam suatu perjalanan Siddharta bersama Chandra melihat seorang pertapa yang tampaknya sungguh-sungguh menguasai dirinya, sambil tertunduk ke bawah dan mengenakan jubah. Chandra pun menjelaskan kepada Siddharta bahwa pertapa itu adalah seorang yang mampu melepaskan dirinya dari segala keinginan hidup di dunia, dan memusatkan batinnya untuk melakukan samadhi (bertapa) melepaskan diri dari kejahatan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalaman itu, Siddharta sangat tertekan batinnya, terus memikirkan apa yang telah ia saksikan. Ia kemudian memutuskan untuk mengabdikan dirinya dalam membantu umat manusia yang akan menghadapi sulitnya masa tua, sakit, mati, dan samadhi. Setelah kelahiran putranya, yang bernama Rahula, Siddharta pergi meninggalkan istana kerajaan. Ia meninggalkan pesan untuk ayahnya kepada Chandra, agar baginda raja merawat Rahul putranya agar kelak dapat menggantikan beliau sebagai raja bangsa Sakya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu Siddharta mulai mengembara, berguru dari satu tempat pertapaan menuju ke tempat pertapaan yang lainnya. Banyak pelajaran hidup yang ia ambil dari para pendeta yang ada di petapaan itu. Hingga kemudian ketika mencapai usia 30-an tahun, Siddharta telah menemukan jalan kebenaran-nya sendiri, ia memutuskan untuk tidak lagi berguru pada pendeta-pendeta di pertapaan dan terus melakukan pengembaraan. Dikisahkan pada suatu hari Siddharta tiba di suatu tempat dengan panas yang sangat terik. Lalu ia mulai berteduh di bawah pohon yang disebut pohon bodhi di suatu tempat yang kemudian bernama Bodh Gaya. Ia merasa nyaman dan tentram di bawah naungan pohon itu, sehingga memutuskan untuk terus bersamadhi di bawahnya sampai mendapatkan pencerahan. Setelah mengalami berbagai macam godaan yang berusaha membuyarkan kekhusyu’an samadhinya, akhirnya Siddharta memperoleh pencerahan dari Tuhan. ia mendapat bisikan wahyu untuk mengajarkan perbuatan baik kepada umat manusia. Dan sejak saat itu, ia telah menjadi Buddha artinya yang disinari atau yang mengetahui segalanya. Peristiwa ini terjadi pada tahun  531 SM dalam usia 35 tahun. Tokoh utama agama Buddha itu akhirnya wafat pada tahun 486 SM di Kusinagara dalam usia 80 tahun. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Sejak awal agama Buddha ini banyak menarik perhatian kalangan masyarakat bawah, yaitu golongan Waisya, Sudra dan Paria, karena Buddha datang dengan menghapuskan kepercayaan adanya kasta-kasta dalam masyarakat. Dalam ajaran Buddha semua manusia adalah sama. Hal semacam ini juga terjadi dalam sejarah perkembangan agama Buddha di nusantara, agama Buddha dengan cepat dapat mendesak dominasi agama Hindu dalam masyarakat. Masyarakat nusantara yang cenderung bersifat egaliter tidak mau terbagi-bagi dalam kasta banyak yang berpaling ke agama Buddha. Setelah berkembang pesat di India, akhirnya agama Buddha justru banyak mendapatkan pemeluk di luar India. Pada saat ini agama Buddha terus berkembang dan telah menjadi agama penting di Sailan, Tibet, Cina, Jepang, Burma, Thailand dan Kamboja.         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, agama Buddha adalah agama tertua kedua setelah Hindu. Agama ini masuk ke wilayah Nusantara secara bertahap sekitar abad ke 6, 7, dan 8 M. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, sejarah perkembangan agama Budha di Indonesia berhubungan erat dengan perkembangan agama Hindu. Dominasi pengaruh kedua agama itu sebagai agama resmi kerajaan, bergilir secara bergantian. Kerajaan Srwijaya, di Sumatra bagian selatan adalah  salah satu kerajaan terbesar yang pernah menguasai perairan Nusantara dan pada saat itu menjadi salah satu pusat perkembangan agama Buddha di Asia. Kerajaan Buddha ini adalah salah satu kerajaan terbesar yang pernah lahir di wilayah Nusantara bagian barat, kekuasaanya hingga mencapai Hainan dan Taiwan. Pada abad ke 11 M Sriwijaya diperkirakan telah dapat menundukkan dominasi Mataram Hindu di Jawa. Salah satu monumen penting peninggalan Buddha di Indonesia adalah Borobudur yang dibangun pada abad ke 8 M atas prakarsa dinasti Syailendra.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Agama Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam diajarkan dan disebarkan oleh nabi Muhammad yang dilahirkan pada tanggal 12 Rabiul Awal  tahun 52 sebelum Hijrah atau bertepatan dengan 20 April tahun 571 masehi. Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muthalib, sedang ibunya bernama Siti Amimah binti Wahab. Keduanya dari keluarga Quraisy, yakni golongan bangsawan Mekah, keturunan langsung dari nabi Ismail, putra sulung Nabi Ibrahim. Ketika Muhammad masih berusia 7 bulan dalam kandungan, Abdullah wafat dan menyusul kemudian ibunya juga wafat saat usianya baru berumur 6 tahun. Sejak saat itu hingga umur 8 tahun Muhammad diasuh oleh sang kakek Abdul Muthalib, yang ketika itu menjadi walikota Mekah. Sepeninggal kakeknya, Muhammad diasuh oleh pamannya Abu Thalib hingga dewasa dan menikah pada umur 25 tahun dengan Siti Khadijah, istri pertamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad sejak kecil hingga dewasa telah terkenal sebagai seorang yang cerdas, jujur sangat dipercaya, dan sopan tingkah lakunya, sehingga masyarakat menjulukinya dengan sebutan Al Amin. Pada umur 40 tahun Muhammad menerima wahyu kenabiannya ketika ia menyendiri di Gua Hira, dekat puncak Jabal Nur. Mulanya penyebaran Islam dilakukan oleh nabi Muhammad secara diam-diam. Setelah datangnya perintah dari Tuhan, disiarkanlah Islam secara terang-terangan. Sejak saat itu Muhammad mendapatkan tentangan yang keras dari para pemuka qabilah di Makah. Mereka menganggap Islam yang dibawa oleh Muhammad membahayakan kepercayaan dan adat mereka yang telah berlangsung turun-temurun dari nenek moyang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentangan dan ancaman terhadap Muhammad semakin terasa membahayakan ketika istrinya Siti Khadijah dan pamannya Abu Thalib wafat. Tidak ada lagi dua orang yang setia mendukung dan melindungi perjuangan dakwah Islam yang dilakukan Muhammad. Khadijah dan Abu Thalib adalah dua orang yang cukup disegani di kalangan Quraisy. Sehingga setelah keduanya telah tiada, mereka semakin sewenang-wenang dalam menentang perjuangan nabi Muhammad.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Makkah dewasa ini, dengan Ka'bah sebagai pusat peribadatan umat Islam&lt;br /&gt;Karena ancaman dan tentangan itu semakin membahayakan, akhirnya setelah 10 tahun berusaha mengembangkan agama Islam di Makah, pada 16 Juli 622 M nabi Muhammad bersama para pengikutnya yang hanya berjumlah sedikit mulai berhijrah ke Madinah. Di tempat yang baru itu Muhammad menemukan pengikut yang lebih besar. Seluruh penduduk Madinah bersimpati kepada nabi dan ajaran Islam yang dibawanya. Penduduk Madinah yang kemudian dikenal dengan kaum Anshor itu kemdian bersama dengan kaum Muhajirin, pengikut setia nabi yang berhijrah dari Makah, bersama-sama membantu Muhammad dalam menyebarkan agama Islam. Dari Madinah, nabi Muhammad semakin aktif menyiarkan agama Islam ke seluruh jazirah Arab. Setelah berlangsung selama kurang lebih 13 tahun di Madinah dan Islam telah menyebar merata ke seluruh jazirah Arab dan sekitarnya, nabi Muhammad wafat pada 12 Rabiul Awal 11 Hijriyah bertepatan dengan 8 Juli 632 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah wafatnya nabi Muhammad pemerintahan Islam di Madinah diteruskan oleh para pengikut setia nabi yang dikenal dengan sebutan sahabat. Ada empat sahabat yang menggantikan kepemimpinan nabi Muhammad secara bergantian. Pemimpin atau Imam kaum muslimin sepeninggal nabi disebut dengan Khalifah. Keempat Khalifah ini adalah Abu Bakar (632-634M), Umar bin Khattab (634-644M), Usman bin Affan (644-655M), dan Ali bin Abi Thalib (656-661M).  Keempat khalifah itu dikenal dengan Khalifah Rasyidin.&lt;br /&gt;Setelah periode Khalifah Rasyidin, kepemimpinan umat Islam berganti dari tangan ke tangan dengan pemimpinnya yang juga disebut "khalifah" atau terkadang "amirul mukminin", "sultan", dan sebagainya. Pada periode ini khalifah tidak lagi ditentukan berdasarkan orang yang terbaik di kalangan umat Islam, melainkan secara turun-temurun dalam satu dinasti (bahasa Arab: bani) sehingga banyak yang menyamakannya dengan kerajaan; misalnya kekhalifahan Bani Umayyah, Bani Abbasiyyah, hingga Bani Utsmaniyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besarnya kekuasaan kekhalifahan Islam telah menjadikannya salah satu kekuatan politik yang terkuat dan terbesar di dunia pada saat itu. Timbulnya tempat tempat pembelajaran ilmu-ilmu agama, filsafat, sains, dan tata bahasa Arab di berbagai wilayah dunia Islam telah mewujudkan satu kontinuitas kebudayaan Islam yang agung. Banyak ahli-ahli ilmu pengetahuan bermunculan dari berbagai negeri-negeri Islam, terutamanya pada zaman keemasan Islam sekitar abad ke-7 sampai abad ke-13 masehi.&lt;br /&gt;Luasnya wilayah penyebaran agama Islam dan terpecahnya kekuasaan kekhalifahan yang sudah dimulai sejak abad ke-8, menyebabkan munculnya berbagai otoritas-otoritas kekuasaan terpisah yang berbentuk "kesultanan"; misalnya Kesultanan Safawi, Kesultanan Turki Seljuk, Kesultanan Mughal, Kesultanan Samudera Pasai dan Kesultanan Malaka, yang telah menjadi kesultanan-kesultanan yang memiliki kekuasaan yang kuat dan terkenal di dunia. Meskipun memiliki kekuasaan terpisah, kesultanan-kesultanan tersebut secara nominal masih menghormati dan menganggap diri mereka bagian dari kekhalifahan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kurun ke-18 dan ke-19 M, banyak kawasan-kawasan Islam jatuh ke tangan penjajah Eropa. Kesultanan Utsmaniyyah (Kerajaan Ottoman) yang secara nominal dianggap sebagai kekhalifahan Islam terakhir, akhirnya tumbang selepas Perang Dunia I. Kerajaan ottoman pada saat itu dipimpin oleh Sultan Muhammad V. Karena dianggap kurang tegas oleh kaum pemuda Turki yang di pimpin oleh mustafa kemal pasha atau kemal attaturk, sistem kerajaan dirombak dan diganti menjadi republik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana telah dituliskan sebelumnya, masuknya Islam ke wilayah Nusantara tidak dapat diketahui dengan pasti kapan tepatnya peristiwa itu terjadi. Secara umum dapat dikatakan bahwa masuknya Islam di  Nusantara adalah suatu proses yang terjadi dalam rentang abad ke 7 sampai abad ke 13. Beberapa Ahli berpendapat bahwa pada abad ke 7, berdasarkan berita Cina dari zaman Tang, diceritakan bahwa pada waktu itu ada orang-orang Ta-Shih yang ditafsirkan sebagai orang Arab dan Persia yang akan melakukan penyerangan terhadap kerajaan Holing dibawah pemerintahan Ratu Sima (674 M). Dalam berita Cina tahun 1178 juga disebutkan bahwa orang-orang Ta-Shih terdapat di dua wilayah, yaitu daerah Kuala Brang, 25 mil dari sungai Trengganu, di wilayah kekuasaan Sriwijaya, dan di suatu tempat di wilayah Selatan Sumatra. Diperkirakan komunitas Arab dan Persia ini terbentuk karena adanya jaringan perdagangan yang berpusat di wilayah Sriwijaya pada saat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ahli berpendapat bahwa pada abad ke 13 terdapat arus pedagang muslim ke Nusantara akibat runtuhnya dinasti Abbasiyah oleh Hulagu. Pendapat ini juga diperkuat oleh berita Marcopolo pada tahun 1292, berita Ibnu Batutah abad ke 14 serta nisan-nisan kubur Sutan Malik as Saleh (Samudra Pasai) tahun 1297. Selain itu ada juga dugaan bahwa masuknya Islam ke Indonesia pada abad itu juga disebabkan oleh gelombang kedatangan dan penyebaran ajaran tasawuf di wilayah Nusantara. Ajaran tersebut diduga berasal dari dua wilayah, yaitu Arab dan Benggala (India). Oleh karena itu dalam hal wilayah asal para pedagang muslim, para ahli bersepakat bahwa kemungkinan besar para pedagang itu berasal dari Arab, Persia dan India (Gujarat dan Benggala).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana Hindu dan Buddha, agama Islam juga  mengalami sebagai agama resmi kerajaan. Kerajaan Islam pertama di wilayah Nusantara adalah Kerajaan Samudra Pasai, berdiri pada abad ke 13 M seiring dengan pudarnya pengaruh Sriwijaya di wilayah Sumatra. Raja pertama Pasai, adalah Malik as Saleh, raja yang batu nisannya ditemukan bertuliskan tahun 1297 M. Kekuasaan agama Islam sebagai agama kerajaan terus berlangsung hingga kekuasaan Pasai berganti kepada kekuasaan Aceh Darussalam pada abad ke-16 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu di Jawa, Islam baru menjadi agama resmi kerajaan pada abad ke 15 M dengan berdirinya Kerajaan Demak bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Majapahit. Pada masa kekuasaanya, Demak terus berusaha meng-Islam-kan tanah Jawa. Dominasi kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran yang beragama Hindu mulai digerus oleh pengaruh Islam dengan berdirinya Banten, Cirebon, serta mengubah Sunda Kelapa menjadi Jayakarta pada 1527 M.  Sebagaimana Samudra Pasai, kerajaan Islam Demak tidak semegah kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Wilayah kekuasaannya sangat terbatas dan periode berkuasanya pun hanya berlangsung singkat. Namun demikian setelah runtuhnya Demak, kerajaan-kerajaan Islam mulai tersebar di hampir seluruh kepulauan Nusantara, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi hingga Ternate-Tidore dan Sumbawa.      &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berbeda dengan ajaran Hindu-Budha yang datang melalui ajaran-ajaran para pendeta agama, Islam datang dengan jalan yang beragam dengan perdagangan sebagai saluran utamanya. Dalam proses perdagangan tersebut, para pedagang muslim mulai tinggal membentuk komunitas muslim di wilayah Nusantara, diantara mereka juga banyak terdapat para mubaligh (pendakwah) agama Islam. Dalam menetap itu, mereka menggunakan bahasa masyarakat lokal, menerima tradisi dan kebiasaan setempat serta melakukan perkawinan dengan perempuan pribumi yang telah mereka Islam-kan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui perkawinan itu pula, para pedagang muslim ini mampu memasuki setiap lapisan masyarakat, baik umum maupun elite bangsawan. Mereka kemudian berkesempatan untuk mengajak raja-raja, partner dagang mereka, untuk masuk agama Islam. Dan ketika raja-raja itu telah masuk Islam, biasanya rakyat yang menganutnya dan mencontohnya juga ikut memeluk agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain proses Islamisasi yang berlangsung pada lapisan atas tersebut, Islam juga dengan mudah meresap di lapisan masyarakat umum. Islam dipandang oleh masyarakat umum lebih baik daripada sistem ajaran Hindu, karena tidak mengenal kasta, tidak mengenal perbedaan golongan dalam masyarakat. Daya penarik Islam bagi para pedagang Hindu adalah, bahwa dengan memeluk Islam dan bekerjasama dengan raja-raja Islam, mereka dapat bekerjasama dengan sejajar dan sederajat. Berbeda dalam sistem Hindu, pedagang berada di bawah derajat yang lebih rendah daripada para bangsawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Agama Kristen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Agama Kristen sering juga disebut agama nasrani atau agama masehi. Sebutan kristen diambil dari sebutan pembawanya, yaitu Yesus Kristus, sedang sebutan nasrani berasal dari nama kota nazaret yang dalam bahasa arab disebut nashirah, sebuah kota di sebelah utara Palestina. Karena Isa Almasih atau Yesus Kristus lahir di kota tersebut, maka pengikutnya disebut dengan nasrani. Sementara itu masehi tentunya diambil dari kata almasih, gelar yang diikutkan pada nama Isa atau Yesus.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Isa Almasih yang juga disebut dengan Yesus Kristus adalah seorang tokoh atau nabi (dalam pandangan Islam) yang dianggap membawa lahirnya agama Kristen di dunia. Yesus lahir pada tahun 6 Sebelum Masehi dari ibu bernama Maryam (Maria) di Bethlehem, daerah Yerussalem, Palestina. Kisah tentang lahirnya Yesus ini menimbulkan perbedaan pemahaman antara tiga agama samawi, Yahudi, Kristen dan Islam. Karena Maryam atau Maria ketika melahirkan Yesus dalam keadaan belum menikah, maka golongan Yahudi berpendapat bahwa Yesus terlahir dari hasil perzinahan. Sedangkan golongan Kristen menganggap bahwa Yesus adalah penjelmaan Tuhan sebagai manusia yang dilahirkan oleh seorang perawan suci bernama Maria. Sedangkan golongan Islam berpendapat bahwa Isa dilahirkan dari Maryam, perawan suci, atas seizin Tuhan, meski Isa bukanlah penjelmaan Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Kristen bermula dari pengajaran Yesus Kristus sebagai tokoh utama agama ini. Yesus lahir di kota Betlehem yang terletak di Palestina sekitar tahun 4-8 SM.  Yesus lahir dari rahim seorang wanita perawan bernama Maria (Maryam) yang telah dikandung oleh Roh Kudus. Pada saat itu Palestina adalah jajahan Romawi yang dikepalai oleh wali negeri  bernama Pintius Pilatus. Sedang yang berkuasa di Roma adalah Kaisar Augustus.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus menyampaikan ajaran Kristen di tengah-tengah bangsa Yahudi yang tengah tertindas. Ajarannya menyeru agar setiap orang mengasihi sesama, sekalipun kepada musuh. Ajaran Yesus itu sangat menyejukkan bagi orang-orang yang tengah hidup dalam penindasan. Tapi lain halnya dengan bangsa Romawi yang berkuasa saat itu, mereka bersikap keras terhadap penganut agama Kristen. Yesus hanya tiga tahun mempunyai kesempatan untuk menyampaikan ajarannya. Saat itu ia berumur kira-kira 30 tahun. Yesus kemudian difitnah oleh bangsanya sendiri, dijatuhi hukuman mati, disalib di tiang gantungan pada usia 33 tahun dan bangkit dari kubur pada hari yang ketiga setelah kematiannya. Setelah kebangkitannya, Yesus masih tinggal di dunia sekitar empat puluh hari lamanya, sebelum kemudian naik ke surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah naiknya Yesus Kristus ke surga, murid-murid Yesus meneruskan penyebaran ajaran Kristen sehingga pengikutnya terus bertambah. Diantara para penganjur agama Kristen yang terkenal itu adalah Paulus dan Petrus. Mereka aktif menyebarkan Kristen ke Suriah, Siprus, Antiochia, juga ke kota Roma, Italia. Semakin lama agama itu semakin berkembang terutama di kalangan rakyat jelata. Pada masa-masa awal penyebarannya, agama Kristen cenderung dianggap sebagai ancaman hingga terus-menerus dikejar dan dianiaya oleh pemerintah Romawi saat itu. Banyak bapa Gereja yang menjadi korban kekejaman kekaisaran Romawi dengan menjadi martir, yaitu rela disiksa maupun dihukum mati demi mempertahankan imannya, salah satu contohnya adalah Ignatius dari Antiokia yang dihukum mati dengan dijadikan makanan singa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saat itu, kepercayaan yang berkembang di Romawi adalah paganisme, di mana terdapat konsep ‘balas jasa langsung’. Namun dengan gencarnya para rasul menyebarkan ajaran Kristen, perlahan agama ini mulai berkembang jumlahnya, sehingga pemerintah Romawi semakin terancam oleh keberadaan agama Kristen. Romawi pun berusaha menekan, dan bahkan melarang agama Kristen, karena umat Kristen saat itu tidak mau menyembah Kaisar, dan hal ini menyulitkan kekuasaan Romawi. Selain itu, paganisme dan ramalan-ramalan yang sejak zaman Republik sudah dipakai sebagai alat-alat propaganda dan pembenaran segala tingkah laku penguasa atau alasan kegagalan penguasa, sudah tidak efektif lagi dengan keberadaan agama Kristen. Maka, di masa-masa ini, banyak umat Kristen yang dibunuh sebagai usaha pemerintah Romawi untuk menumpas agama Kristen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa inilah, datang masa-masa kegelapan (192-284M), mulai dari Kaisar Commodus hingga Kaisar Diocletianus (284-305M). Pada masa inilah orang-orang masa itu kehilangan kepercayaan terhadap konsep balas jasa langsung yang dianut di Paganisme, sehingga agama Kristen pun semakin diminati. Hingga akhirnya pada tahun 313 M, Kaisar Konstantin melegalkan agama Kristen dan bahkan minta untuk dipermandikan, dan 80 tahun setelahnya, Kaisar Theodosius melarang segala bentuk paganisme dan menetapkan agama Kristen sebagai agama negara. Sebagai agama resmi negara Kekristenan menyebar dengan sangat cepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak abad ke 5 M berbagai bangsa menyerbu wilayah kekuasaan Roma, akibatnya runtuhlah kekuasaan Romawi bagian barat. Sementara itu Romawi bagian timur yang dikenal dengan Byzantium selamat dari serangan musuh dan dapat bertahan hingga tahun 1453 M. Pada masa keruntuhan itu Paus di Roma dapat mempertahankan ajaran dan organisasi Gereja Katolik, tetapi hubungannnya dengan ke-uskup-an di Konstantinopel (Romawi bagian barat) terputus. Sementara itu kaum paderi dari Yunani terus menyebarkan Kristen dari Konstantinopel menuju ke Rusia. Karena penyebaran itu raja Kiev akhirnya pada 989 M dipabtis menjadi seorang Kristen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1054 M terjadilah suatu perselisihan antara Paus dan ke-uskup-an di dua bagian yaitu kubu Gereja Katolik Roma dan Gereja Katolik Yunani. Sejak saat itu kepemimpinan Paus di Roma tidak lagi diakui oleh kubu Konstantinopel. Di wilayah keuskupan Yunani ini hubungan antara pemerinta dan gereja berjalan baik, kaisar diakui sebagai kepala agama. Sehingga ketika Byzantium jatuh di tangan orang-orang Turki, Tsar Rusia diakui sebagai kepala Gereja Katolik Yunani (Kristen Ortodoks). Sementara itu di wilayah barat, Paus dapat menjaga otoritas gereja dari pengaruh Negara, sehingga kekuasaan raja-raja Charles memberikan daerah yang luas di sekitar Roma kepada Paus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad ke-15 M seluruh Eropa telah menjadi Kristen. Kekuasaan kekaisaran  Eropa juga merasa turut mengemban amanat suci dalam menyebarkan agama Kristen. Gereja dan biara didirikan dimana-mana bukan hanya sebagai pusat kegiatan agama, tapi juga sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan seni. Tapi kekuasaan Paus itu bukan tanpa tantangan. Karena bebagai kritik dan ketidak puasan atas kekuasaan Paus yang mulai dianggap mencampur adukan antara kuasa agama dan Negara, maka pada abad ke 16 M mulai muncul berbagai aliran dalam Krsten, antara lain Kristen Protestan. Aliran ini dipelopori oleh Martin Luther seorang pendeta dan guru besar di Wittenberg, Jerman. Pada tahun 1517 Martin Luther mengumumkan 95 dalil menentang hal-hal yang dianggap tidak baik dalam kepemimpinan Gereja Katolik. Selain itu muncul pula aliran Calvin yang banyak mempunyai pengikut di Belanda, Inggris, dan Skotlandia. Pada masa pemerintahan Hennry VIII berkembang pula aliran Anglikan di Inggris.      &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kristen Katolik di Indonesia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;(Umat Katolik Perintis di Indonesia: 645 – 1500M) Agama Katolik untuk pertama kalinya masuk ke Indonesia pada bagian pertama abad ketujuh di Sumatera Utara. Fakta ini ditegaskan kembali oleh (Alm) Prof. Dr. Sucipto Wirjosuprapto. Untuk mengerti fakta ini perlulah penelitian dan rentetan berita dan kesaksian yang tersebar dalam jangka waktu dan tempat yang lebih luas. Berita tersebut dapat dibaca dalam sejarah kuno karangan seorang ahli sejarah Shaykh Abu Salih al-Armini yang menulis buku "Daftar berita-berita tentang Gereja-gereja dan pertapaan dari provinsi Mesir dan tanah-tanah di luarnya". yang memuat berita tentang 707 gereja dan 181 pertapaan Serani yang tersebar di Mesir, Nubia, Abbessinia, Afrika Barat, Spanyol, Arabia, India dan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan terus dilakukan penyelidikan berita dari Abu Salih al-Armini kita dapat mengambil kesimpulan kota Barus yang dahulu disebut Pancur dan saat ini terletak di dalam Keuskupan Sibolga di Sumatera Utara adalah tempat kediaman umat Katolik tertua di Indonesia. Di Barus juga telah berdiri sebuah Gereja dengan nama Gereja Bunda Perawan Murni Maria (Gereja Katolik Indonesia seri 1, diterbitkan oleh KWI)&lt;br /&gt;(Awal mula: abad ke-14 sampai abad ke-18) Dan selanjutnya abad ke-14 dan ke-15 entah sebagai kelanjutan umat di Barus atau bukan ternyata ada kesaksian bahwa abad ke-14 dan ke-15 telah ada umat Katolik di Sumatera Selatan. Kristen Katolik tiba di Indonesia saat kedatangan bangsa Portugis, yang kemudian diikuti bangsa Spanyol yang berdagang rempah-rempah. Banyak orang Portugis yang memiliki tujuan untuk menyebarkan agama Katolik Roma di Indonesia, dimulai dari kepulauan Maluku pada tahun 1534. Antara tahun 1546 dan 1547, pelopor misionaris Kristen, Fransiskus Xaverius, mengunjungi pulau itu dan membaptiskan beberapa ribu penduduk setempat.&lt;br /&gt;Pada abad ke-16, Portugis dan Spanyol mulai memperluas pengaruhnya di Manado &amp; Minahasa, salah satunya adalah menyebarkan agama Kristen Katolik namun hal tersebut tidak bertahan lama sejak VOC berhasil mengusir Spanyol &amp; Portugis dari Sulawesi Utara. VOC pun mulai menguasai Sulawesi Utara, untuk melindungi kedudukannya di Maluku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama masa VOC, banyak praktisi paham Katolik Roma yang jatuh, dalam hal kaitan kebijakan VOC yang mengutuk agama itu. Yang paling tampak adalah di Sulawesi Utara, Flores dan Timor Timur. Lebih dari itu, para imam Katolik Roma telah dikirim ke penjara atau dihukum dan digantikan oleh para imam Protestan dari Belanda. Seorang imam Katolik Roma telah dieksekusi karena merayakan misa kudus di suatu penjara semasa Jan Pieterszoon Coen menjabat sebagai gubernur Hindia Belanda. Pada  saat ini umat Katolik tersebar di seluruh Indonesia dan secara mayoritas terdapat di Papua dan Flores.