Saturday, September 05, 2009

Wali Songo



Dalam proses Islamisasi di Jawa, selain harus mengisahkan bagaimana Islam menjelma menjadi suatu kesultanan, ada sekelompok tokoh penyebar agama yang disebut sebagai sunan atau wali yang dianggap berada di balik proses Islamisasi itu. Dalam masyarakat Jawa dikenal sembilan wali atau wali songo (sembilan). Kita tidak mempermasalahkan siapa masing-masing mereka sebenarnya dan dari mana asalnya, tapi yang terpenting adalah mengetahui kenapa hanya di Jawa tokoh semaca wali songo itu muncul sedangkan di tempat lain tidak.
Sebagaimana kita ketahui bahwa sebelum kedatangan Islam di Jawa, agama Hindu susah sangat meresap dan tulang sumsum masyarakat Jawa. Tentunya bukan Hindu yang murni sebagaimana ajaran aslinya dari India, tapi Hindu yang telah menjadi sinkretis dengan kebudayaan asli nenek moyang Jawa. Seperti apa ajaran Hindu Jawa ini? Demikian uraian singkatnya. Intisari dari ajaran Hindu Jawa itu adalah orang ingin membebaskan diri dari samsara, yakni rangkaian lahir-mati yang tidak putus-putusnya. Salah satu caranya adalah manusia itu harus mencapai tingkatan diri yang mampu memisahkan antara prakreti dan purusa, yaitu memisahkan badan halus dari badan kasar atau badan wadag. Selain itu tingkatan tertinggi dalam kehidupan manusia yang dapat membebaskannya dari samsara adalah tingkatan kempaling kawula-gusti, yakni kesatuan antara makhluk dan Khalik, manusia dan tuhan.
Sebelum datangnya Islam, orang yang dapat mencapai taraf tertinggi itu adalah para resi yang gemar mengolah batin melalui pertapaan (samadhi) dan perilaku olah spiritual lainnya. Para resi itu dalam masyarakat Jawa mendapatkan tempat yang mulia, disegani, dihormati sebagai orang suci, dan bahkan ditakuti. Orang suci ini dianggap telah dapat mengikuti kehidupan Ilahi, sehingga dianggap sebagai orang luar biasa. Di mata masyarakat Islam Jawa, para wali yang datang membawa ajaran Islam ini, dianggap sebagai orang yang dapat mengikuti kehidupan Ilahi. Oleh karena itu sebagaimana resi-resi zaman Hindu itu, para wali ini juga tak lepas dari pengakuan mukjizat dan berbagai kelebihan luar biasa lainnya yang diberikan oleh masyarakat sebagaimana dikisahkan dalam beberapa babad dan hikayat.
Dalam masyarakat Jawa yang seperti itulah lahir sosok wali songo yang akan mengawal proses Islamisasi di tanah Jawa. Wali Songo itu terdiri dari sembilan tokoh yang disebut dengan Sunan. Selain itu ada juga pendapat yang mengatakan bahwa Wali Songo adalah nama sebuah dewan dakwah Kesultanan Demak pada abad ke 15 sampai ke 16. Sebenarnya jumlah mereka bukan sembilan orang, karena jika ada anggota yang meninggal maka akan diganti oleh wali yang baru. Angka songo atau sembilan adalah keramat bagi masyarakat Jawa, karena dianggap sebagai angka tertinggi. Meskipun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kata songo juga ada yang menganggap berasal dari kata arab tsana’ yang berarti terpuji. Wali songo berarti wali yang terpuji.
Diantara wali songo yang kita kenal itu adalah : Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati. Antara sembilan sunan yang kita kenal ini satu sama lain terikat pertalian darah, atau terkait hubungan antara guru dan murid. Maulana Malik Ibrahim adalah yang tertua. Sunan Ampel adalah anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti adalah sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajat adalah putra dari Sunan Ampel. Sunan Kalijaga adalah sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria adalah putra dari Sunan Kalijaga. Sedangkan Sunan Kudus adalah murid dari Sunan Kalijaga. Sunan yang tidak ada hubungan darah atau hubungan guru-murid, kecuali hanya sahabat saja bagi sunan yang lainnya adalah Sunan Gunung Jati.
Para wali songo ini tinggal di wilayah pantai utara Jawa dari awal abad ke 15 hingga pertengahan abad ke 16. Mereka ada di tiga pusat wilayah penting di Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan, di bagian timur Jawa; Demak-Kudus-Muria di bagian tengah Jawa, dan area Cirebon di Jawa bagian barat. Para sunan itu adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenakan berbagai peradaban baru, mulai dari bercocok tanam, niaga, kesehatan, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.