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kristen Protestan di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kristen Protestan berkembang di Indonesia selama masa kolonial Belanda (VOC), pada sekitar abad ke-16. Kebijakan VOC yang mengutuk paham Katolik dengan sukses berhasil meningkatkan jumlah penganut paham Protestan di Indonesia. Agama ini berkembang dengan sangat pesat di abad ke-20, yang ditandai oleh kedatangan para misionaris dari Eropa ke beberapa wilayah di Indonesia, seperti di wilayah barat Papua dan lebih sedikit di kepulauan Sunda. Pada 1965, ketika terjadi perebutan kekuasaan, orang-orang tidak beragama dianggap sebagai orang-orang yang tidak ber-Tuhan, dan karenanya tidak mendapatkan hak-haknya yang penuh sebagai warganegara. Sebagai hasilnya, gereja Protestan mengalami suatu pertumbuhan anggota, sebagian besar dari mereka merasa gelisah atas cita-cita politik partai Islam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Protestan membentuk suatu perkumpulan minoritas penting di beberapa wilayah. Sebagai contoh, di pulau Sulawesi, 17% penduduknya adalah Protestan, terutama di Tana Toraja, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara. Sekitar 65% penduduk di Tana Toraja adalah Protestan. dibeberapa wilayah, keseluruhan desa atau kampung memiliki sebutan berbeda terhadap aliran Protestan ini, seperti Adventist atau Bala Keselamatan, tergantung pada keberhasilan aktivitas para misionaris&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, terdapat dua provinsi yang mayoritas penduduknya adalah Protestan, yaitu Papua dan Sulawesi Utara, dengan 60% dan 64% dari jumlah penduduk. Di Papua, ajaran Protestan telah dipraktikkan secara baik oleh penduduk asli. Di Sulawesi Utara, kaum Minahasa yang berpusat di sekeliling Manado, berpindah agama ke Protestan pada sekitar abad ke-19. Saat ini, kebanyakan dari penduduk asli Sulawesi Utara menjalankan beberapa aliran Protestan. Selain itu, para transmigran dari pulau Jawa dan Madura yang beragama Islam juga mulai berdatangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Agama Konghucu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang berpendapat bahwa ajaran Konghucu bukanlah agama, melainkan sebatas ajaran tentang kesusilaan dan etika dalam kehidupan. Tidak seperti agama lainnya, ajaran Konghucu tidak membicarakan soal ketuhanan secara langsung. Tetapi bagi para penganut Konghucu atau orang-orang yang menganggap bahwa Konghucu adalah agama, mereka menyamakan ajaran Konghucu dengan ajaran Budha. Meski tidak mengajarkan tentang ketuhanan atau ajaran tentang dewa-dewa, tapi kedua ajaran itu tidak mengingkari pengakuan terhadap dewa-dewa dalam agama Hindu dan ketuhanan Syangti yang dianut oleh masyarakat Tionghoa. Bisa diikatakan bahwa Konghucu dan Budha adalah ajaran yang ingin melengkapi ajaran Hindu pada saat itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Konghucu yang dalam bahasa latin disebut Confusius dan dalam bahasa Cina disebut dengan Kung Fu Tse berarti Tuan Kung. Dia adalah keturunan bangsawan miskin di propinsi Syantung, lahir pada tahun 551 SM dan wafat pada tahun 479 SM dalam umur 72 tahun. Tidak lama setelah Kung dilahirkan, ayahnya wafat sehingga ibunya harus hidup dalam kemiskinan. Pada usia 19 tahun Kung telah menikah dan mendapatkan dua putri dari pernikahannya itu. Pada usia 22 tahun Kung yang dikenal sangat cerdas, gemar bergaul, dan berminat pada pengetahuan itu, telah berhasil membuka sekolah yang banyak diminati oleh masyarakat, terutama golongan muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kecermelangan pemikirannya pada usia 31 tahun Kung diangkat sebagai gubernur propinsi Tyung Tu, dan kemudian diangkat sebagai Menteri Kehakiman oleh kaisar Cina. Setelah kaisar yang mengangkatnya sebagai menteri itu wafat, Kung mengembara bersama tiga orang muridnya yang terkenal, Yen Hwei, Tse Kung, dan Tse Lu. Pada tahun 484 SM dalam umur 67 tahun Kung kembali menetap di kota Lu, mendirikan sekolah dan menyebarkan ajarannya hingga wafat. Ajaran Kung atau Konghucu justru dihidupkan dan disebarkan kembali dua abad setelah kematiannya oleh dua orang guru spiritual yang terkenal pada waktu itu, yaitu Men Tse dan Syun Tse.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Konghucu masuk ke wilayah Nusantara melalui perantara para pedagang Tionghoa dan imigran dari Cina daratan. Diperkirakan pada abad ketiga Masehi, orang Tionghoa tiba di kepulauan Nusantara. Berbeda dengan agama yang lain, Konghucu lebih menitikberatkan pada kepercayaan dan praktik yang individual, lepas daripada kode etik melakukannya, bukannya suatu agama masyarakat yang terorganisir dengan baik, atau jalan hidup atau pergerakan sosial. Di era 1900-an, pemeluk Konghucu membentuk suatu organisasi, disebut Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) di Batavia (sekarang Jakarta).&lt;br /&gt;Setelah kemerdekaan Indonesia di tahun 1945, umat Konghucu di Indonesia terikut oleh beberapa huru-hara politis dan telah digunakan untuk beberapa kepentingan politis. Pada 1965, Soekarno mengeluarkan sebuah keputusan presiden No. 1/Pn.Ps/1965 1/Pn.Ps/1965, di mana agama resmi di Indonesia menjadi enam, termasuklah Konghucu. Pada awal tahun 1961, Asosiasi Khung Chiao Hui Indonesia (PKCHI), suatu organisasi Konghucu, mengumumkan bahwa aliran Konghucu merupakan suatu agama dan Confucius adalah nabi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1967, Soekarno digantikan oleh Soeharto, menandai era Orde Baru. Di bawah pemerintahan Soeharto, perundang-undangan anti Tiongkok telah diberlakukan demi keuntungan dukungan politik dari orang-orang, terutama setelah kejatuhan PKI, yang diklaim telah didukung oleh Tiongkok. Soeharto mengeluarkan instruksi presiden No. 14/1967, mengenai kultur Tionghoa, peribadatan, perayaan Tionghoa, serta menghimbau orang Tionghoa untuk mengubah nama asli mereka. Bagaimanapun, Soeharto mengetahui bagaimana cara mengendalikan Tionghoa Indonesia, masyarakat yang hanya 3% dari populasi penduduk Indonesia, tetapi memiliki pengaruh dominan di sektor perekonomian Indonesia. Di tahun yang sama, Soeharto menyatakan bahwa “Konghucu berhak mendapatkan suatu tempat pantas di dalam negeri” di depan konferensi PKCHI.&lt;br /&gt;Pada tahun 1969, UU No. 5/1969 dikeluarkan, menggantikan keputusan presiden tahun 1967 mengenai enam agama resmi. Namun, hal ini berbeda dalam praktiknya. Pada 1978, Menteri Dalam Negeri mengeluarkan keputusan bahwa hanya ada lima agama resmi, tidak termasuk Konghucu. Pada tanggal 27 Januari 1979, dalam suatu pertemuan kabinet, dengan kuat memutuskan bahwa Konghucu bukanlah suatu agama. Keputusan Menteri Dalam Negeri telah dikeluarkan pada tahun 1990 yang menegaskan bahwa hanya ada lima agama resmi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, status Konghucu di Indonesia pada era Orde Baru tidak pernah jelas. De jure, berlawanan hukum, di lain pihak hukum yang lebih tinggi mengizinkan Konghucu, tetapi hukum yang lebih rendah tidak mengakuinya. De facto, Konghucu tidak diakui oleh pemerintah dan pengikutnya wajib menjadi agama lain (biasanya Kristen atau Buddha) untuk menjaga kewarganegaraan mereka. Praktik ini telah diterapkan di banyak sektor, termasuk dalam kartu tanda penduduk, pendaftaran perkawinan, dan bahkan dalam pendidikan kewarga negaraan di Indonesia yang hanya mengenalkan lima agama resmi. Pada saat itu banyak orang Tionghoa mengaku menganut dua ajaran agama sekaligus, yaitu Budha dan Konghucu, selain karena situasi politik, ajaran keduanya yang tidak mementingkan ketuhanan dan lebih berfokus pada masalah moral etika, memungkinkan hal itu terjadi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah reformasi Indonesia tahun 1998, ketika kejatuhan Soeharto, Abdurrahman Wahid dipilih menjadi presiden yang keempat. Presiden Wahid mencabut Instruksi Presiden No. 14/1967 dan keputusan Menteri Dalam Negeri tahun 1978. Agama Konghucu kini secara resmi dianggap sebagai agama di Indonesia. Kultur Tionghoa dan semua yang terkait dengan aktivitas Tionghoa kini diizinkan untuk dipraktekkan. Warga Tionghoa Indonesia dan pemeluk Konghucu kini dibebaskan untuk melaksanakan ajaran dan tradisi mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7473472176854231904-8167081563886984682?l=pekerjamuseum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/feeds/8167081563886984682/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7473472176854231904&amp;postID=8167081563886984682&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/8167081563886984682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/8167081563886984682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/2010/03/agama-agama-di-indonesia.html' title='Agama-Agama di Indonesia'/><author><name>Erwien To'tiL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16127221575751256267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/Sz4AfMOICqI/AAAAAAAAAQc/ljCFJ8iJQbE/S220/PB210370.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/S5klqdVDfqI/AAAAAAAAAQ8/fjiOUZfngV4/s72-c/borobudur+3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7473472176854231904.post-8494289724247144283</id><published>2010-01-01T04:57:00.000-08:00</published><updated>2010-01-02T03:26:15.130-08:00</updated><title type='text'>Gus Dur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/Sz3yJ9QNbHI/AAAAAAAAAPU/nLohDYXrbWk/s1600-h/Gus+Dur.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 221px; height: 299px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/Sz3yJ9QNbHI/AAAAAAAAAPU/nLohDYXrbWk/s320/Gus+Dur.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421755779299241074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Satu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rabu sore 30 Desember 2009, saya sedang kongkow dengan beberapa teman di Cilandak. Entah mulanya apa, obrolan ngalor ngidul itu sampai pada topik Gus Dur. Saya berkisah kepada teman-teman tentang Gus Dur, yang ringan-ringan, termasuk tentang bagaimana perhatian beliau terhadap sejarah, disiplin ilmu kami semua. Magrib terlewat, beberapa sms masuk “ Innalillahi wa Inna ilaihi Roji’un Gus Dur meninggal sore ini” sontak melalui TV kami beramai menonton berita yg terus memantau “kiamat kecil dunia itu”. Saya masygul mengontak dua nama, Inayah Wahid dan Seno. Keduanya, tak menjawab. Baru beberapa saat kemudian Seno, menjawab dari seberang telpon dengan suara parau, ya Pak Dur meninggal.&lt;br /&gt;Saya tidak menangis, Gus Dur bukan bapak saya. Dan saya cukup bisa menerima kenyataan itu, usianya menjelang 70 tahun. Lumayan uzur, ia lebih uzur daripada kakeknya yang meninggal pada usia 50an tahun dan apalagi ayahnya yang juga wafat pada usia 40 an tahun. Selain itu, saya tahu Inay memang setahun ini disibukkan oleh ayahnya untuk menjalani beberapa terapi kesehatan, termasuk cuci darah seminggu tiga kali itu, dan kita kerap menyusun jadwal bertemu di luar hari-hari itu. Saya tidak cukup kaget Gus Dur meninggal, karena beberapa hari sebelumnya saya memantau lewat detik.com kondisi beliau yang sempat drop di Jombang, lalu ke RSCM menjalani pengobatan dan saya dengar terakhir, selasa pagi beliau akan operasi gigi. Tapi tangisan dan rasa kaget tidak pernah menjadi satu-satunya ekspresi duka. Untuk Gus Dur saya hanya hanya tercenung……&lt;br /&gt;Serasa  ada yang bolong dalam hati saya. Seolah berita wafatnya Gus Dur telah membuat lobang yang cukup besar, lobang yang menganga, oi ada sesuatu yang hilang, dan kita menyadarinya ketika sesuatu itu pergi. Saya jadi menarawang beberapa nama, pertama sahabat saya Alfanny, aktivis mahasiswa yang mati-mati an membela Gus Dur semasa di kampus dulu. Lalu, ada almarhum Mahrus Irsyam, yang menjelang ajalnya berpesan kepada saya “ Win, kamu harus menjadi sejarawan NU, tulis NU, tulis NU, ingatkan Gus Dur, tulis Gus Dur!” &lt;br /&gt;Saya menerawang kapan pertama kali mengenal Gus Dur? Saya masih ingat momen persentuhan itu, baik pemikiran maupun fisik.&lt;br /&gt;Saya mendengar  dan membaca nama Gus Dur sejak di bangku pesantren dahulu. Tapi hanya sekedar membaca berita-berita koran tentang perseteruannya dengan para ulama (awal 1990), terutama tentang ucapan selamat pagi, selamat siang atau selamat malam yang menurutnya bisa menggantikan ucapan Assalamu’alaikum. Lalu di tengah kekuasaan Soeharto, (1994?) ia berpolemik dengan Abu Hasan, berebut kepemimpinan NU. Saya yang mulai dewasa  (ABG tepatnya!) dan mulai keranjingan politik Indonesia, mulai mencari-cari siapa Gus Dur? Sesekali kyai saya, kyai Syukri Zarkasyi sepulang dari Jakarta membawa oleh-oleh cerita kondisi politik nasional, antara lain tentang Megawati dan PDI yang dianggapnya bukan golongan Islam, selalu disupport oleh tokoh Islam, yaitu Gus Dur. Lalu ada Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI ) yang lagi trend pada 90’ mewabah juga di pesantren saya, banyak yang mengulas, para guru atau ustadz mulai berkisah tentang ICMI. Dan saya membaca ada Gus Dur dengan Forum Demokrasi (Fordem) yang berada di seberangnya. &lt;br /&gt;Tapi kala itu, saya belum mengerti betul semua pergulatan itu. Favorit saya bukan Gus Dur, idola saya bukan beliau, dan lagi saya belum menemukan tulisan-tulisan nya. Saya baru berkenalan dengan tulisan Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) dan langsung mengidolakannya, terutama karena tau Cak Nun pernah nyantri juga di Gontor.  Waktu itu saya malah lebih sering mengutip tulisan Amin Rais untuk bahan pidato-pidato saya, lalu mereke bengong, nggak ngerti apa yang sedang saya bicarakan. Tapi saya juga belum matang betul saat itu, bacaan saya masih cetek lah. Bahkan ada seorang teman sekelas, tapi lebih tua usianya, seorang gus dari Madura yang berseloroh “wah, kamu belum bisa diskusi dengan saya, bacaan kita belum setara”. Waduh? Bisa begitu ya? Saya memang merasakannya, pikiran saya belum matang benar, tapi saya tak luput merekam, selalu merekam, sedikit menganalisa meski belum tajam!&lt;br /&gt;Lalu pasca pesantren, saya baru membaca tulisan Gus Dur dan beberapa tokoh lainnya.  Semasa pengabdian di pesantren Gintung, saya mempunyai waktu luang yang cukup banyak. Dan saya mulai membaca, mengkoleksi buku, kliping Koran, dan majalah. Kebiasaan itu terbawa hingga saat saya nyantri di Kudus. Di Gintung, 1996-1997, Indonesia, bumi pertiwi tengah hamil tua. Beberapa peristiwa menandai itu, antara lain bertemunya dua arus Islam besar, media menyebutnya arus atas dan arus bawah, yaitu Amin Rais, ketua dewan pakar ICMI sekaligus pemimpin Muhammadiyah dan Gus Dur, ketua Fordem sekaligus ketua PB NU. Acara pertemuan itu digelar di masjid Sunda Kelapa, dengan moderatornya Cak Nun, hadir pula Cak Nur (Nurcholis Madjid) sebagai salah satu mediator. Peristiwa besar, saya tak ingat lagi kapan, yang jelas itu tejadi pada tahun 1996. Klop sudah, dua tokoh besar bertemu, dan sebenarnya yang lebih menyenangkan saya adalah bertemunya trio Jombang, Gus Dur, Cak Nur dan Cak Nun.&lt;br /&gt;Di Kudus, saya semangkin dekat dengan orang-orang yang mengidolakan Gus Dur, banyak kyai atau guru kitab saya yang punya pemikiran mirip-mirip Gus Dur. Saya seolah memperoleh konfirmasi “ini, nih yang aku cari”.  Di Kudus pula saya mempunyai kesempatan untuk melihat Gus Dur secara langsung, meski dari kejauhan. Waktu itu ada perayaan malam haul Mbah Asnawi, TBS Kudus. Dalam acara itu,Gus Dur dijadwalkan datang untuk memberikan ceramah  di hadapan jama’ah NU di Kudus. Saya penasaran dengan beberapa teman saya hadir, di bawah hujan gerimis malam itu, ribuan umat telah berkumpul, saya duduk diantara mereka beberapa puluh meter dari podium. Lalu beberapa saat saya menyaksikan rombomgan Gus Dur datang, beliau turun dari mobil sedan butut (untuk tidak mengatakan rombeng) berwarna gelap. Dalam hati “ wah, mobil ketua PB NU yang kesohor kayak begitu……” lalu beliau segera naik podium dan mulai berceramah dengan menggunakan bahasa Jawa, setelah terlebih dahulu izin kepada para hadirin beliau berpidato tanpa teks tanpa mengutip satu pun ayat al Qur’an dalam bahasa arab, beliau memaparkan asasul khomsah, salah satu kaidah dalam ilmu usul fiqih dengan contoh-contoh yang luwes membumi. Saya kagum, betapa beliau dengan sangat sederhana menjelaskan prinsip-prinsip HAM dan demokrasi yang terkandung dalam asas itu dengan cara yang sangat bersahaja. Dan saya menjadi lebih mengerti, “sial ini pelajaran saya di Gontor sebelum lulus, saya baru menyadari nilainya, dahulu cuman menghafal tanpa berusaha memaknai dan menjiwai”.&lt;br /&gt;Beberapa bulan kemudian, saya hijrah ke Jakarta. Saya mulai beraktifitas sebagai pengajar pesantren sekaligus aktivis mahasiswa. Pengalaman, pergaulan dengan dunia pesantren Kudus, ibrah dari para kyai adalah bekal berharga bagi saya untuk menentukan ekspresi saya sebagai seorang guru dan mahasiswa. Lalu saya lebih memilih PMII, organisasi mahasiswa yang terkait dengan NU daripada menjadi seorang GMNI. Padahal akar saya adalah abangan. Pernah berpikir menjadi HMI, seperti Cak Nur, seperti kawan-kawan Gontor yang lain. Tapi tidak, saya tidak melihat sosok saya di sana, saya terlanjur jatuh cinta dengan jam’iyyah NU, apa yang berbau NU saya suka, saya kagum dengan beberapa tokoh dan aktivis mudanya. Saya melihat apa yang dituliskan oleh Emha tentang rakyat kecil, tentang wong cilik yang tertindas, terbelakang di desa-desa,  konotatif dengan kampungan “ndeso”, adalah jam’iyyah NU. Nah, saya suka yang seperti itu, itu ladang amal ibadah yang sesungguhunya buat saya, meskipun saya jarang qunut, saya tak menggunakan nawaitu, saya nggak mahir untuk membaca marawis atai sholawatan seperti orang-orang NU biasanya…. Saya membayangkan Gus Dur!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dengan PMII, saya kerap berkunjung ke Ciganjur, dan saya ditabalkan menjadi aktivis PMII juga di kediaman Kiai Said Aqil Siradj di komplek pesantren Ciganjur. Orang-orang, kawan-kawan mulai menganggap saya Gus Dur-ian, dan beberapa bercanda saya mirip dengan beliau, terutama karena secara fisik mata saya sebelah kiri cacat, buta, seperti beliau…..hahaha ada-ada saja. Sehingga sampai hari ini, beberapa kawan aktivis memanggil saya dengan panggilan “gus”, hahaha ini lebih ngaco lagi, karena saya tak punya darah biru dalam NU. Darah saya merah, semerah-merahnya, ayah saya terlibat Pemuda Rakyat, demikian ibunda. Nenek saya meski sekolah di madrasah NU, tapi beliau pengagum Soekarno, kakek saya dari ibunda juga seorang tentara nasionalis! Saya santri gadungan! Saya tak pernah mencium tangan kyai!&lt;br /&gt;Akhirnya, pada pergulatan politik 1999, Gus Dur terpilih menjadi Presiden, saya tidak begitu happy, meski ada seorang senior saya aktivis PMII, komat kamit depan TV merapal wirid untuk mendukung Gus Dur dalam pemilihan presiden dalam forum MPR melawan Megawati, saya tetap tidak happy, saya belum matang dalam berpolitik. Entah kenapa saya nggak begitu antusias. Hah, NU jadi Presiden, saya mungkin terkena sindrom minderwardeg wong cilik yang tak membayangkan untuk menjadi penguasa. Begitu pula dengan Gus Dur, bagi saya maqam beliau adalah di tengah jelata, bukan menjadi pimpinan formal yang memimpin suatu negara bernama Republik Indonesia. Tidak, Gus Dur tidak boleh menjadi pemimpin macam itu, Ia harus tetap kharismatis, mistik, penuh misteri, penuh guyonan, tapi tidak janggal dalam keseharian kita yang jelata. Gus Dur bukan Kresna atau Yudhistira tokoh Pandawa. Nggak bukan itu. Gus Dur adalah Semar, ya semacam itu, tokoh punawakan yang menyapa dengan banyolan, mempunyai kentut yang sakti, sekaligus ia panutan para ksatria Pandawa.&lt;br /&gt;Tapi semua tenggelam,dalam kemenangan, NU mengalami suatu eforia. Di sekitar saya banyak orang-orang yang mendadak kaya, mengalami shock culture, tadinya pake sepatu butut mendadak bersepatu Itali dan takut dicuri waktu berdiskusi! Tadinya bau keringat, sekarang wangi, tadinya wartawan kemudian menjadi hartawan! Tadinya berkendara metro-mini, ojeg dan bajaj, sekarang bermobil dan  mendadak fasih memaparkan seluk beluk mobil mewah. Wah semua pada merayakan pesta! aktivis-aktivis  NU ini bukan lagi bagian dari wong cilik, saya jadi membenarkan teori Paulo Freire tentang rakyat tertindas, yang sebenarnya secara diam-diam di bawah sadar mereka ingin meniru kelakuan para penindasnya! hehehehe &lt;br /&gt;Begitulah. Dan kekuasaan itu tak berlangsung lama. Pesta itu tampaknya mulai akan berakhir, tahun 2000-2001 adalah tahun saya getol-getolnya menjadi aktivis PMII. Selama periode Gus Dur menjadi presiden, PMII disibukkan dalam kegiatan bela membela Gus Dur, capek deh. Puncaknya adalah ketika saya menjadi ketua PMII Depok periode itu, saya terlibat dalam kegiatan bela-membela itu, dan konyolnya saya tiba pada masa sengsara. Kalau sebelumnya, PMII mendapat banyak bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, karena kekuasaan PKB dan Gus Dur, saya mengalami hal sebaliknya. Orang-orang secara perlahan mulai meninggalkan dukungan terhadap NU, PKB dan Gus Dur. PMII Depok yang saya pimpin tekena imbasnya. Situasi politik nasional mulai memojokkan Gus Dur, tak ada yang membela, semua  media cetak dan elektronik mulai memojokkan dan bahkan cenderung mengolok. Do kampus, saya dan PMII tertimpa getah sebagai antek penguasa, antek Gus Dur. Berbagai isu negatif mulai berhembus, suatu saat kawan-kawan BEM UI mendapat isu bahwa PMII akan menyerang Pusgiwa UI bersama banser Ansor. hah?   Entah dari mana isu itu….&lt;br /&gt;Saya bukan membela buta. Sungguh pun saya senang Gus Dur tidak lagi menjadi presiden, seperti alasan yang saya kemukakan sebelumnya. Tapi saya juga tak tega melihat sang tokoh diolok dan diperlakukan macam begitu, jam’iyyah NU di bodoh-bodohi, distigma berpolitik kotor, tidak elegan dan kampungan. Sungguhpun banyak yang menjadi aji mumpung dalam NU karena kekuasaan, tapi tidak lah perilaku itu menggambarkan perilaku keseluruhan umat NU. Selain itu, setau saya ada kelompok lain yang lebih oportunis, dan sudah diuntungkan oleh kekuasaan selama 32 tahun, pada saat itu belagak menjadi kelompok yang paling suci. Sial bener…..&lt;br /&gt;Sebagai aktivis saya berpikir, biarlah kekuasaan Gus Dur berakhir.  Tapi harus dengan cara yang elegan dan sopan. Bukan dengan politikng Buloggate dan Bruneigate yang melahirkan pansus dengan jumlah anggaran lebih besar dari jumlah dana yang akan diusut! Gus Dur boleh tidak lagi menjadi Presiden, turun dari istana Negara kembali ke istana rakyat, tapi harus dengan cara yang baik dan benar, bukan dengan olok dan fitnah. Dengan pemikiran itulah saya berjuang mati-matian membela Gus Dur di kampus UI. PMII akibatnya menjadi tampak sektarian, pembela rejim yang tidak jujur, tapi secara jantan saya hadapkan PMII yang minoritas dengan politik BEM yang didominasi kelompok rohis, pembela PKS dan poros tengah! &lt;br /&gt;Dan akhirnya Gus Dur jatuh. MPR yang dimotori Amien Rais menetapkan impeach bagi presiden. Agak aneh memang, Amien Rais yang kita tau meminta Gus Dur untuk maju sebagai presiden (menandingi Megawati) malah akhirnya yang memotori pemakzulan pilihannya sendiri. Ini juga yang mungkin menyakitkan bagi sebagian kyai khos pendukung Gus Dur. Tapi itulah politik, itulah bagian dari pasang surut hubungan kedua tokoh pemimpin dua arus besar itu. Setelah serangkaian politik bela membela antara pro dan kontra, Gus Dur meninggalkan istana dengan caranya sendiri. Ia sempat mengeluarkan dekrit yang membekukan parlemen dan membubarkan Golkar! Lalu kalah. Dan ia meninggalkan Istana Negara di tengah kepungan massa demonstran yang anti terhadapnya, menganggapnya thogut, boneka yahudi yang keji. Pada suatu momen, sebelum meninggalkan istana Gus Dur menampakkan diri dengan hanya menggunakan celana pendek dan berkaos (penampilan yang sangat informal) sambil melambaikan tangan…. Seakan ia ingin katakan “ini lho kekuasaan yang angkuh dan diperebutkan itu, tidak mengubah apa-apa, tidak berpengaruh apa-apa bagi diriku…”&lt;br /&gt;Segera setelah Gus Dur jatuh, PMII bak anjing kurap, tak ada yang bantu lagi dan dijauhi. Saya tertatih mencari dukungan financial untuk PMII, senior-senior yang saya datangi pada bokek nggak ada lagi proyek politik yang menguntungkan. Para lembaga atau dermawan simpatisan NU yang biasanya mendukung organisasi  pada berpaling tak mau lagi bertemu. Aduh, suram sekali saat itu. Meski saya lega, tidak lagi sibuk bela membela Gus Dur. Kami lebih fokus ke hal lainnya yang lebih prioritas daripada sekedar bela membela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tiga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu tahun 2000, sebagai aktivitas PMII, saya dekat dengan beberapa aktivis mahasiswa yang mengurusi rumah singgah untuk anak jalanan. Suatu saat ada seorang anak jalanan yang terkena musibah. Ia tersengat aliran listrik saat berlarian di atas KRL. Akibatnya separuh tubuhnya gosong, dan mungkin nyawanya akan tak tertolong jika tidak segera diobati. Dalam keadaan bingung salah seorang kawan kemudian bertemu dengan saya dan meminta tolong untuk mengadakan pengobatan buat si anak jalanan itu. Saya pun menyanggupi untuk mencari bantuan. Hingga kemudian di stasiun UI Depok, saya melihat Inayah, putri Gus Dur yang kebetulan adik kelas saya di kampus Sastra UI. Inay  belum mengenal saya tentunya. Tapi siapa yang tidak kenal putri presiden yang juga nyentrik seperti bapaknya (saat itu ia kerap muncul dalam liputan dengan mode rambut disemir dengan berbagai warna) itu. &lt;br /&gt;Entah kenapa, saya langsung aja menyapa Inay dan memperkenalkan diri. Lalu saya utarakan niat saya untuk meminta bantuan pengobatan anak jalanan itu. Saya langsung memberi alamat kamar tempat si anak dirawat di RSCM. Inay menyanggupi dan saya setelah itu tidak pernah memastikan lagi apa benar Inay akan mengusahakan bantuan. Tapi beberapa minggu kemudian, kawan saya datang lagi mengucapkan terima kasih karena anak jalanan asuhannya telah sembuh, nyawanya dapar tertolong berkat bantuan Ibu Shinta Nuriyah, yang lansung datang ke RSCM untuk memastikan pengobatan si anak. Waduh, saya kaget sekaligus gembira sekali. Lalu saya cari-cari Inay untuk mengucapkan terima kasih atas bantuan nya. Kongkret sob…..&lt;br /&gt;Sejak itu saya bersahabat dengan Inay. Setiap saya mensetting suatu kepengurusan Senat Mahasiswa Sastra, saya selalu memintanya untuk menjadi bagian dari Senat Mahasiswa. Hanya itu, kami tak pernah berbicara tentang Gus Dur ataupun NU. Saya tak pernah sekalipun mengajak Inay untuk bergabung dengan PMII, entah kenapa. Saya hanya berpikir yang satu ini berbeda, ia bukan orang biasa, ia bagaimanapun adalah penerus Bani Wahid kelak, saya hanya cukup memastikan dia baik-baik saja, bergaul dengan benar sembari berharap kelak ia akan dapat menyiapkan dirinya untuk ngemong jam’iyyah NU seperti bapaknya.  Selain Inay, ada seorang putri Gus Dur yang juga bersekolah di UI, Anit biasa saya memanggilnya. Saya tidak terlalu akrab, ia lebih senior dari saya meski umur kami sama, maklum saya veteran. Berbeda dengan Inay, yang nggak pernah serius berpolitik kampus, Anit rasa-rasanya aktif dalam kegiatan politik kampus. Ia juga tidak mengenal PMII, malahan lebih sering bergabung dengan kelompok sosialis (sinpatisan fordem) yang berbasis di Fisip dan Sastra. Saya hanya mengenal Anit sambil lalu.&lt;br /&gt;Semua mengalir begitu saja, hingga saya lulus dan bekerja di Museum Bank Indonesia. Pada 2004 saya berpikir untuk membuat suatu foundasi untuk kepentingan kaderisasi NU, khususnya di kampus UI Depok, saya mengajak Inay, meski ternyata ia telah mempunyai tujuan sendiri dan berniat membentuk suatu organisasi sendiri. Saya pun hanya sesekali saja bertemu, sangat  jarang, tapi jika bertemu pasti kita berdiskusi bersama Seno panjang lebar, tentang kepemudaan, dan sesekali nyentil NU. Pada tahun-tahun itu Inay sedang menyiapkan pertemuan pemuda Asia Tenggara. Beberapa persiapan dilakukan dan saya hanya mendukung secara pasif saja. &lt;br /&gt;Tahun 2008 adalah tahun saya kembali intens untuk bertemu Inay-Seno dengan diskusi-diskusi yang serius tentang konsep kebahagiaan bagi umat manusia. Tampaknya (mungkin) ia tak (belum) tertarik dengan politik dan mencoba cara yang lebih baik alam kontribusinya untuk bangsa, yaitu jalan religiusitas. Saya pikir mungkin itulah jalan yang ingin ia pilih atau secara tak sadar ia mewarisi sisi kereligiusan bapaknya, Gus Dur. Agustus 2008, sepulang dari India ia mengajak saya kepada sesuatu yang sangat serius, menemukan “jalan bahagia untuk umat manusia”, Inay berpikir mungkin bangsa ini bisa disembuhkan dengan jalan bahagia itu. Akhir tahun 2008 ia mengajak saya melawat ke Bali bertemu dengan tokoh Oneness, India. Saya sangat berterima kasih untuk perjalanan itu. Ada suatu pengalaman religi yang saya dapat dari perjalanan itu. Saya menjadi semangkin mantap, tenang dan tentram. Saya mulai menghayati &lt;span style="font-style:italic;"&gt;moola mantra &lt;/span&gt;yang menyihir batin itu.&lt;br /&gt;Intensitas ini, meski sesaat, telah membawa saya untuk memperhatikan kehidupan Pak Dur dari dekat. Pasca kekalahannya dalam PKB (oleh kubu Muhaimin), Pak Dur sering pulang sore, begitu katanya. Beliau seperti kehilangan aktifitas, fisiknya mulai melemah, dan saya mendengar dari Inay, bahwa sebenarnya kesehatan beliau kerap kali terlampau mengkhawatirkan, tapi Pak Dur tak pernah peduli. Seakan beliau masih haus untuk mengajari bangsa ini, maka perjalanan demi perjalanan terus beliau lakukan, dan ngantor rutin di gedung PB NU Kramat, mungkin adalah aktifitasnya yang paling rutin, selain cuci darah tentunya. Tapi sudah lah, saya juga tak tau banyak untuk urusan kesehtan ini.&lt;br /&gt;Yang ingin saya kisahkan adalah bahwa saya sangat beruntung pernah bertemu, pernah mencium tangan, dan pernah menyaksikan sekelumit kehidupan hari-hari tokoh ini. Meski hanya sekali. Tapi saya rasa itu akan menjadi kisah saya yang abadi untuk  anak cucu saya kelak. &lt;br /&gt;Suatu sore (pukul delapan malam) setiba di rumah, saya pernah menyaksikan Pak Dur mengajak Inayah untuk duduk menemaninya makan malam. Tak ada pembicaraan yang hangat, entah kenapa, beliau hanya menanyakan kepada putrinya, apa aktivitasnya hari ini. Lalu senyap. Pak Dur meneruskan makan malam, sejenak usai dan kemudian  meminta dibaringkan di ruang tamu utama, sambil tiduran mendengarkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;audio book&lt;/span&gt; hingga jam sebelas malam. Sementara sang ajudan dengan setia duduk menunggu di depan pintu. Seusai itu Pak Dur baru masuk kamar, dan ajudan diperbolehkan untuk pulang.  Begitulah katanya, hari-hari beliau ketika berada di rumah. &lt;br /&gt;Pernahkah saya berbicara dengan Pak Dur? Terus terang belum pernah. Saya tak mempunyai keberanian. Mungkin maqam saya masih terlalu kotor untuk berhadapan langsung dengan tokoh setulus Pak Dur. Menurut Inayah, bapaknya memegang teguh prinsip, siapa yang menanam maka ia akan memetik, maka dengan keyakinan itu beliau tidak pernah merasa dendam, marah kepada siapapun yang pernah berbuat dosa, kejahatan kepadanya. “Gitu aja kok repot”. Ya, sesederhana itu sikapnya, pragmatis, tapi tentu sukar sekali meneladaninya, karena kita semua cenderung “repot” dalam menghadapi segala sesuatu.    &lt;br /&gt;Saya tak pernah berbicara dengan Pak Dur. Tapi kerap kali jika bertemu muka di Ciganjur, saya akan menyempatkan diri, dan meminta kepada Inayah untuk mengantarkan saya kepada bapaknya, hanya untuk sekedar mencium tangannya. Bagi saya itu telah memberikan oase yang cukup besar dan membekas dalam hati saya. Hingga saat ini, yang membanggakan saya adalah, saya sempat mengajak istri saya, Karin, untuk hanya sekedar berada dekat dengan Pak Dur, lalu menjabat tangannya. Bahkan pada suatu kesempatan , Inayah mencoba mengenalkan saya kepada bapaknya dengan mengatakan bahwa saya adalah peminat sejarah NU. Sungguh di luar dugaan, Pak Dur menanggapi perkenalan itu, lalu panjang lebar bercerita kepada saya tentang sepenggal kisah sejarah NU di Sumatra. Saya cukup terkesan. Tercekat tak mampu berkata, hanya menyimak dan menyimak. Cukup.&lt;br /&gt;Lalu lama. Saya tak lagi berjumpa dengan Pak Dur. Beberapa bulan, pula saya tak lagi bertandang ke Ciganjur. Saya hanya mendengar kabar Pak Dur dari berita ke berita, atau bertanya langsung kepada Inay dan Seno, jika bertemu.  Hingga suatu malam, pada acara bedah buku salah satu tokoh NU, saya untuk terakhir kalinya melihat Pak Dur di podium. Beliau sudah tampak menurun drastis kondisi kesehatannya. Di atas kursi roda, dengan suara parau, beliau bersemangat untuk memaparkan kisah sejarah NU hampir satu jam lamanya. Seolah tak mau berhenti, Pak Dur terus berkisah…..dan itu rupanya kisah yang terakhir bagi saya. Pak Dur,  saya mengagumi  Anda. Saya bangga hidup pada penggalan masa kehidupan Anda. Kelak saya akan kisahkan, kisah Abdurrahman Wahid kepada anak cucu saya, dan dengan bangga akan saya katakan, bahwa “Aku pernah (sempat) merasakan kehidupan zaman Gus Dur”.&lt;br /&gt;Tulisan ini bukanlah apa-apa. Hanya pengikat ingatan. Dan salam takzim yang tak terkira untuk guru bangsa, Abdurrahman Wahid atau panggil saja Gus Dur, Pak Dur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7473472176854231904-8494289724247144283?l=pekerjamuseum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/feeds/8494289724247144283/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7473472176854231904&amp;postID=8494289724247144283&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/8494289724247144283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/8494289724247144283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/2010/01/gus-dur.html' title='Gus Dur'/><author><name>Erwien To'tiL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16127221575751256267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/Sz4AfMOICqI/AAAAAAAAAQc/ljCFJ8iJQbE/S220/PB210370.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/Sz3yJ9QNbHI/AAAAAAAAAPU/nLohDYXrbWk/s72-c/Gus+Dur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7473472176854231904.post-5829591890317688908</id><published>2009-09-05T07:16:00.001-07:00</published><updated>2009-09-05T07:22:10.637-07:00</updated><title type='text'>Wali Songo</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/SqJz_Gf6g5I/AAAAAAAAAPM/pkohH_jFk_g/s1600-h/Walisongo+(www.wikipedia+indonesia).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 258px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/SqJz_Gf6g5I/AAAAAAAAAPM/pkohH_jFk_g/s320/Walisongo+(www.wikipedia+indonesia).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377988432947217298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses Islamisasi di Jawa, selain harus mengisahkan bagaimana Islam menjelma menjadi suatu kesultanan, ada sekelompok tokoh penyebar agama yang disebut sebagai sunan atau wali yang dianggap berada di balik proses Islamisasi itu. Dalam masyarakat Jawa dikenal sembilan wali atau wali songo (sembilan). Kita tidak mempermasalahkan siapa masing-masing mereka sebenarnya dan dari mana asalnya, tapi yang terpenting adalah mengetahui kenapa hanya di Jawa tokoh semaca wali songo itu muncul sedangkan di tempat lain tidak.&lt;br /&gt;Sebagaimana kita ketahui bahwa sebelum kedatangan Islam di Jawa, agama Hindu susah sangat meresap dan tulang sumsum masyarakat Jawa. Tentunya bukan Hindu yang murni sebagaimana ajaran aslinya dari India, tapi Hindu yang telah menjadi sinkretis dengan kebudayaan asli nenek moyang Jawa. Seperti apa ajaran Hindu Jawa ini? Demikian uraian singkatnya. Intisari dari ajaran Hindu Jawa itu adalah orang ingin membebaskan diri dari samsara, yakni rangkaian lahir-mati yang tidak putus-putusnya. Salah satu caranya adalah manusia itu harus mencapai tingkatan diri yang mampu memisahkan antara prakreti dan purusa, yaitu memisahkan badan halus dari badan kasar atau badan wadag. Selain itu tingkatan tertinggi dalam kehidupan manusia yang dapat membebaskannya dari samsara adalah tingkatan kempaling kawula-gusti, yakni kesatuan antara makhluk dan Khalik, manusia dan tuhan. &lt;br /&gt;Sebelum datangnya Islam, orang yang dapat mencapai taraf tertinggi itu adalah para resi yang gemar  mengolah batin melalui pertapaan (samadhi) dan perilaku olah spiritual lainnya. Para resi itu dalam masyarakat Jawa mendapatkan tempat yang mulia, disegani, dihormati sebagai orang suci, dan bahkan ditakuti. Orang suci ini dianggap telah dapat mengikuti kehidupan Ilahi, sehingga dianggap sebagai orang luar biasa.  Di mata masyarakat Islam Jawa, para wali yang datang membawa ajaran Islam ini, dianggap sebagai orang yang dapat mengikuti kehidupan Ilahi. Oleh karena itu sebagaimana resi-resi zaman Hindu itu, para wali ini juga tak lepas dari pengakuan mukjizat dan berbagai kelebihan luar biasa lainnya yang diberikan oleh masyarakat sebagaimana dikisahkan dalam beberapa babad dan hikayat.&lt;br /&gt;Dalam masyarakat Jawa yang seperti itulah lahir sosok wali songo yang akan mengawal proses Islamisasi di tanah Jawa. Wali Songo itu terdiri dari sembilan tokoh yang disebut dengan Sunan. Selain itu ada juga pendapat yang mengatakan bahwa Wali Songo adalah nama sebuah dewan dakwah Kesultanan Demak pada abad ke 15 sampai ke 16. Sebenarnya jumlah mereka bukan sembilan orang, karena jika ada anggota yang meninggal maka akan diganti oleh wali yang baru. Angka songo atau sembilan adalah keramat bagi masyarakat Jawa, karena dianggap sebagai angka tertinggi. Meskipun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kata songo juga ada yang menganggap berasal dari kata arab tsana’ yang berarti terpuji. Wali songo berarti wali yang terpuji.  &lt;br /&gt;Diantara wali songo yang kita kenal itu adalah : Maulana  Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati. Antara sembilan sunan yang kita kenal ini satu sama lain terikat pertalian darah, atau terkait hubungan antara guru dan murid. Maulana Malik Ibrahim adalah yang tertua. Sunan Ampel adalah anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti adalah sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajat adalah putra dari Sunan Ampel. Sunan Kalijaga adalah sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria adalah putra dari Sunan Kalijaga. Sedangkan Sunan Kudus adalah murid dari Sunan Kalijaga. Sunan yang tidak ada hubungan darah atau hubungan guru-murid, kecuali hanya sahabat saja bagi sunan yang lainnya adalah Sunan Gunung Jati.&lt;br /&gt;Para wali songo ini tinggal di wilayah pantai utara Jawa dari awal abad ke 15 hingga pertengahan abad ke 16. Mereka ada di tiga pusat wilayah penting di Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan, di bagian timur Jawa; Demak-Kudus-Muria di bagian tengah Jawa, dan area Cirebon di Jawa bagian barat. Para sunan itu adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenakan berbagai peradaban baru, mulai dari bercocok tanam, niaga, kesehatan, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.&lt;br /&gt;Dalam berbagai kisah kita mengetahui bahwa perguruan Islam di Ampel Denta dan Giri adalah dua pesantren yang penting pada masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara, sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Sunan Ampel adalah motivator penggerak terbentuknya kerajaan Islam Demak, Raden Patah adalah murid binaannya. Konon Sunan Ampel juga menjabat sebagai salah satu patih di Majapahit, yang diberi kuasa wilayah Ampel Denta. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, tapi juga pimpinan pemerintahan kesultanan. Sunan Giri, Bonang Kalijaga dan Kudus adalah para seniman handal yang menciptakan berbagai tembang, suluk dan beberapa karya tulis lainnya. Pengaruh seni mereka masih terasa hingga saat ini. Sementara itu Sunan Muria adalah sunan yang setia mendampingi kaum jelata dan melahirkan beberapa tembang Jawa yang masih dinyanyikan hingga sekarang.&lt;br /&gt;Masa sembilan wali ini adalah masa berakhirnya dominasi Hindu Jawa dalam budaya  Nusantara dan digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol bagi penyebaran Islam di Nusantara, khususnya di Jawa. Pengaruh mereka yang cukup besar dalam merubah kehidupan budaya masyarakat Jawa hingga peranan mereka dalam ikut mendirikan kesultanan Islam pertama di Jawa membuat mereka cukup dikenal oleh masyarakat, bahkan menjadi mitos sejarah yang nyata bagi masyarakat Jawa.&lt;br /&gt;Masing-masing tokoh wali tersebut memiliki peranan yang unik dalam penyebaran Islam. Maulana Malik Ibrahim misalnya, menempatkan diri sebagai tabib bagi kerajaan Majapahit, Sunan Giri dan beberapa sunan lainnya, terutama Sunan Bonang dan Sunan  Kalijaga juga menciptakan karya seni yang bernuansa Hindu Budha tapi sarat dengan ajaran Islam. Hal itu untuk memudahkan masyarakat Jawa untuk memahami Islam.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Maulana Malik Ibrahim&lt;/strong&gt;, wali yang tertua memiliki beberapa nama yaitu Maulana Magribi, Syekh Maghribi, dan Sunan Gresik. Wilayah dahkwah wali ini adalah Gresik, Jawa Timur. Ia diduga berasal dari Magribi, Afrika Utara yang datang ke Nusantara pada tahun 1379 hingga kemudian wafat pada 1419, jauh sebelum dibentuknya kerajaan Islam Demak pada seperempat terakhir abad ke 15.&lt;br /&gt;Wali kedua yang kita kenal adalah &lt;strong&gt;Sunan Ampel &lt;/strong&gt;yang bernama kecil Raden Rahmat, putra Raja Campa, lahir pada tahun 1401. Raden Rahmat menikah dengan Nyi Ageng Manila, putri bupati Tuban, saudara perempuan Sunan Kalijaga. Ia mempunyai empat orang anak yaitu Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Syarifudin (Sunan Drajat), Putri Nyai Ageng Maloka, dan Dewi Sarah yang nantinya akan menjadi istri Sunan Kalijaga. Sunan Ampel diberitakan wafat saat bersujud pada tahun 1481, meskipun ada juga yang mengatakan ia wafat pada tahun 1478, satu tahun setelah pembangunan Masjid Demak usai.&lt;br /&gt;Putra pertama Sunan Ampel, yaitu Maulana Makdum Ibrahim yang lahir di Bonang, Tuban pada 1440 akhirnya juga menjadi seorang wali dengan nama &lt;strong&gt;Sunan Bonang&lt;/strong&gt;. Nama Maulana Makdum sendiri diberikan oleh ayahnya yang dalam bahasa Hindi berarti cendekiawan Islam yang dihormati karena kedudukannya dalam agama. Sunan ini wafat pada 1525 di pulau Bawean dan meninggalkan beberapa jejak berupa karya sastra seperti Suluk Wujil, Tembang Macapat, dan menyempurnakan instrumen gamelan, terutama boning, kenong dan kempul. Salah satu murid dan sahabat Sunan Bonang yang mengikuti jejaknya sebagai wali adalah Sunan Kalijaga, kelak akan menempuh cara yang sama dalam berdakwah, yaitu melalui kesenian.   &lt;br /&gt;Putra kedua Sunan Ampel yang juga menjadi anggota wali songo adalah &lt;strong&gt;Sunan Drajat&lt;/strong&gt;, ia bernama Syarifudin atau Raden Kosim, tapi selain itu juga mempunyai beberapa nama sebutan seperti Pangeran Drajat, Sunan Mayang Madu, dan beberapa nama lainnya. Ia diperkirakan lahir pada tahun 1450 di Ampel Denta, Surabaya, dan kemudian pada waktu dewasa diperintahkan untuk berdakwah ke pesisir barat Gresik, hingga akhirnya terdampar di wilayah Lamongan.Ia kemudian menghabiskan sisa hidupnya di Dalem Duwur, Drajat hingga wafat pada 1522. Sunan ini semasa hidupnya kerap berdakwah lewat tembang Pangkur dengan iringan gamelan.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sunan Giri &lt;/strong&gt;adalah sepupu Sunan Ampel, yang berdakwah di daerah Gresik dan menyebar hingga ke wilayah timur Nusantara, yaitu ke kepulauan Maluku. Karena jangkauan wilayah dakwahnya itu, para pedagang barat menjulukinya sebagai Paus dari Timur. Ia adalah putra dari Maulana Ishaq, dari Pasai dan ibunya adalah Sekardadu, putri kerajaan Blambangan. Nama kecil Sunan Giri adalah Jaka Samudra, kelak ketika ia berguru pada Sunan Ampel ia diberi gelar Raden Paku. Sunan ini disebut sebagai wali yang mahir dalam soal politik dan ketatanegaraan. Konon ia pernah menyusun suatu kitab aturan ketataprajaan dan pedoman tata cara di keraton. Sunan ini wafat pada tahun 1506 dalam usia 63 tahun.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sunan Kudus &lt;/strong&gt;mempunyai nama asli Ja’far Shodiq yang lahir pada pertengahan abad ke 15 dan meninggal pada tahun 1550. Ayahnya bernama Raden Usman Haji yang bergelar Sunan Ngudung di Jipang Panolan, Blora. Beliau masih memiliki garis keturunan dengan Husein bin Ali. Kakek Sunan Kudus adalah saudara Sunan Ampel, sehingga ia masih mempunyai hubungan darah dengannya. Ia bukanlah berasal dari Kudus, konon pada suatu saat Sunan Kudus sebagai imam masjid Demak, berselisih dengan Sultan Demak mengenai saat awal bulan Ramdhan, ia pun meninggalkan Demak menuju Tajug yang kemudian ia ubah menjadi Kudus pada tahun 1549. Banyak hal penting yang dilakukan oleh Sunan Kudus semasa hidupnya, selain mendirikan Masjid Al Aqsa yang indah di Kudus, perpaduan antara arsitektur Hindu dan Islam, ia juga menggubah beberapa tembang. Menurut legenda konon ialah yang mengeksekusi Ki Ageng Kenongo penguasa Pengging dan juga Syech Siti Jenar, gurunya, karena mengajarkan Islam yang sesat menurut wali songo.&lt;br /&gt;Selain Kudus, ada juga wali yang tinggal di daerah Gunung Muria, yaitu &lt;strong&gt;Sunan Muria &lt;/strong&gt;yang bernama Raden Umar Said putra Sunan Kalijaga dengan ibu Dewi Sarah, putri Sunan Ampel. Sunan Muria ini selain dikenal karena kesaktiannya dan dekat dengan rakyat jelata, ia seperti ayahnya juga mempunyai karya seni yaitu Tembang Sinom dan Tembang Kinanti&lt;br /&gt;Seperti yang telah dikisahkan sebelumnya bahwa &lt;strong&gt;Sunan Gunung Jati&lt;/strong&gt; adalah Nurullah yang  berasal dari Pasai. Ia kemudian berangkat haji ke Mekkah, ketika kerajaan Islam Pasai ditaklukkan oleh Portugis pada tahun 1521. Sepulang dari Mekkah ia tidak kembali lagi ke Pasai, melainkan pergi menuju Jawa, yaitu Demak yang baru beberapa puluh tahun menyatakan diri sebagai kerajaan Islam. Di Demak Nurullah disambut dengan baik oleh Sultan Trenggana penguasa Demak saat itu, dan langsung masuk dalam lingkaran penasehat agama raja. Pada tahun 1524 Sultan Demak mengirimnya ke wilayah barat Jawa yang masih dikuasai oleh Hindu Pakuan Pajajaran. Nantinya Nurullah yang juga disebut Faletehan berhasil mendirikan Cirebon dan Banten, serta menundukkan pelabuhan Sunda Kalapa dan mengubahnya menjadi Jayakarta. Sebelum wafat pada tahun 1570 dan dimakamkan di Gunung Jati, Sunan ini sempat menjadi penguasa Cirebon menggantikan putranya yang mati muda, yaitu Pangeran Pasareyan.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wali songo yang cukup berpengaruh bagi masyarakat Jawa, adalah &lt;strong&gt;Sunan Kalijaga&lt;/strong&gt;. Banyak mitos dan legenda yang mengitari kisah hidup sunan yang terkenal karena dakwahnya dengan menggunakan media pementasan wayang. Sunan ini dianggap sebagai sunan yang paling berani dalam mengadaptasi budaya tradisi Hindu Jawa yang kemudian di beri nuansa ajaran Islam di dalamnya. Ia diperkirakan lahir pada tahun 1430, dengan nama Raden Sahid, putra seorang Adipati Tuban, vassal Majapahit Hindu. Sebelum akhirnya bertaubat dan berguru kepada Sunan Bonang, Raden Sahid adalah seorang perampok sakti terkenal yang kemudian dalam perjalanan taubatnya harus menunggui tongkat Sunan Bonang  di pinggiran sungai selama tiga tahun. Karena lelakunyai ini ia dikenal dengan Sunan Kalijaga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sunan yang berdakwah lewat kesenian, ia banyak menciptakan berbagai tembang, gamelan, syair pujian, motif batik, wayang purwa, dan yang paling fenomenal adalah tatal sokoguru masjid Demak yang terbuat dari serpihan kayu (lihat pada bagian berikutnya). Tidak begitu jelas kapan Sunan Kalijaga wafat, yang jelas ia merasakan periode kekuasaan Demak, Pajang, dan beberapa tahun awal Kesultanan Mataram Islam pada tahun 1580-an.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7473472176854231904-5829591890317688908?l=pekerjamuseum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/feeds/5829591890317688908/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7473472176854231904&amp;postID=5829591890317688908&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/5829591890317688908'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/5829591890317688908'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/2009/09/wali-songo.html' title='Wali Songo'/><author><name>Erwien To'tiL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16127221575751256267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/Sz4AfMOICqI/AAAAAAAAAQc/ljCFJ8iJQbE/S220/PB210370.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/SqJz_Gf6g5I/AAAAAAAAAPM/pkohH_jFk_g/s72-c/Walisongo+(www.wikipedia+indonesia).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7473472176854231904.post-1548562833324007319</id><published>2009-09-03T23:17:00.000-07:00</published><updated>2009-09-03T23:35:30.401-07:00</updated><title type='text'>Kerajaan Islam Nusantara (bagian 2)</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/SqC1Bg42aZI/AAAAAAAAAPE/_tbxzL4gfn4/s1600-h/Kedatangan+Cornelis+de+Houtman+menemui+Petinggi+Banten+1596+(FW+Stapel,+ed.,+Geschiedenis+van+Nederlandsch-Indie,+Amsterdam,+1939).JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 160px; height: 92px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/SqC1Bg42aZI/AAAAAAAAAPE/_tbxzL4gfn4/s320/Kedatangan+Cornelis+de+Houtman+menemui+Petinggi+Banten+1596+(FW+Stapel,+ed.,+Geschiedenis+van+Nederlandsch-Indie,+Amsterdam,+1939).JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377496992693250450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bangsa Asing :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Portugis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada abad ke 15, abad kejayaan perdagangan Nusantara dapat dikatakan juga  sebagai masa emas penyebaran pengaruh Islam di seluruh wilayah Nusantara. Fenomena ini selaras dengan perkembangan yang terjadi pada dunia internasional, dimana kekuatan besar Islam mulai terlahir dalam kancah politik ekonomi dunia. Pada tahun 1453 orang-orang Turki Ottoman berhasil menaklukkan Konstantinopel. Namun demikian, pada peradaban Eropa, terutama bangsa Portugis telah mencapai kemajuan-kemajuan tertentu di bidang teknologi yang akhirnya membawa mereka kepada petualangan arung samudera  yang belum dilakukan oleh bangsa manapun di dunia.