Dalam berbagai kisah kita mengetahui bahwa perguruan Islam di Ampel Denta dan Giri adalah dua pesantren yang penting pada masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara, sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Sunan Ampel adalah motivator penggerak terbentuknya kerajaan Islam Demak, Raden Patah adalah murid binaannya. Konon Sunan Ampel juga menjabat sebagai salah satu patih di Majapahit, yang diberi kuasa wilayah Ampel Denta. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, tapi juga pimpinan pemerintahan kesultanan. Sunan Giri, Bonang Kalijaga dan Kudus adalah para seniman handal yang menciptakan berbagai tembang, suluk dan beberapa karya tulis lainnya. Pengaruh seni mereka masih terasa hingga saat ini. Sementara itu Sunan Muria adalah sunan yang setia mendampingi kaum jelata dan melahirkan beberapa tembang Jawa yang masih dinyanyikan hingga sekarang.
Masa sembilan wali ini adalah masa berakhirnya dominasi Hindu Jawa dalam budaya Nusantara dan digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol bagi penyebaran Islam di Nusantara, khususnya di Jawa. Pengaruh mereka yang cukup besar dalam merubah kehidupan budaya masyarakat Jawa hingga peranan mereka dalam ikut mendirikan kesultanan Islam pertama di Jawa membuat mereka cukup dikenal oleh masyarakat, bahkan menjadi mitos sejarah yang nyata bagi masyarakat Jawa.
Masing-masing tokoh wali tersebut memiliki peranan yang unik dalam penyebaran Islam. Maulana Malik Ibrahim misalnya, menempatkan diri sebagai tabib bagi kerajaan Majapahit, Sunan Giri dan beberapa sunan lainnya, terutama Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga juga menciptakan karya seni yang bernuansa Hindu Budha tapi sarat dengan ajaran Islam. Hal itu untuk memudahkan masyarakat Jawa untuk memahami Islam.
Maulana Malik Ibrahim, wali yang tertua memiliki beberapa nama yaitu Maulana Magribi, Syekh Maghribi, dan Sunan Gresik. Wilayah dahkwah wali ini adalah Gresik, Jawa Timur. Ia diduga berasal dari Magribi, Afrika Utara yang datang ke Nusantara pada tahun 1379 hingga kemudian wafat pada 1419, jauh sebelum dibentuknya kerajaan Islam Demak pada seperempat terakhir abad ke 15.
Wali kedua yang kita kenal adalah Sunan Ampel yang bernama kecil Raden Rahmat, putra Raja Campa, lahir pada tahun 1401. Raden Rahmat menikah dengan Nyi Ageng Manila, putri bupati Tuban, saudara perempuan Sunan Kalijaga. Ia mempunyai empat orang anak yaitu Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Syarifudin (Sunan Drajat), Putri Nyai Ageng Maloka, dan Dewi Sarah yang nantinya akan menjadi istri Sunan Kalijaga. Sunan Ampel diberitakan wafat saat bersujud pada tahun 1481, meskipun ada juga yang mengatakan ia wafat pada tahun 1478, satu tahun setelah pembangunan Masjid Demak usai.
Putra pertama Sunan Ampel, yaitu Maulana Makdum Ibrahim yang lahir di Bonang, Tuban pada 1440 akhirnya juga menjadi seorang wali dengan nama Sunan Bonang. Nama Maulana Makdum sendiri diberikan oleh ayahnya yang dalam bahasa Hindi berarti cendekiawan Islam yang dihormati karena kedudukannya dalam agama. Sunan ini wafat pada 1525 di pulau Bawean dan meninggalkan beberapa jejak berupa karya sastra seperti Suluk Wujil, Tembang Macapat, dan menyempurnakan instrumen gamelan, terutama boning, kenong dan kempul. Salah satu murid dan sahabat Sunan Bonang yang mengikuti jejaknya sebagai wali adalah Sunan Kalijaga, kelak akan menempuh cara yang sama dalam berdakwah, yaitu melalui kesenian.
Putra kedua Sunan Ampel yang juga menjadi anggota wali songo adalah Sunan Drajat, ia bernama Syarifudin atau Raden Kosim, tapi selain itu juga mempunyai beberapa nama sebutan seperti Pangeran Drajat, Sunan Mayang Madu, dan beberapa nama lainnya. Ia diperkirakan lahir pada tahun 1450 di Ampel Denta, Surabaya, dan kemudian pada waktu dewasa diperintahkan untuk berdakwah ke pesisir barat Gresik, hingga akhirnya terdampar di wilayah Lamongan.Ia kemudian menghabiskan sisa hidupnya di Dalem Duwur, Drajat hingga wafat pada 1522. Sunan ini semasa hidupnya kerap berdakwah lewat tembang Pangkur dengan iringan gamelan.