&lt;br /&gt;Dengan bekal pengetahuan geografi dan astronomi yang baik, banyak darinya berasal dari bangsa Arab yang seringkali tersebar di kalangan Kristen Eropa lewat para sarjana Yahudi, bangsa Portugis banyak yang menjadi para pelaut, pemimpin kapal yang handal. Dengan memadukan layar yang berbentuk segi tiga dengan yang persegi empat serta memperbaiki konstruksi, maka telah menciptakan kapal-kapal yang lebih cepat, lebih mudah digerakkan, dan lebih layak mengarungi samudra. Mereka mulai menggunakan meriam di atas kapal: kapal perang lebih merupakan sebuah panggung meriam di lautan daripada sebuah istana terapung bagi para pemanah atau sebuah alat pembentur.&lt;br /&gt;Bangsa Portugis tidak hanya mencapai kemajuan-kemajuan di bidang teknologi yang memungkinkan mereka melakukan berbagai macam ekspedisi samudra, lebih dari itu mereka memiliki tekad yang kuat untuk menemukan suatu sumber kehidupan baru bagi negeri mereka. Dengan semangat perang Salib, perang untuk menyebarkan agama mereka, yang masih tersisa dalam diri mereka, bangsa Portugis melalui pencarian yang panjang melewati pantai barat Afrika untuk menemukan emas, berperang dalam satu pertempuran, dan menaklukkan musuh yang beragama Islam. Selain itu mereka juga mulai mencari rempah-rempah langsung dari sumbernya, tampaknya jatuhnya Kontantinopel, memicu mereka untuk melakukan pencarian langsung ini, mendapatkan jalan ke Asia untuk memotong distribusi perdagangan rempah-rempah pedagang Islam yang selama ini memonopoli Eropa.&lt;br /&gt;Kenapa rempah-rempah begitu berharga bagi para penjelajah itu? Selama musim dingin di Eropa ternak-ternak tidak dapat bertahan hidup, oleh karena itu daripada mati menjadi bangkai lebih baik disembelih dan diawetkan dagingnya. Untuk keperluan pengawetan inilah mereka membutuhkan garam dan rempah-rempah, dan diantara rempah-rempah yang diimpor  cengkih dari Indonesia bagian timur adalah yang paling berharga. Pada saat itu Nusantara juga menghasilkan lada, buah pala dan bunga pala, oleh karena itu kawasan Nusantara inilah yang menjadi tujuan utama pelayarana Portugis. Meskipun pada saat memulai itu bangsa Portugis belum mempunyai gambaran yang utuh tentang Nusantara, dan belum mengetahui jalan mencapainya.  &lt;br /&gt;Pada 1487 Bartomolomeu Dias mengitari Tanjung Harapan dan memasuki perairan Samudra Hindia. Pada tahun 1497 Vasco da Gama sampai di India. Namun, orang-orang Portugis ini segera mengetahui bahwa barang-barang dagangan yang hendak mereka jual tidak dapat bersaing di pasaran India yang ramai dengan barang-barang yang mengalir melalui jaringan perdagangan Asia. Karena itu Portugis menyadari bahwa untuk mengokohkan eksistensinya di laut, mereka harus memenangi suatu pertempuran. Orang yang paling bertanggung jawab atas ditempuhnya usaha perang itu adalah Affonso de Albuquerque (1459-1515).    &lt;br /&gt;Pada tahun 1503 Albuqurque berangkat menuju India dan pada 1510 ia telah menguasai Goa di India dan kemudian Ormuz di Laut Merah. Namun mereka belum merasa puas, karena perdagangan Asia, khususnya perdagangan merica belum sepenuhnya mereka kuasai. Akhirnya mereka memutuskan untuk merebut dan menguasai Malaka dengan harapan dapat merampas dan menguasai seluruh perdagangan merica Asia. Selama ini bangsa Portugis telah mendengar laporan-laporan dari para pedagang tentang kekayaan yang dimiliki oleh Malaka. &lt;br /&gt;Sebelum menaklukkan Malaka, raja Portugis terlebih dahulu mengutus Diego Lopez de Sequira untuk menemukan Malaka, menjalin hubungan persahabatan dengan penguasanya dan menetap di sana sebagai wakil Portugal di timur India. Namun usaha persahabatan itu gagal, karena Sultan Mahmud Syah penguasa Malaka saat itu berhasil diyakinkan oleh para pedagang bahwa Portugis akan dapat membahayakan kepentingan Malaka.  &lt;br /&gt;Maka dari itu tidak ada pilihan lain bagi Portugis kecuali menundukkan Malaka melalui pertempuran sebagaimana mereka menundukkan Goa dan Ormuz sebelumnya. Pada tahun 1511 Affonso de Albuquerque, panglima Portugis memimpin armada Portugis menyerang kota pelabuhan Malaka. Alburqueque membawa 17 atau 18 buah kapal bersama kira-kira 1200 orang. Dengan kekuatan itu Malaka dapat mereka taklukkan. Dan segera sesudah itu mereka menyadari bahwa Malaka pada dasarnya tidak memproduksi apa-apa. Portugis menemukan suatu kenyataan bahwa Malaka bukanlah produsen dari semua komoditi ekspor (khususnya merica) yang dicari-cari oleh para pedagang Barat. Politik monopolinya dan sedikit semangat anti Islam telah mengakibatkan para pedagang Asia, khususnya para pedagang Muslim berusaha menghindari bandar tersebut, sehingga lambat laun kedudukan Malaka pun semakin merosot dan tidak pernah meraih kembali kebesarannya.&lt;br /&gt;Portugis yang menyadari bahwa pentingnya Malaka adalah perdagangan merica dan rempah-rempahnya. Oleh karena itu kapal-kapalnya belayar ke Maluku untuk mengambilnya. Pada waktu itu di Maluku ada dua kesultanan Islam yang besar dalam kondisi sedang menurun dalam kekuasaan politiknya dan saling bermusuhan satu sama lain, yaitu Ternate dan Tidore. Portugis mencoba menanamkan pengaruhnya melalui persekutuan dengan salah satu pihak yang bertikai. Demikian pula di Jawa Portugis berusaha menjalin hubungan diplomatik dengan Pajajaran, satu kerajaan Hindu yang juga kedudukan politiknya sedang menurun, yang kemudian tenggelam di tangan Islam.&lt;br /&gt;Kondisi semacam inilah yang antara lain memaksa Portugis untuk meninggalkan politik anti Islamnya, sebab mereka harus menerima kenyataan bahwa kerajaan-kerajaan di sekitarnya adalah kerajaan Islam, dan perdagangan Islam di Asia Tenggara sampai Timur Tengah penting sekali. Banyak yang menilai perdagangan Portugis bersifat semi-feodal dan terlalu terikat oleh raja Portugis beserta politiknya. Perdagangan resmi Portugis dapat dikatakan sebagai contoh dari seorang raja Eropa yang berdagang. Karena itu banyak yang menilai organisasi perdagangannya kurang efisien, terutama jika dibandingkan dengan Belanda dan Inggris yang datang ke wilayah ini menjelang akhir abad ke-16.&lt;br /&gt;Pelayaran ke wilayah timur yang dirintis oleh bangsa Portugis dapat berhasil karena jasa seorang saudagar India yang bersedia menjadi penunjuk jalan ke kepulauan Maluku. Pedagang ini sudah biasa berlayar menuju Maluku untuk mengambil rempah-rempah dengan harga yang murah. Kapal dagang India itu dikawal oleh sebuah armada Portugis, bertolak dari Malaka menuju Maluku. Pelayaran itu lancar tanpa mengganggu ataupun menerima gangguan, karena tujuan utamanya adalah hanya untuk survei, mengenal jalur yang akan di tempuh menuju pusat rempah-rempah. Portugis tidak berniat untuk mencari musuh baru, tetapi mereka memusatkan perhatian untuk menemukan sumber yang asli dari rempah-rempah, setelah menyadari bahwa Malaka hanyalah pelabuhan pusat perdagangan saja, bukan produsen rempah-rempah.&lt;br /&gt;Setelah proses survei ini, bangsa Portugis tidak lagi memerlukan  penunjuk jalan, sehingga pada 1514 sekali lagi armada Portugis bergerak ke arah Maluku, kepulauan rempah-rempah dan sejak saat itu secara rutin mereka mengunjungi kepulauan Maluku untuk membeli rempah-rempag. Kedatangan Portugis ini menimbulkan dua hal yang bertentangan. Orang-orang Cina dan Jawa yang semula memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku, hingga dapat menentukan harga pasaran rempah-rempah secara sepihak, akhirnya mendapatkan pesaing baru yang siap merusak monopoli itu. Sementara penduduk Maluku menyambut dengan gembira karena harga tidak lagi ditentukan oleh monopoli Cina-Jawa saja, bangsa Eropa itu telah mendongkrak harga rempah-rempah. &lt;br /&gt;Untuk beberapa lama, setidaknya sebelum kedatangan Belanda, Portugis dapat mempertahankan monopoli rempah-rempah dengan lancar. Mereka adalah pedagang yang paling kuat, baik dalam keuangan, pemborong yang tangguh, dan mempunyai kekuatan senjata. Armada Portugis selalu mengawal perahu-perahu dagang mereka yang langsung bertransaksi dengan penduduk. &lt;br /&gt;Pedagang-pedagang Spanyol juga turut berlayar ke Maluku. Pada tahun 1527 kapal-kapal dagang Spanyol yang dipimpin oleh Magellan tiba di Maluku dan memborong rempah-rempah dari penduduk. Hal ini memicu konflik antara Portugis dan Spanyol sehingga terjadilah perang diantara mereka. Spanyol dapat dikalahkan dan keluar dari Maluku. Sejak saat itu orang-orang Portugis mulai membangun gudang-gudang yang dikelilingi tembok kuat untuk menyimpan rempah-rempah yang ia beli dari penduduk.       &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Belanda&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setelah bangsa Portugis, datanglah bangsa Belanda dengan membawa organisasi perdagangan, persenjataan, kapal-kapal dan dukungan keuangan yang lebih baik serta kombinasi antara keberaniandan kekejaman yang sama. Mereka nyaris mencapai apa yang telah diinginkan orang-orang Portugis tetapi yang tidak berhasil mereka peroleh, yaitu menguasai rempah-rempah Nusantara. Pada mulanya bangsa Portugis merahasiakan rincian jalur perdagangan ke Asia Tenggara, tapi ternyata banyak bangsa Belanda yang bekerja pada orang-orang Portugis yang kemudian menuliskan berbagai pengalaman mereka seperti gambaran apa yang ditemukan atau dihadapi Portugis, peta-peta dan jalur perdagangan, dan kekayaan yang dimiliki oleh Nusantara. Berdasarkan itu bangsa Belanda datang ke Nusantara dengan teknologi kapal dan persenjataan yang lebih sempurna sehingga mereka yakin bahwa Portugis tak akan dapat menandingi mereka. &lt;br /&gt;Pada tahun 1595 ekspedisi Belanda yang pertama siap berlayar ke Nusantara. Sebanyak 4 kapal dengan 249 awak kapal dan 64 pucuk meriam berangkat menuju Nusantara dengan dipimpin oleh Cornelis de Houtman. Ia adalah orang Belanda yang pernah tinggal selama beberapa lama di Lisbon Portugis, sehingga mengetahui persis apa yang dipersiapkan oleh bangsa Portugis untuk ekspedisinya. Akan tetapi modal itu tak dapat digunakan dengan baik oleh de Houtman. Akibat kepemimpinannya yang kurang cakap menyebabkan banyak perselisihan dalam ekspedisi Belanda pertama itu. Dan setelah banyak mengalami penderitaan serta mendapatkan wabah penyakit, hanya 3 kapal serta 89 awak yang berhasil kembali ke negeri Belanda lebih dari dua tahun kemudian.&lt;br /&gt;Pada tahun 1596 kapal-kapal de Houtman tiba di Banten, pelabuhan lada yang terbesar di Jawa bagian barat saat itu. Di tempat itu orang-orang de Houtman harus terlibat dalam konflik, baik dengan orang Portugis maupun dengan orang pribumi. De Houtman kemudian meninggalkan Banten dan berlayar menyusuri pantai utara Jawa, dimana dia terus memicu konflik, membuat keonaran dan banyak merugikan armadanya. Misalnya di pelabuhan Sedayu, dekat Gresik armada itu harus kehilangan 12 angggota karena serangan yang dilakukan orang-orang Jawa. Di lepas pantai Madura, orang-orang Belanda itu membunuh seorang penguasa lokal pada waktu orang itu mendayung perahunya untuk mendekati kapal Belanda. &lt;br /&gt;Akhirnya pada tahun 1597 sisa-sisa dari armada de Houtman itu kembali ke negeri Belanda dengan membawa cukup banyak rempah-rempah tanda keuntungan bagi ekspedisi pertama Belanda itu. Hal itu semakin memberi gambaran kepada para pengusaha dan penguasa Belanda bahwa suatu pelayaran yang dipimpin oleh orang yang tak cakap pun dapat menghasilkan keuntungan yang cukup baik. Dengan tanda yang dibawa oleh de Houtman itu mulailah timbul persaingan antar perusahaan-perusahaan ekspedisi Belanda yang saling bersaing dan berjuang keras untuk memperoleh bagian dari rempah-rempah Nusantara. &lt;br /&gt;Pada tahun 1598 sejumlah 22 kapal milik lima perusahaan yang berbeda mengadakan pelayaran, 14 kapal diantaranya akhirnya kembali. Armada yang berada di bawah pimpinan Jacob van Neck lah yang pertama kali tiba di kepulauan rempah-rempah, Maluku, pada tahun 1599 dengan mendapatkan sambutan yang baik. Armada van Neck akhirnya kembali ke negeri Belanda pada tahun 1599-1600 dengan mengangkut cukup banyak rempah-rempah yang menghasilkan keuntungan sebesar 400 persen. Dengan kemajuan keuntungan yang diperoleh armada Belanda itu maka pada tahun 1601 sejumlah 14 buah kapal ekspedisi yang berbeda berangkat, melakukan pelayaran dari negeri Belanda.    &lt;br /&gt;Keadaan persaingan liar antara perusahaan ekspedisi Belanda ini ternyata justru tak menguntungkan bagi perdagangan Belanda. Dengan persaingan antar perusahaan Belanda di wilayah pusat rempah-rempah itu menyebabkan harga rempah-rempah menjadi meningkat, sementara karena pasokan rempah yang semakin banyak ke Eropa maka harga rempah-rempah jatuh dan menyebabkan turunnya keuntungan pedagang. Akhirnya parlemen Belanda harus turun tangan menghentikan persaingan itu dengan cara membentuk suatu organisasi dagang yang menyatukan semua perusahaan-perusahaan ekspedisi.&lt;br /&gt;Pada awal abad ke 17, tepatnya pada tahun 1602 para pedagang dan penguasa Belanda membentuk suatu organisasi dagang, yaitu Vereenegde Oost Indische Compagnie (VOC) mempunyai tujuan utama yang jelas, yaitu dagang. Biarpun dalam statusnya, khususnya artikel 35 disebutkan bahwa VOC dapat memperoleh teritori di Timur, mengadakan perdamaian, perjanjian-perjanjian, menyatakan perang, serta berhak memiliki kapal-kapal perang, memelihara tentara, dan memiliki benteng-benteng pertahanan. Namun VOC juga sangat mementingkan pemegang buku dan para saudagar. Jabatan “Eerste Koopman” dalam hirarkhi VOC merupakan jabatan yang sangat penting. Dari jabatan ini seseorang bisa menjadi Gubernur Jenderal, yang pada awal berdirinya memang tidak banyak mengurusi permasalahan politik ataupun administrasi.&lt;br /&gt;Sebagai catatan, dalam menanamkan pengaruhnya di Nusantara, baik Portugis maupun Belanda banyak mempergunakan pola-pola konflik yang ada di Nusantara. Disamping itu mereka juga membawa konflik-konflik mereka di Eropa ke wilayah ini, yang kemudian juga dipergunakan oleh kerajaan-kerajaan di Indonesia.&lt;br /&gt;Seperti telah disebutkan di atas, penguasaan kota Malaka oleh Portugis telah mengacaukan struktur perdagangan di Asia Tenggara, khususnya kepulauan Indonesia dan Semenanjung Melayu. Namun tidak berarti pendagangan di wilayah ini menjadi hancur sama sekali. Peranan Malaka sebagai pelabuhan transit semakin merosot, sebaliknya di beberapa daerah, terutama yang di jalur perdagangan baru, tumbuh dan berkembang kota-kota dagang baru, yang beberapa di antaranya berkembang menjadi pusat kekuatan politik baru di wilayah ini. Aceh misalnya, pada tahun 1511 masih merupakan satu pelabuhan kecil yang berada di bawah kekuasaan Pidie.&lt;br /&gt;Dengan meningkatnya kekuatan dan persenjataan Aceh maka Pidie yang semula merupakan tuannya berbalik ditaklukan oleh Aceh. Setelah itu Aceh memperluas hegemoninya ke selatan, ke Deli dan Sumatera Barat. Daerah-daerah yang ditaklukannya itu merupakan daerah penghasil merica, emas, lada, dan produksi lainnya. Untuk sementara ekspansi Aceh dapat ditahan oleh Indrapura dan Johor.&lt;br /&gt;Kesultanan Johor adalah pusat kekuatan politik baru dinasti Melayu setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis. Kesultanan itu berhasil mempertahankan eksistensinya dan mampu mempertahankan perdagangan internasionalnya. Dalam perkembangannya nanti, Johor bersekutu dengan VOC. Sampai pertengahan abad ke-17 perdagangan di Selat Malaka dimainkan oleh tiga kekuatan, yaitu Portugis, Aceh, dan Johor. Namun kota Johor berkali-kali diserang dan direbut oleh Aceh. Pada tahun 1613 misalnya, sebagian keluarga sultan Johor ditawan oleh Aceh, dan benteng VOC di kota tersebut dibakar.&lt;br /&gt;Jika dikaji lebih mendalam, kebesaran kesultanan Aceh pada dasarnya karena kemampuannya untuk menjalin hubungan diplomatik dengan dunia Asia Barat, terutama Turki yang disebut oleh masyarakat Aceh sebagai Raja Rum. Persekutuan antara Aceh dan Turki merupakan persekutuan antara dua kekuatan Islam. Namun dalam dunia politik maupun perdagangan sehari-hari, hubungan diplomatik tidak selalu mendasarkan kepada ideologi yang sama seperti kepentingan Islam, tetapi lebih menonjol karena upaya perebutan hegemoni, seperti perebutan hegemoni di Selat Malaka. Aceh maupun Johor tidak segan-segan meminta bantuan kekuatan non Islam yang dalam hal ini Belanda atau Portugis untuk menyerang kerajaan Islam lainnya. Sebelum Johor bersekutu dengan VOC, pada tahun 1600, Aceh pernah meminta ekspedisi Belanda pertama di bawah pimpinan Cornelis de Houtman untuk menyerang Johor atas namanya dengan imbalan lada. Juga Iskandar Muda pernah meminta Inggris untuk menyerang Pidie.&lt;br /&gt;Eksistensi kerajaan-kerajaan maritim Jawa dengan kekecualian Banten, tidak bertahan lama. Kebesaran mereka sebagai kekuatan maritim dan perdagangan terus merosot bukan dikalahkan oleh kekuatan Portugis atau pun VOC, melainkan oleh kekuatan baru yang muncul di pedalaman Jawa, yaitu Mataram. Kerajaan ini yang berdiri sejak tahun 1575 terus menerus melakukan ofensif terhadap kerajaan-kerajaan maritim, khususnya di pantai utara Jawa, bahkan sampai ke Batavia. Bayangan kejatuhan Majapahit oleh kerajaan pesisir yang nota bene merupakan bawahannya (Demak), selalu menghantui para penguasa Mataram. Faktor inilah yang menjadi salah satu unsur pendorong bagi para penguasa Mataram untuk mematikan sumber-sumber pendukung politik dan ekonomi kerajaan-kerajaan pesisir.&lt;br /&gt;Kedatangan pedagang baru, termasuk VOC dan EIC (The East India Company) maskapai dagang bangsa Inggris sering kali mendatangkan harapan baru bagi raja-raja di Nusantara. Sewaktu Belanda dan Inggris datang di akhir abad ke-16 disambut dengan baik. Banten misalnya mengijinkan VOC dan EIC membuka kantor dagang di kota pelabuhannya. Demikian pula Pangeran Jayakarta mengundang masuk VOC untuk membuka kantor dagangnya di kotanya.&lt;br /&gt;Setelah berhasil menguasai Batavia, J.P. Coen memindahkan kantor pusat dagang VOC dari Ambon ke Batavia. Namun untuk menguasai seluruh perdagangan di Nusantara, VOC harus menunggu waktu yang relatif lama. Di sebelah barat, kesultanan Banten sebagai salah satu kekuatan maritim di Jawa, tampil sebagai saingan berat VOC yang terus menerus menentangnya. Sementara tantangan dari kekuatan maritim di sebelah timur relatif tidak ada karena kerajaan-kerajaan tersebut sedang menghadapi kekuatan Mataram. Berbeda dengan Banten, Mataram bukan merupakan negara yang mengandalkan perdagangan laut untuk kehidupan ekonominya. Namun dalam rangka merebut hegemoni politik dan kekuasaan di pulau Jawa, di bawah Sultan Agung, kerajaan ini dua kali menggempur Batavia. Meskipun VOC mampu mematahkan kedua serangan tersebut, namun untuk menjaga kepentingan dagangnya, VOC lebih suka mengakui Sultan Agung sebagai yang dipertuan, serta mau mengirimkan upeti ke Mataram.&lt;br /&gt;VOC baru dapat menguasai seluruh perdagangan dan politik di Jawa setelah kekuatan kedua kerajaan tersebut melemah, terutama karena intrik-intrik yang terjadi di dalam kedua kerajaan tersebut. Misalnya dalam konflik di kerajaan Banten, VOC membantu Sultan Haji yang menentang ayahnya (Mantan Sultan) Ageng Tirtayasa. Sampai dengan runtuhnya VOC tahun 1799, kekuatan maritim di Nusantara yang relatif masih kuat bersaing melawan VOC hanyalah Aceh. &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Inggris &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sama halnya dengan Portugis dan Belanda, bangsa Inggris juga mencoba peruntungannya untuk berburu rempah-rempah di Nusantara. Sir Francis Drake telah mengadakan kontak pertama Inggris dengan Nusantara dalam pelayarannya mengelilingi dunia ke arah barat pada tahun 1577-1580. Drake singgah di Ternate dan pulang ke Inggris dengan membawa muatan cengkeh. &lt;br /&gt;Pada tahun 1591 Elizabeth I mendukung usaha pertama Inggris untuk terlibat secara langsung dalam perdagangan rempah-rempah. Sir James Lancaster, yang juga mempunyai pengalaman di Lisbon, dan George Raymond siap mengadakan pelayaran pada tahun itu. Perjalanan mereka ini mengalami bencana. Di atas kapal berjangkit wabah penyakit dan timbul banyak kematian, dan Raymond tenggelam di laut bersama kapalnya. Lancaster memang berhasil mencapai Aceh dan Penang, namun dalam perjalanan pulang ke negerinya di terdampar di kepulauan  Hindia Barat dan baru sampai Inggris pada tahun 1594 atas kebaikan hati perampok Perancis. Karena peristiwa ini, mulanya bangsa Inggris mulai ragu untuk meneruskan ekspedisinya, tapi mendengar besarnya keuntungan yang diperoleh Belanda, lenyaplah semua keraguan itu.&lt;br /&gt;Pada tahun 1600 akhirnya Ratu Inggris mendirikan suatu Maskapai Hindia Timur yang telah disebut sebelumnya yaitu EIC. Sejak saat itulah Inggris mulai mendapat kemajuan di Asia. Dan kembali Sir James Lancaster diperintahkan untuk memimpin pelayaran pertama maskapai EIC (The East India Company). Armada itu sampai ke Aceh pada 1602 dan terus menuju Banten, dimana dia mendapat izin membangun kantor dagang. Bandar lada yang sangat kaya ini tetap menjadi pusat kegiatan orang Inggris sampai tahun 1682. Lancaster kembali ke Inggris dengan muatan lada yang demikian banyak sehingga sebagiannya tidak dapat dijual, dan para investor harus dibayar-kembali sebagiannya dalam bentuk lada. Dengan keberhasilan ini, reputasi Lancaster berubah menjadi baik dari sebelumnya.&lt;br /&gt;Ekspedisi Inggris kedua dilaksanakan pada tahun 1604 yang dipimpin oleh Sir Henry Middleton dan berhasil mencapai Ternate, Tidore, Ambon, dan Banda. Akan tetapi di wilayah ini mereka mendapatkan perlawanan dari pihak VOC, dan dimulailah persaingan sengit Inggris-Belanda untuk mendapatkan rempah-rempah. Selama tahun 1611-1617 bangsa Inggris juga mendirikan kantor-kantor dagang mereka di bagian-bagian Indonesia lainnya, seperti di Kalimantan Barat Daya, Makassar, Jayakarta, Jepara, Aceh, Pariaman, dan Jambi.&lt;br /&gt;Tentang hubungan antara Inggris dan Belanda di Nusantara, ada suatu hubungan singkat yang terjadi antara VOC dan EIC karena pertimbangan-pertimbangan diplomatik di Eropa pada awal abad ke 17. Inggris diizinkan oleh Belanda untuk membuka kantor dagangnya di Ambon. Tetapi peristiwa yang dikenal dengan Pembataian Amboina pada tahun 1623 memupuskan semua gagasan tentang kerjasama. Dua belas orang agen perdagangan Inggris di Ambon ditangkap, dan setelah melalui suatu introgasi penyiksaan yang kejam mereka mengakui telah berkomplot untuk melawan VOC. Sepuluh orang Inggris, sepuluh orang Jepang, dan seorang Portugis dihukum mati pada peristiwa itu. Meski tidak terlalu gawat, peristiwa ini telah mengakibatkan ketegangan diplomatik di kawasan Eropa. Akhirnya mulai saat itu Inggris lebih mengarahkan perhatiannya pada kawasan-kawasan Asia lainnya dan dengan diam-diam menarik diri dari sebagain besar kegiatan mereka di Nusantara, kecuali perdagangan mereka di Banten.            &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pudarnya Kekuasaan Kerajaan Islam Nusantara :  &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Malaka&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan bangsa Portugis di bawah pimpinan Diego Lopez de Sequira  ke Malaka atas perintah raja Portugis, bertujuan untuk membuat perjanjian-perjanjian dengan penguasa Malaka. Perjanjian ini adalah awal penjajakan Portugis ke Malaka yang mereka dengar mempunyai kekayaan besar, yaitu produksi rempah-rempah. Dengan lawatan itu Portugis berharap mendapatkan suatu izin perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak. Tujuan Portugis untuk menduduki Malaka adalah untuk menguasai perdagangan melalui Selat Malaka atau berdagang dengan Malaka semata-mata. Sehubungan dengan ramainya pedangang Gujarat di Malaka, Portugis hendak menguasai perdagangan antara pelabuhan-pelabuhan di India yaitu di Gujarat, Benggala, dan Golkonda untuk kemudian menyalurkan pedagangan ini melalui Selat Malaka.&lt;br /&gt;Karena bisikan para pedagang asing lainnya di Malaka, terutama mungkin orang-orang Gujarat tersebut yang membisikan bahwa Portugis akan membahayakan perdagangan Malaka, Sultan Mahmud Syah memilih sikap untuk memusuhi Portugis. Bahkan sultan dan rakyatnya mengusir utusan-utusan itu, membunuh beberapa  diantara mereka, serta menyerang kapal-kapal Portugis yang masih berada di perairan Malaka. Sikap inilah yang menjadikan alasan Affonso de Albuquerque untuk menyerang dan menaklukkan Malaka, ia lebih memilih perang daripada melakukan perjanjian dagang sebagaimana yang mereka inginkan sebelumnya.&lt;br /&gt;Pada April 1511 Affonso de Albuquerque, panglima Portugis memimpin armada Portugis menyerang kota pelabuhan Malaka dengan membawa 17 atau 18 buah kapal bersama kira-kira 1200 orang. Setibanya mereka di Malaka, peperangan segera dimulai antara Portugis dan Malaka yang dipimpin oleh Sultan Mahmud Syah. Tidak ada pilihan bagi Mahmud Syah kecuali berperang, ia telah mengetahui bahwa Albuquerque tidak akan datang untuk menerima suatu perjanjian. Maka dengan membiarkan mereka mendirikan benteng di Malaka tanpa suatu peperangan adalah sama halnya mengakhiri kekuasaan Sultan di Malaka. &lt;br /&gt;Sebagai ahli siasat, Albuquerque mengadakan persiapan yang matang sebelum melakukan serangan. Pada 25 Juli 1511 serangan pertama Portugis dilancarkan secara mendadak. Jembatan sungai Malaka berhasil direbut. Sultan Mahmud dengan para pengikutnya terdesak hingga harus menyelamatkan diri ke luar kota. Peperangan di Malaka terus terjadi sepanjang Juli dan awal Agustus. Pertumpahan darah di mana-mana. Malaka menggunakan berbagai macam senjata untuk menghadapi serangan Portugis itu, pedang, tombak, perisai, panah, panah beracun, bola-bola besi yang diimpor dari Cina, serta meriam yang dibeli oleh Samudra dari Kalikut. Meriam ini dibuat oleh dua orang pelarian Portugis yang membuat bengkel untuk pembuatan senjata. Sultan Malaka terpaksa harus meninggalkan Malaka, karena ia merasa tidak dapat mengimbangi kekuatan Portugis, ditambah lagi dalam situasi perang itu ia menghadapi pertikaian internal dengan putranya sendiri.Sultan Malaka menyingkir ke Pahang, lalu meminta perlindungan ke Bintan, dan  kemudian ke Kampar. Malaka akhirnya takluk kepada Portugis, jatuh di tangan kekuasaan asing. Pemerintahan pribumi menjadi pemerintahan koloni. Pintu gerbang perdagangan internasional berubah menjadi pintu gerbang kekuasaan kolonial.  &lt;br /&gt;Sejak Portugis menduduki Malaka, agama yang sebelumnya dianggap sebagai faktor yang penting dalam melakukan ekspansi mulai menjadi samar-samar, karena rupanya faktor ekonomi-lah yang memegang peranan penting. Affonso de Albuquerque tinggal di Malaka sampai bulan Nopember 1511, dan selama itu ia mempersiapkan pertahanan Malaka dari setiap serangan balasan orang-orang Melayu. Ia juga segera mengiriman kapal pertama untuk mencari kepulauan rempah-rempah. Sesudah itu ia kembali ke Goa, India dengan menggunakan sebuah kapal yang tak terawat sehingga kapal itu karam di lepas pantai Sumatra beserta semua barang rampasan yang diperoleh dari penjarahan Malaka. Tapi Albuquerque selamat dari insiden itu.&lt;br /&gt;Ketika Al Buquerque berangkat ke Goa, terjadi perlawanan oleh seorang Jawa bernama Katir. Pertempuran sengit terjadi di luar kota Malaka. Beras yang harus datang dari Jawa  untuk memenuhi kebutuhan Malaka diblokir oleh Katir sehingga Malaka kekurangan bahan makanan. Tapi akhirnya Katir kewalahan menghadapi Portugis, sehingga ia meminta bantuan penguasa Japara (kekuasaan Demak) yang merupakan negara asalnya. Japara memberi bantuan dengan mengirim 100 kapal dan 10.000 prajurit untuk melawan orang-orang Portugis yang dianggap kafir di Malaka. Bantuan dari Japara itu rupanya digerakkan oleh Pate Unus, yang nantinya akan menjadi raja Demak menggantikan ayahnya. Pertempuran sengit terjadi pada 1 Januari 1513 dimana armada Jawa mengalami kekalahan, hanya kira-kira 7 buah perahu yang kembali ke Jawa.&lt;br /&gt;Demi meningkatkan keamanan Malaka dan peningkatan perdagangan rempah-rempah yang sepenuhnya dikuasai pelabuhan Malaka, orang-orang Portugis membuat perjanjian persahabatan dengan Siam dan Birma. Sudah semenjak pemerintahan raja Parameswara, Siam merupakan bahaya yang mengancam Malaka. Perjanjian persahabatan itu terutama mengenai perjanjian lalu lintas kapal dagang Portugis yang memuat rempah-rempah untuk dimuat ke Lisabon. Semua kapal yang dilengkapi dengan surat panglima perang Portugis di benteng Malaka supaya diizinkan berlayar bebas dari segala gangguan. Perjanjian itu secara tidak langsung telah menganjurkan untuk menangkapi atau melarang kegiatan kapal pedagang Arab dan Persia yang menjual rempah-renpahnya kepada pedagang Venesia, karena mereka tidak mungkin mendapatkan izin dari panglima perang Portugis. Setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis, perjanjian persahabatan antara orang-orang Portugis dengan Birma dan Siam merupakan pukulan langsung kepada para pedagang Islam di sepanjang pantai dari Arab sampai India. Pelabuhan Lisabon, Portugis berubah menjadi pusat perdagangan rempah-rempah di Eropa. Kekalahan Malaka mendatangkan keuntungan berlimpah untuk Portugis.&lt;br /&gt;Terlepas dari upaya yang telah dilakukan oleh Portugis untuk mempertahankan monopolinya di Malaka, upaya merebut Malaka pun tak terhenti begitu saja. Setelah gagalnya serangan dari Jawa, Aceh dan Johor adalah dua kerajaan Islam di wilayah Selat Malaka yang terus berusaha merebut kembali kekuasaan atas Malaka. Namun demikian karena unggulnya teknologi armada Portugis, Aceh dan Johor harus menelan kekalahan demi kekalahan. &lt;br /&gt;Pada tahun 1641 bangsa Belanda dapat merebut Malaka dari bangsa Portugis dan menetap disana. Namun keadaan telah terlambat, keinginan Belanda untuk mengembalikan kejayaan emporium Malaka telah kehilangan peluang terbaiknya. Pada saat itu Selat Malaka sudah tak lagi terjamin keamanannya seperti dahulu kala. Permusuhan dan peperangan yang berlangsung antara kerajaan-kerajaan di Semenanjung Malaka dan Aceh terus berkecamuk disana. Oleh karena itu para pedagang enggan untuk melewati Selat Malaka, mereka lebih memilih untuk berdagang di Sumatra atau di Semenanjung Malaka yang letaknya lebih ke utara.  &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Demak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebelum akhirnya runtuh pada tahun 1546, Kesultanan Demak sebenarnya mempunyai beberapa  kelemahan mendasar dalam mempertahankan kekuasannya sebagai negara maritim di Jawa yang menyimpan kekuatan pedalaman yang tak pernah padam. Sejak awal berkuasa pada akhir abad ke 15 di Demak, Raden Patah terlalu berkonsentrasi untuk mewujudkan Demak sebagai negara maritim, sehingga mengabaikan masyarakat pedalaman. Demak lebih berkonsentrasi untuk memperbesar armadanya, membuat kapal-kapal besar untuk ikut dalam perdagangan rempah-rempah di  wilayah Nusantara.&lt;br /&gt;Namun ternyata dengan kebijakan maritim yang terlanjur mengabaikan masyarakat pedalaman itu, ternyata tak kunjung menjadikan Demak dapat merebut monopoli dagang rempah-rempahn yang dikuasai oleh Portugis. Demak hanya berhasil mempertahankan Jawa, membendung Portugis untuk berlabuh di Banten, Sunda Kalapa, dan pelabuhan-pelabuhan Jawa lainnya, tapi Demak gagal membendung monopoli dagang Portugis di Malaka dan kepulauan Maluku. Sementara itu di wilayah pedalaman, perlawanan penguasa-penguasa eks wilayah Majapahit terus merayap menyusun kekuasaannya  mencari peluang kapan kesultanan maritim itu dalam keadaan goyah.      &lt;br /&gt;Jika pudarnya Malaka adalah karena serangan Portugis yang berhasil menudukkan kota pelabuhan itu, maka pudarnya Demak adalah akibat dari pertikaian internal antar bangsawan keturunan Raden Patah. Awalnya adalah wafatnya Sultan Demak ketiga, yaitu Sultan Trenggana, secara mendadak dalam ekspedisi melawan Panarukan, Blambangan pada tahun 1546, menimbulkan kekacauan dan pertengkaran di antara para calon pengganti raja. Ibu kota Demak hancur karenanya. &lt;br /&gt;Permasalahan antar keluarga ini sebenarnya bermula pada saat pentabalan raja Demak yang ketiga. Ketika Pate Unus meninggal tanpa mempunyai keturunan, para putra Raden Patah mulai berebut kekuasaan Demak itu. Sebenarnya yang berhak atas tahta itu adalah Pangeran Kikin alias Pangeran Seda Lepen, adik Pate Unus yang lebih tua daripada Trenggana. Tapi pangeran itu lahir dari istri ketiga, sedangkan Trenggana lahir dari istri pertama. Akhirya pada tahun 1521 putra sulung Trenggana yang bernama Sunan Prawata membunuh Pangeran Seda Lepen, sehingga Trenggana sang ayah bisa dengan mudah menjadi sultan Demak. Kelak inilah yang menimbulkan pertumpahan darah karena Sunan Prawata akan mendapat balas dari Arya Penangsang, Jipang putra dari Pangeran Seda Lepen.&lt;br /&gt;Sultan Trenggana sendiri mempunyai beberapa putra dan putri, yaitu putiri pertama kawin dengan Pangeran Langgar, kedua adalah Sunan Prawata, ketiga putri yang kaein dengan Pangeran Kalinyamat, keempat putri yang menikah dengan Pangeran Cirebon, kelima putri yang kawin dengan Jaka Tingkir, dan keenam adalah Pangeran Timur. Sesaat setelah kematian Sultan Trenggana yang mendadak pada tahun 1546. Sunan Prawata dinobatkan menjadi penggantinya. Ada pendapat yang mengatakan bahwa pemimpin keempat Demak ini sebelumnya kurang terkenal, karena sebenarnya ia adalah  pertapa, seorang suci yang bergelar sunan, sebagaimana wali songo, yang tidak ikut dalam  kegiatan ekspansi Demak. Terakhir setelah berhasil membunuh Pangeran Seda Lepen ia diperintah oleh ayahnya untuk membantu Raden Kusen dalam membuat kapal untuk memperbesar serangan armada Demak ke Malaka.&lt;br /&gt;Dengan naiknya Sunan Prawata, dimulailah perseteruan antar keturunan Raden Patah yang tak berkesudahan. Arya Penangsang, Jipang konon berhasil dihasut oleh gurunya yaitu Sunan Kudus agar menyerang Sunan Prawata yang telah membunuh ayahnya. Segera setelah penobatan itu, Arya Penangsang menyerang Demak yang sedang dalam keadaan kosong, karena armadanya sedang bertempur ke wilayah timur Nusantara. Seluruh kota Demak dibakar, hanya masjid Demak yang selamat dari amukan Arya Penangsang. Pasukan Demak mundur hingga ke Semarang, dan pasukan Jipang terus memburunya. Dan Sunan Prawata, sultan Demak keempat yang baru saja dinobatkan, turut gugur dalam peristiwa itu. Turut gugur bersamanya adalah putranya dan ratusan pengikut yang sedang bersamanya. Dalam kronik Klenteng peristiwa itu disebut sebagai penyembelihan orang-orang Cina Jawa yang berlangsung sangat kejam.&lt;br /&gt;Terbunuhnya Sunan Prawata tidak serta-merta menobatkan Arya Penangsang sebagai sultan Demak, karena masih ada kekuatan penghalang yaitu Jaka Tingkir dari Pajang, menantu Sultan Trenggana. Nantinya akan terjadi pertempuran yang sengit dan penuh intrik antara Arya Penangsang yang dibantu oleh Sunan Kudus dan Jaka Tingkir yang dibantu oleh Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Panjawi. Dengan bantuan keduanya itu maka akhirnya Pajang menyerang Jipang, dan Arya Penangsang tewas dalam pertempuran.&lt;br /&gt;Dengan kemenangan itu Jaka Tingkir membangun Kesultanan Pajang dan berakhirlah kekuasaan dinasti Raden Patah di Demak pada tahun 1546. Jaka Tingkir bergelar Sultan Adiwijaya yang merupakan keturunan Pengging dan Majapahit. Dengan berdirinya Pajang, kesultanan Islam Demak yang bersifat maritim telah sirna digantikan oleh kekuasaan Pajang, negara pedalaman yang agraris, tidak mempunyai armada dan tidak menguasai pelabuhan-pelabuhan.                 &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Banten&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah Banten, tahun 1596 adalah tahun bersejarah yang ditandai dengan terjadinya suatu perubahan penting di dalamnya. Pada tahun itu raja Banten yang muda usianya, Maulana Muhammad, mangkat ketika melakukan pengepungan terhadap Palembang. Wafatnya raja ini menimbulkan dampak yang besar bagi kesultanan Banten. Pada satu sisi wafatnya sultan adalah berarti berhentinya politik ekspansi Banten ke wilayah  lainnya. Sementara itu usia yang teramat muda dari pewaris tahta yang kelak menjadi Sultan Abulmufakhir, yang ketika itu masih bayi yang baru lahir, membuka zaman perwalian raja yang lama.&lt;br /&gt;Pada tahun yang sama bangsa Belanda merapat untuk pertama kalinya ke Banten untuk mencoba peruntungan dalam kegiatan dagang rempah-rempah.Menyusul beberapa tahun kemudian bangsa Inggris yang juga mempunyai maksud yang sama. Kedatangan bangsa Eropa ini memang terbukti memberikan dorongan yang luar biasa bagi perdagangan, tetapi pada sisi lain juga terbukti akan menjadi ancaman besar bagi keberadaan kerajaan itu sendiri. Karena bangsa asing itu terlihat mempunyai tujuan yang sama dalam perdagangan dan terlihat siap melaksanakan tujuannya dengan cara kekerasan. &lt;br /&gt;Menerima atau tidak kehadiran bangsa-bangsa asing ini ternyata menimbulkan konflik tersendiri di kalangan masyarakat Banten. Apalagi pada waktu itu tidak ada pemerintahan yang kuat, sehingga memberikan kebebasan kepada dua golongan yang saling bermusuhan, yaitu golongan ponggawa dan golongan pangeran untuk memenangkan politik mereka masing-masing.&lt;br /&gt;Setelah meninggalnya Maulana Muhammad, penguasa Banten segera memilih seorang wali raja guna memerintah untuk waktu yang diramalkan lama. Perdana Menteri urusan luar dan Maulana Muhammad berhasil menguasai jabatan wali raja dengan bantuan Kadi, penguasa agama tertinggi di kerajaan yang juga memegang pimpinan Peradilan. Wali Raja Kyai Mas Patih Mangkubumi adalah orang yang berpengalaman, ia baru saja memimpin  serangan melawan Palembang dari darat, berangkat dari Lampung, sedangkan Maulana Muhammad memimpin dari arah laut. &lt;br /&gt;Dari silsilahnya, dapat diketahui bahwa Kyai Mas Patih Mangkubumi menikah dengan salah seorang putri Sultan Hasanudin, bernama Ratu Wetan. Dan kemudian ia menikahkan salah seorang putrinya dengan Pangeran Upapatih salah seorang saudara laki-laki Maulana Muhammad. Bahkan beberapa sumber mengatakan bahwa seorang putri lainnya juga telah menjadi istri Maulana Muhammad.&lt;br /&gt;Dari silsilah tersebut dapat dipahami bahwa usianya, pengalamannya, demikian juga hubungan kekeluargaannya dengan keluarga raja, membuat orang ini sebagai calon yang ideal untuk memimpin ke-wali raja-an. Namun demikian, posisinya pada puncak pemerintahan merupakan suatu hal yang baru sama sekali, karena dengan demikian Banten menjadi diperintah oleh seorang punggawa, seorang bukan keturunan bangsawan, sebagaimana dinyatakan dalam nama panggilannya Kiai Mas Patih.&lt;br /&gt;Wali Raja ini mempertahankan susunan pemerintahan di kerajaan seakan-akan ia adalah raja yang sesungguhnya. Kedua Perdana Menteri tetap : jabatan Patih Jero diberikan kepada Pangeran Gebang, salah seorang keluarga laki-laki mendiang raja Maulana Muhammad yang disebut dalam sumber Belanda sebagai Kapitan Banten. Jabatan Patih Jaba  diberikan kepada seorang yang tidak diketahui namanya dan hanya dikenal gelarnya yaitu Tumenggung Anggabaya yang disebut oleh sumber-sumber Belanda dengan sebutan Laksamana atau Kyai Patih. Seorang pedagang Inggris yang tinggal di Banten pada awal ke 17 menginformasikan bahwa Kyai Patih seorang keturunan Tamil, demikian halnya dengan syahbandar Banten saat itu.&lt;br /&gt;Berdasarkan berbagai informasi ini cukup membuktikan bahwa di Banten pada saat itu telah terjadi suatu revolusi dalam birokrasi pemerintahannya, dimana seorang ponggawa dapat menjadi Wali Raja dan seorang asing, yaitu seorang Tamil dapat menjabat suatu jabatan pemerintahan paling penting. Dalam suatu gambar peta yang dibuat tahun 1596 juga menguatkan  bukti ini bahwa  para petinggi pemerintahan, syahbandar, dan pedagang-pedagang besar berbangsa asing, semuanya berdiam dalam satu kota berbenteng. Hal ini adalah suatu fenomena yang sama sekali bertentangan dengan citra tradisional sebuah kerajaan Jawa. &lt;br /&gt;Wali Raja tidak diragukan lagi adalah seorang yang berkepribadian kuat, Ia tidak ragu-ragu memenjarakan sejumlah orang Belanda yang kurang menaati peraturan-peraturan setempat, sewaktu mereka pertama kali datang di Banten tahun 1596. Ia juga bereaksi keras terhadap serangan armada Portugis yang membabi buta, pimpinan Lorenzo de Brito awal tahun 1598.Sejumlah orang Portugis ditahan dan tiga orang kapten dibunuh. Sikapnya yang tegas itu membuat ia dihormati semua orang dan membantunya untuk kurang lebih menjaga persatuan dalam negara, karena tak disebut pernah terjadi kekacauan selama ia memimpin Banten.&lt;br /&gt;Namun keadaan tenang itu tidak berlangsung lama, karena setelah wafatnya Wali Raja Kiai Mas Patih 1602 Banten akan terlibat dalam suatu perseteruan antara golongan ponggawa dan golongan pangeran dalam memperebutkan kedudukan wali raja. Dan menurut kesaksian beberapa pedagang Inggris yang tinggal di Banten pada waktu itu, dikatakan bahwa para wali raja pengganti yang berganti selama beberapa kali tidak ada yang menyamai sifat bijak dan wibawa yang dipunyai Kiai Mas Patih. &lt;br /&gt;Setelah masa itu tidak ada lagi penguasa Banten yang disegani oleh bangsa asing, dan perseteruan antara keluarga bangsawan terus mewarnai sejarah Banten pada abad-abad berikutnya. Dan keadaan seperti itu biasanya dimanfaatkan dengan baik oleh VOC untuk memecah belah kekuasaan suatu kerajaan, sehingga pada abad ke 17 itu tidak ada lagi suatu kerajaan Islam yang mempunyai supremasi politik dan monopoli perdagangan di wilayah Nusantara.                   &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Aceh : tangguh di tengah surutnya kekuasaan Islam. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan Aceh adalah salah satu kerajaan yang sanggup bertahan terhadsap persaingan bangsa barat yang mulai berdatangan ke Nusantara dengan cara yang sistematis dan jauh lebih massif dari sebelumnya. Aceh lama merupakan suatu kerajaan pantai. Meskipun banyak daerah pedalaman yang menjadi taklukannya, Aceh lebih merupakan suatu kerajaan laut. Perdagangan yang ramai antara  Sumatra dan India hanya mengalami kemacetan sebentar ketika bangsa Portugis datang merebut Malaka. &lt;br /&gt;Pedir merupakan pelabuhan yang terpenting dalam ekspor lada dari Sumatra dan Aceh mungkin juga telah mengambil bagian dalam perdagangan tersebut sebelum Aceh menguasai daerah ini. Akan tetapi sumber tertua Portugis mengatakan bahwa Aceh mengadakan perdagangan lada hanya mulai tahun 1534. Pada tahun itu Diego da Siveira mendapatkan perahu-perahu Gujarat dan Aceh di Bab el Mandib, pintu masuk Laut Merah. Banyak hal-hal yang terjadi dan kabar-kabar mengenai orang Aceh yang membawa lada ke India. &lt;br /&gt;Pada tahun 1554-1555 kapal-kapal Portugis dikirim ke Laut Merah untuk dapat menangkap kapal-kapal Aceh dan Gujarat, akan tetapi tidak berhasil. Alasan yang dibuat-buat oleh Portugis untuk menangkapi kapal kapal Aceh itu adalah karena mereka tidak memiliki surat izin katau surat pas dari pimpinan Armada Portugis di Malaka. Dua kali bangsa Portugis berusaha untuk menangkap kapal-kapal Aceh, tapi dua kali pula mereka gagal melakukannya. Hal itu terjadi karena ketangkasan dan ketangguhan pelaut Aceh yang diakui oleh bangsa Portugis sendiri. Bukti lain dari ketangguhan itu adalah selama hampir seabad selama abad ke 17 Selat Malaka dibuat tidak aman oleh ulah para pelaut Aceh itu.&lt;br /&gt;Pada pertengahan abad ke 16 Aceh adalah ancaman yang nyata bagi Malaka yang pada waktu itu dikuasai oleh Portugis. Bangsa Portugis pun selalu cemas menghadapi Aceh yang setiap saat dapat menyerang Malaka secara terbuka. Pada tahun 1564 raja muda Portugis di Goa diberitahu bahwa Aceh mengirim suatu utusan ke Turki, Konstantinopel untuk meminta bantuan militer berupa meriam-meriam, para pembuat senjata, dan para penembak jitu. Utusan Aceh itu membawa banyak emas, lada dan memberi gambaran mengenai kekayaan-kekayaan atau keuntungan yang akan didapatnya dari kepulauan Nusantara dari perdagangan rempah-rempah, jika Portugis dapat disir dari Malaka. &lt;br /&gt;Bantuan itu tidak segera datang, karena adanya suatu halangan di Turki. Akhirnya hanya dua kapal yang berangkat dengan 500 orang Turki termasuk ahli-ahli senjata api, penembak berangkat menuju Aceh dan tiba di sana pada tahun 1566 atau 1567. Disamping dari Turki, Aceh juga meminta bantuan ke Jepara dan Kalikut. Barulah kemudian pada tahun 1568 Aceh mengadakan serangan terhadap  Malaka.&lt;br /&gt;Aceh begitu memusingkan orang-orang Portugis, sehingga uskup dari Gowa, yaitu Jorge Temudo mengusulkan kepada raja Portugal pada tahun 1569 untuk memblokir Aceh selama tiga tahun berturut-turut. Ia merasa bahwa strategi yang dijalankan orang-orang Portugis sebelumnya kurang efektif terhadap Aceh yang dengan segala kecerdikannya selalu mencari kawan yang menjadi lawan orang-orang Portugis di Srilangka dan India. Dalam hal ini si uskup mengakui bahwa orang Aceh adalah musuh yang paling berbahaya di Asia. &lt;br /&gt;Dalam menghadapi Aceh, Portugis merasa kewalahan dan kehilangan akal. Sebab semua daya upaya untuk memblokade kekuatan Aceh di lautan selalu gagal, dan malah berlaku sebaliknya, kapal-kapal Aceh beberapa kali berhasil mengepung Malaka dan  melakukan serangan.Selama tahun 1585 Aceh selalu menjadi pokok pembicaraan baik di Malaka maupun di Goa. Portugis berpikir hendak menyerang langsung Aceh hingga harus membuat peta kota Banda Aceh sebagai persiapan penyerbuan ini.&lt;br /&gt;Meski menyadarai bahwa dampak takluknya Aceh akan sangat menguntungkan kegiatan perdagangan Portugis di Malaka, tapi mereka tak kunjung berani untuk melakukan serangan. Hal ini seperti diakui oleh Portugis sendiri disebabkan karena Portugis tidak mempunyai kekuatan armada yang cukup untuk melakukan penyerbuan ke Aceh. &lt;br /&gt;Pada akhir abad ke 16 keadaan di Eropa membuat bangsa Portugis tidak dapat berbuat apa-apa terhadap Aceh karena sumber daya finansial dan manusia terkuras untuk kepentingan Eropa. Dan pada saat yang sama Aceh pun demikian, Kesultanan Aceh dibawah ‘Alaudin Ri’ayat Syah  tengah mengalami kesulitan dan sibuk menahan desakan Kesultanan Johor sehingga tidak ada kesempatan untuk menyerang Malaka. &lt;br /&gt;Pada periode akhir abad ke 16 ini Portugis  menganggap adalah masa tenang dalam hubungannya dengan Aceh, meskipun perdagangan rempah-rempah Aceh ke Laut Merah semakin tak terbendung. Namun demikian sebenarnya kondisi Aceh pada saat itu secara kekuasaan mulai sedikit melemah, karena beberapa kerajaan yang sebelumnya berada di bawah  pengaruh Aceh telah mampu melepaskan diri dari Aceh.&lt;br /&gt;Akan tetapi kemunduran itu dapat cepat teratasi, karena kepemimpinan Sultan Iskandar Muda mengembalikan kekuasaan Aceh  pada daerah yang sebelumnya pernah mereka kuasai. Pada masa pemerintahan Iskandar Muda (1607 – 1636) aktifitas peperangan Aceh dimulai lagi sehingga Aceh semakin memperluas daerah kekuasaannya hingga Deli, Johor, Bintan, Pahang, Kedah, Perak, dan Nias hingga tahun 1625.&lt;br /&gt;Aceh di bawah pemerintahan Iskandar Muda selama 20 tahun berhasil menekan kegiatan perdagangan yang dijalankan bangsa Eropa. Yang membuatnya mundur adalah kekalahan yang dialami ketika mereka menyerang Malaka pada tahun 1629. Kekalahan ini mungkin suatu pukulan besar bagi rasa percaya diri bangsa Aceh kala itu. Karena kekalahan ini Aceh memutuskan untuk mengadakan perjanjian dengan Belanda dan memberi izin kepada mereka selama 4 tahun untuk berdagang secara bebas tanpa pajak di seluruh wilayah kerajaan Aceh. Bahkan Belanda juga diajak untuk ikut dalam perdagangan timah di Perak. &lt;br /&gt;Pada akhir pemerintahan Iskandar Muda, di daerah pantai barat Sumatra pemerintahan setempat mulai merasakan kelonggaran dari pengontrolan pusat. Sehingga panglima-panglima mengambil keuntungan finansial bagi diri mereka sendiri dalam mengadakan perdagangan dengan pedagang-pedagang asing. Akhirnya suatu serangan Belanda ke Malaka pada tahun 1641 berhasil menimbulkan akibat yang sangat merugikan supremasi dagang dan peranan politik dari Aceh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7473472176854231904-1548562833324007319?l=pekerjamuseum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/feeds/1548562833324007319/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7473472176854231904&amp;postID=1548562833324007319&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/1548562833324007319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/1548562833324007319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/2009/09/kerajaan-islam-nusantara-bagian-2.html' title='Kerajaan Islam Nusantara (bagian 2)'/><author><name>Erwien To'tiL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16127221575751256267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/Sz4AfMOICqI/AAAAAAAAAQc/ljCFJ8iJQbE/S220/PB210370.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/SqC1Bg42aZI/AAAAAAAAAPE/_tbxzL4gfn4/s72-c/Kedatangan+Cornelis+de+Houtman+menemui+Petinggi+Banten+1596+(FW+Stapel,+ed.,+Geschiedenis+van+Nederlandsch-Indie,+Amsterdam,+1939).JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7473472176854231904.post-7040797998687369982</id><published>2009-09-03T23:03:00.001-07:00</published><updated>2009-09-03T23:15:52.840-07:00</updated><title type='text'>Kerajaan Islam di Nusantara (bagian 1)</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/SqCwWaQBDpI/AAAAAAAAAO8/lWC6WEcZKMs/s1600-h/Keadaan+pasar+di+daerah+Timur+Kerajaan+Banten+Pd+Abad+ke-17+(FW+Stapel,+ed.,+Geschiedenis+van+Nederlandsch-Indie,+Amsterdam,+1939).JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 160px; height: 71px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/SqCwWaQBDpI/AAAAAAAAAO8/lWC6WEcZKMs/s320/Keadaan+pasar+di+daerah+Timur+Kerajaan+Banten+Pd+Abad+ke-17+(FW+Stapel,+ed.,+Geschiedenis+van+Nederlandsch-Indie,+Amsterdam,+1939).JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377491854130482834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Samudera Pasai&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1128M di pantai timur Sumatra bagian utara terdapat Kesultanan Pasai yang dipimpin oleh laksamana laut Nazimuddin al Kamil dari dinasti Fathimiah di Mesir. Dinasti itu mendirikan Kesultanan Pasai dengan tujuan untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di pantai timur Sumatra. Untuk mencapai tujuan itu dinasti Fathimiah mengerahkan armadanya untuk merebut kota pelabuhan Kambayat di Gujarat, membuka kota pelabuhan Pasai, dan merebut daerah penghasil lada Kampar Kanan dan Kampar Kiri di Minangkabau. Sejak saat itu kota Pasai dijadikan pelabuhan utama pengekspor lada sedangkan Gujarat dijadikan pusat perdagangan lada yang dikirim dari Kampar Kanan dan Kiri melalui Pasai.