Sunan Giri adalah sepupu Sunan Ampel, yang berdakwah di daerah Gresik dan menyebar hingga ke wilayah timur Nusantara, yaitu ke kepulauan Maluku. Karena jangkauan wilayah dakwahnya itu, para pedagang barat menjulukinya sebagai Paus dari Timur. Ia adalah putra dari Maulana Ishaq, dari Pasai dan ibunya adalah Sekardadu, putri kerajaan Blambangan. Nama kecil Sunan Giri adalah Jaka Samudra, kelak ketika ia berguru pada Sunan Ampel ia diberi gelar Raden Paku. Sunan ini disebut sebagai wali yang mahir dalam soal politik dan ketatanegaraan. Konon ia pernah menyusun suatu kitab aturan ketataprajaan dan pedoman tata cara di keraton. Sunan ini wafat pada tahun 1506 dalam usia 63 tahun.
Sunan Kudus mempunyai nama asli Ja’far Shodiq yang lahir pada pertengahan abad ke 15 dan meninggal pada tahun 1550. Ayahnya bernama Raden Usman Haji yang bergelar Sunan Ngudung di Jipang Panolan, Blora. Beliau masih memiliki garis keturunan dengan Husein bin Ali. Kakek Sunan Kudus adalah saudara Sunan Ampel, sehingga ia masih mempunyai hubungan darah dengannya. Ia bukanlah berasal dari Kudus, konon pada suatu saat Sunan Kudus sebagai imam masjid Demak, berselisih dengan Sultan Demak mengenai saat awal bulan Ramdhan, ia pun meninggalkan Demak menuju Tajug yang kemudian ia ubah menjadi Kudus pada tahun 1549. Banyak hal penting yang dilakukan oleh Sunan Kudus semasa hidupnya, selain mendirikan Masjid Al Aqsa yang indah di Kudus, perpaduan antara arsitektur Hindu dan Islam, ia juga menggubah beberapa tembang. Menurut legenda konon ialah yang mengeksekusi Ki Ageng Kenongo penguasa Pengging dan juga Syech Siti Jenar, gurunya, karena mengajarkan Islam yang sesat menurut wali songo.
Selain Kudus, ada juga wali yang tinggal di daerah Gunung Muria, yaitu Sunan Muria yang bernama Raden Umar Said putra Sunan Kalijaga dengan ibu Dewi Sarah, putri Sunan Ampel. Sunan Muria ini selain dikenal karena kesaktiannya dan dekat dengan rakyat jelata, ia seperti ayahnya juga mempunyai karya seni yaitu Tembang Sinom dan Tembang Kinanti
Seperti yang telah dikisahkan sebelumnya bahwa Sunan Gunung Jati adalah Nurullah yang berasal dari Pasai. Ia kemudian berangkat haji ke Mekkah, ketika kerajaan Islam Pasai ditaklukkan oleh Portugis pada tahun 1521. Sepulang dari Mekkah ia tidak kembali lagi ke Pasai, melainkan pergi menuju Jawa, yaitu Demak yang baru beberapa puluh tahun menyatakan diri sebagai kerajaan Islam. Di Demak Nurullah disambut dengan baik oleh Sultan Trenggana penguasa Demak saat itu, dan langsung masuk dalam lingkaran penasehat agama raja. Pada tahun 1524 Sultan Demak mengirimnya ke wilayah barat Jawa yang masih dikuasai oleh Hindu Pakuan Pajajaran. Nantinya Nurullah yang juga disebut Faletehan berhasil mendirikan Cirebon dan Banten, serta menundukkan pelabuhan Sunda Kalapa dan mengubahnya menjadi Jayakarta. Sebelum wafat pada tahun 1570 dan dimakamkan di Gunung Jati, Sunan ini sempat menjadi penguasa Cirebon menggantikan putranya yang mati muda, yaitu Pangeran Pasareyan.

Wali songo yang cukup berpengaruh bagi masyarakat Jawa, adalah Sunan Kalijaga. Banyak mitos dan legenda yang mengitari kisah hidup sunan yang terkenal karena dakwahnya dengan menggunakan media pementasan wayang. Sunan ini dianggap sebagai sunan yang paling berani dalam mengadaptasi budaya tradisi Hindu Jawa yang kemudian di beri nuansa ajaran Islam di dalamnya. Ia diperkirakan lahir pada tahun 1430, dengan nama Raden Sahid, putra seorang Adipati Tuban, vassal Majapahit Hindu. Sebelum akhirnya bertaubat dan berguru kepada Sunan Bonang, Raden Sahid adalah seorang perampok sakti terkenal yang kemudian dalam perjalanan taubatnya harus menunggui tongkat Sunan Bonang di pinggiran sungai selama tiga tahun. Karena lelakunyai ini ia dikenal dengan Sunan Kalijaga.

Sebagai sunan yang berdakwah lewat kesenian, ia banyak menciptakan berbagai tembang, gamelan, syair pujian, motif batik, wayang purwa, dan yang paling fenomenal adalah tatal sokoguru masjid Demak yang terbuat dari serpihan kayu (lihat pada bagian berikutnya). Tidak begitu jelas kapan Sunan Kalijaga wafat, yang jelas ia merasakan periode kekuasaan Demak, Pajang, dan beberapa tahun awal Kesultanan Mataram Islam pada tahun 1580-an.