&lt;br /&gt;Dinasti Fathimiah didirikan oleh Ubaid Ibn Abdillah pada tahun 976M dan bertahan hingga 1168M karena dimusnahkan oleh tentara Salahudin yang menganut Islam mazhab Syafi’i. Dengan musnahnya dinasti Fathimiah di Mesir, maka Kesulatanan Pasai terputus hubungan dengan Mesir, namun masih tetap berdiri. Pada tahun 1168M Kesultanan Pasai dipimpin oleh laksamana Kafrawi al Kamil. Laksamana Johan Jani dari pulau We, seorang peranakan India-Persi, berhasil merebut kekuasaan atas Pasai dari tangan laksamana Kafrawi al Kamil pada tahun 1204M. Kesultanan Pasai bertambah lama bertambah kuat, dan merupakan negara maritim yang paling kuat di Nusantara.&lt;br /&gt;Namun demikian, dinasti baru di Mesir, yaitu Dinasti Mamluk yang menganut agama Islam mazhab Syafi’i tidak menghendaki kelanjutan Kesultanan Pasai yang masih menganut aliran Syi’ah. Maka dari itu pada tahun 1284M dinasti ini mengirim Syaikh Ismail  ke pantai timur Sumatra bersama Fakir Muhammad, seorang ulama yang pernah menetap di pantai barat India, untuk menghilangkan pengaruh Syi’ah dan sekaligus mengambil alih kekuasaan dari penguasa pelabuhan Pasai.&lt;br /&gt;Di Pasai mereka bertemu dengan Marah Silu seorang anggota militer Pasai dengan nama Iskandar Malik. Syaikh Ismail berhasil membujuk Marah Silu untuk memeluk Islam Syafi’i. Pengikut Marah Silu yang bernama Seri Kaya dan Bawa Kaya, ikut masuk mazhab Syafi’I dan berganti nama Sidi Ali Chiatudin dan Sidi Ali Hasanudin. Dengan bantuan dinasti Mamaluk di Mesir, Marah Silu dinobatkan menjadi sultan di Samudera dengan gelar Malikul Saleh. Kerajaan Samudera merupakan negara tandingan Kesultanan Pasai dan Perlak yang masih menganut Syi’ah. Kerajaan itu terletak di muara sungai Pasai di pantai timur Sumatra menghadap selat Malaka. Pada tahun 1285M Kerajaan Samudera ini kemudian merebut Kesultanan Pasai yang beraliran Syi’ah dan menjadi kesultanan baru bernama Kesultanan Samudera Pasai.&lt;br /&gt;Sultan Malikul Saleh ditabalkan oleh Syaikh Ismail menjadi sultan negara Samudra Pasai atas nama Syarif Makah, yang menyingkir dari Baghdad ke Mesir sejak tahun 1258M, akibat serangan tentara Mongol. Penobatan Marah Silu oleh Syaikh Ismail menjadi sultan pertama Samudera Pasai didasarkan atas pertimbangan bahwa dinasti Mamluk membutuhkan orang asli (pribumi) yang kuat yang menganut aliran syafi’i, sehingga dapat membasmi aliran syi’ah yang merajalela di pantai timur Sumatra. Selain itu Marah Silu dianggap mampu merebut monopoli perdagangan lada dari tangan para pedagang Gujarat, Arab dan Persia yang beraliran Syi’ah. Dengan munculnya Kesultanan Samudera Pasai, Kesultanan Perlak banyak mengalami kemunduran. &lt;br /&gt;Samudera Pasai menjadi pelabuhan utama di pantai timur Sumatra bagian utara. Malikul Saleh kawin dengan putri Perlak Gangga Sari, keturunan sultan Aladdin Muhammad Amin bin Abdul Kadi. Dari putri ini Malikul Saleh mempunyai dua orang putra yaitu Muhammad dan Abdullah. Sultan Malikul Saleh wafat pada tahun 1297M dan digantikan oleh putra sulungnya Muhammad dengan gelar Sultan Malikut Thahir.  Putra kedua Malikul Saleh, Abdullah akhirnya menyeberang ke aliran syi’ah dan mendirikan Kesultanan Aru Barumun dengan gelar Malikul Mansur. Sultan Malikul Thahir memerintah sampai tahun 1326M kemudian digantikan oleh Sultan Ahmad Bahian Syah Malikul Thahir. &lt;br /&gt;Pada masa pemerintahan Malikul Saleh, negara Samudera Pasai mendapat kunjungan pengarang Marco Polo dalam perjalanannya dari Cina menuju Persia pada tahun 1292M. Sedangkan pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Bahian Syah Malikul Thahir, Samudera Pasai dikunjungi Ibnu Batutah dari Afrika Utara dalam perjalanannya ke Cina padavtahun 1345-1346M. Sultan Ahmad Bahian Syah Malikul Thahir wafat pada tahun 1349M. Sebagai penggantinya diangkat Sultan Zainul Abidin Bahian Syah. Putri dari Sultan Zainul Abidin ini kemudian kawin dengan Raja Parameswara yang mendirikan Kesultanan Malaka pada tahun 1404M. Akibat perkawinan itu, raja Parameswara memeluk agama Islam mazhab Syafi’i dan Malaka menjadi pusat agama di seluruh pantai barat dan timur Malaya.&lt;br /&gt;Nama lengkap Kerajaan Samudera Pasai adalah Samudera Aca Pasai, artinya “kerajaan Samudera yang baik dengan ibu kota Pasai.” Pada saat ini ibu kota Pasai itu sudah tidak ada lagi, letaknya kira-kira di sekitar daerah Blang Me. Adapun nama Samudera itulah yang dijadikan nama Sumatra sebagaimana yang kita kenal saat ini. Penyebutan itu dilakukan oleh orang-orang Portugis. Sebelumnya namanya adalah Pulau Perca. Musafir-musafir Tionghoa biasa menyebutnya Chinchou artinya “Pulau Mas”, seperti kita ketahui dari tulisan-tulisan I’Tsing. Raja Kertanegara menyebutnya Swarnabhumi yang artinya juga “Pulau Mas”.       &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Malaka&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Malaka didirikan oleh Parameswara, seorang raja pelarian dari Tumasik (Singapura) pada 1402 karena takut akan serangan balasan raja Pahang  dengan niat membalas dendam atas kematian saudaranya yang dibunuh oleh Parameswara. Dalam pelariannya, Parameswara menyingkir ke Muar, kemudian bersembunyi di Malaka yang pada waktu itu masih sebuah desa kecil di pantai barat Semenanjung, dan menjadi sarang perompak, bajak laut, dan nelayan. Di Malaka itulah dalam waktu singkat Parameswara dapat menjadi tokoh yang paling berkuasa.&lt;br /&gt;Pada tahun 1403 seluruh Cina  dikuasai oleh Kaisar Yung-lo dari dinasti Ming. Sejak Yung-lo berkuasa ia mulai menentramkan keadaan, memulihkan kesejahteraan rakyat, dan hubungan diplomasi Cina dengan negara-negara lain. Dalam kaitannya dengan politik diplomasi ini sang kaisar Yung-lo mengirimkan suatu ekspedisi ke Asia Tenggara dan Asia Barat guna menjalin kerjasama perdagangan yang ia harapkan mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Pada tahun 1403 ekspedisi pertama dari Cina berlayar menuju Jawa dan Kalikut dengan dipimpin oleh laksamana Yin Ching. &lt;br /&gt;Rombongan ekspedisi dari Cina itu kemudian singgah di Malaka. Dengan cerdik Parameswara menggunakan kesempatan itu untuk menemui Yin Ching dan memintanya menyampaikan permohonan kepada Kaisar Cina agar diakui sebagai penguasa Malaka. Laksamana itu menyanggupi, karena permintaan itu sesuai dengan tujuan ekspedisinya, yaitu memperluas jaringan kerjasama dalam perdagangan dengan negeri di luar Cina.  Pengakuan itu sangat berarti bagi Parameswara, karena Malaka akan mendapatkan perlindungan dari Cina jika suatu saat diserang oleh tentara Siam. Untuk memperoleh pengakuan dan perlindungan dari Cina itu, Parameswara mempersembahkan bunga emas sebanyak 40 tahil (1 tahil = 37.8 gram) kepada laksamana Yin Ching. Tentu saja persembahan itu sangat menyenangkan bagi Yin Ching mengingat kondisi ekonomi kekaisaran Cina pada saat itu.&lt;br /&gt;Pada tahun 1405 Parameswara secara langsung mengirim utusannya ke istana Kaisar Cina untuk secara resmi dan langsung meminta pengakuan dan perlindungan dari Kaisar Yung-lo. Akirnya sebagai tanda bahwa Kaisar Yung-lo memberikan pengakuan resmi kepada Paramesawara sebagai penguasa Malaka, ia menganugerahi utusan itu dengan sebuah cap, pakaian dari kain sutra dan payung kuning. Namun demikian pengakuan itu tidak mampu menutup keinginan Siam untuk menyerang Malaka. Pada tahun 1409 tentara Siam menyerbu Malaka, tapi untungnya pada tahun itu pula ekspedisi Kaisar Cina kembali datang ke Asia Tenggara. Ekspedisi itu dipimpin oleh laksamana Cheng Ho alias Sam Po Bo dengan ditemani oleh seorang Islam sebagai juru bahasanya bernama Ma Huan.&lt;br /&gt;Pada tahun 1409 itu Cheng Ho singgah di Malaka, dan memberikan tanda kepada Siam bahwa Malaka benar-benar sahabat kekaisaran Cina. Maka barang siapa memusuhi Malaka, maka akan mendapat serangan dari armada Cina. Untuk memperkuat tanda itu, Cheng Ho menghadiahkan kepada Parameswara genteng berwarna kuning untuk mengatap istana kerajaan Malaka. Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1411 Parameswara mengadakan kunjungan balasan ke istana kekaisaran Cina bersama 540 pengiringnya. Kunjungan itu disambut meriah oleh kaisar dan benar-benar mempererat hubungan Malaka dengan Cina. Sejak saat itu  tentara Siam tidak berani lagi menginjakkan kakinya di Malaka.&lt;br /&gt;Karena persahabatannya dengan Cina, kedudukan Parameswara semakin kuat. Ia terus membangun Malaka menjadi sebuah pusat perdagangan yang kaya raya. Letak Malaka sangat strategis. Setiap pedagang yang berlayar dari Laut Cina Selatan  setelah belok kea rah kanan dapat dengan tenang singgah di Malaka. Parameswara menjamin keselamatan dan keamanan semua pedagang yang singgah di Malaka. Pelayaran niaga pada waktu itu sangat bergantung pada angina laut. Biasanya para pedagang akan menunggu beberapa lama datangnya angin baik yang akan membawa singgah beberapa kapal dagang dari Cina, India, wilayah Nusantara lainnya yang sarat muatan barang dagang, terutama rempah-rempah dari wilayah timur Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Parameswara memeluk agama Islam mazhab Syafi’i, berkat bujukan putri dari Pasai, ia mengubah namanya menjadi Megat Iskandar Syah. Sejak saat itu banyak rakyat Malaka yang ikut memeluk agama Islam. Dengan demikian Malaka menjadi Kesultanan Islam dan kerajaan Islam pertama di Malaya. Perubahan status itu ternyata membawa pengaruh yang besar bagi Malaka, sejak tahun 1414 para pedagang Islam mulai bergeser ke arah Malaka dan mulai meninggalkan pelabuhan-pelabuhan di pantai timur Sumatra. Oleh karena itu diperkirakan pada akhir abad ke 15 Malaka telah mempunyai kedudukan sebagai pusat perdagangan di Asia pada umumnya, dan di Nusantara khususnya. &lt;br /&gt;Parameswara adalah raja Malaka yang berjasa dalam menyejahterakan rakyat Malaka, karena usahanya dalam membangun kota pelabuhan Malaka. Dan ia adalah sultan pertama di Malaya yang memeluk ajaran Islam Syafi,i karena pernikahannya dengan putri Pasai itu. Pada tahun 1424 Parameswara atau Sultan Megat Iskandar Syah meninggal dunia dan digantikan oleh putranya yang bernama Muhammad Syah. Sultan baru ini kemudian mengambil nama gelar Sri Maharaja, hal ini adalah untuk pertama kali seorang sultan Islam di Malaya mengambil gelar sri maharaja. Pemakaian gelar itu berdasarkan pengakuan yang diberikan kepadanya sebagai keturunan rajakula Sailendra di Sriwijaya, keturunan Balaputradewa. Sri Maharaja memerintah Malaka selama dua puluh tahun yaitu hingga tahun 1444.&lt;br /&gt;Selain dua raja itu, pada masa selanjutnya Malaka dipimpin oleh beberapa raja berikut ; Sri Parameswara Dewa Syah (1444 – 1446), Muzaffar Syah atau Raja Kassim (1446 – 1459), Mansur Syah (1459 – 1477), Alaudin Ri’ayat Syah (1477 – 1488) dan Mahmud Syah (1488 – 1528). Puncak kejayaan Malaka terjadi pada masa pemeritahan Ri’ayat Syah. Dibawah pemerintahan raja itu Malaka berhasil menyatukan semua kerajaan yang ada di Selat Malaka, Negara-negara pantai timur Sumatra juga tunduk kepada Malaka, pelabuhan –pelabuhan mereka sepi dari pedagang, karena semua perdagangan berpusat di Malaka. Sedangkan masa suram Malaka akan terjadi pada pemerintahan selanjutnya yaitu Mahmud Syah, karena pada 1511 kota pelabuhan ini harus tunduk di bawah kekuasaan Portugis. &lt;br /&gt;Penduduk asli Malaka adalah bangsa melayu yang mayoritas hidup sebagai nelayan. Sebagaimana digambarkan oleh Tome Pires pedagang-pedagang Malaka berasal dari Kairo, Mekka, Aden, Abesinia, Kiliwa, Malindi, Ormus, Parsi, Turki, Armenia, Gujarat, Goa, Malabar, Keling, Orisa, Sailan, Bengali, Arakan, Pegu, dan Kedah, yang semuanya dari arah barat wilayah Nusantara. Sedang dari arah utara Nusantara datanglah para pedagang Siam, Pahang, Patani, Kamboja, Campa, dan Cina. Selain itu ada juga beberapa pedagang yang datang dari wilayah Nusantara, seperti Tanjungpura, Lawe, Bangka, Lingga, Maluku, Banda, Bima, Timor, Madura, Jawa, Sunda, Palembang, Jambi, Indragiri, Kampar, Minangkabau, Siak, Aru, Batak, Pasai dan Pedir.&lt;br /&gt;Semua pedagang-pedagang itu bertemu di kota pelabuhan Malaka dan untuk beberapa waktu atau selamanya menetap di wilayah Malaka. Golongan pedagang dari Nusantara dan Cina tinggal di sebelah selatan sungai Malaka, yaitu daerah Hilir. Sedangkan pedagang dari wilayah barat tingal di sebelah utara sungai, yaitu daerah Upih. Setiap bangsa diberi lokasi tersendiri untuk membangun kediaman, yang disebut sebagai fondachi oleh bangsa Portugis. Kelompok itu ada di bawah kekuasaan seorang syahbandar, seorang tokoh pemimpin yang ditunjuk dari kelompoknya. Setiap fondachi ada di luar yuridiksi Kerajaan Malaka, syahbandar lah yang mempunyai kekuasaan serta mewakili kelompok dalam hubungannya keluar.&lt;br /&gt;Di Malaka, selain bangsawan dan pegawai tinggi, juga terdapat pedagang kaya raya yang memiliki tiga atau empat kapal dagang. Pedagang-pedagang ini terdiri dari baik pedagang Nusantara maupun pedagang asing seperti pedagang Gujarat, Jawa, Parsi, Arab, dan Bengala. Namun demikian para penguasa Malaka dengan kekuasaan feodalnya sangat membatasi hak-hak pedagang itu. Misalnya terdapat aturan bahwa sepeninggal para pedagang itu hak milik mereka dapat disita penguasa, dan anak perempuan mereka dapat dijadikan gundik.&lt;br /&gt;Berdasarkan hirarki kerajaan, raja membawahi seorang patih yang biasa disebut Paduka Raja di Malaka. Dia membawahi semua pejabat tinggi kerajaan, dari bendahara, bupati, dan seterusnya. Bendahara kerajaan memegang pimpinan tertinggi pengadilan, selain juga berkuasa atas urusan pajak kerajaan dan mempunyai wewenang menjatuhkan hukuman mati atas persetujuan laksamana dan tumenggung, sepengetahuan raja. Laksamana memimpin angkatan laut dan menguasai semua kapal, perahu jung, serta semua yang ada di lautan bagian wilayah kekuasaannya. Laksamana adalah pengawal raja, dan semua pejabat tinggi ada di bawah perintahnya. Kedudukannya adalah sejajar dengan Bendahara.&lt;br /&gt;Tumenggung adalah kepala pemerintahan kota dan bertangung jawab untuk menjaga keamanan dan ketertiban kota. Sebelum diserahkan kepada Bendahara para terdakwa diurus oleh Tumenggung, selain ia juga harus mengurus pajak dan barang dagangan. Jabatan Tumenggung ini hanya diduduki oleh orang-orang terpandang saja. Sementara itu di Malaka juga terdapat jabatan Syahbandar yang bertugas menerima kapten kapal atau perahu jung yang singgah di Malaka. Syahbandar itu kemudian mengantarkannya ke hadapan Bendahara, membagi gudang masing-masing, mengatur barang-barangnya, tempat tinggalnya dan lain sebagaiya. Pada masa kejayaan Malaka, di sana terdapat Syahbandar berbangsa Gujarat, Bengala, Pegu, Cina, dan Campa. Selain itu juga ada Syahbandar yang diangkat dari pedagang Pasai, Jawa, Maluku, Banda, Palembang, Tanjungpura, Lawe. Setiap pedagang yang datang ke Malaka berurusan dengan Syahbandar dan bangsanya masing-masing.&lt;br /&gt;Selain beberapa golongan bangsa dan jabatan penguasa tersebut, di Malaka juga terdapat sekelompok kecil golongan bangsawan yang berasal dari Lingga, Brunai, Pahang, dan Malaka sendiri. Mereka sangat disegani. Dalam tradisi Malaka, jika salah seorang diantara mereka dinobatkan sebagai ksatria kerajaan maka ia harus bersumpah setia serta menerima suatu lambing berupa kepingan logam yang dipakainya pada tangan kanannya. Para ksatria ini harus memiliki ketrampilan berperang, maka biasanya mereka enggan untuk ikut dalam kegiatan perdagangan. Untuk menopang gaya hidupnya yang mewah dan feodal, terutama para bangsawan Melayu, mempunyai daerah eksploitasi masing-masing. Mereka mengambil keuntungan dari para petani yang tinggal di wilayah kekuasaannya yang harus memenuhi kepentingan para bangsawan. &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Aceh&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Selain Pasai dan Pidie, Tome Pires menyebutkan adanya kekuatan ketiga yang masih berusia muda, yaitu o Regno dachei atau Kerajaan Aceh. Asal muasal kerajaan ini menurut Denys Lombard, masih sangat terselubung kabut kerahasiaan. Ia berpendapat bahwa kerajaan itu tidaklah terbentuk pada masa yang sudah sangat lama, tapi pendapat ini tidak dapat dipastikan, mengingat tabir sejarah pada beberapa dasawarsa sebelum kedatangan Portugis bisa dikatakan masih gelap.&lt;br /&gt;Ada beberapa keterangan yang dapat dihimpun terkait dengan tabir gelap sejarah Aceh ini, meski kebanyakan bersifat dongeng yang sulit untuk dijelaskan lebih lanjut. Menurut John Davis bangsa Aceh menganggap diri mereka dalah keturunan dari Imael dan Hagar (Ismail dan Hajar). Kemudian tiga abad kemudian Snouck Hurgronje seorang Indolog termasyhur mengatakan telah mendengar cerita dari Teungku Kutakarang, seorang ulama dan hulubalang Aceh (meninggal Nopember 1895), bahwa bangsa Aceh adalah keturunan dari percampuran Arab, Parsi, dan Turki.&lt;br /&gt;Menurut Hikayat Aceh yang berasal dari cerita turun-temurun yang beredar di Sumatra, mengkisahkan bahwa kerajaan Aceh terbentuk dari pembauran pemukiman raja-raja dari wilayah Makota Alam dan Dar ul-Kamal yang keduanya hanya terpisah oleh sungai. Kedua permukiman ini bergabung dengan cara mengawinkan anak-anak mereka, hingga kemudian Raja Makota Alam akhirnya memerintah seorang diri atas Aceh Dar us-Salam. &lt;br /&gt;Bagaimanapun asal kerajaan Aceh, pada abad ke 16 Aceh akan muncul sebagai kerajaan Islam yang  cukup disegani di kawasan Samudra Hindia. Penaklukan Goa lalu Malaka oleh Portugis pada awal abad itu telah mengacaukan lalu lintasenaklukan Goa lalu Malaka oleh Portugis pada awal abad itu telah mengacaukan lalu lintas perdagangan antar samudra. Banyak pedagang dari luar Nusantara yang dirugikan oleh dominasi Portugis, terutama pedagang Islam. Mereka yang berniaga antara Malabar dan Aden mulai tergusur oleh Portugis. Akibatnya lalu lintas perdagangan lada menjadi semakin terhambat. &lt;br /&gt;Para pedagang perantara (lada) yang mayoritas muslim itu dahulu merasa betah singgah di Malaka, kota pelabuhan di bawah naungan kesultanan Islam yang menjamin keselamatan mereka. Tapi akhirnya harus mencari alternative persinggahan lain sejak kota pelabuhan itu dikuasai oleh Portugis. Pedagang-pedagang itu tak mau lagi untuk membuang sauh di pintu benteng-benteng yang dibangun Portugis yang menamai benteng-benteng itu dengan nama Kristen yang indah-indah. Para pedagang itu lebih memilih untuk singgah di pelabuhan-pelabuhan Sumatra.&lt;br /&gt;Melihat perkembangan ini seorang raja Aceh mencoba untuk menggabungkan beberapa dari pelabuhan dagang di bawah kekuasaannya agar dapat mengawasi lalu lintas perdagangan di sana. Mengenai raja Aceh ini Tome Pires mengisahkan bahwa Aceh adalah negeri pertama di wilayah pantai Sumatra yang menghadap selat dan dipimpin oleh seorang raja beragama Islam yang gagah perkasa diantara tetangganya. Dalam peperangannya melawan Pidir, raja itu mampu menimbulkan banyak kerusakan pada pihak musuh. Oleh karena itu banyak wilayah yang takluk kepada Aceh. Wilayah seperti Lambry (sekarang disebut Lamreh), Tanah Biar, dan pulau-pulau Gamispola (pulau Weh dan sekitarnya) tunduk kepada Aceh. Agaknya raja Islam itu mempunyai 30 sampai 40 perahu lancara untuk mengarungi lautan, selain juga hidup dari hasil padi tanah Aceh.&lt;br /&gt;Raja yang dikisahkan oleh Tome Pires itu kemungkinan besar adalah raja Ali Mughayat Syah yang dikisahkan dalam kronik-kronik Aceh. Kapan raja itu naik tahta belum diketahui pasti, tapi nisan makamnya ditemukan dengan tanggal wafat 7 Agustus 1530. Beberapa sumber Portugis juga menyebutkan kemenangan-kemenangan yang diperoleh oleh Ali Mughayat Syah. Disebutkan ia telah menaklukkan Deli, Daya, lalu Pidir dan Pasai (1524). Pada Mei 1521 ia juga berhasil mengalahkan armada Portugis yang dipimpin oleh Jorge de Brito di laut lepas. Raja Ali Mughayat Syah inilah yang dianggap sebagai pendiri kekuasaan Aceh yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;Ali Mughayat Syah digantikan oleh anak sulungnya yaitu Salahudin (Salah ad-Din). Ia menyerang  Malaka pada tahun 1537, tetapi tidak berhasil. Sekitar tahun 1539 Salahudin digantikan oleh saudaranya yaitu Alaudin Ri’ayat Syah al Kahhar, anak bungsu dari Ali Mughayat Syah. Raja muda inilah yang semakin mengukuhkan kekuasaan kesultanan  Aceh di bagian utara Sumatra. Mendez Pinto yang singgah di Sumatra pada tahun 1539 menyebut adanya perang antara orang Batak di pedalaman dan balatentara Aceh yang katanya mempunyai lascar-laskar orang Turki, Kambay dan Malabar. &lt;br /&gt;Di bawah kepemimpinan Alaudin, Aceh menyerang Malaka dua kali yaitu pada tahun 1547 dan 1568, kemudian ia menaklukkan Aru pada tahun 1564. Pada tahun 1562 ada perutusan Aceh yang sampai di Istambul dengan tugas meminta meriam kepada Sultan Turki. Sewaktu wafat pada 28 September 1571 Alaudin meninggalkan beberapa anak dan cucu yang kemudian saling berselisih secara terbuka. Alaudin digantikan oleh Ali Ri’ayat Syah yang juga mencoba dua kali merebut Malaka yaitu pada tahun 1573 dan 1575. &lt;br /&gt;Ali Ri’ayat kemudian wafat pada tahun 1579 dan dimulailah kemelut keluarga kerajaan, hingga hanya dalam waktu beberapa bulan saja ada berturut-turut tiga sultan yang menjadi raja Aceh (diantaranya seorang anak berumur 4 tahun, Sultan Muda). Sultan terakhir, Zainal Abidin, mati  terbunuh lalu tahta kerajaan diduduki oleh raja dari luar dinasti, yaitu Alaudin dari Perak. Pada satu sisi peristiwa ini adalah suatu kemunduran, tapi pada sisi lain hal itu menunjukkan betapa cakrawala Aceh yang dahulu masih terbatas, telah melebar. &lt;br /&gt;Alaudin, raja Aceh dari Perak itu yang juga dinamakan Mansur Syah pada Agustus 1582 mepersenjatai sebuah armada untuk menyerang Johor. Dan sekitar tahun 1586 di tengah persiapannya untuk menyerang Malaka dengan 300 kapal, ia dibunuh oleh jenderalnya yang bernama Mora Ratisa. Hikayat Aceh tidak banyak bercerita tentang ini, kecuali naik tahtanya Ali Ri’ayat Syah yang juga dinamakan Raja Buyung yang disebut sebagai putra Munawar Syah raja Indrapura, raja vassal tawanan Aceh. Apakah Mora Ratisa dan Ali Ri’ayat Syah adalah orang yang sama, tidak banyak diketahui kecuali batu nisan makam Ali Ri’ayat Syah ditemukan dengan tanggal wafat 28 Juni 1589. Selain itu menurut J.H. van Linschoten yang melintasi perairan Nusantara pada tahun 1587-1588 menuliskan bahwa pada waktu itu Aceh sangat mengganggu perdagangan Portugis karena berhasil menguasai sendiri Selat Malaka.       &lt;br /&gt;Setelah meninggalnya Ali Ri’ayat Syah atau Raja Buyung, tahta kerajaan Aceh ditawarkan kepada seorang tua dari Aceh, seorang nelayan menurut John Davis, meski ada pula yang mengatakan bahwa ia seorang bangsawan. Setelah beberapa kali menolak akhirnya si kakek menerimanya dan mengambil nama resmi Alaudin Ri’ayat Syah Sayyid al Mukammil. Pemerintahan raja tua ini berlangsung selama 15 tahun, yaitu hingga tahun 1604 bersamaan waktunya dengan kedatangan bangsa Belanda dan Inggris di laut-laut selatan. Kelak dari raja tua inilah terlahir seorang cucu yang akan menjadi raja besar, yaitu  Sultan Iskandar Muda yang membawa Aceh pada masa kejayaannya di awal abad ke 17.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Demak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Letak Demak sangat menguntungkan baik untuk perdagangan maupun untuk pertanian. Pada zaman dahulu wilayah Demak terletak di tepi selat di antara pegunungan Muria dan Jawa. Sebelumnya selat itu rupanya selat itu agak lebar dan dapat dilayari dengan baik sehingga kapal dagang dari Semarang dapat mengambil jalan pintas itu untuk berlayar ke Rembang. Tapi sejak abad ke 17 selat itu tidak lagi dapat dilayari setiap saat.&lt;br /&gt;Pada abad ke 16 Demak telah menjadi gudang padi dari daerah pertanian di tepian selat tersebut. Konon, sebelumnya kota Juwana merupakan gudang padi bagi wilayah itu sebagaimana Demak. Tapi sejak 1513 Juwana dihancurkan dan dikosongkan oleh Gusti Patih, panglima besar kerajaan Majapahit yang bukan Islam. Setelah jatuhnya Juwana, Demak menjadi penguasa tunggal di wilayah selatan pegunungan Muria.&lt;br /&gt;Jepara terletak di sebelah barat pegunungan yang dahulu adalah pulau (Muria). Jepara mempunyai pelabuhan yang aman yang (semula) dilindungi oleh tiga pulau kecil. Letak pelabuhan Jepara sangat menguntungkan bagi kapal-kapal dagang yang lebih besar, yang berlayar lewat pantai utara Jawa menuju Maluku dan kembali ke barat. Pada abad ke 17 ketika jalan pelayaran pintas di sebelah selatan pegunungan ini tidak lagi dapat dilayari dengan perahu besar karena telah menjadi dangkal oleh endapan Lumpur, maka Jepara menjadi pelabuhan Demak.&lt;br /&gt;Yang menjadi penghubung antara Demak dan daerah pedalaman di Jawa bagian tengah adalah sungai Serang yang bermuara di Laut Jawa antara Demak dan Jepara. Pada abad ke 18 sungai itu masih dapat dilayari oleh perahu-perahu dagang berukuran kecil. Anak-anak sungai Serang bersumber di pegunungan Kapur Tengah. Di selatan pegunungan tersebut terletak daerah-daerah tua Jawa bagian tengah, yaitu Pengging dan Pajang. &lt;br /&gt;Pendiri kerajaan Demak adalah Raden Patah, seorang putra raja Majapahit dari istri Cina yang dihadiahkan kepada raja Palembang. Kerajaan Islam pertama di Jawa ini berdiri dari tahun 1475 dan bertahan hingga 1550. Adanya unsur Cina dalam berdirinya Demak ini diperkuat oleh Tome Pires, Berita-Berita abad ke 17 dan tradisi Jawa Barat menginformasikan bahwa terdapat keturunan Cina yang telah memeluk Islam berasal dari Gresik. Sebelum mendirikan kerajaan Demak, keturunan Cina tersebut telah menjadi patih Majapahit. Menegaskan unsur Cina dalam dinasti Demak, beberapa berita abad ke 17 dan Hikayat Jawa Barat juga mengatakan bahwa asal-usul dinasti Demak itu berasal dari Cina. Mereka telah memeluk Islam ketika menetap di Demak dan menjadi patih yang terhormat di Demak.&lt;br /&gt;Dalam naskah cerita dan babad tanah Jawa, raja Demak kedua sebagai pengganti Raden Patah yang wafat pada 1518 adalah Pangeran Sabrang Lor atau disebut juga Pate Unus (Sultan Yunus). Nama Sabrang Lor itu ternyata merujuk kepada daerah di seberang utara tempat asal kakeknya, yaitu Kalimantan barat daya. Atau mungkin juga merujuk kepada Jepara tempat ia berkuasa sebagai Pate sebagaimana diberitakan orang-orang Portugis. Selain itu Sabrang Lor juga sering dikaitkan dengan ekspansi yang dilakukannya ke wilayah seberang laut di utara (lor) yaitu Palembang (Sumangsang) atau mungkin juga serangan armada Demak yang dipimpinnya terhadap Malaka, yang terletak di seberang utara (lor) selat, pada 1512-1513 yang sedang dikuasai oleh Portugis.&lt;br /&gt;Serangan Demak terhadap Malaka tersebut memang mengalami kegagalan dan berakhir dengan hancurnya armada laut Demak. Armada laut itu adalah gabungan armada laut Palembang dan pelabuhan-pelabuhan Jawa yang dihimpun oleh Pate Unus. Dikisahkan oleh Tome Pires, dari puluhan kapal yang tergabung dalam armada laut itu hanya kembali 10 kapal jung dan 10 kapal barang. Pada waktu itu Pate Unus memerintahkan supaya sebuah kapal perang jung besar berlapis baja, yang sebenarnya dapat diselamatkannya, sengaja didamparkan di pantai Jepara, sebagai kenang-kenangan akan perang yang dilancarkannya.  &lt;br /&gt;Menurut Tome Pires, yang muncul sebagai raja kedua Demak adalah Pate Rodim (Patih Rodin) junior atau orang-orang Portugis menyebutnya Pate Unus. Konon Pate Unus ini mempunyai armada laut yang terdiri dari 40 kapal Jung yang ia himpun dari semua daerah taklukannya. Ia mengatakan  bahwa kakek Pate Unus berasal dari Kalimantan Barat Daya dan terlahir dari kalangan awam. Pada tahun 1470 ia pindah ke Jepara dan berprofesi sebagai pedagang. Dengan melakukan perkawinan dan menghimpun banyak pengikut, kemudian ia dapat memperluas pengaruhnya. Tome Pires, mengatakan bahwa Pate Unus menggantikan ayahnya dalam usia 17 tahun yaitu pada tahun 1507. &lt;br /&gt;Tokoh Pate Unus  atau Pangeran Sabarang Lor ini memang banyak menimbulkan perdebatan di kalangan akademisi. Terlepas dari semua keterangan yang disampaikan oleh Tome Pires diatas, keterangan yang cukup akurat tentang figur Pate Unus yang juga disebut Pangeran Sabrang Lor  adalah putra pertama Raden Patah, yang tinggal di Jepara, tapi kemudian menggantikan ayahnya sebagai sultan Demak pada 1518.  Ia berkuasa hingga tahun 1521, karena meninggal dengan sebab paru-paru yang membengkak yang mungkin akibat dari tusukan keris (benda tajam). Pate Unus ini tidak mempunyai keturunan, maka adiknya yang bernama Sultan Trenggana menggantikannya sebagai sultan Demak. &lt;br /&gt;Menurut Serat Kandha raja Demak ketiga adalah Tranggana atau Trenggana. Ia adalah saudara sultan sebelum dia yaitu Pangeran Sabrang Lor, kedua-duanya adalah putra penguasa pertama yaitu Raden Patah. Pangeran Trenggana ini kemudian dikisahkan gugur pada 1546 dalam ekspedisinya ke Panarukan, ujung timur Jawa. Trenggana diperkirakan memerintah Demak pada tahun 1504 atau 1518 hingga 1546. Dalam rentang itu wilayah kekuasaan Demak terus diperluas ke barat dan ke timur, selain juga Masjid Demak dikokohkan kembali sebagai simbol kekuasaan Islam.&lt;br /&gt;Berkaitan dengan Trenggana ini Tome Pires menyebutnya sebagai Pate Rodin junior yang ia prediksi lahir pada tahun 1483. Tome Pires sendiri berada di Jawa pada waktu yang sama dengan masa kekuasaan Trenggana juga menyatakan bahwa ia tak begitu terkesan dengan raja Demak ketiga itu. Menurutnya raja itu terlalu menyibukkan diri untuk berfoya-foya dan mengabaikan urusan Negara. Armada laut Demak yang sebelumnya berkekuatan 40 kapal Jung pada masa Trenggana hanya tinggal 10 kapal Jung saja. Namun demikian Tome Pires tidak mengikuti  pemerintahan Trenggana secara utuh, sehingga ia tak dapat memberi kesimpulan yang  meyakinkan tentang seluruh periode pemerintahan Trenggana.      &lt;br /&gt;Berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Tome PIres, justru pada masa pemerintahan Sultan Trenggana-lah Demak sangat ambisius melancarkan serangkaian aksi militer, mengalahkan semua pelabuhan independent di bagian utara Jawa dan menghancurkan hampir semua kerajaan Hindu di pulau Jawa.&lt;br /&gt;Demak banyak melakukan ekspansi Untuk menghadang masuknya pengaruh Portugis yang ingin membangun basis kekuatan di wlilayah barat Jawa, setelah menguasai Malaka, Demak mulai melakukan ekspansi ke wilayah Jawa bagian barat. Ekspansi tersebut dimulai dengan suatu ekspedisi yang dipimpin oleh Syeh Nurullah yang kemudian dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Ekspedisi ini kemudian berhasil melahirkan kerajaan Cirebon dan Banten. Bersamaan dengan itu terjadilah proses Islamisasi daerah-daerah yang dikuasai oleh Demak.           &lt;br /&gt;Menurut cerita daerah Banyumas dan Bagelen, Jawa bagian tengah, masuk lingkungan pengaruh Demak setelah Senapati Mangkubumi masuk Islam, dan beberapa penguasanya dapat ditundukkan oleh tentara Demak. Di Jawa bagian tengah ini sebagain punggawa Majapahit mengungsi dan  membangun sebuah kerajaan Hindu baru yang dinamakan Pengging. Tapi sejarah Pengging ini hanya berlangsung singkat, karena pada tahun 1530 pasukan Demak berhasil memusnahkannya. &lt;br /&gt;Selain ekspansi ke wilayah Pasundan di barat, Demak juga berusaha menundukkan hegemoni Majapahit di pedalaman Jawa bagian timur. Persaingan antar kedua kerajaan itu adalah persaingan antara dua kekuatan lama dan kekuatan baru. Majapahit adalah kekuatan lama yang dibantu oleh vasal-vasalnya dari Klungkung, Pengging, dan Terung. Sementara itu Demak adalah kekuatan baru, barisan Islam yang terdiri dari para ulama Kudus, imam masjid Demak di bawah pimpinan Pangeran Ngudung. Menurut sejarah Banten, konrontasi antara Demak melawan sisa-sisa kekuasaan Majapahit berlangsung selama beberapa tahun. Baru pada tahun 1527 Majapahit dapat ditaklukkan dan raja Majapahit terakhir, Brawijaya, menghilang.&lt;br /&gt;Pada tahun yang sama (1527) kota pelabuhan Tuban berhasil ditaklukan oleh Demak. Tuban adalah salah satu negara vasal Majapahit yang penguasanya sudah lama masuk Islam. Setelah itu secara berturut-turut Demak menundukkan Wirasari (1528), Gegelang (Madiun) pada tahun 1529, Mendangkung (Mdang Kamulan atau Blora) ditundukkan pada tahun 1530. Kemudian Surabaya ditundukkan pada tahun 1531, Pasuruan pada 1535, Lamongan, Blitar, Wirasaba, ketiganya pada tahun 1541 dan 1542. Gunung Penanggungan sebagai benteng para elite religius Hindu Jawa juga ditundukkan pada tahun 1543, Mamenang (Kediri) pada tahun 1549, Sengguruh (Malang) pada tahun 1545. &lt;br /&gt;Sementara itu Panarukan dan Blambangan di ujung timur Jawa juga mulai berusaha ditaklukkan. Pada saat itu Blambangan adalah kerajaan Hindu terakhir yang masih tersisa di Jawa. Ada yang mengatakan bahwa Blambangan berhasil ditaklukkan Demak pada 1546, sementara sumber yang lain mengatakan bahwa pada tahun itu Demak gagal menaklukkan Panarukan, karena Sultan Trenggana gugur dalam pertempuran.  &lt;br /&gt;Usaha untuk menaklukkan Panarukan dan Blambangan ini adalah usaha yang cukup menyita tenaga Demak. Awalnya Demak mengalami kegagalan dalam menaklukkan Panarukan melalui serangan militer. Kekalahan pertama itu digunakan oleh Trenggana untuk melakukan cara lain dengan meng-Islamkan populasi mereka, membuat persekutuan dengan para bangsawan yang mau menerima Islam, dan mulai menempatkan beberapa pejabat baru di kota-kota wilayah pengaruh Blambangan. Setelah merasa cukup, Trenggana pada 1546-1547 kembali melakukan ekspansi militer ke Blambangan dengan dibantu oleh pasukan Portugis yang telah direkrut oleh Hasanuddin penguasa Banten. Setelah melakukan pengepungan selama 3 bulan dengan kekuatan 1000 kapal dan 40.000 pasukan, pasukan Demak tak kunjung berhasil menaklukkan Blambangan. Hingga naas, menimpa Trenggana  karena lepas kendali ia menghina salah satu punggawanya, dan karena dendam hinaan itu si punggawa menikamnya hingga tewas.  &lt;br /&gt;Meskipun Sultan Trenggana wafat tanpa sempat menetapkan Demak sebagai kelanjutan dari kekuasaan Majapahit, penaklukan yang dilakukannya menandai awal penyebaran Islam ke sebagian besar wilayah Jawa, dengan perkecualian beberapa komunitas yang hidup di dataran tinggi dan bagian timur dari pulau Jawa. Sampai penghujung abad ke 16 kerajaan Blambangan adalah kerajaan Hindu yang masih bertahan di Jawa.&lt;br /&gt;Dari ulasan tentang tiga raja Demak diatas, terlepas dari kesimpang-siuran kronologi waktu kekuasaan masing-masing, dapat disimpulkan bahwa Demak dipimpin oleh tiga raja yaitu Raden Patah yang memerintah pada tahun 1475 hingga 1518. Kedua adalah Pate Unus, yang juga berkuasa di Jepara dengan gelar Pangeran Sabrang Lor dan memerintah Demak pada tahun 1518 hingga 1521. Ketiga adalah Tranggana atau Trenggana atau Ki Mas Palembang yang memerintah pada 1521 hingga 1546. Raja ketiga ini adalah raja yang menyatakan dirinya sebagai raja Islam dan sultan yang berdaulat. Ia memperluas wilayah dari timur ke barat, termasuk menghempaskan ibu kota Majapahit untuk terakhir kali pada tahun 1527.  &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cirebon&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di wilayah Jawa bagian barat, daerah yang sring disebut dalam legenda Sunda sebagai daerah kekuasaan raja-taja yang dianggap penting ialah Pajajaran dan Galuh. Keraton Pajajaran konon terletak dekat kota Bogor (sekarang). Kota pelabuhan di pantai utara Pajajaran terletak dekat muara Ciliwung, lokasi Jakarta (sekarang). Sebelum zaman Islam tempat itu bernama Sunda Kalapa hingga kemudian diubah menjadi Jayakarta lalu kelak menjadi Batavia dan kemudian menjadi Jakarta hingga saat ini. &lt;br /&gt;Sementara itu daerah Galuh dahulu terletak di sebelah barat dan barat daya kota Cirebon (sekarang). Tidak diketahui dengan tepat tempat tinggal raja-raja Galuh dahulu. Dapat diduga, Indramayu (mungkin dahulu bernama Dermayu) dekat muara Cimanuk, dahulu adalah kota pelabuhan Kerajaan Galuh, kerajaan tua di Sunda. Akibat endapan lumpur, pangkalan lautnya sekarang tidak berarti lagi.    &lt;br /&gt;Menurut Sejarah Banten Menurut Tome Pires, ayah dari Pate Rodin (senior) adalah  tokoh pertama yang mendirikan pemukiman Islam di wilayah itu. Pada saat itu diketahui bahwa di daerah pesisir Jawa bagian tengah, antara Cirebon dan Demak terdapat kota pelabuhan Losari, Tegal, dan Semarang, ketiganya adalah pengekspor beras. Dalam kondisi seperti itu wajar jika terjadi hubungan kerjasama antara Demak dengan daerah-daerah di sebelah barat Jawa. Jauh sebelumnya telah terjadi kerjasama antara wilayah barat Jawa dengan wilayah timur, yaitu antara pelabuhan Sunda Kelapa dengan pelabuhan Galuh.&lt;br /&gt;Bukti bahwa pada awal abad ke 16 Cirebon telah ramai kegiatan dagangnya dan telah mempunyai hubungan yang baik dengan Malaka adalah keterangan Tome Pires yang menyebutkan nama Pate Kadir Syahbandar koloni Cirebon di Upih Malaka. Pate Kadir adalah Syahbandar terkemuka yang mempunyai hubungan  baik dengan raja. Dengan keterangan itu Tome Pires ingin mengatakan bahwa sebelumnya komunitas Islam di Cirebon telah dirintis lama, jauh hari sebelum berdirinya kekuasaan Islam di wilayah itu. &lt;br /&gt;Terlepas dari keterangan itu, sebagaimana banyak dikisahkan pendiri kerajaan Cirebon adalah seorang perintis agama Islam yang sesudah ia meninggal disebut sebagai Sunan Gunung Jati, sesuai dengan nama bukit di dekat Cirebon tokoh itu dimakamkan. Laporan dan kisah pejalanan bangsa Portugis banyak memuat kisah tentang tokoh penyebar Islam itu, yang kemudian berkembang menjadi seorang negarawan dan pendiri kerajaan Cirebon dan Banten. Dalam sejarah Banten, menyebutkan sunan itu bernama Nurullah kemudian terkenal dengan sebutan Syekh Ibnu Molana. Sementara itu penulis Portugis mengenalnya dengan dua nama, yaitu  Falatehan atau Tagaril. &lt;br /&gt;Tokoh yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati itu berasal dari Pasai. Ia kemudian berangkat haji ke Mekkah, ketika kerajaan Islam Pasai ditaklukkan oleh Portugis pada tahun 1521. Sepulang dari Mekkah ia tidak kembali lagi ke Pasai, melainkan pergi menuju Jawa, yaitu Demak yang baru beberapa puluh tahun menyatakan diri sebagai kerajaan Islam. Di Demak Nurullah disambut dengan baik oleh Sultan Trenggana penguasa Demak saat itu, bahkan menurut cerita ia diberi hadiah saudara perempuan raja untuk dijadikan istri. &lt;br /&gt;Dengan izin dan bantuan Sultan Tenggana, pada tahun 1524 Nurullah berangkat dari Demak menuju Banten untuk mendirikan jama’ah atau komunitas Islam di wilayah Pajajaran itu. Selanjutnya menurut pemberitaan Portugis, Nurullah yang kemudian menjadi penguasa Banten itu pada 1546 ikut serta dalam serangan Demak ke ujung timur Jawa yaitu Panarukan, suatu serangan yang berakibat pada wafatnya Sultan Trenggana. Maka sesudah melemahnya kekuasaan Demak, akibat wafatnya Sultan, digunakan oleh Nurullah untuk berpindah dari Banten dan menetap di Cirebon dan mengubah kota pelabuhan itu menjadi ibu kota kerajaan yang merdeka dari kekuasaan Demak.      &lt;br /&gt;Ketika ia menetap di Cirebon, usia Nurullah yang kemudian menjadi Sunan Gunung Jati telah mencapai 60 tahun. Tak jelas benar hingga saat ini apa alasan tokoh itu untuk berpindah dari Banten menuju Cirebon. Yang jelas sebelum kedatangannya terdapat tanda-tanda pengaruh kebudayaan Majapahit, yang keluarga rajanya diusir oleh orang-orang Islam pada 1526 dari wilayah Cirebon. Juga tidak jelas apakah Sunan Gunung Jati segera sesudah menetap di Cirebon, mulai mendirikan keratin besar. Yang jelas  tokoh itu memerintahkan untuk memperluas tenmpat ibadah yang ada, dengan gaya arsitektur yang sama dengan Masjid Suci Demak. Angka tahun yang dipahat pada sebuah batu di bangunan itu membuktikan bahwa masjid raya di Cirebon di bangun pada masa pemerintahan raja pertama yang merdeka di kota itu.&lt;br /&gt;Menurut Sejarah Banten, Nurullah menetap di Banten hingga hingga tahun 1552. Kabarnya ia menyerahkan Cirebon yang sudah lama dikuasainya kepada salah seorang putranya yang hanya dikenal dengan sebutan anumerta Pangeran Pasareyan, sesuai dengan nama desa dimakamkannya. Pangeran itu adalah putra pertama Nurullah yang dikawinkan dengan putri Sultan Trenggana, namun sayang pangeran itu mati muda. Pada tahun 1552 pangeran itu meninggal, sehingga Nurullah mengambil keputusan untuk meninggalkan Banten dan menetap selama-lamanya di Cirebon. Nurullah, raja tua yang mungkin semasa hidupnya telah memakai gelar susuhunan itu akhirnya meninggal  dalam usia 80 tahun pada tahun 1570 dan dimakamkan di sebuah bukit bernama Gunung Jati yang konon semula bernama gunung Sembung.&lt;br /&gt;Pengaruh agama yang meluas dari Cirebon ke Sunda ternyata besar sekali. Makam Susuhunan suci dari Gunung Jati merupakan tempat ziarah yang paling ramai dikunjungi orang di Jawa Barat. Penyebaran agama Islam, dan meluasnya bahasa dan kesenian Jawa ke tanah Sunda bagian timur adalah pengaruh Cirebon.&lt;br /&gt;Sunan Gunung Jati kemudian digantikan oleh seorang cicitnya yang hanyan terkenal dengan gelar Pangeran Ratu atau Panembahan Ratu. Tidak banyak diketahui informasi tentang raja ini. Yang jelas diketahui ia telah mengalami kemakmuran Banten sebagai ibu kota pelabuhan dan runtuhnya kerajaan Hindu terakhir di Jawa bagian barat, yaitu Pakuwan Pajajaran. Tidak ada bukti bahwa perajurit Cirebon ikut bertempur dalam penaklukan Pakuwan.  Selain itu juga diketahui bahwa raja Cirebon kedua itu mengalami masa kematian Sultan Pajang pada 1586 dan lahirnya Kerajaan Mataram di Jawa bagian tengah sebelah selatan.Dalam hubungannyab dengan Mataram (Islam) ini dikabarkan bahwa Panembahan Senopati raja Mataram pada tahun 1590 membantu para pemimpin agama Cirebon, Pangeran Ratu, untuk mendirikan atau memperkuat tembok yang mengelilingi kotanya. Mungkin pada waaktu itu raja Mataram itu menganggap Cirebon suatu pertahanan militer di bagian barat kerajaannya.&lt;br /&gt;Dapat dipastikan bahwa Pangeran Ratu dari Cirebon, pengganti Sunan Gunung Jati dianugerahi usia panjang sekali. Ia baru meninggal pada tahun 1650. Penggantinya adalah seorang raja yang dikenal sebagai Pangeran Girilaya.   &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Banten&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pemberitaan bangsa Portugis dapat dikatakan bahwa bangsa barat menganggap Raja Majapahit dan Raja Pajajaran sebagai dua penguasa atas Pulau Jawa. Menurut Tome Pires pelabuhan Hindu, Sunda Kalapa, dekat muara sungai Ciliwung, pada zamannya adalah pelabuhan yang terpenting di wilayah Jawa bagian barat, lebih penting dari Banten dan Cirebon. Sunda Kalapa terletak di sebelah hilir Pakuwan, kota kerajaan raja-raja Pajajaran. Pires menamai tempat ini Dayo, sebagaimana ia menyebut ibu kota kerajaan Majapahit, yang mungkin berasal dari kata Sunda “dayeuh” yang artinya ibu kota. Berdasarkan suatu prasasti pada Batu Tulis, di Bogor, Husein Djajadiningrat menunjukkan adanya kemungkinan bahwa Pakuwan, kota kerajaan Pajajaran  didirikan pada tahun 1433-1434.&lt;br /&gt;Pada 1522 Panglima Portugis Henrique Leme mengadakan perjanjian persahabatan dengan raja Hindu Pajajaran yang memakai gelar Samiam (Sang Hyang). Boleh jadi raja Sunda itu bekerjasama dengan maksud untuk mendapat bantuan dalam menghadapi kekuasaan Islam di Jawa bagian tengah yang mulai mengambil alih beberapa wilayah bekas kekuasaan Majapahit. Namun bangsa Portugis tidak dapat mengambil keuntungan dan kesempatan untuk memperkuat kekuatan dagangnya, karena tidak lama kemudian pelabuhan Kalapa itu akan dikuasai oleh orang-orang Islam yang berkuasa di Banten.     &lt;br /&gt;Sebagaimana telah dituliskan di atas bahwa usaha Demak untuk mengirimkan Nurullah pada tahun 1524 untuk membuka komunitas muslim di wilayah Banten dapat dianggap sebagai upaya pertama pendirian Kerajaan Banten. Sebelumnya wilayah itu adalah bagian dari kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Sesampai di Banten Nurullah segera berhasil menyingkirkan penguasa Sunda, vassal Pajajaran dengan bantuan pasukan Islam dari Demak. Untuk meng-Islamkan Jawa bagian barat, Nurullah atau Falatehan atau Sunan Gunung Jati itu  melakukan ekspedisi lanjutan ke wilayah pedalaman dan pelabuhan-pelabuhan pantai utara Jawa bagian barat, terutama pelabuhan Sunda Kalapa. Terjadi pertempuran sengit untuk memperebutkan pelabuhan Sunda itu, mengingat letaknya tak jauh dari pusat kerajaan Pakuwan (Bogor). Kota pelabuhan ini akhirnya dapat ditaklukkan oleh Banten pada tahun 1527 dan sebagai tanda betapa pentingnya kota itu bagi Islam, nama kota pelabuhan itu diganti menjadi Jayakarta. &lt;br /&gt;Peristiwa penaklukkan ini telah menggagalkan usaha  Portugis di bawah pimpinan Henri Leme untuk mengadakan perjanjian dengan raja Sunda yang merupakan kelanjutan dari kerjasama sebelumnya sejak tahun 1522. Setelah takluk di bawah kekuasaan Banten, nama Sunda Kelapa diganti dengan Jayakarta. Sejak saat itu kedudukan pelabuhan Banten semakin penting dalam kegiatan perdagangan, terutama perdagangan lada.&lt;br /&gt;Penguasa Islam Banten dan Jayakarta rupanya tidak berusaha menyerang kota Kerajaan Pakuwan, yang terpotong hubungannya dengan pantai oleh perluasan daerah yang dilakukan oleh penguasa Islam. Nurullah kemudian melanjutkan ekspansinya ke arah Cirebon, kota pelabuhan Cina-Islam yang juga telah menjadi bagian dari kekuasaan Demak. Selama raja Demak, Sultan Tranggana hidup, penguasa Banten dan Cirebon itu memposisikan diri sebagai raja vassal Demak. Baru setelah wafatnya sultan Demak tersebut Nurullah atau Sunan Gunung Jati mulai membebaskan Banten dan Cirebon dari pengaruh Demak.      &lt;br /&gt;Menurut Sejarah Banten, Hasanuddin dianggap sebagai pendiri Kerajaan Banten. Meskipun hal ini kemungkinan besar keliru. Hasanuddin adalah putra kedua Nurullah. Pada waktu Sunan Gunung Jati meninggalkan Banten pada tahun 1552 ketika Pangeran Pasareyan, penguasa Cirebon wafat. Nantinya sepennggal Sunan Gunung Jati pada tahun 1570 hubungan antara dua kerajaan bersaudara ini, Banten dan Cirebon  menjadi agak renggang.&lt;br /&gt;Pada tahun 1552 itu pula Hasanuddin menikah dengan seorang putri Demak, yaitu putri Sultan Trenggana. Dari pernikahan ini lahirlah dua orang putra yaitu Maulana Yusuf dan Pangeran Jepara. Putra pertama itu direncanakan akan menggantikan Hasanuddin bila saatnya tiba. Putra kedua tersebut diasuh oleh bibi dari pihak ibu yang tidak mempunyai anak, yaitu Ratu Kali Nyamat dan kelak akan menggantikannya sebagai penguasa Jepara, oleh karena itu ia kemudian disebut dengan Pangeran Jepara. &lt;br /&gt;Pada masa kepemimpinan Hasanudin Banten banyak melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah sekitar. Ekspansi itu mencapai wilayah Lampung di Sumatra Selatan yang cukup penting dalam menghasilkan merica. Perdagangan merica itu menjadikan Banten kota pelabuhan yang penting dan disinggahi oleh kapal-kapal dagang Cina, India, dan Eropa. Penguasa kedua Banten ini akhirnya meninggal pada 1570, sama dengan ayahnya, Sunan Gunung Jati, yang juga meninggal pada tahun yang sama. Hasanuddin ini setelah meninggal dikenal dengan nama Pangeran Saba Kingking, sesuai dengan nama desa tempat ia dimakamkan, tidak jauh dari Banten.  &lt;br /&gt;Sepeninggal Hasanudin pada tahun 1570, Maulana Yusuf menggantikannya sebagai raja Banten dan meneruskan politik ekspansi kerajaan Banten, terutama ke wilayah Pakuan Pajajaran. Dikisahkan pula bahwa raja Pajajaran bersama keluarganya dikabarkan menghilang setelah keraton mereka dapat diduduki oleh pasukan Banten pada tahun 1579. Ketika Maulana Yusuf meninggal pada tahun 1580, putranya Maulana Mohamad belum cukup dewasa, sehingga mendorong pamannya, yaitu Pangeran Jepara berusaha mendapat pengakuan sebagai penguasa Banten. Beberapa kali angkatan laut Jepara melakukan serangan ke wilayah Banten, tapi gagal. Menurut cerita Pangeran Jepara membatalkan niatnya untuk menguasai Banten ketika ia kehilangan Demang Laksamana Jepara yang tewas dalam pertempuran. Karena kehilangan abdinya yang penting inilah ia membatalkan niatnya untuk menyerang Banten. Selain itu rupanya Maulana Mohamad mendapat dukungan  kuat dari para pemimpin agama di Banten.&lt;br /&gt;Pada masa kepemimpinan Maulana Mohamad, Banten meneruskan politik ekspansinya ke Palembang. Dalam poltiknya itu ia didukung antara lain oleh Pangeran Mas, seorang penguasa terakhir Demak yang datang ke Banten sebagai pelarian. Pangeran Mas inilah yang membujuk Maulana Mohamad untuk meluaskan wilayah penyebaran Islam hingga ke Sumatra. Sayangnya, ekspedisi yang dilakukan oleh Maulana Mohamad itu gagal, dan ia sendiri gugur di medan pertempuran dalam tahun 1596, usia raja muda itu baru 25 tahun.&lt;br /&gt;Pengganti Maulana Mohamad adalah seorang anak laki-laki yang baru berumur beberapa bulan. Namanya Abdul Kadir. Karena usianya yang masih dini, untuk sementara Banten diperintah oleh anggota kerajaan yang lebih tua sebagai wali raja yang masih belia. Pergantian wali-wali ini dan sengketa antara pangeran pada babak berikutnya akan membawa Banten pada posisi yang semakin surut. Pada awal abad ke 17 Jayakarta sebagai pelabuhan penting Banten, dapat dikuasai oleh bangsa Belanda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7473472176854231904-7040797998687369982?l=pekerjamuseum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/feeds/7040797998687369982/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7473472176854231904&amp;postID=7040797998687369982&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/7040797998687369982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7473472176854231904/posts/default/7040797998687369982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pekerjamuseum.blogspot.com/2009/09/kerajaan-islam-di-nusantara-bagian-1.html' title='Kerajaan Islam di Nusantara (bagian 1)'/><author><name>Erwien To'tiL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16127221575751256267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/Sz4AfMOICqI/AAAAAAAAAQc/ljCFJ8iJQbE/S220/PB210370.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/SqCwWaQBDpI/AAAAAAAAAO8/lWC6WEcZKMs/s72-c/Keadaan+pasar+di+daerah+Timur+Kerajaan+Banten+Pd+Abad+ke-17+(FW+Stapel,+ed.,+Geschiedenis+van+Nederlandsch-Indie,+Amsterdam,+1939).JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7473472176854231904.post-6997730826435464491</id><published>2009-01-15T20:09:00.000-08:00</published><updated>2009-01-15T22:57:44.408-08:00</updated><title type='text'>Bank Tunggal</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/SXANSgA5vuI/AAAAAAAAALc/D0bMDRvKJjI/s1600-h/Bank+Berdjoang+1964++g.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/SXANSgA5vuI/AAAAAAAAALc/D0bMDRvKJjI/s320/Bank+Berdjoang+1964++g.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5291744173642858210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pada masa lalu Bank Indonesia dan dunia perbankan nasional pernah mengalami suatu perubahan revolusioner, yaitu sistem perbankan tunggal. Dalam sistem itu semua bank, baik bank sentral maupun bank komersial dilebur menjadi satu wadah dalam Bank Tunggal. Kebijakan seperti itu tentu saja tidak lazim dilakukan dalam dunia perbankan di mana pun juga, tapi perbankan nasional justru pernah mengalaminya.   Selain itu salah satu peristiwa unik yang terjadi dalam periode ini adalah lenyapnya “nama” Bank Indonesia dari dunia perbankan nasional untuk beberapa saat, karena diubah menjadi Bank Negara Indonesia (BNI) Unit I. Barangkali peristiwa seperti itu hanya terjadi sekali saja dan tak pernah terulang lagi di masa yang akan datang.........&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bank Indonesia dan Ekonomi Terpimpin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Agar dapat sesuai dan searah dengan Ekonomi Terpimpin, diperlukan adanya perubahan-perubahan dan penyesuaian institusional yang kerap kali menyebabkan departemen pemerintah atau lembaga-lembaga lainnya seperti Bank Indonesia mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri. Kesulitan yang sama juga dialami oleh perusahaan-perusahaan negara maupun swasta yang bergerak dalam berbagai sektor, termasuk sektor perbankan.  &lt;br /&gt;Di antara sekian banyak kebijakan dalam Sistem Terpimpin yang cukup berpengaruh bagi perbankan, khususnya Bank Indonesia sebagai bank sentral, adalah pembentukan Bank Tunggal. Sebelum benar-benar merealisasikan Bank Tunggal, pemerintah telah terlebih dahulu memulai proses pembentukan Bank Tunggal secara bertahap sejak dikeluarkannya dekrit. &lt;br /&gt;Mulanya pada 29 Desember 1960 pemerintah mengeluarkan Penetapan Presiden (Penpres) No. 6 Tahun 1960 tentang tugas dan kebijaksanaan tata kerja Bank Indonesia. Menurut Penpres tersebut, dengan pertimbangan adanya perubahan ketatanegaraan Indonesia sejak dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, maka Bank Indonesia harus menyelaraskan tugas dan kebijaksanaan tata kerjanya dengan Amanat Presiden tentang Pembangunan Semesta Berencana yang telah ditetapkan sebagai GBHN.  &lt;br /&gt;Penyelarasan itu juga sesuai dengan ketetapan MPRS No. II/MPRS/1960 yang antara lain menghendaki supaya diadakan penyesuaian tugas-tugas seluruh aparatur negara dalam rangka pelaksanaan Manipol dan Pembangunan Semesta Berencana. Berkaitan dengan itu pula, pada saat itu juga terdapat usaha untuk meninjau kembali Undang-Undang Pokok Bank Indonesia 1953 dan menyusun undang-undang pokok perbankan baru yang telah ditugaskan kepada suatu panitia khusus tetapi gagal. Oleh karena itu, Penpres No. 6 Tahun 1960 juga memberi wewenang kepada Menteri Keuangan dengan persetujuan Menteri Pertama, mengambil tindakan-tindakan yang dianggap perlu dalam rangka penyesuaian tata kerja Bank Indonesia dengan GBHN, meskipun harus menyimpang dari Undang-Undang Pokok Bank Indonesia 1953. &lt;br /&gt;Kebijakan pertama yang dilakukan oleh Menteri Keuangan dalam rangka penyesuaian itu adalah perubahan cara penyusunan neraca Bank Indonesia. Selama masa penyesuaian itu, sejak 1 Januari 1961 neraca singkat Bank Indonesia tidak diumumkan kepada publik.  Akibatnya rakyat luas tidak dapat lagi mengetahui kondisi neraca Bank Indonesia sehingga mendorong usaha-usaha spekulasi dalam bidang ekonomi dan perdagangan.  Selanjutnya pada saat Soekarno melaksanakan regrouping kabinet pada 1962, Gubernur Bank Indonesia yang saat itu dijabat oleh Mr. Soemarno, diangkat kedudukannya sebagai Menteri Urusan Bank Sentral (MUBS).  Sejak saat itu Gubernur Bank Indonesia merangkap jabatan sebagai seorang menteri kabinet dan kedudukan Bank Indonesia juga berubah menjadi bagian dari aparat pemerintah, yaitu sebagai pelaksana dalam bidang keuangan.  Masuknya Bank Indonesia dalam kabinet menyebabkan posisinya berada dalam kendali Presiden sehingga kedudukannya menjadi tidak independen. &lt;br /&gt;Pada 1963 regrouping terhadap Kabinet Kerja kembali dilakukan untuk kedua kalinya. Berdasarkan Keputusan Presiden No. 232 tanggal 13 Nopember 1963  dilakukan Regrouping untuk menjamin pelaksanaan Program Kabinet yang ditekankan pada perjuangan anti imperialisme dan kolonialisme. Regrouping menentukan Bidang Keuangan Kabinet diubah menjadi Kompartemen Keuangan dan ditambahkan seorang menteri yaitu Menteri Urusan Penertiban Bank dan Modal Swasta (MUPBMS). Sebagaimana MUBS, menteri baru ini  juga menggunakan Bank Indonesia sebagai aparaturnya sekaligus sebagai penghubung antara menteri dan seluruh bank-bank swasta.  Dengan demikian dalam periode Demokrasi Terpimpin ini, Bank Indonesia digunakan oleh dua kementerian sekaligus yaitu Kementerian Urusan Bank Sentral dan Kementerian Urusan Penertiban Bank dan Modal Swasta.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bank Berdjoang Menuju Bank Tunggal &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada dasawarsa 1960-an kebutuhan anggaran pemerintah untuk proyek-proyek politik, termasuk politik luar negeri  meningkat pesat. Pada 1963 timbul sengketa regional di Asia Tenggara, dengan dibentuknya Negara Federasi Malaysia yang kemudian berlanjut dengan politik konfrontasi. Di Indonesia sendiri pada 1963 diadakan persiapan-persiapan Pekan Olah Raga Games of the New Emerging Forces (Ganefo), setelah pada 1962 diadakan Asian Games yang menimbulkan defisit. Program Tiga Komando Rakyat (Trikora) untuk merebut kembali Irian Barat sendiri pada 1962 menelan biaya 24% dari seluruh Anggaran Belanja Nasional.   &lt;br /&gt;Perkembangan itu kemudian menimbulkan gagasan pada Gubernur Bank Indonesia/MUBS, Jusuf Muda Dalam, mengembangkan konsep Bank Indonesia dan perbankan nasional sebagai Bank Berjuang.  Berkaitan dengan itu suatu  musyawarah kerja  yang disebut dengan “Musyawarah Bank Berjuang Sabang-Merauke” kemudian diadakan di Jakarta pada 1-5 Juli 1964, bertepatan dengan peringatan Hari Bank. Musyawarah yang dihadiri oleh seluruh pemimpin cabang bank pemerintah seluruh Indonesia, termasuk Irian Barat, serta wakil-wakil perusahaan sejenis dan perbankan nasional swasta itu,  bertujuan untuk menyelaraskan antara tatanan ideal perbankan dengan tujuan dan cita-cita revolusi yang telah digariskan dalam Manipol dan Dekon.   &lt;br /&gt;Dengan semangat gotong-royong antar sesama warga perbankan, akhirnya musyawarah merumuskan suatu kesimpulan yang terangkum dalam Doktin Bank Berjuang. Doktrin tersebut pada intinya terdiri dari lima butir doktrin yang disebut Panca Sakti Bank Berjuang, yaitu :&lt;br /&gt;1. Bank sebagai alat revolusi wajib melaksanakan Deklarasi Ekonomi.&lt;br /&gt;2. Mengadakan kesatuan jiwa di kalangan perbankan.&lt;br /&gt;3. Menyelenggarakan politik kepegawaian dan pendidikan demokratis yang bermutu tinggi dan yang ber-Manipol-USDEK&lt;br /&gt;4. Bank menumbuhkan suasana kekeluargaan di dalam perusahaan bank seperti yang dimaksudkan dalam pasal 33 UUD 1945&lt;br /&gt;5. Mengadakan integrasi antara perjuangan perbankan dengan perjuangan masyarakat.   &lt;br /&gt;Secara lebih konkrit kelima butir doktrin tersebut diterjemahkan dalam Program Perjuangan Bank Berjuang, yaitu :&lt;br /&gt;1. Bank Berjuang berorientasi kepada Pembangunan Nasional Semesta bukan hanya berdasarkan pertimbangan untung-rugi dengan  motif memperoleh keuntungan sebesar-besarnya.&lt;br /&gt;2. Bank Berjuang menuju kepada pemberian kredit berdasarkan atas rencana produksi yang diajukan.&lt;br /&gt;3. Bank Berjuang bersikap dinamis-aktif terjun ke tengah-tengah kehidupan ekonomi bangsa, terutama jika terjadi kemacetan-kemacetan. &lt;br /&gt;Untuk melaksanakan konsepsi Bank Berjuang itu pemerintah menganggap perlu untuk menyesuiakan tugas masing-masing bank pemerintah dengan kondisi ekonomi Indonesia guna membantu usaha pemerintah dalam menanggulangi dan memperbaiki perekonomian negara secara efisien.&lt;br /&gt;Berhubung dengan itu, maka di antara bank-bank pemerintah dilakukan pembagian tugas dalam melayani sektor-sektor ekonomi tertentu, khususnya untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan perusahaan-perusahaan yang bernaung di bawah berbagai departemen. Pembagian tugas itu merupakan langkah pertama untuk menuju ke arah spesialisasi dengan menetapkan departemen yang harus dilayani oleh bank-bank pemerintah. Bank Indonesia (BI), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN), Bank Dagang Negara (BDN), dan Bank Umum Negara (BUNEG) dilibatkan dalam penanganan program departemen pemerintah. Bank-bank tersebut menjadi semacam bank pembangunan yang bertugas membiayai proyek-proyek pembangunan yang dijalankan oleh departemen pemerintah.    &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Proses Pembentukan Bank Tunggal &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rencana peleburan bank-bank pemerintah sebenarnya telah muncul sebelum konsepsi Bank Berjuang dicetuskan dalam Musyawarah Bank Berjuang Sabang Merauke. Berdasarkan dokumen Risalah Rapat Direksi Bank Indonesia tanggal 22 April 1964  pimpinan rapat antara lain memberitahukan rencana sentralisasi bank-bank pemerintah dengan catatan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Pimpinan memberitahukan, bahwa ada kemungkinan peleburan bank-bank pemerintah ke dalam Bank Indonesia. Perihal peleburan ini, Direksi-Direksi Bank Pemerintah telah menyatakan kesediaannya kepada Y.M. Menteri Urusan Bank Sentral.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan risalah tersebut juga sesuai dengan arsip surat pernyataan pimpinan bank-bank pemerintah, termasuk Bank Indonesia, kepada MUBS pada 20 April 1964 yang menyatakan hasil musyawarah Bank Indonesia, Bank Negara Indonesia, Bank Umum Negara, Bank Dagang Negara, dan Bank Koperasi Tani dan Nelayan bersedia bergabung menjadi satu bank.   &lt;br /&gt;Rencana peleburan bank-bank pemerintah mulai semakin jelas, ketika pada 11 April 1965Presiden Soekarno di hadapan Sidang Umum MPRS III menyatakan bahwa struktur perbankan Indonesia secara bertahap akan diarahkan kepada sistem Bank Tunggal. Dengan sistem tersebut diharapkan kebijakan pemerintah di bidang moneter dan perbankan dapat dijalankan secara efektif, efisien dan terpimpin demi  suksesnya pelaksanaan program perjuangan pemerintah.   &lt;br /&gt;Sebulan setelah pidato presiden itu, Bank Indonesia mengadakan Konferensi Kerja Berdikari yang diselenggarakan di Jakarta, 4 – 8 Mei 1965, yang dihadiri oleh segenap pemimpin cabang Bank Indonesia seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke, serta kepala-kepala perwakilan di luar negeri. Konferensi tersebut membahas  lima pokok  persoalan    :&lt;br /&gt;1. Pelaksanaan Program Ekonomi Perjuangan berdasarkan Dekon, Tahun Vivere Pericoloso (Tavip) dan tingkat perkembangan Revolusi Indonesia.&lt;br /&gt;2. Pengintegrasian perjuangan bank dengan perjuangan masyarakat.&lt;br /&gt;3. Penjelmaan politik pendidikan dan kepegawaian yang bersifat demokratis, berjiwa Manipol dan bermutu tinggi.&lt;br /&gt;4. Meletakkan dasar-dasar lebih kokoh untuk kesatuan antara pimpinan dan organisasi pekerja.&lt;br /&gt;5. Meletakkan dasar-dasar yang lebih kokoh untuk kesatuan jiwa antara Bank-Bank Negara. &lt;br /&gt;Dalam konferensi kerja yang kedua ini beberapa konsep mengenai Bank Berjuang --yang telah dicetuskan dalam Musyawarah Bank Berjuang Sabang Merauke yang digelar setahun sebelumnya -- kembali dipertegas. Sesuai dengan perkembangan suhu politik luar negeri Indonesia yang semakin mamanas --terutama Konfrontasi terhadap Malaysia -- dihasilkan satu resolusi yang berisi dukungan politik konfrontasi Soekarno terhadap Imperialisme baru. Resolusi yang paling utama adalah resolusi tentang pelaksanaan Dekon/Berdikari, pengintegrasian Bank Berjuang dengan perjuangan masyarakat, politik pendidikan dan kepegawaian, serta dasar-dasar kesatuan antara  pimpinan dan organisasi pekerja. &lt;br /&gt;Tahap pertama dari pelaksanaan penyatuan bank-bank pemerintah ke dalam suatu bank tunggal adalah pengintegrasian bank-bank pemerintah ke dalam bank sentral (Bank Indonesia). Pengintegrasian tersebut ditetapkan melalui Penetapan Presiden No. 8 Tahun 1965 tanggal 4 Juni 1965.  Pada tanggal yang sama pemerintah menetapkan pengintegrasian Bank Koperasi Tani dan Nelayan ke dalam Bank Indonesia. Menyusul berikutnya pengintegrasian Bank Umum Negara, Bank Tabungan Negara, dan Bank Negara Indonesia  ke dalam Bank Indonesia pada 21 Juni 1965.  &lt;br /&gt;Dalam konferensi persnya di Bank Indonesia pada Senin pagi, 26 Juli 1965, MUBS Jusuf Muda Dalam menyatakan bahwa struktur perbankan tunggal dilaksanakan dalam rangka pelaksanaan Program Ekonomi Perjuangan, sebagaimana digariskan oleh Presiden dalam amanat politiknya di depan Sidang Umum MPRS 11 April 1965. Menurut MUBS adanya struktur tunggal dapat lebih memudahkan pelaksanaan pengawasan dan penggunaan dana-dana secara efisien dan efektif. Selain itu struktur tunggal juga dapat menyebarkan para tenaga ahli perbankan yang akan memperluas jaringan perbankan guna pengaturan sistem pembayaran dan lalu lintas uang yang lebih terpimpin dan terorganisasikan.   &lt;br /&gt;Untuk mendukung kebijakan integrasi bank-bank tersebut, secara khusus MUBS membentuk Staf MUBS urusan Persiapan Pengintegrasian Bank-Bank Umum Negara dan Bank Tabungan Negara ke dalam bank sentral (disebut dengan Staf Urusan Integrasi). Staf ini bertugas membantu MUBS/Gubernur Bank Indonesia dalam memikirkan dan merumuskan ketentuan-ketentuan dalam taraf persiapan maupun pelaksanaan integrasi bank-bank pemerintah ke dalam bank sentral secara fungsional, organisatoris, personil, dan administratif. Selain itu pada saat yang sama juga dibentuk Staf Pelaksana Integrasi yang bertugas melaksanakan ketentuan yang akan ditetapkan oleh Staf Urusan Integrasi.   &lt;br /&gt;Pengintegrasian bank-bank pada tahap pertama itu tidak berjalan secara efektif sesuai dengan Penpres yang menetapkannya. Secara konkrit hanya Bank Koperasi Tani dan Nelayan saja yang benar-benar terintegrasi dengan Bank Indonesia, sementara ketiga bank pemerintah lainnya tampaknya belum pernah secara konkrit berintegrasi ke dalam Bank Indonesia. Dalam hal pengintegrasian Bank Koperasi Tani dan Nelayan, secara khusus MUBS membentuk Panitia Integrasi Bank Koperasi Tani dan Nelayan yang terdiri dari beberapa pimpinan Bank Indonesia dan sejumlah tokoh dari organisasi petani di luar Bank Indonesia.  Hal yang sama tidak dilakukan terhadap bank-bank pemerintah lainnya. Selain itu mulai 1 Juli 1965 nama Bank Koperasi Tani dan Nelayan diubah menjadi Bank Indonesia Urusan Koperasi Tani, dan Nelayan.  &lt;br /&gt;Tahap kedua dari penyatuan bank-bank pemerintah adalah  dikeluarkannya Penetapan Presiden No. 17 Tahun 1965 tanggal 27 Juli 1965 tentang Pendirian Bank Tunggal milik negara. Bank tunggal tersebut bernama Bank Negara Indonesia (BNI). Di dalam wadah Bank Negara Indonesia (bank tunggal) inilah akan dilebur Bank Indonesia, bekas Bank Koperasi Tani dan Nelayan, Bank Umum Negara, Bank Tabungan Negara, Bank Negara Indonesia, dan Bank Dagang Negara. Dalam Penpres tersebut dinyatakan bahwa BNI akan berfungsi sebagai bank sirkulasi, bank sentral dan bank umum, serta bertugas secara aktif sebagai alat revolusi.  &lt;br /&gt;Dalam pembentukan bank tunggal ini, Bank Dagang Negara dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) tidak ikut bergabung dalam Bank Tunggal, meskipun dalam Penpres No.17 Tahun 1965 tentang Pendirian Bank Tunggal milik Negara, Bank Dagang Negara termasuk bank pemerintah yang ikut dilebur dalam Bank Tunggal.  Absennya BDN dari bank tunggal disebabkan penolakan Direktur Utama Bank Dagang Negara, JD. Massie yang saat itu menjabat sebagai Menteri Urusan Penertiban Bank dan Modal Swasta. Ia menyatakan ketidak-setujuannya atas pembentukan bank tunggal kepada Presiden Soekarno dengan  alasan bahwa konsep bank tunggal yang menyatukan bank sentral dengan bank-bank umum lainnya akan membingungkan para koresponden di luar negeri. Pendapat Massie tersebut cukup beralasan, sehingga Presiden Soekarno dapat menerimanya meski telah terlanjur menyetujui Bank Tunggal yang dimotori oleh Jusuf Muda Dalam sebagai Menteri Urusan Bank Sentral.  &lt;br /&gt;Sedangkan Bapindo, karena bank tersebut tetap berfungsi sebagai bank pembangunan bukan bank umum maka tidak dilebur bersama bank pemerintah lainnya dalam bank tunggal. Selain itu, Bapindo berada dibawah wewenang Kompartemen Pembangunan, sehingga tidak termasuk dalam wewenang Menteri Urusan Bank Sentral yang berada dalam Kompartemen Keuangan.    &lt;br /&gt;Keberadaan Bank Dagang Negara di luar struktur Bank Tunggal itu kemudian dikukuhkan dalam Penpres No. 21 Tahun 1965 tentang Berlangsungnya Bank Dagang Negara. Dalam penpres yang dikeluarkan pada 24 September 1965 itu disebutkan bahwa Bank Dagang Negara tetap beroperasi berdasarkan undang-undang pendiriannya. Struktur, organisasi dan kegiatan Bank Dagang Negara tetap seperti sedia kala, tidak berubah. Dalam penpres disebutkan bahwa hal itu dilakukan karena dalam rangka mempertinggi efektivitas dan efisiensi kerja serta usaha yang sedang dan terus dilakukan oleh Bank Dagang Negara.  &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pelaksanaan Bank Tunggal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat setelah pembentukan Bank Tunggal, terjadilah Peristiwa 30 September 1965 yang cukup memberi pengaruh kepada seluruh aspek kehidupan negara, termasuk dalam tubuh organisasi Bank Tunggal. Besarnya pengaruh tragedi nasional itu bagi Bank Tunggal tercermin dari himbauan yang dikeluarkan oleh MUBS kepada seluruh Koordinator BNI Unit, Direksi Bank Dagang Negara dan semua pimpinan instansi dalam jajarannya, agar tetap konsekwen dan setia dalam melaksanakan Komando Presiden dan MUBS dalam hal menghadapi akibat-akibat yang ditimbulkan Peristiwa 30 September 1965 dalam lingkungan Bank Tunggal. &lt;br /&gt;Tidak banyak yang dapat dilaporkan tentang bagaimana pelaksanaan Bank Tunggal secara konkrit dalam lapangan perbankan di Indonesia. Agaknya tidak ada yang berubah dari operasional perbankan, kecuali dalam hal administratif berkaitan dengan perubahan nama BNI Unit. Sejak semula telah ditetapkan bahwa pada masa peralihan bank-bank unit tetap melakukan tugasnya seperti sedia kala. &lt;br /&gt;Demikian halnya dalam pelaksanaan tugas-tugas Bank Sentral dan Bank Sirkulasi, dalam masa peralihan kedua tugas tersebut dijalankan oleh BNI Unit I (BI).  Berkaitan dengan itu di tingkat pusat, BNI Unit I menjalankan fungsi sebagai Kantor Pusat Bank Tunggal, dan dipimpin langsung oleh MUBS/Gubernur Bank Tunggal.  Keputusan ini semakin mempertegas bahwa sesungguhnya kebijakan Bank Tunggal tidak berpengaruh secara efektif bagi Bank Indonesia, kecuali  pengubahan nama menjadi BNI Unit I dan beberapa kekacauan dalam sistem kepegawaiannya.&lt;br /&gt;Hal terakhir ini dapat kita lihat dalam salah satu surat pernyataan yang disampaikan oleh beberapa staf BNI Unit I kepada MUBS. Dalam surat tersebut disampaikan keprihatinan mereka atas beberapa hal seperti adanya kekaburan dalam penilaian dan penghargaan prestasi pegawai; dan adanya kenaikan pangkat pegawai yang tidak mengindahkan norma-norma obyektif dan melanggar prosedur. Selain itu mereka menganggap bahwa dalam kepemimpinan Jusuf Muda Dalam terdapat beberapa kebijakan MUBS yang hanya menguntungkan sekelompok (golongan) kecil pegawai. Akibatnya, keadaan tidak sehat ini memicu lumpuhnya mentalitet personiil pegawai, terutama di tingkat Kantor Pusat yang mungkin akan segera meluas sampai di Kantor-Kantor Cabang. &lt;br /&gt;Agaknya hingga beberapa bulan setelah struktur bank tunggal ditetapkan, kendala kelembagaan menjadi masalah utama yang menghambat efektifitas jalannya bank. Beberapa keputusan yang telah dihasilkan dalam rapat dinas dan musyarah kerja beberapa bulan sebelumnya, tampaknya belum membuahkan kerja bank yang baik. Kesimpulan ini dapat kita lihat, misalnya dari nota yang disampaikan oleh S. Kertopati kepada MUBS pada 23 Februari 1966. dalam nota tersebut antara  lain dikatakan :&lt;br /&gt;&lt;em&gt; “Akan tetapi bank-bank pemerintah yang resminya telah dilebur menjadi BNI -  Tunggal tsb. hingga dewasa ini belum diintegrasikan satu sama lain (one policy one structure), sehingga bank-bank pemerintah tsb. dalam kenyataannya dewasa ini secara organisatoris masih berdiri sendiri-sendiri.”&lt;/em&gt;Nota tersebut panjang lebar membahas betapa sulitnya mengintegrasikan beberapa  lembaga bank besar, yaitu bank-bank pemerintah, yang masing-masing telah mempunyai latar sejarah yang panjang. Hal ini menyebabkan integrasi bank-bank dalam struktur tunggal akan membutuhkan waktu yang lama. Menuruntnya langkah pertama yang harus ditempuh dalam melaksanakan bank tunggal adalah mempersiapkan sumber daya manusia yang siap (human material). Maka dari itu solusi dari nota itu adalah (lagi-lagi) menyarankan kepada MUBS untuk mengadakan suatu Pekan Indoktrinasi dan Seminar yang akan memberikan pendidikan dan pembinaan kesatuan jiwa (corps-geest) bagi seluruh pegawai dalam struktur bank tunggal.            &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berakhirnya Bank Tunggal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir 1965 dan awal 1966 Indonesia penuh dengan gejolak, tekanan ekonomi yang semakin berat terus menghimpit kondisi sosial ekonomi masyarakat. Ditambah lagi, dampak Peristiwa 30 September1965 secara politis telah menggiring pada suatu proses peluruhan kekuasaan pemerintahan terpimpin. Demonstrasi mahasiswa (angkatan 66) yang menuntut perbaikan keadaan ekonomi, sosial, dan politik, mulai menggoyahkan kekuasaan pemerintah.  &lt;br /&gt;Kemudian, pada Maret 1966 lahirlah Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang memberikan wewenang kepada Jenderal Soeharto untuk menertibkan keadaan. Salah satu tindakan penertiban itu adalah pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) dan menangkap beberapa tokoh menteri yang dianggap bersinggungan dengan partai tersebut. Gubernur bank tunggal, MUBS Jusuf Muda Dalam adalah salah seorang menteri yang ditangkap itu. &lt;br /&gt;Penangkapan itu menyebabkan MUBS absen dari kepemimpinannya dalam bank tunggal. Langkah pertama yang diambil pemerintah untuk mengisi kekosongan itu adalah mengangkat Menteri Koordinator Kompartemen Keuangan, Soemarno diangkat sebagai Menteri ad interim  Urusan Bank Sentral. Pada saat itu dalam struktur Kabinet Dwikora II Urusan Bank Sentral bernaung dalam kompartemen keuangan.  Menteri ad interim ini segera melakukan beberapa langkah pemulihan bank sentral, antara lain dengan membentuk Tim Koordinasi pada 25 Maret 1966.&lt;br /&gt;Setelah untuk beberapa saat bank tunggal dipimpin oleh seorang menteri ad interim, pada 27 Maret 1966 dalam Kabinet Dwikora III (27 Maret 1966 - 25 Juli 1966) diangkatlah Radius Prawiro sebagai Deputi Menteri Urusan Bank Sentral sekaligus sebagai Gubernur Bank Negara Indonesia. Di bawah gubernur yang baru ini proses pemulihan fungsi bank sentral terus berlanjut.     &lt;br /&gt;Melanjutkan kebijakan menteri ad interim MUBS sebelumnya, pada 6 April 1966 Radius Prawiro mengangkat beberapa pegawai dari Direktorat Akuntan Negara dan pejabat Bank Negara Indonesia sebagai anggota Tim Pemeriksa Intern. Tim pemeriksa itu telah dibentuk oleh menteri ad interim Soemarno pada 30 Maret 1966 untuk membantu pelaksanaan tugas-tugas Tim Koordinasi.  &lt;br /&gt;Berkaitan dengan hal ini, Radius Prawiro dalam buku terakhirnya mengatakan : &lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Segera setelah Kabinet Ampera diresmikan, sebuah pemeriksaan keuangan diadakan atas bank sentral dan bank-bank negara. Tujuan pertama dari pemeriksaan keuangan ini adalah untuk memperoleh pengertian tentang keadaan keuangan bank sentral pada saat itu, dan kedua untuk merekonstruksi catatan-catatan akuntansi yang berlaku surut yang terlantar atau dipalsukan pada tahun-tahun sebelumnya.”&lt;/em&gt;Tidak diketahui dengan pasti apakah tindakan audit keuangan ini terkait erat dengan pembentukan Tim Pemeriksa Intern yang melibatkan para Akuntan Negara tersebut. Berdasarkan keterangan diatas, Tim dibentuk pada April 1966, sedangkan tindakan audit dilakukan setelah pembentukan Kabinet Ampera, Juli 1966. Terlepas dari perbedaan itu, hal penting yang perlu diketahui adalah bahwa sebelum menyusun struktur bank sentral dan perbankan yang baru, terlebih dahulu dilakukan tindakan yang dapat memberikan gambaran akurat dari keadaan bank sentral dan perbankan.  &lt;br /&gt;Selanjutnya kebijakan pemulihan bank sentral diteruskan dengan pembentukan suatu tim yang bertugas dalam merumuskan usul-usul dan rancangan-rancangan penyempurnaan Bank Negara Indonesia Unit I pada 3 Juni 1966.  Agaknya tim tersebut berkaitan erat dengan dua tim yang disebutkan oleh Radius Prawiro dalam pidatonya, yaitu Tim Penertiban  Personalia dan Tim Peninjauan Struktur Organisasi Bank. Kedua tim tersebut dibentuk sebagai persiapan reorganisasi BNI Unit I untuk kembali kepada fungsinya sebagai Bank Sentral. Khusus untuk Tim Penertiban Personalia bertugas terutama untuk melakukan screening pegawai dari unsur-unsur yang terlibat PKI.    &lt;br /&gt;Akhirnya  pada 
